Selesai berdebat dengan Madie, Risa menutup ponselnya. Ia beranjak dari ruangannya, berlari ke kamar mandi dan menangis sesegukkan di balik kamar mandi. Tentu saja hal ini diketahui oleh beberapa rekan kerjanya. Lidya merasa khawatir dengan Risa, segera berlari mencari keberadaannya di kamar mandi. Sebuah pintu dalam ruangan itu tertutup, artinya Risa ada didalamnya. Lidya mengetuk pelan pintu tersebut. Tok tok tok “Risa, kamu kenapa, mungkin aku bisa bantu kalo kamu cerita. Apa ada masalah berat?“ Risa memutuskan keluar, bagaimanapun dirinya butuh seseorang tempat untuknya mencurahkan segala kesedihannya. Dengan wajah sembab Risa memeluk Lidya sambil menangis lagi. Andai Risa bisa bercerita kepada temannya ini perihal status dirinya. Setelah puas meluapkan air matanya, ia menghela nafa

