Seperti biasa pagiku selalu setia di bangunkan oleh jam alarm yang selalu berbunyi pada jam 4 pagi, dimana aku harus menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri untuk menyiapkan segala sesuatu dan kebutuhan suami di pagi hari.
Namun saat aku ingin membangunkan tubuhu ada sesuatu yang menimpah perutku sontak saja ku buka selimut yang menutupi tubuhku, kudapati tangan Rian tengah memeluku dan wajahnya di benamkan di sela rambutku.
Dan yang membuatku heran, biasanya aku akan berteriak tapi tidak untuk sekarang. Aku malah ngerasa nyaman dengan lengan kokoh Rian yang berada di perutku.
Ah aneh banget aku ini, tapi ya udah lah.
Ku singkirkan lengan Rian dengan perlahan, karna aku gak mau ganggu tidur nyenyaknya, tapi bukannya terangkat, Rian malah semakin mengeratkan pelukannya, sontak aja itu buat aku sesikit kaget dan memalingkan wajahku menghadap dirinya.
Kupandangi wajah polos Rian yang tengah tertidur, terlihat begitu damai dan sangat tampan.
Bahkan dengan nakalnya tangan ku sudah terulur menyusuri setiap lekuk wajah tampannya.
Rambut lebat, Alis yang begitu tebal, Hidung mancung, bibir tipis yang menambah kadar ketampanannya.
Pantas saja banyak di gilai banyak cewek di sekolah.
sayang ketampannannya tertutupi sama sifat datar dan cuek nya itu.
Tapi gak papa juga sih, toh dengan begitu aku gak perlu takut kehilangan dia kan.
Haha.
"Yan... bangun sholat subuh gak lo, udah pagi ini. Gua mau beres beres tau" ku guncang tubuhnya pelan.
"Bentar lagi. Gua masih ngantuk" jawabnya dengan gumanan yang tak jelas.
"Yaudah kalo lo masih ngantuk tidur lagi, tapi singkirin tangan lo, gua nya mau beres beres sama mau masak buat sarapan, yan" perkataanku sukses membuat tangan Rian terangkat dari tubuhku.
Dengan cepat aku bergegas ke kamar mandi sekedar mencuci muka dan gosok gigi, selah selesai aku langsung melangkahkan kaki menuju dapur.
membuat sarapan seperti biasa.
Pagi ini entah kenapa aku ingin sekali membuat nasi goreng seefood dan untung saja bahannya sudah tersedia.
Begini lah rutinitas ku di pagi hari, selalu bangun pagi dan membuat sarapan untuk kami. Walaupun Rian selalu membuatku kesal dan naik pitan.
Tapi aku tak pernah mau melalaikan tugasku sebagai seorang istri, dan aku juga gak mau kalo Rian sering makan di luar, maka dari itu aku mewajibkannya makan masakanku. Paling di sekolah saja Rian tak memakan masakanku.
Kenapa harus seribet itu ?
Alasannya sih simpel, aku cuma pengen Rian nyaman di rumah, dan selalu ingat denganku jika ia memakan masakanku, aku juga gak pengen Rian berpaling dariku, tentu saja aku tak ingin menjadi seorang janda. apalagi di usiaku yang masih muda dan di tambah Rian junior di dalam perut ku.
Hell... Jangan sampe deh.
dikira jadi janda di usia 15 tahun enak apa ?
Maka dari itu mulai sekarang aku harus bisa membuatnya semakin nyaman denganku, dan harus bisa membuatnya bertekuk lutut sama aku dan paling penting membuat Rian jatuh cinta denganku.
Mungkin mulai sekarang aku akan membuatkannya bekal setiap hari dan awas saja kalo dia gak mau bawa. Bakal aku cincang dia.
Asik dengan lamunannku tanpa sadar masakan buatannku sudah matang.
segera saja ku pindahkan ke piring dan kususun rapih di meja makan. Setelah semua rapih, aku pun membuatkan segelas kopi untuk Rian.
dia selalu suka kopi di pagi hari. Katanya sih biar lebih fokus dan tak ngantuk saat di kelas.
Saat semua telah tersedia dan sudah rapih aku bergegas ke kamar untuk membangunkan rian.
"Yan bangun udah waktunya sholat" ucapku seraya mengguncang tubuhnya membuat sang empu mengerjapkan matanya mengucek kedua matanya dan mulai menguap yang di tutupi dengan punggung tangan kanannya.
"Jam berapa?" Tanyanya.
"Jam 5 kurang. Bangun gih terus mandi kita sholat" tanpa menunggu lagi, Rian langsung beranjak dan melangkah menuju kamar mandi. Segera ku siapkan pakaian seragamnya. Setelah sumua beres aku melangkah ke kamar mandi belakang untuk wudhu.
Selesai wudhu aku bergegas menuju kamar untuk bersiap sholat berjamaah. Ku buka pintu kamar dan kudapati Rian telah siap dengan pakaian sholatnya. Aku pun menghampirinya dan mangambil mukenahku di lemari segera kupakai dan berdiri di belakang Rian.
Seperti biasa kami selalu sholat berjamaah jika tak ada halangan.
Selesai sholat ku salami tangan Rian dan membereskan mukenah dan sajadah, kulipat dan ku masukan ke dalam lemari, sedangkan rian tengah menghanti pakaiannya dengan seragam sekolah.
selesai membereskan dan berganti seragam sekolah aku pun bergegas ke meja makan dan sarapan bersama.
Kulihat Rian tengah menikmati kopi nya, tapi belum juga makan.
"Kok belom sarapan?"
"Nunggu lo." ucapnya datar.
"Yee biasa aja ge, datar amat tu muka" sindirku dan duduk di kursi sebelah Rian.
Segera saja Ku ambil piring di depan Rian dan ku sendokan nasi goreng ke dalam piringnya sesuai porsi Rian. Kutaruh di depan Rian langsung tanpa menunggu ku Rian sudah melahap nasi gorengnya.
"Bilang aja minta di layani. Dasar" ucapku ketus. Begini lah Rian di balik tampang datar dan cueknya dia tak akan pernah makan jika aku tidak melayaninya. Huh dasar manja.
Selesai makan kami bergegas berangkat skolah.
Kami selalu berangkat pagi supaya tak pernah ada yang tau jika aku dan Rian selalu berangkat bersama.
Setelah sampai tempat parkir aku turun dari mobil dan menghapirinya seraya memberikan bekal yang udah ku siapkan tadi pagi kepadanya.
"Di abisin. Awas aja kalo gak abis. Lo tidur di sofa entar malem" kataku ketus dan Berjalan meninggalkannya menuju kelasku.
Seperti biasa jam segini kelas masih sepi karna belum ada yang datang. Karna bosan dan kesepian akhirnya aku mengeluarkan ponsel ku untuk menghilangkan keboringanku.
Ku jelajahi dunia maya dengan memcari tau tentang suatu hal yang menyangkut kehamilan. Aku ingin tau apa apa saja yang boleh di lakukan dan tidak boleh di lakukan ketika sedang hamil.
Sedang asiknya berinternet ria aku di kagetkan oleh sebuah suara cempreng.
"Ngapain lo pagi pagi gini main senyum senyum sendiri. Kesambet lo ya ?" Tanya siswi tersebut yang tak lain adalah Mili sahabatku.
"Ye apaan si lu. Orang gua lagi browsing ge, Siapa juga yang ke sambet, oneng?"
"Yakali kan, absinya lo senyum senyum sendiri, gua kira kan kesambet setan pagi"
"Ye lo tu setannya. Pagi pagi udah teriak teriak gak jelas"
"Bodo. Lo browsing apaan si lo?" Tanya Mili kemudian merebut ponselku dan melihatnya, seketika bibirnya mencibir pelan.
"Yaelah udah kayak emak emak aja lo serching ginian" lanjutnya
"Yee bodo amat yah. Lagian semua cewe juga pasti bakal jadi emak-emak. Termasuk elo mil"
"Masih lama sa. Gua aja masih 15 tahun. Palingan 10 tahun lagi gua punyak anak"
Aku langsung merebut ponselku kembali, "orang mah siapa tau masih sma juga banyak kan yang udah tekdung duluan" ucapku tanpa menoleh kearahnya, aku kembali sibuk dengan browsing.
"Yeee gua mah beda kali. Yakali gua kasiin tubuh gua secara cuma cuma yang ada rugi neng"
Seketika aku menoleh kearahnya, menatap penuh dengan tatapan menyindir, "Lah berarti kalo di bayar mau lah ya?"
"Njirrr. lo kira gua cabe cabean apa main bayar bayar." Balasnya, kemudian tangannya sukses mendarat di pundakku. Dan itu terasa sedikit panas.
"Yakali kan hahahaha"
"t*i lo..."
Tengah asik bercanda sahabat kami yang satu lagi pun datang dan mulai nimbrung.
"Ngobrolin apaan sih. Jangan bilang lo orang lagi ngomongin gua ya" tanya Riska.
"Nah ni anah baru juga dateng udah kepedean aja." Protes Mili menghadiahkan sebuah toyoran.
Bibir Riska langsung manyun, tangannya menoyor kembali kepalanya, berlaeanan arah dengan toyoran Mili tadi. "Miliii ih jangan toyor toyor dong kalo gua b**o gimana coba?".
"Yeee lo kan emang udah b**o kali. Mana begonya gak ketulungan lagi" ucap Mili pedas membuat Riska semakin mengerucutkan bibirnya.
"Gua gak b**o mili. Cuma kurang pinter aja, ih".
Mili hanya memutar bola matanya, malas. "Iya dah ape lu kata aja. Percaya gua mah yang otaknya sepro"
"Is Mili mah gitu sama gua." Riska menoleh kearahku dengan tatapan memelas.
"Sa bantuin gua napa. Milinya nih rese mulu sama gua".
Aku menghela nafas, kemudian menatapi keduany, "Lo orang ini ya gak ada akur-akurnya sama sekali deh. Nah pr lo orang udah pada kelar belum?" Tanyaku. Mili yang mendengar itu langsung saja menepok jidatnya.
"Astaga gua lupa kalo hari ini ada pr!" Ucap Mili, dengan ekspresi paniknya.
"Gua pinjem punyak lo ya, naf?. Suer deh gua lupa".
Aku yang mendengar keluhan Mili hanya memutar bola mataku malas.
Tapi ya gimana lagi, sahabatku memang gitu.
Ku keluarkan buku dalam tas, dan aku berikan ke mili.
"Ya udah nih buru lo kelarin" kataku ketus.
"Lo juga ka kalo belum selesai karjain dulu sono jangan cuma brisik aja!" printahku
Tanpa di suruh untuk kedua kali Riska dan Mili langsung saja menyelesaikan tugasnya sedangkan aku?, jangan di tanya lagi ya pasti menjelajah dunia maya lagi dan mencari nama nama lucu untuk anak ku nanti.
Tanpa sadar bel jam pertama pun berbunyi tak butuh waktu lama guru yang mengajar pun sudah datang dan memberi beberapa materi pembelajaran hari ini. Bergelut dengan waktu di temani materi yang membosankan plus guru yang juga lebih membosankan. Ingin rasanya tidur dan mengacuhkan semua omong besar bu Riana.
Bukan menjelaskan materi malah ceramah tentang menjadi istri yang baik dan bla bla bla bla....
Huaahh... Dosa gak sih kalo nimpuk guru yang lagi ngoceh?.
°°Π°°
Empat jam terjebak dalam pelajaran bu Riana, di tambah ulangan matematika, sukses sudah membuat otakku blank dan berakibat pada cacing dalam perutku yang mulai berdemo dengan keras,
Tapi aku bisa bermafas lega karna suara yang sedari aku tunggu helah berbunyi.
Bel istrirahat?, tentunya.
Seperti biasa murid sekolah pasti sudah burhamburan pergi ke kantin untuk apa lagi kalo bukan jajan.
Begitupun dengan ku dan kedua temanku ini, namun saat aku akan keluar dari pintu, manik mataku menamkap sosok Rian tengah bersandar di tiang pilar penyangga atap kelas. dengan tangan kiri di masukan ke kantung dan tangan kiri memegang kotak operwere tempat bekal yang aku berikan padanya tadi pagi.
Dan tentu saja tingkah cool nya itu terlihat sangat tampan.
"Eh itu bukannya kak Rian, ya?!" Pekik Mili saat sadar akan keberadaan Rian "ehh kok tumben banget kak Rian di kelas kita?" Tanya mili antusias
"Gak tau deh. Nyariin gua kali, mil" jawab Riska enteng.
Tentu saja jawaban Riska langsung mendapat Toyoran indah dari Mili, "Yeee sok kecantikan amat lu sampek di cariin kan rian"
"Miliiii udah aku bilang jangan suka noyor kepala orang. Hobi banget si" protes Riska.
"Ya mangap deh. Candaan kali ah"
"Candaan lu gak lucu" sinis Riska.
Aku tak memperdulikan kedua sahabatku itu, pandanganku terlalu fokus tertuju ke arah Rian, seolah tak ingin membuang sedikit saja detik yang berlalu.
Rugi kali ah kalo sampek di sia-siain
Apa lagi pagi ini dia terlihat begitu tampan.
Huh... Bawa pulang aja kali ya, kandangin di kamar biar puas?.
Ehhh tunnggu, kok pikiran gua jadi ngaco gini ya. Wah udah parah ini mah.
Aku masih saja melihat Rian yang berdiri di sana, hingga ia menolehkan kepalanya kearahku ku, menatapku sejenak, kemudian melihat kedua sahabtku, setelahnya ia melangkah untuk mendekatiku.
"Ikut gua!" ucapnya setelah berada tepat di hadapanku membuat kedua sahabatku berhenti berdebat dan menatap heran kearahku.
"Ehhh kemana batu, gua gak mau!" kataku sinis
"Gak usah protes!" Perintahnya datar, herannya lagi kenapa aku begitu saja menurutinya, bahkan tanpa membantah sedikit pun saat tangannya menariku.
Mili dan Riska mentap semakin aneh saat melihat tingkahku yang menurur begitu saja, tanpa adu mulut dulu, seperti biasanya.
Lah jangankan mereka Aku sendiri aja gak percaya kenapa bisa nurut gini.
Aku mengikutinya dari belakang hingga sampai di taman sekolah
Bahkan aku tak percaya, bayangkan saja seorang Rian, bersifat es batu ini, ngajak aku ke taman?.
Kayaknya baru kejentus nih kepalanya.
Tentu saja karna baru kali ini, Rian suamiku, ngajak aku ketaman, taman coy. tempat yang paling dia benci, ini. Dan dia ngajak aku kesini, ooohhh emmm pokk...
Tak lama Rian menyeret tanganku, kemudian mengajakku duduk di bawah pohon rindang. setelahnya, tangan Rian mulai membuka bekal makan siang yang sudah kibuatkan untuknya.
"Lo makan gih?!" Suruhnya.
Seketika aku menoleh dan menatapnya bengong. What... Ini serius?
"Gak mau"
"Makan. Atau gua cium!" Printahnya ketus.
Aku mendengus malas. Ancamannya gak mutu banget yak, mbok ngancem beliin emas kek, iphone keluaran terbaru kek, lah ini nyium?, biasanya aja asal nyososor.
"Males lah. Gua mau makan asal lo suapin" ucapanku keluar begitu saja. entahlah, aneh gak biasanya aku kayak gini.
"manja!".
"Bodo!" Jawabku tak kalah ketusnya. Ku dengar Rian menghela nafasnya.
Tanpa jawaban, tangannya langsungn meraih kotak operwere, dan dengan sabar ia mulai menyendokan nasinya dan mengarahkan ke mulutku membuatku terdiam atas perlakuannya.
Ais beneran ini mah, pasti kepala Rian kejentus sesuatu makanya dia jadi kayak gini sekarang.
"Buka!!" printahnya membuatku membuka mulut secara perlahan.
Dia terus saja menyuapi ku, walau ketus dan dingin, tapi tetap saja dia melakukan itu dengan begitu lembut. hingga makannan tersisah setengah.
Dengan cepat ku ambil itu bekal dari tangannya. Aku mulai menyendokan nasi dan mengarahkan kemulutnya.
"Buka mulutnya Rian. Sekarang lo yang makan dan gantian gua yang nyuapin" ucapku tanpa banyak protes Rian pun membuka mulutnya dan aku mulai menyuapi hingga habis.
Tanpa kami sadari hal yang kulakukan ini banyak mengundang pasang mata yang menatap kami dengan tatapan heran.
Jelas heran, orang biasanya aja kami selalu bertengkar dan tak pernah akur.
Nah sekarang ?
Kami saling menyiapi bekal makan siang.
Huft... ada apa dengan diri ku.
Apa ini yang di namakan hormon kehamilan?
Etahlah... intinya aku nyaman dengan perlakuan Rian dan aku sangat menyukainya