Aku memandang wajah Mas Lutfi yang berubah pucat, ia seperti kebingungan antara harus tersenyum atau apa. "Ini pasti Teh Risti ya?" Wanita itu tersenyum ke arahku. "Iya, siapa ya?" Aku balik bertanya. Perempuan itu mengulurkan tangan padaku. "Aku Sabrina, Teh, Mamanya Rafka." Tanganku langsung dingin setelah bersalaman dengannya begitu tahu dia Sabrina, wanita yang berperawakan sedang tapi bodynya aduhai itu tersenyum menatapku. Tingginya memang tak melampauiku. Namun, body Sabrina jauh lebih mont*k dan sexy dariku, kulitnya kuning Langsat, hidungnya tegak tapi tak terlalu mancung dan mata agak sipit. "Oh, iya iya." Aku pun berusaha tersenyum walau males. "Ini rumah kalian?" tanyanya sambil menunjuk rumah kami. "Iya." "Wah kebetulan ya kita tetanggaan berarti." Aku melirik Mas L

