Ketika Masa Lalu Memutuskan Untuk Kembali

1112 Words
"Sampai kapan kau akan terus menjaganya dari jauh, Arian?" Maxime menyesap minuman dinginnya. Ia bersandar santai di kursi yang menghadap jendela besar, memandangi gedung-gedung tinggi dengan tatapan iseng. Sementara itu, di belakang meja kerja besar yang tertata rapi, Arian duduk dengan ekspresi dingin. Jemarinya mengetuk meja dalam ritme pelan, tapi Maxime tahu persis itu adalah tanda pria itu sedang berusaha meredam amarah. Arian tidak langsung menjawab. Matanya tetap fokus pada layar laptop, seakan menelaah sesuatu dengan serius. Namun, Maxime tahu isi kepala sahabatnya itu tidak sedang berada di sini. Maxime meletakkan gelasnya dengan bunyi ‘klik’ di meja kaca. "Semakin kau mengulur waktu, semakin ia menderita. Tentukan langkahmu sekarang sebelum terlambat. Arian akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya tajam. "Aku tahu." "Kalau kau tahu, kenapa tidak melakukan sesuatu?" Maxime mengangkat alis. "Maksudku, ayolah, Arian. Ini bukan pertama kalinya Reynold berusaha menyentuh Nazharina. Kau sudah mencium gelagatnya sejak lama, bukan?" Arian mengatupkan rahang. "Aku akan bertindak." Maxime bersiul pelan. "Akhirnya. Setelah sekian lama, pria besar ini memutuskan untuk bertindak." Arian meliriknya tajam. "Diam." Maxime justru terkekeh, menyilangkan kakinya di atas meja. "Jadi, rencanamu apa? Langsung datang ke rumahnya? Atau kirim bunga seperti lelaki kalem penuh penyesalan?” Arian menghela napas. "Aku akan berbicara dengannya. Itu saja." Maxime mendengus. "Kau benar-benar payah dalam urusan percintaan." Arian meliriknya malas. "Kalau kau ingin tetap bekerja di sini, kurangi komentar tidak pentingmu." Maxime hanya tertawa, lalu berkata lebih serius, "Arian, dengarkan aku. Nazharina butuh kepastian. Kau mau dia kembali? Lakukan sesuatu. Kalau tidak, lepaskan." Arian terdiam. Maxime menatapnya tajam. "Aku punya banyak kenalan lelaki baik-baik yang mungkin bisa menjadi calon suaminya." Arian menegang. Maxime tersenyum penuh kemenangan. "Oh? Jadi kau tidak suka dengar itu?" Arian mengepalkan tangan. "Jangan macam-macam, Max." "Kalau begitu, lakukan sesuatu." Maxime mencondongkan tubuhnya. "Jangan hanya berdiri di balik layar. Nazharina bukan boneka kaca yang bisa kau awasi tanpa bicara dengannya. Ia butuh tahu bahwa kau masih di sini." Arian menatap mata sahabatnya itu untuk waktu yang lama. Lalu, ia berdiri. Maxime tersenyum lebar. "Akhirnya, kau keluar juga dari persembunyianmu." Arian menarik napas panjang, lalu mengambil jas. Matanya kembali dingin, tetapi kali ini dengan tekad yang lebih jelas. Maxime menyipitkan mata. "Jadi, apa yang akan kau lakukan?" Arian menyampirkan jasnya di lengan. "Sampaikan ke manajemen bahwa mulai sekarang, GM di Velaris Grand Royale Hotel adalah orang yang ditugaskan dari pusat." Maxime mengangkat alis, waspada. "Oke... Jadi siapa orang dari pusat yang kau maksud?" Arian menoleh sekilas. "Tentu saja aku." Maxime langsung berdiri tegak. "Tunggu, apa maksudmu? Kau ingin mengambil alih langsung? Itu gila!" Arian hanya tersenyum kecil, tetapi tidak ada kelakar dalam sorot matanya. "Aku tidak bercanda, Max." Maxime menatapnya seakan pria itu telah kehilangan akal sehatnya. "Arian, kau adalah pemilik utama. Velaris hanya salah satu anak perusahaan dalam jaringan bisnismu. Kalau kau turun tangan langsung untuk mengelola satu hotel saja, bagaimana dengan perusahaan utama? Para pemegang saham tidak akan suka mendengar ini." Arian menyelipkan tangan ke dalam saku celananya, ekspresinya tetap tenang. "Ada kau, kan?" Maxime melotot. "Aku?! Aku ini asisten pribadimu, penasihat perusahaan, sahabat yang setia. Tapi aku bukan eksekutif yang bisa menjalankan perusahaan sebesar itu sendirian!" Arian menepuk pundaknya ringan. "Maka dari itu, kau harus mulai belajar, Max." Maxime mendengus. "Br*ngsek. Kau benar-benar membuat hidupku semakin berat." Arian terkekeh kecil. "Anggap saja ini tantangan baru." Maxime menatapnya dengan frustasi, tetapi ia tahu tidak ada gunanya berdebat lebih lama. Jika Arian sudah mengambil keputusan, tidak ada yang bisa mengubahnya. Maxime menghela napas panjang, lalu menatap Arian dengan serius. "Baiklah. Tapi ada satu hal yang masih mengganggu pikiranku..." Arian menatapnya sekilas, menunggu. Maxime menyipitkan mata. "Kau melakukan ini semua demi Nazharina, kan?" Arian diam sejenak. Lalu, perlahan, bibirnya melengkung dalam senyum samar. Maxime langsung menunjuknya. "Ah, lihat ekspresimu! Aku tahu aku benar!" Arian mengabaikan komentar itu. Ia meraih ponselnya, lalu mulai melangkah menuju pintu. Maxime masih mengikuti dari belakang. "Arian, jangan pura-pura tidak dengar. Aku bertanya padamu, br*ngsek!" Arian berhenti di ambang pintu, lalu menoleh sedikit. "Aku akan mempersiapkan diriku." Maxime mendadak kehilangan kata-kata. "Aku sudah cukup lama menunggu," lanjut Arian dengan suara rendah. "Sekarang, aku akan mengambil langkah pertama." *** Langit mulai redup saat suara ketukan terdengar dari balik pintu rumah kecil itu. Awalnya pelan, lalu makin keras, seperti orang di luar sana menolak untuk menyerah. Nazharina menoleh pelan. Napasnya tertahan. Tak banyak yang tahu alamatnya, apalagi datang tanpa kabar. "Nazh! Aku tahu kau di dalam! Buka pintunya!" Itu suara Kinoshita. Nazharina sempat ragu, tapi akhirnya berdiri dan membuka pintu. Kinoshita langsung menerobos masuk. "Astaga, aku kira kau pingsan!" gerutunya. "Kau tak masuk kerja berhari-hari, ponselmu mati. Dan yang lebih gila… Reynold juga hilang." Nazharina membeku. "Apa?" "Dia tak pernah muncul lagi sejak kau tak masuk kerja. Manajemen cuma bilang posisi GM akan diganti oleh orang dari pusat. Tapi—itu belum semua." Nazharina mengerutkan alis. "Masih ada lagi?" Kinoshita menatapnya lekat-lekat. "Shelby… diterima kerja di hotel. Sebagai staf administrasi." Nazharina nyaris tak percaya. "Shelby?" "Yep. Padahal sebelumnya tak ada posisi kosong, tapi entah kenapa dia bisa langsung masuk. Seperti ... ada yang membantunya dari atas." Nazharina terdiam, mencoba mencerna. Shelby, orang yang membuatnya dipecat dulu... kini satu kantor lagi dengannya? Tapi yang aneh, tidak ada kemarahan muncul darinya. Hanya... lelah. "Dan dia bertingkah seolah kita tak pernah punya masalah di masa lalu dengannya," tambah Kinoshita tajam. Nazharina hanya menunduk. “Biarkan saja. Aku tak peduli sama sekali tentang Shelby.” Kinoshita menghela napas, lalu duduk di sampingnya. “Nazh, aku tak tahu apa yang terjadi malam itu. Tapi aku tahu satu hal.. Reynold tak pergi karena kebetulan. Kalau dia disingkirkan… pasti ada orang kuat di baliknya.” Nazharina diam. Ia tahu itu benar. Tapi siapa? "Dan sekarang, manajemen bilang GM baru langsung dari pusat. Artinya, dia punya kuasa penuh. Kalau kau mau, kita bisa minta kembalikan posisimu ke bagian resepsionis." Nazharina memejamkan mata. Bayangan malam itu masih menghantui. Tapi... jika semua benar, jika Reynold hilang dan Shelby hanya bayangan dari masa lalu, mungkin ia bisa mulai lagi. "Aku akan kembali besok," bisiknya. Kinoshita tersenyum lebar. "Bagus! Itu baru Nazharina yang kukenal!" Nazharina menatap temannya itu dan ia merasa sedikit lebih tenang. Tapi jauh di dalam hatinya, ada pertanyaan yang terus mengganggu pikiran. Siapa sebenarnya GM baru itu? Dan kenapa ada perasaan ganjil yang terasa aneh di dadanya? *** Pagi harinya, Nazharina tergesa menuju ruang pertemuan. Ia hampir terlambat. Saat berbelok di koridor, langkah yang terburu-buru membuatnya tidak menyadari seseorang melintas dari arah berlawanan. Bruk! Tubuhnya membentur d**a seseorang. Hangat. Kuat. Ia nyaris terjatuh, tapi tangan itu menahan lengannya dengan sigap. Nazharina menatap ke atas. Wajah yang tak pernah ia duga akan ia lihat lagi—muncul begitu dekat. Dan dunia seakan berhenti berputar. Napas Nazharina tercekat. Ia membeku. Arian, dia ada di sini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD