Tolong!!

1249 Words
Bulu kudukku berdiri semua. Ini pertama kalinya aku melihat kuntilanak. Dia tertawa tawa dengan tubuh yang terus saja terpelanting kesana-kemari. Setiap habis tekan klakson tubuhnya langsung terpelanting, tertawa dengan suara nyaring. Ingin aku berteriak, tapi lidahku kelu. Kaki sudah gemetaran. “Sekarang kau bisa melihatnya?” “Bi ... bisa, Pakde. Maaf aku kepo,” kataku selanjutnya dengan mata terpejam, pemandangan itu terlalu seram untuk kulihat. Pak membalikkan tubuhku ke arahnya, lalu kembali menyentuh kening ini cukup lama. Setelah itu, ia meminta aku membuka mata. Perlahan aku membuka mata dan sepi, sunyi, senyap. “Tidur, sana,” perintah Pakde yang kujawab dengan anggukan kepala. “Lain kali jangan keluar kamar kalau malam, kecuali terpaksa, apalagi ke kamar mandi sendiri, dia suka gelantungan di sana. ‘Astaghfirullah ... ‘ ucapku lirih sambil memejam kuat membayangkan. Aku masuk ke kamar dan menutup pintunya, saat akan menuju ranjang aku dikagetkan dengan rambut hitam yang bergulung-gulung di atas pembariangan. Aku terlonjak sampai tubuhku terpetal ke daun pintu. Tanganku saling menggenggam, bulu kudukku berdiri semua. Rambut itu ternyata tesambung ke atas atap. Awalnya aku berniat tidak akan menatap ke arah atas, tapi suara nyanyiannya membuatku mendongak. “Hihihihihiiii.” Tawanya cekikikan. Matanya bak kelereng anak-anak, bulat dan putih semua. Dia tak punya alis, seringainya sangat menyeramkan. Tangannya melambai padaku. Tubuhnya seakan menempel di pelavon rumah ini. Rasanya aku tak bisa bernapas, gigiku gemeratak ketakutan. ingin kualihkan pandangan, tapi tak bisa entah mengapa. Baju putih itu menjuntai-juntai di sekitaran tempat tidurku. Kuberanikan diri untuk bersuara. Kutarik napas panjang-panjang dan menghitung satu sampe tiga. Satu dua tiga! Aku berteriak sekuat tenaga. “Pakdee!!Pakde!! Tolongggg!” kemudian semua menjadi gelap. ** “Mbak, diminum tehnya,” Riska menyodorkan secangkir teh hangat kepadaku. “Makasih ya, Ris.” “Iya, Mbak sama-sama.” “Gimana ceritanya semalem bisa pingsan gitu?” tanya bude sambil duduk di sisi ranjang. Aku beringsut duduk, menyandarkan punggung pada kepala ranjang. “Jadi gini bude ....” kuceritakan kejadian semalam dan bude manggut-manggut. “Oalah, jadi si kunti to?” Aku mengangguk. “Bude dulu sempet liat dia pas Riska masih kecil. Waktu itu hujan lebat, pakde baru pulang. Pakaiannya basah kuyup. Rumah kami belum tembok seperti ini, masih papan dan jelek banget. Pas pakde masuk, ada angin berembus lewat di samping bude, saat itu bude kasih handuk ke pakde. Terus bulu kuduk bude merinding. Jadi bude tanya sama pakde kenapa kok bude merinding, jadi pakde kayak bisikin sesuatu gitu. Nah abis pakde bisik-bisik itu bude lihat itu si kunti ada tidak jauh dari tubuh pakde lagi jilatin tangannya, reflek bude memekik dan pakde langsung tepuk kening bude, nah itu pertama kali bude liat.” “Ya ampun, Bude. Kok serem sih!” “Iya, sejak saat itu alhamdulillah bude nggak pernah lagi liat.” Tiba-tiba pintu kamar terbuka, nampak pakde masuk memakai pakaian khas jawa. Kemeja warna coklat garis-garis hitam, dikepalanya memakai blankon. “Udah bangun?” “Udah ini, Pak,” kata Bude. Pakde mendekat, lalu memegang kepalaku. “Semalem sudah pakde tutup mata batinmu, tapi kamu masih bisa lihat, itu artinya dia pengen berteman sama kamu.” “Astaghfirullah, nggak mau pakde!” kataku tegas. “Aku takut, SUMPAH!” “Ya sudah kalau nggak mau, pakde cuma memberitahu.” “Pokoknya aku nggak mau lihat yang kayak gitu lagi bude, tolonglah.” Aku merengek seperti anak kecil. “Ya sudah nanti pakde kasih tahu dia jangan deket-deket kamu.” “Janji ya pakde!” “Iya. Eh satu lagi, kalau kamu denger suara-suara diemin aja, jangan cari tahu, dia seneng kalau kita pensaran. Kalau suaranya jauh berarti dia sangat dekat denganmu, kalau suaranya seperti dekat berarti dia jauh, jangan terkecoh.” “Iya, pakde.” “Ya sudah pakde ke kamar dulu, jenglot-jenglot pakde beluk di kasih makan. Buk, ada ayam hitamnya?” “Ada, Pak. Sudah Ibu masukin ke kandang.” Pakde berdiri lalu pergi dari kamar ini. “Buk, jenglot apa sih?” tanya Riska. “Jenglot itu semacam boneka mini yang berisi mahluk halus, dia makannya darah ayam hitam, setiap malam jum’at harus tersedia.” “Ya Allah bude, kenapa pakde nggak diingetin ninggalin itu semua sih? Kan sirik Bude .... “ Aku mengingatkan. “Bude sudah bosen kasih tahunya, tapi pakdemu tetap dengan pendiriannya. Nggak bisa dilawan.” “Ehemmm!” dehaman Pakde dari luar yang membuat Aku atau pun Bude sama-sama terdiam. ** “Dar, titip map untuk Pak Susilo, ya!” pinta Ruri padaku. “Oke, sebulan 30 hari, ya!” godaku dan dia tergelak. Aku di kantor, bekerja sebagai staff akunting yang mengurusi kas besar dan pajak di perusahaan ini. Bosku bernama Pak Susilo. Pria berumur 33 tahun yang masih single. Kata orang-orang dia suka ‘Jajan’ jadi nggak nikah-nikah. Tok! Tok! “Permisi, Pak.” “Masuk!” perintahnya. Aku membuka pintu terbuat dari kaca dan masuk untuk menemui Pak Susilo. “Dara, laporan untuk ke supplayer mengenai promosi sudah dikirim?” tanyanya dengan suara yang sangat pelan. Bosku memang terkenal dengan kesopanan dan kelembutannya, dia juga sangat rapi dan disiplin waktu. “Sudah, Pak. Baru aku kirim lewat tiki berkasnya." “Oh, iya ... ini ada perlu apa?” Aku duduk di hadapannya, dan menyerahkan map merah titipan Ruri. “Ini dari Ruri, Pak.” “Oh iya, terimakasih ... “ Aku hendak berdiri, tapi panggilannya menghentikan niat .... “Dara!” “Iya, Pak?” “Nama kedua orang tua kamu siapa ya?” “Nama Bapak saya Junaidi, Pak. Nama ibu saya Hartati. Kenapa ya, Pak?” “Oh, gitu nggak apa-apa, nanya aja. Itu kemarin ada temen, nanya kayak anaknya si anu kamu itu. Gitu, bapak tanya si anu siapa? Orang dia di sini ikut bude sama Pakdenya kok. Dia ketawa aja.” “Oh gitu. Hehe, ya udah saya permisi, Pak.” “Iya, nanti siang jangan lupa ke sini ya. Itu ada kerjaan dikit buat kamu.” “Apakah Pak?” Pak Susilo menunjuk tumpukan bungkus kopi instan yang berhadiah uang tunai 500-5000 di bungkusnya. “Itu mau diclaim sudah banyak. Mau dikirim ke torabika.” “Oh, siap Pak. Abis makan siang dan salat ya, Pak.” “Boleh, jangan telat ya!” “Oke .... “ Aku pun keluar dari sana untuk kembali ke ruanganku.Siangnya aku datang lagi ke ruangannya. Kebetulan Pak Susilo sedang tak ada di tempat, tapi salah satu hapenya ada di meja, mungkin dia membawa hape yang lainnya mengingat dia memiliki 3-4 hape yang selalu ia simpan di dalam tasnya. Saat sedang asik mengguting bungkus beberapa kopi instan terengar gawai Pak Susilo bergetar. Karena hanya ada aku sendiri, jadi aku mengangkatnya. “Ya, halo?” “Ya, susilo ada?” tanya seorang wanita di seberang sana. “Sedang keluar, Mbak. Ada apa ya? Nanti saya sampaikan.” “Bilang saja mantra jaran goyangnya sudah saya kirim lewat email yang dia berikan. Itu untuk wanita yang tadi pagi dia kirim nama beserta bin-nya.” ‘Mantra jaran goyang?’ tanyaku sendiri dalam hati. “Kalau boleh tahu, atas nama siapa ya, Mbak?” “Namanya ... “ Kreakkk! Pintu terbuka. Aku kaget bukan kepalang, langsung saja kumatikan teleponnya. “Dara, telepon dari siapa?” tanya Pak Susilo seraya tersenyum dan menutup pintu ruangan. Aku langsung menoleh ke arahnya. “Se ... se ... seorang nyari Bapak. Katanya nanti ... nanti ditelepon lagi.” "Oh, gitu." Pak Susilo mendekat dan memeriksa poselnya sedangkan aku kembali ke tempat. ‘Ya ampun sungguh aku penasaran, siapa yang akan dipelet Pak Susilo pake pelet jaran goyang?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD