young - 7

1842 Words
Aku terbangun saat merasakan lapar, ku lirik jam di nakas dan melihat masih jam 3. Ku lirik Rian di sebelahku sedang tertidur dengan pulasnya dan terdengar dengkuran pelan di bibirnya yang sedikit terbuka membuatnya terlihat semakin sexy karna tak tahan melihat bibirnya langsung saja ku curi kecup bibirnya dengan lembut dan membuatnya merasa terganggu hingga perlahan membuka matanya. "Jam berapa sekarang sa ?" "Jam 3 yan, bangun dong gua laper" pintaku seraya mengguncangkan lengannya pelan agar dia terbangun. "Kalo laper tinggal kedapur sa. Masih ada makanan sisah semalam tinggal lo panasin aja kan" ucapnya seraya menaikan selimutnya hingga ke leher. Aku yang kesal melihat itu pun dengan cepat bangkit dan menindih tubuh Rian tanpa memperdulikan tubuh polosku yang sedang tak semengenakan apa apa. "Yan bangun temenin gua makan. Gua laper Yan." Rengeku dengan manja sontak membuatnya semakin "Iss turun sa lo berat tau gak. Lagian lo aneh aneh aja jam segini mau makan. Gak takut gemuk tah lo.?" "Bodo gua gak peduli mau gemuk apa gak. Yang penting gua maunya sekarang makan di temenin sama lo" ucapku manja. Dengan malas akhirnya rian membuka matanya. "Yaudah iya ayok gua temenin. Tapi lo turun terus pake baju sekarang" pintanya dengan suara serak dan datar seperti biasa. "Yey. Ya udah yuk cepetan bangun makanya" ucapku seraya membangunkan diriku dan mengambil kaos milik Rian di lemari dan memakainya tanpa mengenakan dalemanku. Kulirik Rian yang mulai mengenakan celana dan kaosnya tapi saat ku lihat dia akan mengenakan kaosnya dengan cepat ku cegah. "Lo gak usah pake baju. Pake celana aja" putusku seraya mendorong Rian keluar kamar. "Dingin sa" ucapnya datar. "Bodo pokonya lo gak boleh pake baju titik" aku tak memperdulikan protesannua dan segera mendorong tubuh besarnya. Kami berjalan menuju dapur dan saat tiba di dapur aku duduk di kursi meja makan. "Yan buatin gua nasi goren ya. Gua lagi pengen makan nasi goreng buatan lo nih" pintaku dengan suara manja. Rian yang mendengar pemintaanku sontak membulatkan matanya dan mulutnya terbuka karna tak percaya dengan permintaanku. gaimana gak kaget, orang setahuku dia aja gak pernah yang namanya menyentuh peralatan dapur. Ya walau dia mengurus cafe tapi dia sama sekali tak berniat jika di suruh menyentuh barang dapur. "Serius sa? Lo kan tau sendiri gua gak pernah masak." Tanya Rian dengan tampang tak percayanya. "Iya yan, gak tau ini kenapa gua jadi pengen banget makan nasi goreng buatan lo" "Gak lah sa, males gua mau masaknya" tolaknya dengan wajah datar. Mendengar penolakan rian membuat sesuatu dalam diriku merasa pilu dan tanpa sadar aku sudah terisak dalam tangisan ku. Rian yang melihat itupun kaget dan dengan cepat menhampiriku. "Lo kenapa sa kok nangis" tanya Rian bingung. "Lo jahat sama gua yan. Gua kan cuma mau makan nasi goreng buatan lo tapi lonya malah nolak. Lo jahat yan lo jahat" suaraku terdenhar serak karna isakan tangis ku. "Yaudah yaudah gua buatin tapi lo jangan nangis lagi ?" Bujuk Rian. Mendengar perkataan Rian ntah knapa aku langsung senang dan perlahan mengangkat wajahku dan menatap wajah rian seraya tersenyum. "Beneran yan ?" Tanyaku masih tak percaya dan hanya mendapan anggukan sebagai jawaban. "Yey rian baik deh" ucapku senang seraya memeluk tubuhnya yang tak terbalut pakaian. "Iya gua masakin tapi lo ajarin ya. Lo kan tau gua gak bisa masak" pintanya "Iya iya nanti gua kasih intruksi aja" "Huft iya deh iya. Tapi lo jangan nangis lagi. Masa cuma gak di buatin nasi goreng aja lo nangis sih" tanyanya penasaran "Atau jangan janga....." ucapannya cepat ku potong sebelun dia menebaknya. "Udah isss buruan bikinin gua nasi goreng" pintaku dan hanya dapat anggukan dari Rian. Rian pun mulai berkutat dan di sibukam dengan bahan masakan di dapur. Aku melihat tingkahnya yang sibuk dengan peralatan dapur membuat ku tersenyum senang. Sesekali dia bertanya kepadaku step demi step yang belum ia ketahui. Membuatnya terlihat begitu seksi. Apalagi dengan celmek warna pink di tubuhnya membuatku semakin gemas melihaynya. tanpa sadar aku telah berdiri dan beranjak dari tempat dudukku kemudian mendekat hingga aku berada di belakang tubuhnya dan menciun aroma yang sudah menjadi candu bagiku. Tak menunggu lama ku peluk tubuh Rian dari belakang dan mencari posisi nyaman di punggungnya. Rian yang merasa dirinya di peluk pun terkejut dan membalik tubuhnya. Namun ku tahan karna aku sudah nyaman dengan punggunya. "Lo kenapa sa ? Gua lagi masak ini jangan ganggu deh" ucapnya datar. "Udah sih lanjutin aja masaknya. Gak usah protes deh. Gua gak tau kenapa gua sekarang pengen banget meluk punggung lo. Jadi lo jangan bawel. Lanjut aja masaknya" titahku hanya mendapat helaan nafas dari Rian. Aku sendiri bingung kenapa begitu melihat punggung tanpa sehelai benang itu membuatku semakin ingin untuk menyentuhnya. Apa ini yang namanya ngidam ? Aih bodo amat lah yang penting aku nyaman ini.. Tak beberapa lama nasi goreng buatan Rian telah jadi dan dengan terpaksa aku melepaskan pelukanku seraya kembali ketempat duduk untuk menikmati nasi goreng buatan Rian. melihat tampilan nasi goreng itu membuat air liurku seakan menetes. "Jangan di liatin aja tapi dimakan sa. Katanya laper" ucapnya datar. "Suapin yan" pintaku dengan nada manja yang tak pernah aku tau sejak kapan aku manja seperti ini jika bersama Rian. "Makan sendiri bisa kan. Ngerepotin aja" jawabnya ketus. Senyum ku langsung pudar saat mendengar perkataan Rian seolah menusuk hatiku. Tak terasa air mataku kembali menetes dengan sendirinya langsung ku usap dan ku dorong piring nasi goreng. Ntah kenapa aku jadi mudah menangis jika permintaanku tak di turuti oleh Rian. Aku memang lapar dan memang menginginkan nasi goreng. Tapi aku juga ingin makan di suapi oleh Rian. Ku tundukan kepalaku karna tak ingin Rian melihatku sedang menangis seperti ini. Tak terasa isakan ku pun keluar membuat Rian bingung dan mendekat kearahku seraya memeluku walau pelukan kaku yang ia berikan. Namun pelukan itu tak membuatku menghentikan tangisanku. Malah membuat isakanku semakin kencang. "Udah geh jangan nangis" pintanya dengan nada kaku. Kudengar Rian menghela nafas "Yaudah sini aku suapin" ucap Rian dengan suara lembutnya sontak saja membuatku mendongakan kepala dan melihat wajah tampannya. Ya ku akui Rian memanglah tampan. "Beneran ?" Tanyaku masih tak percaya. "Iya beneran aku suapin. Sini buka mulut mu ?" Pintanya seraya menyodorkan sendok berisi nasi ke arah ku. Dengan cepat langsung saja ku lahap. Aku berdiam sebentar karna merasakan nasi goreng buatannya. "Kenapa ? Gak enak ya ?" Tanyanya bingung saat melihat ekspresiku. Aku tak menjawab pertanyaan nya membuat Rian kebingungan. 'Ini beneran enak gila' ucapku dalam hati. Rian yang penasaran dengan nasi goreng buatannya mulai menyendokan nasi tersebut dan akan memasukan kemulutnya. Melihat Rian yang ingin memakan nasi goreng senak ini membuatku sedikit tak rela. Hingga ku kunyah dengan cepat nasi dimulutku dan mengambil tangan Rian mengatahkan kemulutku. "Jangan makan nasi goreng gua !" Jawabku ketus. Rian yang melihat tingkahku semakin bingung dengan kerutan yang terlihat di keningnya. "Gak usah protes gak usah bawel cukup suapin gua !" Ucapku ketus. Kudengar rian menghela nafas dan mulai menyuapiku hingga sisa sesuap nasi. Namun aku menyuruhnya memakannya. "Itu bagian lo. Cepetan gih makan sebelum gua abisin" printahku. Dengan wajah kesal akhirnya Rian memakan nasi goreng sisahanku. "Enak. Pantesan aja lu doyan" "Yeee makanya itu gua gak rela lo makan nasi goren gua". "Udah kan makannya ? Gua balik ke kamar ngantuk" ucapnya datar seraya melangkahkan kaki menuju kamar. Saat iya akan melangkahkan kakinya aku memanggilnya dengan nada manjaku. "Riaaannnn....!" Dengan kesal Rian menghentikan langkahnya dan menengok ke arahku. "Apaan lagi ?" Tanyanya masih dengan nada datarnya. "Gendong. !" Ucapku manja. Rian melihatku dengan tatapan tajam dan menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya mendekatiku dan berbalik ingin menggendoku di punggungnya dengan cepat ku tolak. "Gendong depan riann" pintaku dengan nada manja "Ya allah lo ini ribet banget si sa" protesnya dengan wajah kesalnya. Mendengar itu membuatku menjadi cemberut dan terlihat akan menangis. Rian yang melihat perubahan wajahku dengan cepat mengangkat tubuhku mungilku dan menggendongna seperti anak koala dan mulai berjalan ke kamar. "Lo kenapa si sa ? Perasaan tingkah lo gak kayak biasanya deh ?" Tanya Rian penasaran dengan tingkahku. "Gua ge gak tau yan. gua juga aneh setiap gua denger omongan pedes dari lo, atau keinginan gua gak terkabulkan membuat gua tanpa sadar meneteskan air mata dengan sendirinya. Gua aja bingung apa lagi lo yan" jelasku seraya menyembunyikan wajahku di tengkuk lehernya dan menghirup dalam dalam aroma yang membuatku merasa nyaman. "Apa jangan jangan bilang lo ngidam ?" Tanya Rian penasaran. "Kalo misal gua ngidam kenapa ? Lo gak suka ?" Tanyaku ketus "Bukan gitu gua aneh aja sama tingkah lo dari kemaren sore. Lo tau sendiri kan kemaren sore gua belom mandi dan masih keringetan lo ngelarang gua buat mandi. Dan meminta sesuatu yang gak pernah lo minta sebelumnya di tambah lo laper jam 3. Lo beneran ngidam sa ?". "Iya gua rasa gua ngidam." Jawabku singkat membuat Rian menghentikan langkahnya dan menatapku. "Seriusan sa ? Maksud gua lo yakin lo hamil ?" Tanyanya dengan tampang cengohnya. Aku tak mau menjawab karna sudah merasa nyaman di tengkuk lehernya. Aromanya pun membuat ku ngantuk. "Sa gua tanyak sama lo ? Jawab kek" pinta nya. Aku yang mendengar Rian begitu bawel pun jadi kesal dan menjawab dengan ketus. "Iya gua hamil, dan itu gara gara lo. Ngapa lo gak suka? Lo gak suka kalo gua minta hak dari lo? Lo gak suka kalo gua pengen manja sama lo? Lo gak suka..." belum selesai dengan kata kataku bibirku sudah dibungkam dengan bibirnya. Aku yang di perlakukan seperti itu pun dengan cepat melumat bibirnya dengan rakus. Hingga kami kehabisan nafas dan terpaksa aku mau tak mau melepaskan bibirnya. "Udah ah jangan ngambek mulu. Berisik tau" jawab Rian dengan wajah yang masih setia datar seperti biasa. "Iss bodo lah. Muka lo itu sama sekali gak ada ekspersinya bikin gua kesel aja tau gak" kesalku karna ekspersi Rian tak berubah sedikitpun. Selalu saja datar. "Ya terus gua suruh kayak mana coba. Udah lah yang penting gua sekarang seneng karna gua mau jadi ayah." Ucapnya masih saja dengan wajah datarnya. "Ya ya ya sekarang terserah lo aja deh" jawabku seraya menenggelamkan wajahku di tengkuk lehernya. "Buruan jalan Rian gua ngantuk nih" gunangku. Mendengar gumanganku membuat Rian melangkahkan kaki tanpa banyak protes sampai di dalam kamar. Perlahan Rian merebahkan badanku di atas ranjang yang sudah berantakan karna ulah kami. Saat ku lihat Rian akan merebahkan badannya dengan cepat ku cegah. "Lo mau ngapain ?" Tanyaku "Mau tidur lah sa gua ngantuk dan besok sekolah oneng". "Gak gak kalo lo mau tidur di sebelah gua lo nggak boleh boxer. Risih gua kalo liat lo tidur pake celana gituan" jawabku yang memang risih jika melihat Rian tidur menggunakan celana bokxer. Rian yang mendengar permintaanku pun mengerutkan keningnya karna bingun. "Terus gua pake apaan sa. Lo kak tau gue nggak bisa tidur kalo nggak pake boxer." Jawabnya datar. "Bodo.. kalo lo mau tidur sama gua lo ganti tu boxer. Kalo gak ganti ya udah lo tidur aja di sofa" jawabku enteng. Rian pun menghela nafasnya dan membuang paksa seraya melepaskan celana boxernya dan mengganti dengan celana pendek yang ada di lemari setelah itu ia berbaring di sebelahku. Melihat Rian yang sudah berbaring mataku pun berbinar. "Nah gitu dong. Kalo gini kan enak peluknya. Sini sini peluk aku" pintaku Rian yang mendengar permintaan ku tanpa banyak protes langsung mendekat kan diri dan merangkuh ku kedalam pelukannya hingga aku terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD