*** Dia diibaratkan seperti musim. Selalu berubah-ubah dan sulit untuk ditebak. *** Shanly membuka pintu apartemennya dan membiarkan Ellena masuk mendahuluinya. Wanita itu menggeret kopernya masuk ke ruang tamu. Saat kedua kakinya berhenti tepat didepan sofa, Ellena langsung meletakkan kopernya dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk berwarna merah maroon tersebut. Mata Ellena menatap lekat Shanly, pertanda bahwa wanita itu hendak mengeluarkan semua unek-unek yang bersemayam dihatinyasejak dua jam yang lalu. Shanly tahu pasti apa yang ingin Ellena bicarakan padanya, tapi dia mengabaikan tatapan Ellena dan berjalan menuju dapur. Mengeluarkan sebotol air dingin dari lemari es, dan menuangkannya kedua buah gelas kaca. Shanly memberikan segelas air dingin untuk Ellena sementara d

