“Do, berikan Aslan kepadaku, aku masih pengen gendong dia,” rengek Andin. Berusaha membujuk Edo. Melihat Andin yang merengek seperti ini, membuat Edo tidak tega. Tapi mau gimana lagi, dia belum rela melepas Aslan. “Kamu mau sama Aslan?” tanya Edo. Andin mengangguk. “Iya. Boleh ya …” lirih Andin. Edo nampak berpikir, Frans menatapnya jengah. Dia yakin, otak licik Edo sedang merencanakan sesuatu. “Boleh …” ujar Edo. Andin hampir saja melompat girang. Membekap mulutnya dengan ke dua tangannya, nggak percaya dengan kata-kata Edo. “Benarkah?!” tanya Andin. “Benar, kamu malah bisa bersamanya setiap hari. Tinggal saja di sini, nanti kamu bakalan ketemu Aslan tiap hari,” ucap Edo cuek. Frans dan Mac melotot, Andin juga. Benar-benar menyebalkan. Frans maju, dengan cepat Andin menahannya. “

