13. Mengumpulkan Persyaratan

1036 Words
Rahmadi menumpahkan segala keluh kesahnya. Pemuda itu dilanda kecemasan menyadari setiap waktunya berjalan dengan begitu cepat. Sementara tidak ada perkembangan dengan tujuannya, ditambah semalam Rahmadi bermimpi melihat Laila menikah dengan Bagus. Hal itu memicu Rahmadi kehilangan kesabaran pagi ini. Sementara itu Ki Wacito tampak menggeleng pasrah, dukun Dusun Dhadap itu menghembuskan napas lelah. “Amarah dan ketidaksabaranmu itu adalah masalahnya, Rahmadi. Aku bisa saja membiarkan kamu mmulai ritual hari ini juga. Sayangnya, mereka sangat menyukai keserakahanmu dan akan menjadikan itu kelemahanmu di saat yang bersamaan. Aku harap kau mengerti, Anak Muda. Ini bukan perkara sepele seperti bertemu Tuan Tanah, mereka jauh lebih berkuasa darimu. Bahkan nyawamu tidak berharga bagi mereka. Jika kamu tidak mampu menguasai diri, bukan hanya tujuanmu yang tidak akan tercapai tapi juga nyawamu yang akan melayang.” Rahmadi hendak mendebat Ki Wacito karena meras tidak mau disalahkan, sayangnya tubuh Rahmadi menjadi kaku seperti beberapa hari lalu saat ia pertama bertemu dengan Ki Wacito. Bibirnya bahkan terkunci rapat seperti ada lem yang merekat kuat di bibirnya. “Aku harus menyelesaikan beberapa urusan, sementara itu kau bisa membantuku menyiangi kebun belakangku. Kau harus bisa menguasai emosimu terlebih dahulu, baru aku akan menuntunmu ke tingkatan selanjutnya. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Buktinya kamu yang kesulitan untuk menikahi gadis pujaanmu dan justru mencari bantuan bangsa Jin, padahal ada banyak manusia yang lebih bisa membantumu.” Dengan sendirinya, Rahmadi duduk di kursi sesuai apa yang diperintahkan Ki Wacito. Selesai dengan ceramahnya, Ki Wacito bergegas meninggalkan rumah. Kakek tua itu tidak lupa mengambil peralatan merokoknya yang ia simpan dalam sebuah plastik bening di atas meja setelah memasukkan sejumput tembakau kering ke dalam plastik. Ki Wacito lebih suka rokok lintingan yang dibuat sendiri, ia memiliki kebebasan untuk meracik sendiri rokoknya. Hal itu jelas mempengaruhi rasa rokok, rokok pabrik jelas tidak bisa menyaingi rokok lintingan. Ki Wacito sempat menatap Rahmadi sesaat sebelum benar-benar meninggalkan rumah. Rahmadi tengah mencabuti rumput di halaman belakang ketika ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kencang. Pria itu meraih parang di tangan kanannya dan masuk ke dalam rumah, Rahmadi berpikir itu mungkin saja maling. Sialnya dugaan Rahmadi salah, ia memang mendapati beberapa pria dewasa berada di dalam ruang tamu, mereka tampak mengerubungi sebuah dipan yang terbuat dari anyaman bambu. “Kasian.” “Ya, mau bagaimana lagi?” “Usianya memang sudah tidak muda lagi.” Mendengar celetukan pria-pria tadi Rahmadi berinisiatif mendekat, separuh hati Rahmadi takut jika itu adalah Ki Wacito. Mungkin saja kakek tua itu terjatuh atau mengalami hal tidak terduga lainnya saat tengah menyelesaikan urusannya. Rahmadi menahan napas ketika melihat tubuh yang terbaring di ranjang itu. Di hadapannya terbaring tubuh pucat seorang pria yang pakaiannya tampak compang-camping. Bau busuk tercium dari tubuh pria tadi, beberapa bahkan menutup hidung dan langsung berlari keluar karena mual tidak tahan dengan bau busuk tersebut. Ki Wacito tiba-tiba muncul dengan sebuah kendi di tangan kanannya, pria-pria tadi langsung menepi dan membiarkan Ki Wacito mengambil tempat tepat di atas kepala pria dengan tubuh pucat itu. Ki Wacito tampak berkomat-kamit di depan mulut kendi, matanya terpejam sementara tubuh tuanya terlihat sedikit bergetar. Setelah beberapa saat, Ki Wacito mulai menyiramkan air di dalam kendi ke tubuh pria yang terbaring di bale-bale. Asap putih tipis tampak muncul dari tubuh si pria, Rahmadi yang ketakutan beringsut mundur. Sementara Ki Wacito masih melanjutkan pekerjaannya untuk memastikan seluruh tubuh pria di hadapannya terkena air dari kendi sambil terus berkomat-kamit. Tidak lama kemudian, pria tadi mulai bergerak. Matanya yang semula membelalak hingga tampak bagian putihnya saja kini sudah kembali normal. Ki Wacito segera mengarahkan sisa air di kendi ke mulut pria tadi, air itu diminumnya dengan tergesa-gesa, seolah khawatir ada orang lain yang akan merebut air minumnya. Rahmadi menyaksikan semuanya dengan perasaan bingung yang berkecambuk. Ia ingin langsung bertanya pada Ki Wacito tapi kakek tua itu memberikan gesture tidak ingin diganggu. Akhirnya Rahmadi kembali melanjutkan tugasnya di halaman belakang. *** “Sudah kau lihat pria tadi siang?” Ki Wacito memulai percakapan, Rahmadi yang semula sudah mengantuk menjadi kembali bersemangat karena ia memang sangat penasaran dengan yang terjadi. “Pria tadi meminta sesuatu kepada mereka meski tidak sebesar permintaanmu. Aku sudah meminta ia untuk bersabar yang tentu saja tidak didengar olehnya.” Rahmadi menganguk mengerti dengan penjelasan Ki Wacito. “Ia masih beruntung karena masih bisa tertolong, sementara kebanyakan bahkan hilang tanpa pernah ditemukan jasadnya.” Rahmadi bergidik mendengar penjelasan Ki Wacito, sepertinya memang sangat berbahaya jika ia ikut-ikutan bertindak gegabah. Seketika Rahmadi merasa tidak enak hati karena sempat berburuk sangka pada Ki Wacito, padahal kakek itu hanya mengupayakan keselamatan Rahmadi. “Aku rasa kau sudah tahu konsekuensinya, aku berharap hal ini menjadi pengingat bagimu agar tidak tergesa-gesa,” ujar Ki Wacito sambil menatap Rahmadi. Ki Wacito pernah memeiliki seorang putra, jika saja putranya masih hidup, mungkin anaknya itu akan seusia Rahmadi. Sayang sekali karena anak semata wayangnya itu adalah korban dari kerakusan Ki Wacito sendiri. “Besok pergilah ke rumah salah seorang warga, minta mereka untuk membelikanmu bunga tujuh rupa dan kelapa gading.” Perintah Ki Wacito kemudian. “Besok, Ki? Bukannya saya masih harus berlatih?” Rahmadi menyampaikan isi pikirannya. “AKu hanya akan melakukan penyucian batin untukmu. Menurut perhitungan wetonmu, lusa adala hari yang paling baik untukmu.” Sesuai dengan perintah Ki Wacito semalam, pagi ini Rahmadi menyusuri jalanan menurun menuju rumah salah satu penduduk. Tuan rumah mengenali Rahmadi sebagai pemuda yang sempat singgah beberapa hari lalu untuk meminta air, Rahmadi segera menyampaikan permintaannya yang disanggupi dengan mudah oleh warga. Selesai dengan urusannya, Rahmadi segera pamit. Masih ada beberapa persiapan yang harus ia lakukan. Salah satunya menggali lubang sedalam dua meter di belakang rumah Ki Wacito. Sejujurnya, menggali lubang buknalah hal yang sulit karena Rahmadi sudah sering melakukan pekerjaan itu, satu-satunya yang menyulitkan adalah fakta jika tanahnya lebih keras dari hari kemarin. Selama menggali beberapa kali cangkul Rahmadi menghantam batu yang cukup besar. Ia sudah berkali-kali berganti tempat menggali, namun cangkulnya tetap saja terkena batu. Sesuatu yang mengherankan, karena saat Rahmadi mencabut singkong kemarin tanahnya jelas tidak sekeras ini. Peluh mengucur di tubuh Rahmadi, ia sudah menggali cukup lama namun lubangnya masih kurang dari 2 meter. Di saat lelah seperti ini, Rahmadi membayangkan Laila. Pemuda itu membayangkan kehidupan menyenangkan yang akan ia jalani bersama Laila, dengan demikian semangatnya pun terpacu kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD