11. Perlahan-lahan.

1299 Words
“Mari kita berbicara di gubukku,” ujar si kakek, bersamaan dengan itu tubuh Rahmadi  yang semula kaku kembali normal, pria itu bahkan dengan sendirinya melangkah mengikuti si kakek. Rahmadi menyadari jika pemandangan sekitarnya berbeda dengan yang ia lihat sebelum ini. Hutan lebat yang tadi lewati tidak ada lagi terlihat, Rahmadi bahkan mampu melihat jalan desa tempatnya turun dari mobil pengangkut tadi, rumah penduduk tempat Rahmadi meminta air juga terlihat meski hanya atapnya saja. Rahmadi mengerutkan kening tanda kebingungan, ia merasa sudah berjalan demikian jauh hingga kelelahan. Kali terakhir beristirahat, Rahmadi bahkan tidak lagi melihat atap penduduk atau pun jalanan mobil tempatnya turun.   Rahmadi terus mengikuti langkah kakek tua itu menuju sebuah gubuk sederhana. Rahmadi tertawa miris dalam hati, kakek tua itu menyebut rumahnya sebuah gubuk padahal kondisinya masih lebih baik dari rumah Rahmadi. Setidaknya tidak ada bagian dinding yang bolong dan harus ditambal dengan karung beras seperti rumah Rahmadi. Rahmadi bahkan menyadari bahwa itu tidak bisa disebut rumah, pantas saja Juragan Darno tidak mau menerima lamarannya, Juragan Darno cukup waras untuk tidak membiarkan putri tersayangnya tinggal dalam bangunan yang bisa roboh dan menimpa si pemiliknya sewaktu-waktu. Kakek itu mempersilahkan Rahmadi untuk duduk di bale-bale sementara si kakek masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian kakek itu muncul lagi dengan sebuah nampan di tangan, diatasnya ada dua gelas yang sepertinya berisi kopi hitam. Rahmadi menyadari itu kopi dari wangi yang langsung tercium olehnya. Selain kopi juga ada sepiring singkong rebus yang tampak ditaburi kelapa parut di atasnya.   “Kamu punya kegigihan yang luar biasa, Rahmadi.” Kakek tua itu meletakkan segelas kopi di depan Rahmadi, sementara gelas satunya lagi ia letakkan di hadapannya sendiri.   Sementara Rahmadi tampak terdiam di tempatnya, seingatnya ia belum memperkenalkan dirinya tapi kakek ini sudah mengetahui namanya.   “Tidak perlu heran begitu, Anak Muda. Kedatanganmu ini sudah ku lihat sejak beberapa minggu lalu dlama mimpiku. Tujuanmu pun sudah ku ketahui, terlihat jelas dari raut putus asa yang ada di wajahmu. Pasti perkara cinta bukan?” Rahmadi menganguk penuh kekaguman. Sepertinya ini bagian dari kesaktian kakek ini, Rahmadi bahkan tidak perlu menjelaskan hal lain karena semua tebakan pria tua in tentangnya adalah benar.   “Jangan terburu-buru, tujuanmu sangat besar dan sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Selain kesungguhan tekad, kamu juga perlu kesabaran untuk menempuh setiap tahapnya. Tidak banyak yang berhasil menjalankan ujiannya, tapi kemakmuran adalah pasti bagi mereka yang berhasil,” jelas Kakek tua itu penuh penekanan.   “Ki Wacito?” Panggil Rahmadi raguu-ragu. Ia takut jika kakek ini adalah wujud penjelmaan yang berusaha menyesatkan Rahmadi dari tujuannya, ia sudah diwanti-wanti mengenai hal ini oleh Pak Kades. Ketika mulai mendaki menuju rumah Ki Wacito, tidak boleh ada sedikitpun keraguan di hatinya. Karena akan ada ujian sebelum ia berhasil menemui Ki Wacito, biasanya hal ini dilakukan penunggu sekitar yang menginginkan tumbal. Karena itulah, Rahmadi ragu-ragu jika kakek tua di depannya ini sungguh Ki Wacito, bisa saja ini adalah salah satu penjelmaan penunggu yang akan menyesatkan Rahmadi. Bukannya menjawab panggilan Rahmadi, kakek tua itu malah tersenyum meremehkan.   “Buang semua pikiran burukmu, Anak Muda. Aku bukan wujud penjelmaan seperti yang kau takutkan,” ujar kakek tua itu.   Rahmadi tampak kikuk karena pikirannya disadari oleh lawan bicaranya, “Jadi kakek ini sungguh Ki Wacito?”   “Kalau kau terus meragukanku, kau bersumpah tidak akan membantumu.” Kalimat kakek tua itu membuat Rahmadi bungkam, pemuda itu mengumamkan kata maaf dan menyesal yang hanya dijawab dengan anggukan Ki Wacito.   Rahmadi mulai meminum kopinya, Ia juga mencomot sepotong singkong rebus yang terlihat mengiurkan. Rahmadi memang belum makan seharian ini, perutnya hanya terisi dua tempe goreng dan air putih. Rahmadi berusaha sehemat mungkin membelanjakan uangnya, ini adalah usaha terakhirnya. Ia tidak mungkin kembali lagi ke Desa Sukatani jika uangnya habis, karena itu Rahmadi harus berhemat.   “Sayangnya ada beberapa hal buruk akhir-akhir ini, Anak Muda. Aku takut hal ini akan berimbas pada rencanamu,” ucap Ki Wacito dengan nada sedih hingga membuat Rahmadi tersedak singkong rebus karena terlalu terkejut.       ***     “Kamu tidak seharusnya membuang-buang makanan, Anak muda.” Tegur Ki Wacito yang melihat Rahmadi menyemburkan singkong yang ia tengah ia makan.   “Maafkan saya, Ki.” Rahmadi buru-buru meminta maaf, ia takut jika tindakannya akan menyinggung Ki Wacito hingga lelaki itu menolak membantunya. Ki Wacito hanya menganguk lalu menyuruh Rahmadi melanjutkan makannya. Selesai makan Ki Wacito mengarahkan Rahmadi ke satu kamar di dalam rumahnya, kamar itu akan ditempati Rahmadi selama berada di Dusun Dhadap. Setelah mempersilahkan Rahmadi untuk beristirahat, Ki Wacito pamit ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan. Rahmadi sempat menawarkan bantuan yang ditolak dengan alasan Rahmadi lebih membutuhkan istirahat untuk mempersiapkan diri. Rahmadi hanya bisa menurut meski ia tidak begitu mengerti yang dimaksud oleh Ki Wacito.   Rahmadi merebahkan diri di ranjang bambu, matanya menerawang ke langit-langit dan mulai memikirkan Laila. Hari sudah beranjak sore, mungkin sudah lewat jam tiga sore. Laila biasanya tengah mengangkat jemuran atau mulai memasak untuk makan malam. Lalu, setelah selesai memasak Laila akan menyapu halaman sambil menunggu Rahmadi datang mengantarkan rumput untuk makanan ternak, mereka biasa mencuri-curi waktu untuk saling bercerita pada kesempatan ini. Rahmadi merindukan kekasihnya itu, padahal mereka belum berpisah terlalu lama. Tidak terbayang bagaimana rindunya Rahmadi jika urusannya di sini tidak segera selesai. Setelah lamarannya ditolak waktu itu, Juragan Darno memang lebih membatasi kegiatan Laila di luar rumah karena takut gaids itu akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertemu Rahmadi. Hal itu sudah cukup menyiksa untuk Rahmadi, karena itu ia ingin segera urusannya selesai dan segera pulang menemui kekasihnya.   Meski sejujurnya Rahmadi sedikit cemas dengan perkataan Ki Wacito bahwa kondisi saat ini sedikit menyulitkan untuk Rahmadi mencapai tujuannya. Ia ingin mendesak Ki Wacito untuk bercerita tapi dukun itu enggan menjawab dengan lebih rinci, ia mengatakan jika Rahmadi akan tahu jika waktunya sudah tepat nanti. Kelelahan membuat Rahmadi mengantuk, pria itu akhirnya tertidur dan memimpikan Laila yang menyambutnya di rumah dengan senyum yang amat menawan.       Rahmadi terbangun karena wangi terasi yang menusuk, hidungnya juga terasa gatal karena mencium bau cabai yang digoreng. Rahmadi menggosok hidungnya yang berair setelah bersin berkali-kali, pria itu melangkah menuju ke dapur yang terletak di bagian belakang rumah Ki Wacito. Tampak  pria itu tengah sibuk mengaduk-aduk sesuatu di atas tungku tanah liat. Kebanyakan warga memang masih menggunakan tungku tanah liat, kompor minyak tanah adalah sesuatu yang langka. Harga minyak tanah masih cukup mahal, tungku tanah liat tentu saja lebih hemat karena mereka tidak perlu mengeluarkan uang lebih untuk memasak, tungku tanah liat hanya memerlukan kayu kering sebagai bahan bakarnya. Kayu kering bisa ditemukan dengan mudah mengingat sebagian wilayah masih dipenuhi pepohonan. Kompor minyak tanah hanya dimiliki beberapa kalangan yang tidak perlu mencemaskan keuangan. Selain karena harga minyak tanah yang cukup mahal, ketersediaannya pun cukup langka.   Rahmadi memutuskan untuk mendekat, ia ingin membantu Ki Wacito yang tampak kepayahan mengaduk isi penggorengan sambil terus meniup-niup nyala api yang mengecil. Anggap sja abalas abudi karena pria tua itu sudah mengijinkan Rahmadi tinggal di rumahnya secara gratis.   “Biar saya saja yang memasak, Ki,” ujar Rahmadi.   “Jangan meremehkanku, Rahmadi. Aku masih bisa memasak sendiri.” Ki Wacito menjawab tanpa menoleh kea rah rahmadi, pria itu masih menjaga nyala api dengan menggunakan sebuah ruas bambu.   Rahmadi tidak menyerah, ia pun beralih ke sisi Ki Wacito dan mengambil ruas bambu lalu mulai meniup api. Ki Wacito menggeleng pasrah menghadapi kekeras kepalaan pemuda di hadapannya. Tidak ingin membuang waktu untuk berdebat, pria itu membiarkan Rahmadi melakukan sebagian tugasnya.   Tidak lama kemudian masakan mereka pun sudah matang, keduanya makan dengan lahap.   “Makanlah sepuasmu, setelah ini kamu akan sering berpuasa,” ujar Ki Wacito saat mendapati Rahmadi hanya mengambil sedikit nasi.   “Puasa, Ki?” Tanya Rahmadi setelah menelan makanan di mulutnya.   “Tentu saja. Kamu perlu menyucikan diri sebelum memulai ritual utama, tekadmu masih sama besarnya bukan?”   Jujur sjaa, Rahmadi tidak mengerti arah pembicaraan Ki Wacito. Namun, pria itu tetao menurut karena ia percaya Ki Wacito akan membantunya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD