NASYA tak pernah tahu jika seseorang bisa akan menjadi sangat berharga dihidupnya. Bagaimana dia bernapas saja sudah menjadi doa yang Nasya panjatkan, selama perjalanan menuju rumah sakit yang saat ini menjadi tujuan utamanya agar dapat terus melanjutkan hidup. Terdiam dengan kedua tangan terkepal sempurna, tak mengatakan apapun selama perjalanan. Membiarkan Richard berkonsentrasi penuh untuk mengemudikan mobilnya, sudah tak dapat lagi mengatur emosi yang berkecamuk luar biasa di dalam dadanya. Jadi daripada harus menangis tersedu-sedu dan membuat sosok disampingnya semakin panik, Nasya lebih baik menahannya dalam-dalam. Sempat menahan napasnya selama beberapa detik saat mobil yang dirinya naiki berhasil sampai di lobby rumah sakit itu dengan Nasya yang segera melompat turun. Sedangkan R

