Layla merasa ada yang aneh. Biasanya setiap pagi Layla mampu merasakan gerakan bayi di dalam perutnya. Hanya saja, ketika terbangun Layla tak dapat merasakan apapun.
“Hei? Anak Mama lagi apa, sih? Kok enggak menyapa Mama.” Layla berusaha memancing. Biasanya kalau diajak bicara begini bayinya akan memberikan respons hanya dalam hitungan detik.
Sayangnya, nihil. Layla masih tak dapat merasakan apapun. Rasa takut mulai menjalar di sekujur tubuh Layla. Dengan tubuh yang bergemetar Layla melakukan panggilan pada nomor ponsel Noah.
“Bebe? Ada apa?” Suara Noah terdengar serak. Kedengarannya lelaki itu terbangun karena telepon yang datang dari Layla.
“Noah ….” Layla panik. “Bayi kita … aku enggak bisa merasakan gerakan bayi kita.”
“Apa ….”
Hening. Noah tak melanjutkan ucapannya. Kebisuan itu justru terasa mencekam. Walaupun enggan, namun otak Layla secara cepat dapat menebak situasi seperti apa yang sedang terjadi. Besar kemungkinan bayinya … mati.
“Noah? Aku harus gimana?” Layla terisak.
“Tunggu-tunggu. Kamu jangan hubungi siapapun dan jangan ke mana pun. Tunggu aku akan ke sana.”
Noah tiba sekitar 1 jam kemudian. Lelaki itu langsung mengusulkan untuk membawa Layla ke dokter kandungan tempat mereka biasa melakukan kontrol.
“Aku takut.” Layla mendesah khawatir. Ketakutannya terasa semakin nyata. Airmata Layla bahkan secara tak terbendung jatuh di atas pipi. “Gimana kalau anak kita meninggal, Noah?”
“It’s okay, Bebe. Jangan berpikir macam-macam dulu ya?”
“Kalau dia meninggal ….” Layla menggeleng keras menolak kemungkinan tersebut. “Apa kamu akan marah karena aku enggak bisa menjaga dia dengan baik?”
Salah satu tangan Noah yang bebas dari kemudi bergerak meraih tangan Layla. Jari-jemari Noah menggenggam jari Layla. Sentuhan itu menjadi bukti dukungan emosional dari Noah yang mampu Layla rasakan.
“Aku enggak akan menyalahkan siapapun, Bebe. Lahir atau tidaknya anak itu, bagiku kamu tetaplah tunanganku.” Noah mencium punggung tangan Layla.
Sikapnya begitu lembut. Kelembutan itulah yang membuat Layla menyerahkan dunianya kepada Noah. Kelembutan itu juga yang berhasil membutakan mata Layla untuk melihat realita yang sesungguhnya … sebuah takdir kejam yang sebentar lagi akan menghantamnya tanpa ampun.
“Detak jantung bayinya tidak terdeteksi ya, Bu. Dengan berat hati saya nyatakan bayi meninggal di dalam kandungan.” Dokter obgyn menjelaskan. Nada suaranya berat.
Layla tak langsung mampu memproses kabar tersebut. Di atas brankar mata Layla masih tertuju pada layar yang menampilkan gambar hitam putih—gambar bayinya. Biasanya setiap kali melakukan USG bayinya akan bergerak seakan menyapa, namun kini gumpalan darah daging itu diam.
“Mungkin dokter salah. Dia … dia masih hidup. Kemarin saya masih bisa merasakan tendangannya. Coba sekali lagi—”
“Layla.” Noah berusaha menenangkan.
Layla mendorong Noah yang berusaha untuk memeluknya. “Enggak, Noah! Anak kita masih hidup. Aku bisa merasakannya. Dia … dia hanya sedang tidur sebentar. Dokter ini enggak becus.” Layla mengubah posisi rebah menjadi duduk. “Ayo, kita cari dokter lain.”
“Layla!”
Untuk pertama kalinya sepanjang menjalin hubungan dengan Noah, lelaki itu membentak. Tubuh Layla tersentak menerima nada tinggi yang dilontarkan oleh tunangannya.
“Coba kamu terima keadaan kalau bayi itu memang sudah mati. Mau kita pergi mendatangi satu per satu dokter obgyn di seluruh Jakarta pasti jawaban mereka akan sama.”
“Kamu … mau menyerah begitu aja?”
Noah mengusap kasar wajahnya. “Lihatlah peristiwa ini menggunakan kacamata yang berbeda. Dengan matinya bayi itu kita jadi bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mengenal satu sama lain. Karier kamu pun enggak akan terancam. Keluarga kita juga enggak akan tau sampai akhir kalau kamu pernah hamil di luar nikah. Anggap saja ini adalah jalan yang diberikan oleh Tuhan kepada kita.”
Kalimat Noah bagai pukulan telak yang menghancurkan seluruh rasa cinta Layla kepadanya. Bagaimana mungkin lelaki itu … lelaki yang merupakan ayah biologi dari bayi yang sedang Layla kandung dapat berpikir bahwa kematian bayi mereka adalah solusi yang diberikan oleh Tuhan?
“Kamu … kamu sungguh-sungguh mengatakan itu kepada aku? Padahal kamu sudah berjanji akan membawaku tinggal di Singapura! Aku percaya pada janji kamu. Aku percaya kamu akan bertanggung jawab dan karenanya mati-matian aku menutupi kehamilan di luar pernikahan ini dari keluargaku!”
Noah agak merendahkan posisi tubuhnya. Dia menangkup kedua pipi Layla memaksa perempuan itu untuk menatap matanya lekat-lekat. “Aku benci mengetahui fakta kalau aku akan menjadi ayah. Selama ini aku menyembunyikannya dari kamu karena kamu kelihatan senang dengan kehamilan itu. Tapi, karena bayi itu sekarang sudah mati jadi aku rasa enggak ada alasan aku harus berbohong.”
Layla terguncang. Di dalam mimpi terliarnya sekalipun tak pernah Layla bayangkan Noah akan berkata sekeji itu. Sosok laki-laki sempurna berhati malaikat yang sempat berhasil memikat hatinya kini tak ubahnya iblis.
“Dokter, tolong segera kelaurkan bayi yang sudah mati itu. Saya akan mengikuti semua prosedurnya,” sambung Noah begitu sesi bicaranya dengan Layla selesai.
“Aku enggak mau!” Layla memeluk perut bulatnya. “Bayi ini masih hidup, Noah! Kamu harus percaya padaku. Terserah kalau kamu enggak mau jadi ayah. Aku masih bisa membesarkan bayi ini sendirian.”
Tanpa diduga Layla meloncat turun dari brankar. Tubuhnya hampir limbung seandainya dia tak segera berpegangann pada tepian ranjang pasien. Dengan airmata yang berlinangan Layla berjalan hendak meninggalkan ruang praktik dokter. Tak sudi Layla berada di sini lama-lama. Seandainya Noah tak mau mengantarnya mengunjungi dokter obgyn lain, maka biarlah Layla yang melakukan hal itu sendiri.
“Tunggu, Layla, dengar. Kamu enggak bisa begini.” Noah menangkap salah satu lengan Layla memaksa Layla untuk menghentikan langkah.
Layla menoleh. Rasa marahnya telah memuncak. Dengan sisa tenaga yang ada Layla melayangkan tamparan di wajah Noah. “Kamu adalah lelaki penge-cut. Aku menyesal menerima lamaran kamu tempo hari.”
Seketika itu juga ekspresi Noah berubah bengis. Tamparan yang diberikan oleh Layla memang tak seberap. Namun, harga dirinya seakan tergores menerima hal tersebut.
Tanpa diduga Noah balas menampar Layla. Tamparannya jauh lebih keras dari sebelumnya. Layla bahkan dapat melihat dunia yang berubah gelap selama beberapa saat. Telinga juga ikut berdengung.
Kedua mata Layla membola. Dirinya tak percaya menerima perlakukan seperti ini dari Noah. Lelaki yang kemarin berjanji untuk melindunginya kini justru berubah menjadi monster mengerikan.
“Turuti apa kataku dan kamu akan baik-baik saja.” Noah menyeret Layla untuk duduk di brankar pasien. “Singkirkan bayi yang sudah mati itu, dokter. Saya sebagai walinya menyetujui tindakan apapun.”
***
Layla berpegangan pada masing-masing sisi kanan dan kiri brankar tempatnya rebah. Keringat mengucur deras di kening dan lehernya. Pada akhirnya dokter menyarankan untuk melakukan proses induksi ab0rsi. Noah menjadi satu-satunya orang yang menyetujui tindakan tersebut.
Proses induksi yang menyakitkan tak sebanding dengan hancurnya perasaan Layla. Perempuan itu merasa dikhianati. Bayi ini tumbuh di dalam rahimnya. Selama 7 bulan lamanya Layla yang merasakan pertumbuhan janin. Namun, dengan seenaknya Noah justru mengambil keputusan sepihak.
“Sakit ….” Layla meringis.
Di ruangan bersalin ini Noah bahkan tak mendampinginya. Noah bahkan menyita ponsel dan dompet Layla. Dengan begitu Layla tidak bisa menghubungi keluarganya atau melarikan diri.
“Pembukaannya sudah lengkap ya, Ibu.” Perawat datang.
Tak berselang lama dokter juga datang. Mereka melebarkan kaki Layla. Rasa sakit dan mulas kini bersatu. Sekuat apapun Layla berusaha mempertahankan kehamilannya dorongan obat induksi memaksa perempuan itu untuk mengejan.
“Tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan iya seperti itu.”
Layla menghempaskan kepalanya ke atas bantal. Dia belum pernah melahirkan. Pengalaman mengeluarkan kepala bayi dari dalam rahim menjadi pengalaman baru yang mengerikan. Terlebih Layla tahu setelah ini dia tak akan mampu mendengar tangis bayinya.
“Nghh ….” Layla mengejan sekuat tenaga mengikuti dorongan rasa mulas yang membelit perutnya. “Hah … sakit sekali.”
Layla mampu merasakan sesuatu keluar dari mulut rahimnya.
“Saya … mau lihat anak saya.” Layla mengulurkan kedua tangannya ke udara meminta agar dokter menyerahkan bayinya yang baru lahir.
Usia kehamilan Layla baru 7 bulan. Berat bayinya mungkin baru 1,4 kg. Bayi perempuan itu tak membuka mata. Tak bernapas juga. Bayinya Layla sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Dengan perasaan hancur Layla memeluk bayinya. Dia meraung meratapi bayi yang baru saja dilahirkan bagai hewan yang terluka.
***
“Percuma kalau kamu bercerita kepada keluargamu. Yang ada mereka akan menyalahkan kamu karena sudah mencoreng nama besar Hoesnadi dan Tanoewidjaya.”
Layla melamun di kamar apartemennya yang sudah seperti kapal pecah. Ucapan Noah beberapa hari lalu masih terngiang di dalam kepalanya. Pada saat itu pula ponsel Layla bergetar panjang untuk keseratus kalinya. Dengan malas Layla menarik ponsel dan menemukan nama Sheila sebagai orang yang melakukan panggilan.
“Kamu kemana aja? Kenapa telepon Kakak enggak diangkat?” Suara Sheila langsung terdengar. Kakaknya itu bahkan tak perlu repot-repot untuk berbasa-basi.
“Aku ada di apartemen.”
“Kata Om Yudistira udah seminggu kamu enggak masuk kantor. Kamu juga enggak balas chat Kakak. Sebenarnya ada apa? Kamu putus dari Noah?”
Pegangan Layla pada ponselnya menguat. Mendengar nama Noah menimbulkan satu getaran benci yang terasa pahit.
“Aku baik.” Bohong Layla. Dia tak mungkin menceritakan detail peristiwa.
“Terus kenapa enggak ke kantor? Kenapa chat dari Kakak enggak dibalas? Kalau aja Noah enggak bilang kalau kalian lagi berantem pasti sekarang Kakak udah ngira kamu kenapa-napa. Layla, berantem di dalam hubungan itu wajar. Kakak sama Mas Gasendra juga enggak jarang debat. Tapi, kamu harus yakin Noah adalah laki-laki yang baik. Dia—”
Lantaran tak tahan mendengar nama Noah disebut Layla langsung saja mematikan sambungan telepon. Perset-an dengan apa kata Sheila setelah ini. Layla tak lagi peduli.
Layla kembali meringkuk. Pada saat itulah pandangannya tertuju pada sisa vitamin yang diberikan oleh Noah. Layla bangun. Dia hendak membuang vitamin itu karena percuma sekarang Layla sudah tidak hamil. Akan tetapi, emboss yang tercetak di vitamin itu menarik perhatian Layla. Emboss itu asing.
Insting Layla menyuruhnya untuk mencari tahu makna dari emboss tersebut.
Jantung Layla seakan baru saja ditusuk ketika dia melihat vitamin itu—setidaknya itulah yang digembor-gemborkan oleh Noah—ternyata masuk ke dalam golongan obat keras.
Efek samping: dapat menimbulkan henti jantung pada janin.
Satu kalimat itu berhasil meruntuhkan dunianya.
Noah memang sengaja memb-unuh bayi mereka.
***
3 bulan kemudian.
Athala terbangun dari tidurnya. Dia langsung menyalakan lampu dan melihat jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Suara bising di luar unit apartemennya berhasil mengusik tidur lelaki itu. Sayup-sayup Athala dapat mendengar suara sirine polisi.
Intuisinya mendorong Athala untuk memeriksa keluar. Di lorong apartemen Athala melihat sejumlah pria berotot yang mengerubungi salah satu unit apartemen. Penghuni apartemen yang ikut terganggu juga keluar dan memeriksa keadaan.
“Permisi, ini ada apa ya?” Athala bertanya pada salah satu penghuni apartemen yang tampaknya sudah ada di sana sejak tadi.
“Ada penghuni apart ini yang pake nark0ba.”
Bersamaan dengan itu pula dua orang petugas polisi keluar membawa seorang perempuan dari dalam unit apartemen yang menjadi perhatiannya.
“Elaine?” Athala harus mengucek matanya untuk memastikan bahwa perempuan yang diseret keluar dari apartemen itu bukanlah orang yang dia kenal. Langkah membawa Athala untuk mendekat.
Mustahil dia adalah Elaine.
Jantung Athala berdegup riuh ketika dia meraih pergelangan tangan wanita itu—menahannya untuk berjalan menjauh. “Elaine?”
“Maaf, Bapak siapa?” Petugas BNN yang bertugas membawa Layla bertanya heran.
Layla ikut menoleh. Perempuan itu tampak tak bernyawa. Kecantikannya seperti mati begitu saja. Selama sepersekian detik pandangan keduanya berada di dalam satu garis lurus yang sama.
Mereka tak saling bicara, tetapi Athala seakan mampu merasakan rasa sakit dan sepi pada jiwa Layla—mirip perempuan itu. Perempuan yang pernah mampir di dalam kehidupan Athala.
“Maaf, saya salah orang.”
Kontak mata itu terputus ketika petugas berwajib meminta Layla untuk terus melangkah.
Waktu itu mereka belum saling mengenal. Tadinya Athala berpikir bahwa pertemuannya dengan Layla hanya akan terjadi sekali. Hanya saja, dugaan Athala meleset.
[]