Transmigrasi Ke Zaman Modern

2193 Words
Bab 2| Transmigrasi Ke Zaman Modern Sore ini begitu mencekam. Rasa takut, puas, sedih, dan dendam bercampur aduk di lapangan Rimba Pengadilan. Saat ini, Vigor begitu takut. Takut jika ia tak bisa melihat matahari terbit esok pagi, takut jika ia tidak bisa menerima kasih sayang orangtua lagi, atau lebih tepatnya, ia takut jika ia tidak bisa bertahan di dalam siksaan nanti dan berakhir mati. Rasa takut dan khawatir gadis itu semakin besar ketika ia melihat Kepala penjaga Rimba Pengadilan mulai memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan kayu salib, menyiapkan saluran lava gunung berapi ke sebuah bak besar yang terbuat dari besi di lapisi sihir agar tak meleleh dan juga menyiapkan cambuk. 'Apa ini semua disiapkan untuk menghukum ku??' batin Vigor dengan gemetaran. Karena terlalu khawatir sampai-sampai ia tak menyadari kehadiran Eleanor yang kini sudah berada tepat di sebelahnya. "Jangan khawatir sayang....bagi seorang gadis tangguh ini semua pasti bisa di lewati, jadi jangan khawatir. Semuanya akan baik-baik saja" Wanita itu mendekap erat Vigor membuat sang gadis kaget dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Tess... Setetes air mata berhasil keluar dari manik indah tersebut "berjanjilah pada ibu kau akan selamat!" Eleanor melepaskan dekapannya dan menatap Vigor dalam-dalam. Vigor sempat terdiam. Di tatapnya wajah paruh bayah itu, rasa sedihnya bertambah besar. "A...aku...Vigor tidak berjanji akan hal ini. Tapi aku akan berusaha sekeras mungkin. Kalaupun aku harus berakhir disini, ibu dan ayah tak boleh sedih. Okey? Tenanglah....Vigor akan baik-baik saja" Vigor tersenyum simpul seraya melepaskan tangan Eleanor darinya. Perlahan namun pasti, ia mulai berjalan menuju lapangan dimana ia akan di hukum. Gadis itu kini sudah siap untuk dihukum. Vigor kini berdiri membelakangi orangtuanya dan menghadap ke Harry--si penasehat raja. "Apa Yang Mulia Putri Vigor sudah siap untuk dijatuhi hukuman?" Tanya Harry menatap Vigor yang juga sedang menatapnya. Gadis itu mengangguk "ya, saya siap!" jawab nya dengan tegas dan tanpa nada getar sedikit pun. "Baiklah.... sebelumnya, apa ada yang ingin anda sampaikan kepada orangtua Tuan Putri atau semua orang disini sebelum dijatuhi hukuman?" Menghela nafas pelan, Vigor mengangguk "benar, ada yang ingin aku katakan" sahut Vigor. Berbalik, kini Vigor membelakangi Harry dan menatap dari jarak jauh kedua orangtuanya yang tengah duduk dan semua orang yang ada di sana. "Sebelum dijatuhi hukuman, kali ini, saya Vigor De Aragon ingin berbicara sepatah dua kata karena mungkin saja saya tidak bisa bertahan di hukuman nanti. Jadi mohon agar semua orang yang hadir disini bersedia mendengar saya dan tidak membenci saya yang hina ini" "Saya merasa sangat bersalah. Meski saya tidak menyangka akan berakhir seperti ini tapi saya sangat berterimakasih sebelumnya kepada kakak saya, Alecia De Aragon. Berkatnya aku bisa berakhir di tempat ini, hehe" gadis itu tertawa pelan. "Tapi aku ingin mengatakan jika apa yang yang kalian lihat dan dengar saat ini belum tentu sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya saya benar-benar tidak bersalah dan seandainya ada orang yang dapat dijadikan sebagai saksi mungkin aku masih bisa selamat. Atau... jikalau pun aku memang benar-benar melakukannya dengan pria yang tak dikenal aku bisa menegaskan jika itu bukan unsur sengaja dan benar-benar terjadi di luar kesadaran ku. Namun jika ingin mengelak aku bahkan tidak punya bukti yang kuat. Sesuai peraturan istana yang diturunkan dan sudah diakui oleh semua raja yang pernah memimpin Kerajaan Dragon serta para pejabat lainnya, hukuman tetaplah hukuman. Meski tidak ada bukti yang cukup membuktikan jika aku tidak bersalah kuharap suatu hari nanti kebenaran dapat terungkap meski aku yakin jika hari itu tak ada lagi. Dan sebagai seorang putri yang terhormat aku juga merasa terhormat dapat menegakkan istilah 'berani berbuat maka berani pula bertanggung jawab'. Aku tidak akan kabur dari tanggung jawab. Jikapun nanti aku diberi kehidupan kedua oleh Dewa Dragon meski itu mustahil, maka aku harap aku bisa mengubah nasib buruk ini. Intinya aku tidak menyesal dengan apa yang pernah terjadi didalam hidupku. Aku ingin semua masyarakat Kerajaan Dragon dapat membuat ini sebagai cerminan yang artinya kita juga harus tetap hati-hati dan perlu waspada sekalipun itu adalah orang yang dekat dengan kita. Karena, justru orang dekat itulah yang biasanya akan menusuk kita dari belakang. Aku sangat menyayangi, mencintai kalian semua. Terutama Raja Edward dan Ratu Eleanor. Aku merasa selalu memiliki hutang kepada kalian karena sudah memiliki hari nurani untuk mengasuh seorang anak yang terdampar sepertiku yang bahkan tidak diketahui asal-usulnya. Aku mengucapkan rasa terimakasih yang dalam kepada kalian semua. Dan juga, aku sangat mencintai saudari Alecia. Semoga kakak bisa menjalani hidup dengan bahagia dan tidak pernah melakukan hal tidak terhormat lagi" Vigor menatap Alecia dan tersenyum devil. Dan Alecia hanya menanggapinya dengan tatapan meremehkan. "Baiklah. Aku rasa sudah cukup bicaranya karena tidak ada lagi yang ingin aku katakan. Sekarang aku sudah benar-benar bersiap untuk menerima hukumannya. Silahkan dimulai" Ratu Eleanor tidak tahan melihat putri angkatnya yang sudah mulai dijatuhi hukuman. Wanita itu menangis dan menggigit bibirnya geram. Dan karena tidak tahan lagi wanita itu memilih untuk menyembunyikan wajahnya di dada sang suami--Raja Edward yang sekarang nampak tidak berdaya. Sementara di sebrang sana, Alecia tertawa senang dan merasa puas di dalam hati 'haha...kini aku sudah menang dari jalang itu. Kini pewaris kerajaan sudah tentu aku' batinnya tersenyum devil. 'Pria bodoh itu melakukan tugas nya dengan baik' Alecia menatap Harry yang duduk cukup jauh darinya dan menatap kearah Ketua Rimba Pengadilan yang sudah menjatuhi hukuman kepada saudarinya itu. Arghhhh......agggrrrhhhh......hoshh......huurggghhhh..... Sore itu juga dipenuhi oleh suara teriakan yang keras. Seorang gadis yang terkenal polos, lembut, dan baik kini tengah disiksa. Bak seekor kelinci putih yang tengah masuk ke sarang harimau dan disiksa ia benar-benar tidak berdaya. Siksaan yang ia terima, suara rintihan yang ia keluarkan hanya dianggapi oleh dingin oleh orang-orang dekatnya. Orang yang ia sayangi selama ini malah senang atas penderitaan yang ia terima. Alecia. Dialah yang sedang menertawai dirinya itu. Dan juga Harry serta Sasa. Hanya kedua orangtuanya, Ketua Rimba Pengadilan, bawahan Ketua Rimba Pengadilan, prajurit, palayan, dan orang-orang Kerajaan Dragon-lah yang sepertinya memberikan rasa simpati kepadanya. Mereka seperti turut sedih. 'Maafkan saya Yang Mulia, andai masih ada waktu saya juga pasti akan menyelamatkan anda' batin Kepala Rimba Pengadilan dalam hati. Pakk....buk...ctras... Darah mengalir tanpa henti dari tubuh Vigor. Gadis itu sudah lemah. Ia kini sudah berbaring di lantai yang dilumuri darahnya sendiri. 'Aku tidak tahan lagi, rasanya ingin mati' gumam nya yang masih bisa di dengar oleh Kepala Rimba Pengadilan yang bernama Ivano Jeali--pria muda yang kemampuannya juga telah di akui oleh kerajaan. Jika ia ingin berhenti mencambuk karena tidak tega melihat tubuh Vigor yang sudah meleleh, maka hidupnya pasti tidak selamat. Gadis itu tadi di cambuk setelah disiram dengan air lava. Jika ia manusia biasa maka hanya dengan disiram saja pasti sudah melebur dan hangus, namun karena ia memiliki daya tahan yang kuat dan memiliki sedikit sihir maka ia bisa menahan peleburan tersebut. 'Dewa manapun mohon anugerahi lah aku kehidupan kedua nantinya. Seperti apapun aku nanti aku pasti berjanji akan menghargainya. Aku memang ingin istirahat yang tenang setelah mati namun aku masih belum tahu siapa orangtuaku yang sebenarnya dan siapa sebenarnya diriku. Dan aku juga masih ingin membalas dendam ini. Mohon dengarkanlah, Dewa' Batin Vigor. Matanya sudah berat untuk tetap terbuka. Perlahan demi perlahan, ia mulai menutup matanya. Sebelumnya Ivano sudah berhenti mencambuk Vigor karena sudah melihat gadis itu seperti akan mati dan juga hukumannya telah selesai. Dan itu menarik semua perhatian orang, tak terkecuali Alecia. Raja Edward dan isterinya mendekat kearea dimana Vigor di hukum. Begitu juga dengan Alecia serta Harry. Sementara yang lainnya tidak bergerak sedikitpun karena mereka masih tidak punya hak untuk itu. "Bagaimana? Apa putriku masih bisa diselamatkan?" tanya Raja Edward tak sabaran. Ivano menggeleng "maaf Yang Mulia Raja, tapi sepertinya Yang Mulia Putri Vigor tidak bisa diselamatkan lagi" jawab nya dengan lemah. "Tidak mungkin!!! Putriku pasti bisa! Ia masih bisa hidup" tangis Ratu Eleanor tak terima. Vigor yang masih bisa mendengar semuanya menarik sudut bibirnya membentuk segaris senyum. Perlahan, tangan nya yang dilumuri darah mendekat kearah tangan ibunya. Dijamahnya tangan kesayangan itu dan membuat semua orang kaget. "Sa-sayang?? Kau-kau masih hidup!!" teriak Eleanor histeris dan menangis haru. "Ayah senang masih bisa menatap mu, putriku Vigor. Kau memang gadis tangguh!" "Setelah ini kau akan segera dinobatkan sebagai pemimpin selanjutnya Kerajaan Dragon" ucap Edward antusias. Semuanya terlihat senang, selain Alecia, Harry, dan Sasa. 'Ugh...kenapa jalang ini masih belum mati?' geram Alecia menggigit jemarinya cemas. Vigor hanya terus tersenyum menggeleng. "Takutnya itu hanya akan menjadi ekspetasi kalian semua. Bahkan untuk tetap hidup dan bertahan untuk menerima semua hukuman ini sudah membuatku senang. Aku sangat merasa terhormat! Selanjutnya aku akan beristirahat tenang di alam sana. Semoga kita bisa bertemu suatu hari nanti. Berikanlah tahta selanjutnya kepada orang yang tepat. Selamat tinggal~" ucapnya dengan lemah. Gadis itu menutup matanya. Nafasnya tidak ada lagi. Detak jantungnya sudah berhenti. Tangan nya yang tadi berada di genggaman Ratu Eleanor mulai jatuh namun langsung ditahan oleh Edward dan juga Ivano. "Vigor...sa-sayang!! Bangunlah....!!" Eleanor menepuk-nepuk wajah gadis itu dengan pelan. Diperiksanya denyut jantung dan nafas putrinya kemudian menegang "katakan....katakan jika ini semua hanya mimpiiiii!!!!" teriak Eleanor marah. "Putri kesayangan ku....Vigor tercintaku sudah mati. Sialan!!!!! Arghhg.... kenapa bisa seperti ini!!!" tangis wanita itu semakin keras. Begitu juga Edward, dan juga Ivano "Yang Mulia Ratu, anda jangan seperti itu. Yang Mulia Putri Vigor telah tiada. Kami juga turut berdukacita-" "Diam!" bentak Eleanor memotong kalimat Harry "apa hakmu berbicara sekarang? Orang hina dan menjengkelkan seperti mu tidak layak berbicara seperti itu mengenai kematian putriku. Kau hanya seorang sampah!!!" Teriak wanita itu lepas kendali. Edward mengelus punggung isterinya, kemudian beralih menatap bawahannya serta Ivano "cepat gendong dan masukkan mayat putriku ke peti yang biasanya digunakan oleh mendiang pemimpin Kerajaan Dragon. Berikan penghargaan kepadanya. Putriku sudah berusaha keras dan dia patut dihargai dan jangan lupa untuk menuliskan namanya dengan menggunakan gelar Putri Agung!" titah lelaki itu dan berjalan menjauh dari sana membawa Eleanor yang terus terisak. "Baik Yang Mulia" sahut Ivano, sementara Harry hanya diam. Ia membeku dan tidak tau ingin berbicara apa begitu Sang Ratu membentaknya. 'Yepp.....akhirnya misi ku untuk menghancurkan dan menghilangkan jalang satu ini dari muka bumi berhasil. Lihat bagaimana cara ku selanjutnya untuk membuat kalian semua pada akhirnya tunduk kepadaku' batin Alecia tersenyum penuh kemenangan. **** Malam hari, di kawasan Kerajaan Dragon. Kini, semua masyarakat turut ikut untuk menghadiri acara pemakaman Sang Putri Agung, yakni Vigor. Baik semuanya tak terkecuali sang raja dan ratu mengenakan pakaian hitam yang menandakan turut berdukacita. Tidak hanya masyarakat dari Kerajaan Dragon yang menghadiri acara duka itu, tapi, kerajaan sekutu yang tak lain dari Klan Vampire dan Klan Matahari Terbit yang dihuni suku mitologi juga ikut serta. Kedua Klan itu turut berduka cita atas meninggalnya putri angkat dari pemimpin Kerajaan Dragon. "Hiks....hiks....Vigor putriku. Edward cepat hidupkan kembali putri kita!" Isak Eleanor yang sejak tadi tak pernah berhenti untuk menangis. Edward hanya menghela nafas "maaf, sayang. Tapi aku tidak punya kekuatan sihir untuk itu. Hanya dewa pelindung seluruh klan yang dapat melakukannya. Dan juga, seandainya aku memilikinya aku tidak bisa menghidupkan kembali Vigor karena dia tidak memiliki asal-usul yang jelas dan dia tidak memiliki darah dari leluhur kita" tukas lelaki itu membuat Eleanor terdiam. Memang benar yang dikatakan oleh suaminya. Dan meski ia seorang ratu, wanita itu tak bisa berbuat semena-mena juga. Mencoba untuk mengerti, Eleanor berjalan mendekat kearah peti mati Vigor yang belum di tutup. Ia menyingkap topeng yang menutupi wajah putrinya kemudian mencium pipinya lembut "semoga kau beristirahat dengan tenang di alam sana...sayang" ucapnya pelan dan kembali memasang topeng tersebut. Menyeka air mata, Eleanor tersenyum "acara pemakaman bisa segera dimulai!" titahnya dan Edward tersenyum. Ia tersenyum melihat isteri kesayangannya itu bisa mengerti akan keadaan sekarang dan tidak mengandalkan pikiran nya sendiri. Acara pun dimulai. Jasad sang putri di kubur di wilayah penguburan jasad nenek moyang Klan Dragon. Dan sesuai perintah Edward sore tadi, mendiang Vigor diberi gelar Putri Agung di peti dan batu nisan nya. Hari ini, lebih tepatnya malam ini, Putri Agung Vigor De Aragon telah lenyap dari muka bumi. Tak ada lagi yang bernama Vigor di dunia ini. Dan, tidak ada lagi sosok gadis manis nan polos di Kerajaan Dragon. Terdampar sewaktu kecil dan diasuh oleh orang besar. Diangkat menjadi putri dari kerajaan, dijadikan menjadi seorang gadis yang manja, dituduh tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya, difitnah, disiksa tanpa henti, dan lenyap tanpa sisa. Adalah perjalanan hidup dari seorang gadis terbuang. Namun tak disangka, ternyata permohonannya sebelum mati dikabulkan oleh dewa. Begitu orang-orang berpulangan dari tempat ia dikubur dan tak tersisa seorangpun, tempat tersebut di sinari oleh cahaya terang. Seterang matahari! Memang gadis itu tidak bangkit lagi dari sana, namun sang dewa, yakni Dewa Mat' Te yang konon adalah dewa pelindung Klan Serigala menganugerahkan nya kehidupan kedua. Vigor diberi kesempatan hidup untuk kedua kalinya. Kali ini, gadis itu bisa memperbaiki takdir dan jalan hidupnya dan ia bisa membalas dendam. Namun, ia tak diberi kehidupan di dunia yang sama. Ia hidup dan bertransmigrasi ke zaman modern dan hidup di tubuh seorang penyanyi pop yang sangat populer sekaligus seorang superstar. Tidak hanya itu, selain hidup di dalam tubuh sang superstar, ternyata Dewa Mat'Te juga menganugerahkan nya kemampuan yang bisa mengubahnya kembali ke wujud dirinya sendiri sebagai Vigor De Aragon. Tapi sepertinya tidak aman jika hidup dengan wujud putri seperti itu, apalagi jika sang superstar tiba-tiba berubah wajah. Kali ini, biarkan sang putri agung menjalani hidupnya di zaman yang baru. Mari lihat, bagaimana ia bisa menjalani hidup dan beradaptasi ke lingkungan nya kali ini!!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD