Saat ini Layla dan Eisha sedang berjalan di tengah hutan. Di punggung mereka ada keranjang untuk meletakkan kayu yang akan didapatkan nanti. Tak lupa memakai pakaian hangat agar tubuh tak kedinginan.
Eisha sibuk memandang ke sekelilingnya yang dipenuhi barisan pohon-pohon yang sebagian besar tak memiliki daun. Semuanya serba putih. Walaupun dingin, terlihat ada beberapa hewan kecil seperti kelinci bertubuh putih sedang melompat-lompat dengan riang.
"Kelinci itu lucu sekali," ucapnya sambil terus melihat beberapa ekor kelinci.
"Di sini memang ada banyak kelinci. Kalau ada kesempatan kita bisa menangkap seekor kelinci untuk dipelihara," sahut Layla.
Wajah cantik Eisha berbinar cerah. "Sungguh?"
Layla mengangguk. "Pasti."
"Layla, di sana sepertinya ada banyak kayu," ujar Eisha sambil berjalan menuju ke depan yang ada banyak kayu-kayu.
"Ya, udah, Vaiva ke sana saja. Aku ke arah sana, supaya kayu bakarnya lebih cepat terkumpul."
"Baiklah, aku mengerti, Layla."
Eisha berjongkok, tangannya bergerak mengambil kayu-kayu yang ada di sekitar. Dia menurunkan keranjang yang digendongnya, meletakkannya di atas tanah yang diselimuti salju.
"Aku tak bisa merasakan apakah kayu yang aku pegang ini basah atau tidak." Eisha melepaskan kaos tangan kanannya. Saat dilepas udara dingin langsung menyerbunya.
Tangannya menyentuh salah satu potongan kayu yang ada. "Rupanya benar dugaanku, kayunya keras dan basah. Bagaimana bisa kayu-kayunya jadi kayu bakar untuk perapian?"
Baru sebentar dilepas tangannya seakan membeku dan kemerahan. Merasa tak tahan dengan udara dingin yang terasa menusuk tulang, Eisha memasang kaos tangannya lagi.
"Sepanjang tahun Kota Quattour diterpa musim dingin sampai tanaman saja tak terlihat tumbuh di sekitar." Eisha berkata sambil melihat ke sekeliling.
"Vaiva, kau sudah mengumpulkan kayu-kayu yang ada?" tanya Layla pada Eisha sambil meletakkan setumpuk kayu-kayu yang dibawanya.
"Iya, aku sudah mengumpulkan semua kayu-kayunya. Oh, ya, Layla, aku heran 'kan kayu-kayu yang kita pungut basah."
"Bagaimana bisa kayu-kayunya kita gunakan untuk perapian?" tanya Eisha menatap wajah Layla dengan kening berkerut.
Layla menarik sudut bibirnya membentuk senyuman usai mendengar pertanyaan dari gadis bermata hijau tersebut yang terdengar polos dan lugu. Dia sempat berpikir jika Vaiva adalah gadis kecil yang terjebak di tubuh seorang gadis remaja.
"Ya, benar, semua kayu yang kita pungut basah. Dan kita sebagai bangsa elf punya kekuatan yang bisa membantu mengatasi hal kecil seperti mengeringkan kayu bakar."
"Caranya bagaimana?" potong Eisha masih dengan ekspresi yang sama.
"Lihat baik-baik yang akan terjadi selanjutnya!" instruksi Layla.
Layla membeberkan kayu-kayu di atas tanah bersalju. Dia berkonsentrasi untuk mengumpulkan kekuatan ke satu titik. Tangan kanannya terangkat, tangan yang mulanya terkepal kini perlahan terbuka. Dia mengarahkan tangan kanannya ke kayu-kayu. Kekuatan berwarna merah muncul dari tangan Layla dan dengan perlahan membungkus kayu-kayu kecil. Eisha memandangi adegan ajaib dengan wajah yang terkagum.
Layla menghentikan pengaliran kekuatan api tingkat duanya setelah dirasa kayu-kayu sudah kering. Dia memandang ke arah Eisha yang kini berjongkok menyentuh kayu-kayu kecil dengan tangannya. "Layla, kayu-kayunya sudah kering," ujarnya.
"Ayo bantu aku menumpuknya," pinta Layla.
"Baiklah, akan kubantu." Eisha dengan cepat menumpuk kayu-kayu, sementara itu Layla bertugas mengikat tumpukan kayu-kayu menjadi tiga tumpukan. Setelah selesai diikat mereka memasukkannya ke dalam keranjang yang sebelumnya sudah dipersiapkan.
Eisha dan Layla berjalan berdampingan di jalan setapak yang diselimuti salju. Saat kaki berjalan, akan membentuk bekas jejak sepatu di sana.
"Yang aku gunakan untuk mengeringkan kayu bakar namanya adalah sihir. Sejak bangsa elf terlahir ke dunia, maka akar sihir ada di dalam tubuhnya," ucap Layla membuka obrolan setelah beberapa saat keduanya berada di dalam keheningan. Eisha tampak tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Layla.
Layla mengambil napas sebelum melanjutkan. "Kekuatan sihir ada banyak ragam jenis dan tingkatannya. Mulai dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi," jelasnya, tangannya ikut bergerak mengikuti apa yang sedang dia bicarakan. Mereka bicara sambil berjalan.
Layla menoleh sebentar pada Eisha, lalu kembali fokus menatap ke depan. "Seperti yang kau lihat beberapa saat yang lalu. Kekuatanku adalah api."
"Kekuatan yang Layla miliki keren. Bisa bakar ikan dan ayam, tidak perlu susah payah lagi menciptakan api," puji Eisha.
Layla tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. "Dan kau sendiri bagaimana?" tanyanya balik.
Eisha menggeleng sebagai tanda tak tahu.
"Kau belum tahu akar kekuatan apa yang ada di dalam dirimu?" tanya Layla.
Eisha tahu jika Layla kaget mendengar perkataannya, tapi memang dia tak tahu apakah di dalam tubuhnya juga muncul akar kekuatan seperti telinganya yang berubah menjadi runcing? Gadis itu tak mau asal berbicara.
Kini wajah Layla menjadi seperti biasa lagi. "Lalu selama ini apakah Vaiva pernah menggunakan sihir?" tanyanya lagi. Ya, mungkin saja Vaiva tak tahu nama akar kekuatannya.
Eisha menggeleng untuk yang kedua kalinya. "Belum juga." Ada rasa takut, identitas aslinya ketahuan, habislah dia jika Layla sampai tahu yang sebenarnya. Dan parahnya lagi jika Layla melaporkannya pada warga.
"Apa?" Layla mengerjap beberapa kali. Ada rasa tak percaya, tapi Vaiva tak mungkin membohonginya.
Eisha mengambil napas, lalu mengembuskannya. "Iya, aku tahu seharusnya aku sudah mengetahui apa akar kekuatanku."
"Tidak terlambat untuk mengetahuinya jika kau ingin tahu. Biasanya setiap enam bulan sekali Paman Lei dari Kota Yulan akan datang ke Kota Quattour untuk membantu anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang belum tahu apa akar kekuatannya."
Layla mendesah, menyayangkan. "Tapi sayang sekali, satu minggu yang lalu Paman Lei baru saja pulang ke Kota Yulan. Paman Lei akan datang dalam enam bulan ke depan lagi."
"Apa di tempat yang lain tak bisa mengecek akar kekuatan yang ada di dalam tubuh? Dan harus ke Paman Lei?" tanya Eisha. Dia ikut penasaran dan ingin tahu, apakah di dalam dirinya juga tumbuh akar kekuatan seperti bangsa elf pada umumnya?
"Ada, hanya saja, mengecek di tempat lain membutuhkan biaya paling sedikit lima ratus omy, sedangkan dengan Paman Lei hanya perlu membayar lima puluh omy." Di benua Moda, omy adalah nama mata uang yang berlaku di setiap kerajaan yang ada. Bentuknya bulat berwarna ungu dengan gambar kristal putih di sana.
Kali ini Eisha yang kaget. "Hanya mengecek akar kekuatan saja butuh lima ratus omy? Oh, tidak itu sangat mahal," ujarnya.
"Iya, lebih baik menunggu Paman Lei saja. Kita istirahat dulu beberapa saat," ajak Layla.
Eisha mengangguk setuju, kakinya memang sedikit pegal. Eisha mengambil posisi duduk di salah pohon yang besar setelah meletakkan keranjang berisi kayu ranting. Tangannya diletakkan ke bawah, dahinya mengernyit ketika tangannya merasakan sesuatu yang lembut dan halus.
Yang aku duduki ini juga terasa hangat seperti selimut, aku merasa lebih hangat, batin Eisha sambil mengusap benda tersebut berulang kali.
"Vaiva, apakah kau tahu yang tengah kau duduki itu?" Layla berkata sambil jari telunjuknya dan matanya menunjuk ke arah bagian bawah tepatnya ke tempat yang Eisha duduk.
"Bukankah ini selimut hangat?" Eisha berkata dengan tenang, dia menoleh ke arah kanan. Wajah tenangnya seketika berubah jadi pucat pasi saat mendapati seekor hewan tengah menatapnya dengan mata hitamnya yang bulat. Rupanya seekor beruang besar sedang menikmati tidurnya dan tidurnya terganggu karena kedatangan Eisha dan Layla.
"Itu sama sekali bukan apa yang kau kira," sahut Layla. Dia menggendong keranjang rotan dan berjalan lebih cepat menjauh dari sana.
Eisha menjerit ketakutan saat beruang berukuran besar membuka mulutnya lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi tajam dan runcing. Tak terbayang jika benda tajam tersebut sampai menggigit dan mengupas dagingnya.
"Beruang! Layla tunggu aku!" teriak Eisha takut. Dia spontan bangkit dari posisi duduk, menggendong keranjang di punggung, dan langsung berlari ketakutan.
Eisha sempat menoleh ke belakang dan mendapati seekor beruang berbulu seputih salju tengah mengejar di belakang.
Astaga mimpi apa aku semalam sampai seekor beruang pun ingin bermain kejar-kejaran denganku? batin Eisha.
"Layla, beruangnya masih saja mengejar kita!" teriaknya panik. Jantungnya berdetak dengan kencang.
Layla membantu menolong Eisha. Layla melemparkan kekuatan apinya agar beruang tersebut menjauh. Rencananya berhasil, beruang es berjalan menjauh menghindar, hewan berkaki empat tersebut tak suka dengan kehangatan yang berasal dari api, api merah bisa menghanguskan bulu-bulu putih cantik miliknya.
Tingkatan kekuatan yang dimiliki Layla cenderung lemah walaupun Layla sudah mengerahkan sisa kekuatan yang dipunyanya.
"Kekuatanku terbatas kita harus lari selagi beruang esnya belum mengejar kita!" Keduanya mencoba berlari lebih cepat, tapi salju menghalangi.
Api yang beberapa saat lalu berkobar di atas es, dalam beberapa menit sudah padam sepenuhnya dimakan oleh salju. Seperti pada umumnya kekuatan api akan kalah dengan es. Oleh karena itu, Layla mengajak terus berlari tanpa henti.
"Vaiva, percepat larimu! Tapi keranjangnya jangan sampai ditinggalkan!" pesan Layla yang kini tengah lari juga.
"Aku janji tak akan meninggalkannya," sahut Eisha di sela-sela larinya. Kegiatan lari cukup mengkuras energi yang dimiliki, terutama mereka bukan berlari di tanah biasa melainkan berlari di atas salju.
Usaha lari mereka tak sia-sia, beruang es berhenti mengejar. Beruang melanjutkan tidurnya kembali. Beruang es berharap tak ada suku elf yang mengganggu waktu hibernasinya, terutama menduduki tubuhnya seperti bantal.
Eisha tidak lupa mengucapkan kata terima kasih pada Layla yang sudah menolongnya. Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah Layla menjelaskan sedikit tentang beruang es yang mengejar beberapa saat yang lalu pada Eisha.
"Aku benar-benar tak tahu kalau yang aku pikir selimut hangat, ternyata adalah tubuh beruang es," ujar Eisha.
"Di hutan kita perlu hati-hati dan waspada. Terkadang hewan-hewan berkamuflase menyamakan dengan lingkungan sekitarnya agar lebih mudah mendapatkan mangsa."
"Aku satu pendapat denganmu Layla. Aku sudah merasakannya beberapa saat yang lalu. Jujur aku sudah sangat takut, takut dijadikan malanan si beruang. Apalagi tubuh beruang esnya sangat mirip dengan salju dan juga besar."
"Layla, kenapa aku merasa kau biasa saja saat tahu kita dikejar beruang es?" tanyanya yang tersadar jika raut wajah Layla biasa saja, tak ada rasa takut di sana berbeda dengan dirinya yang perasaannya sangat takut dan khawatir. Dia sempat merasakan jantungnya hampir saja melompat keluarga dari rongga dadanya.
"Kau mau tahu kenapa aku biasa saja? Alasannya mudah saja, aku sudah tahu apa yang beruang es itu benci, dia membenci api merah," sahut Layla sedikit menjelaskan.