Dilelang: Pangeran

1102 Words
Mulutnya yang menganga tak mampu lagi berkata-kata. Lincoln menyeringai, dia maju selangkah. Hansel memejam, merasakan cairan hangat membasahi celananya. Meski gemetar dan tampak menyedihkan, dia tetap berusaha berkata lantang, "Bukankah seorang kesatria hanya melawan musuh yang bersenjata?! Kakakku tidak memegang pedang, kau tidak boleh bertarung lagi dengan kakakku." Aidan tersenyum bangga melihat sang adik, membuatnya teringat kembali obrolan mereka di ruang kerja sang ayah. Dia tidak ingin Hansel mati. Sebelum Aidan berhasil menarik tangan Hansel, Lincoln lebih dulu mendaratkan pukulannya ke wajah Hansel. "Kalau tidak menggunakan pedang, tidak masalah, kan?" Lincoln menyeringai ketika melihat wajah lebam Hansel dan sudut bibir anak itu mengeluarkan darah. Yang lebih membuat Lincoln menyeringai adalah rona ketakutan di wajah Hansel. Dia sangat menyukai pemandangan saat ini. "Jangan adikku!" teriak Aidan, dia susah payah berdiri di depan Hansel, menghalangi Lincoln yang mencoba mendekat ke tempat Hansel terjatuh. "Lawanmu adalah aku." "Cih! Orang-orang Alderich ternyata banyak omong!" Lincoln maju selangkah, langsung menusukkan pedangnya ke perut Aidan. "Kakak!" teriak Hansel, yang wajahnya telah terciprat darah Aidan. "Kakak, tidak, Kak. Jangan tinggalkan aku, Kak." Hansel membawa kepala Aidan ke pangkuannya, membelai wajah lelah kakaknya itu. "Maafkan aku, Hans," ujar Aidan dengan suara rendah, sudah susah payah mengeluarkan suara. Hansel menangis, ingusnya ikut keluar. Dia menggeleng-geleng berulang kali, lalu sesenggukan. Berkata, "Aku mau sama Kakak. Jangan tinggalkan aku sendirian, Kak." Aidan menggenggam tangan Hansel, memuntahkan darah dari mulutnya. "Dengar, Hans, jawaban teka-teki minggu lalu adalah..." "Aku tidak mau teka-teki. Aku mau Kakak. Aku tidak mau teka-teki.... Hiks... Hiks... Aku mau .... sama ... Kakak..." Aidan tersenyum. "Cinta." Dia lalu menutup mata untuk selamanya. "Kakak!" "Tuan Lincoln, kami sudah membereskan semuanya," lapor salah satu prajurit Alhanan. Tidak berapa lama, beberapa prajurit menghampiri Lincoln pula untuk menunggu perintah selanjutnya. "Kakak! Kakak! Kakak!" Hansel terus mengguncang tubuh kaku Aidan. "Hei, bocah─" Lincoln belum usai bicara saat Hansel tiba-tiba menatapnya tajam. "Kau bukan kesatria!" teriak Hansel. "Kau pengecut! Aku akan membunuhmu! Aku akan membunuhmu! Arghhhhh!!!!" Teriakan Hansel membuat semua prajurit kerajaan Alhanan seketika terdiam. Mereka menelan ludah ketika melihat tatapan penuh amarah Hansel. Air mata anak itu bercampur liurnya sendiri ketika teriak tadi, juga ada darah Aidan, membuat pemandangan di sana sangat menyeramkan. "Tatapan anak itu sangat menyeramkan. Apakah anak tujuh tahun bisa memiliki ekspresi seperti itu di wajahnya?"   ◊ ◊ ◊   Hansel tersadar dari kenangan saat banyak orang meneriakkan, "Hidup raja Alhanan!" dengan sangat berisik. Mencari sumber kebisingan itu, Hansel melihat seorang pria dengan jubah kerajaan─dengan lambang dua singa─sedang berdiri di podium penghakiman. Dikatakan podium penghakiman karena ada tempat eksekusi berupa tali dan peralatan memenggal kepala di sana, tapi juga ada banyak kursi yang telah diisi beberapa pria dan wanita yang mengenakan pakaian mewah. Hansel menelan ludah. Apakah dia akan berakhir di tempat eksekusi? "Rakyatku sekalian," kata sang raja, seketika tak ada suara di sekitarnya, "tadi malam sampai fajar, pasukan terbaik Alhanan telah menaklukkan kerajaan Alderich yang biadab itu!" Hansel snaagt marah karena kerajaannya dianggap biadab. Apa sebenarnya yang sudah dilakukan ayahnya? Seingat Hansel, sang ayah dan kakak hanya melakukan perjalanan untuk menambah pengetahuan guna memakmurkan kerajaan Alderich. "Hidup Yang Mulia Raja! Hidup Yang Mulia Raja!" Sorakan itu kembali menggema dengan irama yang teratur. Setelah tersenyum melihat antusias rakyat, raja kembali mengangkat tangannya, dan hening lagi. "Di tempat ini, kita akan mempertontonkan kepala raja biadab itu selama seminggu ke depan sebagai persembahan kepada dewa kita!" Napas Hansel sesak ketika melihat kepala Robert digantung di tiang gantungan oleh Lincoln. Tidak itu saja, ada kepala Myra pula di sana. Hansel pun kembali terisak. "Ayah... Ibu..." rengeknya. "Inilah kepala pasangan biadab itu!" teriak raja Alhanan. Tangan Hansel gemetar, dia tidak sanggup lagi menopang tubuh, dan berakhir terduduk dengan burai air mata, tepat di samping podium besar itu. Prajurit yang memegang ujung tali pengikat tangan Hansel hanya menatap anak itu dengan prihatin, lalu menghela napas, dan kembali melihat sang raja yang mengumumkan hadiah perang untuk Lincoln. "Dalam kesempatan ini pula, aku akan memperkenalkan putra mahkota kerajaan Alhanan. Sambutlah putraku, Raulas Lawrence Alhanan." Sosok anak usia delapam tahun menaiki podium dengan gaya kikuk, nyaris terjatuh. Ketika berdiri di hadapan rakyatnya, dia seolah merasa pusing, tapi kemudian tatapannya jatuh pada Hansel yang terduduk di pinggiran podium bersama dengan anak-anak lain yang tangannya terikat. "Ayah, kenapa mereka diikat?" tanyanya, masih menatap Hansel penuh iba. Hansel menatap tajam anak itu, penuh kebencian. Dia paling tidak suka ada orang lain yang menatapnya penuh iba. Bisik-bisik rakyat mulai terdengar, tentang putra mahkota yang tidak kompeten itu. Mereka heran kenapa bukan putri Cecilia Fiani Alhanan saja yang naik tahta saat dewasa nanti? Raja Alhanan tidak ingin lebih malu lagi, maka dia langsung menyuruh putranya turun dari podium, dan melanjutkan acara hari itu, yakni pelelangan para b***k. Semua anak baik dari kaum bangsawan maupun pelayan di kerajaan Alderich, mulai dilelang, sampai akhirnya tiba giliran Hansel. Meski wajahnya babak belur, pesonanya tidak bisa disembunyikan. "Harga dibuka dari satu juta Rup," kata salah satu prajurit yang melelang Hansel. Rup adalah mata uang penduduk negara Miaji. Di negara Miaji ada tiga kerajaan besar yakni Alhanan, Asyira dan Alderich. Ketiga kerajaan sudah berdamai sejak puluhan tahun lalu. Negara Miaji adalah satu-satunya negara di benua ini. Di depan sana, Hansel hanya menatap kepala ayah dan ibunya dengan tatapan sedih. "Sepuluh juta," kata seorang pria bangsawan yang pakaiannya terlihat mahal. Riuh membahana. Tawar menawar terus berlanjut demi mendapatkan Hansel. Sementara yang jadi bahan lelang itu tertawa pelan mendengar betapa tinggi harga dirinya. "20 Milyar Rup," ujar seseorang yang tak lain adalah Lincoln. Setelah mendengar Lincoln menawar, Hansel langsung menatapnya tajam. Jika boleh memilih, Hansel lebih baik mati daripada menjadi b***k Lincoln. Tapi sialnya, tidak ada yang berani menawarnya lebih tinggi dari Lincoln. Hansel mulai cemas saat prajurit menghitung mundur sebagai tanda sah Hansel akan menjadi b***k Lincoln. Tepat sebelum angka satu diujarkan sang pelelang, Hansel berkata, "Tunggu dulu." Semua rakyat tercengang, kemudian mulai riuh membahas tentang kelancangan Hansel yang bicara tanpa izin raja. "Seorang b***k tidak─" "Diamlah!" titah Hansel bahkan sebelum orang di bawah podium itu menyelesaikan kalimatnya. "Raja, aku ingin mengatakan sesuatu," kata Hansel, yang masih saja bertindak tidak sopan seolah sedang di istananya sendiri.  Raja marah, dia memukul lengan kursi yang menjadi tempatnya duduk. "Siapa kau? Berani sekali bertindak sesukamu di sini?" "Aku pangeran dari kerajaan Alderich!" seru Hansel dengan bangganya, sepertinya belum sadar bahwa Alderich telah runtuh tadi malam. Rakyat Alhanan tertawa, lantas melempari Hansel dengan kerikil dan beberapa bungkus makanan. Hansel tak bergeming meski pelipis dan keningnya berdarah karena lemparan batu. Raja menyeringai, mengakui keberanian Hansel. "Apa maumu?" tanya Raja, yang telah mengangkat tangannya untuk menghentikan amukan rakyat terhadap Hansel. Hansel menghadap rakyat di bawah podium. Dia berkata, "Aku akan menceritakan sebuah rahasia menarik di kerajaan Alderich, kepada siapa pun yang nantinya akan menjadi Tuanku." Sejujurnya Hansel benci kata terakhir dari kalimatnya, tapi dia terpaksa merendahkan dirinya agar ada orang yang mau membelinya lebih tinggi dari Lincoln. Setelah ini, siapa pun yang akan menjadi tuannya, Hansel bersumpah akan merendahkannya lima kali lipat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD