12. Belajar Menahan Amarah.

1327 Words
“Kamu tidak seharusnya membuang-buang makanan, Anak muda.” Tegur Ki Wacito yang melihat Rahmadi menyemburkan singkong yang ia tengah ia makan.   “Maafkan saya, Ki.” Rahmadi buru-buru meminta maaf, ia takut jika tindakannya akan menyinggung Ki Wacito hingga lelaki itu menolak membantunya. Ki Wacito hanya menganguk lalu menyuruh Rahmadi melanjutkan makannya. Selesai makan Ki Wacito mengarahkan Rahmadi ke satu kamar di dalam rumahnya, kamar itu akan ditempati Rahmadi selama berada di Dusun Dhadap. Setelah mempersilahkan Rahmadi untuk beristirahat, Ki Wacito pamit ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan. Rahmadi sempat menawarkan bantuan yang ditolak dengan alasan Rahmadi lebih membutuhkan istirahat untuk mempersiapkan diri. Rahmadi hanya bisa menurut meski ia tidak begitu mengerti yang dimaksud oleh Ki Wacito.   Rahmadi merebahkan diri di ranjang bambu, matanya menerawang ke langit-langit dan mulai memikirkan Laila. Hari sudah beranjak sore, mungkin sudah lewat jam tiga sore. Laila biasanya tengah mengangkat jemuran atau mulai memasak untuk makan malam. Lalu, setelah selesai memasak Laila akan menyapu halaman sambil menunggu Rahmadi datang mengantarkan rumput untuk makanan ternak, mereka biasa mencuri-curi waktu untuk saling bercerita pada kesempatan ini. Rahmadi merindukan kekasihnya itu, padahal mereka belum berpisah terlalu lama. Tidak terbayang bagaimana rindunya Rahmadi jika urusannya di sini tidak segera selesai. Setelah lamarannya ditolak waktu itu, Juragan Darno memang lebih membatasi kegiatan Laila di luar rumah karena takut gaids itu akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertemu Rahmadi. Hal itu sudah cukup menyiksa untuk Rahmadi, karena itu ia ingin segera urusannya selesai dan segera pulang menemui kekasihnya.           Meski sejujurnya Rahmadi sedikit cemas dengan perkataan Ki Wacito bahwa kondisi saat ini sedikit menyulitkan untuk Rahmadi mencapai tujuannya. Ia ingin mendesak Ki Wacito untuk bercerita tapi dukun itu enggan menjawab dengan lebih rinci, ia mengatakan jika Rahmadi akan tahu jika waktunya sudah tepat nanti. Kelelahan membuat Rahmadi mengantuk, pria itu akhirnya tertidur dan memimpikan Laila yang menyambutnya di rumah dengan senyum yang amat menawan.       Rahmadi terbangun karena wangi terasi yang menusuk, hidungnya juga terasa gatal karena mencium bau cabai yang digoreng. Rahmadi menggosok hidungnya yang berair setelah bersin berkali-kali, pria itu melangkah menuju ke dapur yang terletak di bagian belakang rumah Ki Wacito. Tampak  pria itu tengah sibuk mengaduk-aduk sesuatu di atas tungku tanah liat. Kebanyakan warga memang masih menggunakan tungku tanah liat, kompor minyak tanah adalah sesuatu yang langka. Harga minyak tanah masih cukup mahal, tungku tanah liat tentu saja lebih hemat karena mereka tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk memasak, tungku tanah liat hanya memerlukan kayu kering sebagai bahan bakarnya. Kayu kering bisa ditemukan dengan mudah mengingat sebagian wilayah masih dipenuhi pepohonan. Kompor minyak tanah hanya dimiliki beberapa kalangan yang tidak perlu mencemaskan keuangan. Selain karena harga minyak tanah yang cukup mahal, ketersediaannya pun cukup langka.   Rahmadi memutuskan untuk mendekat, ia ingin membantu Ki Wacito yang tampak kepayahan mengaduk isi penggorengan sambil terus meniup-niup nyala api yang mengecil. Anggap sja abalas abudi karena pria tua itu sudah mengijinkan Rahmadi tinggal di rumahnya secara gratis.   “Biar saya saja yang memasak, Ki,” ujar Rahmadi.   “Jangan meremehkanku, Rahmadi. Aku masih bisa memasak sendiri.” Ki Wacito menjawab tanpa menoleh kea rah rahmadi, pria itu masih menjaga nyala api dengan menggunakan sebuah ruas bambu.   Rahmadi tidak menyerah, ia pun beralih ke sisi Ki Wacito dan mengambil ruas bambu lalu mulai meniup api. Ki Wacito menggeleng pasrah menghadapi kekeras kepalaan pemuda di hadapannya. Tidak ingin membuang waktu untuk berdebat, pria itu membiarkan Rahmadi melakukan sebagian tugasnya.   Tidak lama kemudian masakan mereka pun sudah matang, keduanya makan dengan lahap.   “Makanlah sepuasmu, setelah ini kamu akan sering berpuasa,” ujar Ki Wacito saat mendapati Rahmadi hanya mengambil sedikit nasi.   “Puasa, Ki?” Tanya Rahmadi setelah menelan makanan di mulutnya.   “Tentu saja. Kamu perlu menyucikan diri sebelum memulai ritual utama, tekadmu masih sama besarnya bukan?”   Jujur saja, Rahmadi tidak mengerti arah pembicaraan Ki Wacito. Namun, pria itu tetap menurut karena ia percaya Ki Wacito akan membantunya.     *** Setelah makan malam Rahmadi berniat membicarakan masalahnya dengan serius bersama Ki Wacito, sayangnya kakek itu beralasan harus menyelesaikan sebuah pekerjaan penting malam itu. Rahmadi sempat bersikukuh ingin menunggu Ki Wacito tapi pemuda itu akhirnya tertidur. Pagi ini Rahmadi kembali dibangunkan harum nasi matang yang menggelitik hidungnya. Mendapati Ki Wacito tengah kesulitan dengan api tungku, Rahmadi berinisiatif membantu. Pria itu sudah bertekad dalam hati, ia harus mendapatkan kejelasan hari ini juga. Laila memang masih berkuliah untuk satu tahun ke depan tapi lebih bagus jika Rahmadi segera menemukan cara untuk memiliki ajian yang paling sakti untuk menarik kekayaan.   “Ki, saya mungkin bersikap tidak sabar atau tergesa-gesa. Namun, saya memiliki tujuan besar yang harus saya capai secepatnya.” Rahmadi menghadang Ki Wacito yang tengah berusaha mengambil tembakau di toples kecil di bawah meja makan.   Ki Wacito menganguk sambil mengelus ujung kumisnya, kakek itu menatap Rahmadi dengan tatapan menyelidik. Rahmadi mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan sikap Ki Wacito, ia sungguh mengharapkan jawaban pasti. Bukan hanya sebuah anggukan atau tatapan penuh intimindasi seperti yang tengah dilakukan Ki Wacito baru saja.   “Aku sedang mempersiapkan semuanya, Rahmadi.” Ki Wacito menjawab setelah selesai mengamati raut wajah pemuda di hadapannya. “Sampai kapan, Ki? Ki Wacito yang selalu mengatakan sudah tahu jelas tujuan saya meski saya belum pernah menjelaskannya. Tetapi, Ki Wacito hanya mengerjakan entah apa yang sama sekali tidak membantu sementara saya berdiam diri kehabisan waktu. Ki Wacito bahkan tidak pernah menjawab pertanyaan saya tentang bagaimana cara untuk mencapai tujuan saya. Saya harus bagaimana, Ki?” Rahmadi menumpahkan segala keluh kesahnya. Pemuda itu dilanda kecemasan menyadari setiap waktunya berjalan dengan begitu cepat. Sementara tidak ada perkembangan dengan tujuannya, ditambah semalam Rahmadi bermimpi melihat Laila menikah dengan Bagus. Hal itu memicu Rahmadi kehilangan kesabaran pagi ini. Sementara itu Ki Wacito tampak menggeleng pasrah, dukun Dusun Dhadap itu menghembuskan napas lelah.   “Amarah dan ketidaksabaranmu itu adalah masalahnya, Rahmadi. Aku bisa saja membiarkan kamu mmulai ritual hari ini juga. Sayangnya, mereka sangat menyukai keserakahanmu dan akan menjadikan itu kelemahanmu di saat yang bersamaan. Aku harap kau mengerti, Anak Muda. Ini bukan perkara sepele seperti bertemu Tuan Tanah, mereka jauh lebih berkuasa darimu. Bahkan nyawamu tidak berharga bagi mereka. Jika kamu tidak mampu menguasai diri, bukan hanya tujuanmu yang tidak akan tercapai tapi juga nyawamu yang akan melayang.”   Rahmadi hendak mendebat Ki Wacito karena meras tidak mau disalahkan, sayangnya tubuh Rahmadi menjadi kaku seperti beberapa hari lalu saat ia pertama bertemu dengan Ki Wacito. Bibirnya bahkan terkunci rapat seperti ada lem yang merekat kuat di bibirnya.   “Aku harus menyelesaikan beberapa urusan, sementara itu kau bisa membantuku menyiangi kebun belakangku. Kau harus bisa menguasai emosimu terlebih dahulu, baru aku akan menuntunmu ke tingkatan selanjutnya. Tidak ada yang mudah di dunia ini. Buktinya kamu yang kesulitan untuk menikahi gadis pujaanmu dan justru mencari bantuan bangsa Jin, padahal ada banyak manusia yang lebih bisa membantumu.” Dengan sendirinya, Rahmadi duduk di kursi sesuai apa yang diperintahkan Ki Wacito.   Selesai dengan ceramahnya, Ki Wacito bergegas meninggalkan rumah. Kakek tua itu tidak lupa mengambil peralatan merokoknya yang ia simpan dalam sebuah plastik bening di atas meja setelah memasukkan sejumput tembakau kering ke dalam plastik. Ki Wacito lebih suka rokok lintingan yang dibuat sendiri, ia memiliki kebebasan untuk meracik sendiri rokoknya. Hal itu jelas mempengaruhi rasa rokok, rokok pabrik jelas tidak bisa menyaingi rokok lintingan. Ki Wacito sempat menatap Rahmadi sesaat sebelum benar-benar meninggalkan rumah.       Rahmadi tengah mencabuti rumput di halaman belakang ketika ia mendengar suara pintu yang dibuka dengan kencang. Pria itu meraih parang di tangan kanannya dan masuk ke dalam rumah, Rahmadi berpikir itu mungkin saja maling. Sialnya dugaan Rahmadi salah, ia memang mendapati beberapa pria dewasa berada di dalam ruang tamu, mereka tampak mengerubungi sebuah dipan yang terbuat dari anyaman bambu.   “Kasian.”   “Ya, mau bagaimana lagi?”   “Usianya memang sudah tidak muda lagi.”   Mendengar celetukan pria-pria tadi Rahmadi berinisiatif mendekat, separuh hati Rahmadi takut jika itu adalah Ki Wacito. Mungkin saja kakek tua itu terjatuh atau mengalami hal tidak terduga lainnya saat tengah menyelesaikan urusannya.   Rahmadi menahan napas ketika melihat tubuh yang terbaring di ranjang itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD