Dinas

1422 Words
Anna membuka pintu kamarnya lalu menutupnya dengan perlahan. Ia meletakkan tas dan bukunya di lantai lalu merebahkan tubuhnya ke kasur king size miliknya yang empuk itu. Kejadian yang terjadi di kampus hari ini benar-benar menyita tenaga Anna bahkan untuk mengingatnya saja Anna enggan. Anna membuka matanya secara perlahan, ia menatap langit-langit kamarnya lalu tersenyum simpul. "Aku sangat lelah," ucapnya lirih. Anna kembali menutup matanya perlahan dan setelahnya ia tidak ingat lagi. Disisi lain, Irene datang ke ruangan Leo dengan membanting pintu, Leo sampai kaget dibuatnya. Irene melepas PIN yang bertengger tepat di dadanya sebelah kanan lalu meletakkannya di meja tepat di hadapan Leo. Leo tetap diam, ia menunggu Irene yang berbicara apa maksudnya melepas PIN itu. "Aku ingin keluar," ucapnya dengan tegas. Leo tetap diam, ia hanya melirik PIN itu sekilas lalu kembali menatap Irene. "Aku berhenti," ucap Irene lagi. Kali ini Leo bangkit dari kursinya lalu mendekat kearah Irene. "Kau ingin keluar dari gang ini?" tanya Leo untuk memastikan. "Ya!" "Kenapa? Apa karena cintamu tidak bisa aku balas?" Irene menatap Leo dengan tatapan tajam, "Kau selalu mengungkitnya. Kau tidak tau seberapa besar luka yang telah kau timbulkan!" Leo menunduk lalu menghela nafas pelan dan kembali menatap Irene yang saat ini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Jika kau ingin keluar, silakan saja. Aku tidak akan menahanmu. Terimakasih atas partisipasi mu selama menjadi anggota black catcher." Irene menutup matanya, membiarkan bulir cairan bening itu berjatuhan membasahi pipi tirusnya. "Jaga dirimu, aku pergi." Irene berbalik lalu berjalan meninggalkan ruangan Leo. Tidak ada rasa sedih ataupun kecewa yang Leo rasakan. Rasanya masih tetap sama, tidak ada yang beda. Irene keluar dari ruangan Leo dengan perasaan yang benar-benar hancur. Ia terus terisak. Saat hendak keluar dari pintu Vincent rupanya sudah berdiri di hadapannya. Ia menatap Irene dengan tatapan sedih. "Aku tidak tau mengapa kau sampai mengambil keputusan ini, tapi jika ini sudah menjadi keputusanmu aku akan tetap mendukungmu," ujar Vincent. Irene masih diam, ia hanya menunduk sembari tetap terisak. "Jangan karena kau merasa terluka, kau sampai berniat akan menghancurkan black catcher," sambung Vincent. Irene kini menoleh lalu menatap Vincent dengan tatapan yang aneh. "Kau pasti tau seperti apa rasanya," tutur Irene. Vincent berjalan lebih dekat, ia menarik Irene ke dalam pelukannya. Ia memeluk Irene dengan erat. "Jika kau membutuhkan aku maka hubungi aku. Aku tidak akan berpikir dua kali untuk membantumu." Vincent melepaskan pelukannya, ia lalu bergeser dan membiarkan Irene pergi. Kini perhatian Vincent mengarah pada Leo. Ia berjalan mendekat lalu meminta agar Leo ikut dengannya. Leo menurut, ia menyusul Vincent dari belakang. "Kau belum tau seperti apa nyali Irene, Leo." Vincent kini menatap Leo dengan tatapan serius. "Lalu?" Leo tetap santai. Ia menyatukan tangannya seperti orang yang tidak peduli. "Kita tidak bisa meremehkan gadis itu. Bisa saja dia melakukan sesuatu yang bisa membuatmu dan gangmu terancam karena kau telah menyakitinya," ujar Vincent. "Tidak akan." Vincent menatap Leo dengan tatapan jengah, sahabatnya ini terkadang memang sangat keras kepala. "Jangan anggap remeh. Dia bisa saja dendam padamu dan melakukan hal-hal yang bisa membuatmu jatuh," ucap Vincent memperingatkan. "Tenanglah, Everything's gonna be okay," "Terserah padamu!" Vincent keluar dari ruangan Leo dengan perasaan jengah. Bagaimana tidak, Leo mengganggap kalau ini adalah hal biasa. Padahal bisa saja Irene menjadi dendam padanya. Itu akan lebih menjatuhkan black catcher karena Irene tau segala hal tentang gang ini. *** Leo terlihat khawatir. Ia bolak-balik mengelilingi kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari tapi matanya tidak bisa terpejam. Leo ingat dengan apa yang Vincent katakan tadi siang, ia sebenarnya juga khawatir namun ia tidak menunjukkannya pada Vincent. Irene wajib untuk di waspadai. Dia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, dan Leo sangat mengenal dengan baik sikap Irene. Leo yakin Irene tidak mungkin tinggal diam. Dia pasti akan melakukan berbagai cara agar bisa merasa puas. Ada satu hal juga yang membuat Leo merasa khawatir yaitu Anna. Terbersit di benak Leo ketika Anna hanya bisa menunduk ketakutan saat Irene menghinanya. Leo ingat seperti apa wajahnya ketika ia berusaha menghapus air matanya. Leo takut jika Irene sampai melibatkan Anna. Entah apa yang membuat Leo menjadi mengkhawatirkan Anna. Ia mengkhawatirkan putri dari musuhnya, James. "Mengapa gadis payah itu selalu muncul dalam benakku?" Leo mengacak-acak rambutnya. Ia melirik jam yang berada di pergelangan tangannya, jam sudah hampir menunjukkan 3 dini hari tapi Leo masih belum juga mengantuk. Ia terlalu khawatir memikirkan hal-hal yang belum tentu akan terjadi. Disisi lain Anna terlihat sangat kebingungan. Jam sudah hampir menunjukkan pukul 3 dini hari tapi ia malah terbangun. Ia ingat, saat ia pulang kampus tadi Anna langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan terlelap sampai lupa mengganti pakaian dan mandi. Tubuhnya bahkan sudah terasa sangat lengket. Anna berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Anna tidak akan mandi di karenakan ini sudah larut malam. Anna hanya mengganti baju dan memakai baju tidur saja. Setelah kembali dari kamar mandi, Anna mulai merapikan buku-buku dan tasnya yang berserakan di lantai. Ini akibat ia tidak merapikannya dulu sebelum tidur. Anna kini merasa sangat segar, tidak ada rasa mengantuk sama sekali. Entah apa yang akan ia lakukan, Anna sendiri bingung. Membaca buku? Tentu tidak. Menonton Tv? Tidak juga. Lalu apa yang bisa ia lakukan untuk mendatangkan rasa ngantuknya lagi. Anna berjalan menuju jendela kamarnya. Ia menyibakkan tirainya sedikit lalu mengintip, rupanya rumah Vincent hari ini kosong. Tidak ada mobil atau motor yang parkir di halaman rumahnya dan juga tidak ada satupun lampu yang menyala di dalam rumahnya. Mungkin banyak hal yang terjadi. Anna kembali menutup tirai ya lalu berjalan menuju meja belajarnya, ia duduk sembari mengotak-atik barang yang ada diatas meja agar ia tidak merasa sedikit bosan. Banyak hal yang membuat Anna merasa bingung. Ia bingung kenapa Leo kini begitu peduli padanya padahal dahulu ketika mereka bertemu Leo hanya akan mengejeknya dan mengatakan bahwa dia adalah gadis payah, tapi sekarang justru berbeda. Anna bahkan tidak mengerti mengapa ada dua orang pria yang baik padanya. Vincent selalu berusaha membantu Anna bahkan ketika Anna sudah berlagak tidak peduli lagi padanya. Lalu Leo? Pria itu mempunyai cara tersendiri untuk membuat Anna merasa lebih baik. Ia selalu saja mencari masalah dan itulah caranya untuk melindungi Anna. Tapi, apa yang terjadi di kampus tadi pagi tidak bisa terlepas dari Leo dan Vincent. Karena dua orang itu Anna harus menghadapi segalanya. Jujur saja, Anna merasa sedikit muak dengan apa yang terjadi padanya secara berturut. Anna menghela nafas pelan, ia mengarahkan pandangannya menuju benda pipih yang terletak di kasurnya. Anna beranjak dari kursi dan segera mengambil ponselnya, mungkin dengan bermain game ia akan bisa mengantuk. Sudah hampir 30 menit Anna bermain ponsel tapi ia sama sekali tidak mengantuk. Mungkin karena tidur dari sore jadi ia tidak mengantuk. Anna mematikan ponselnya lalu beranjak ke tempat tidur dan mulai menutup mata berharap tiba-tiba saja ia bisa langsung terlelap. *** Jam menunjukkan pukul 9 pagi, Anna segera bergegas bangun dari tempat tidurnya lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia bangun terlambat karena semalam tidur pukul 3 dini hari. Setelah selesai, Anna bergegas menuruni anak tangga untuk menemui sang ayah dan tentu untuk sarapan. Hari ini tampak sangat lesu, tidak seperti biasanya. Jujur saja, Anna sangat malas ke kampus akibat kejadian kemarin. Rasanya sangat tidak nyaman jika ia tiba-tiba saja masuk kampus dan semua orang berbisik-bisik untuk mengatainya. Anna tidak bisa menghadapinya. "Kau bangun terlambat hari ini," ujar James. Anna menoleh kearah ayahnya seraya tersenyum. "Iya, semalam aku terbangun itu sebabnya aku baru bisa tidur saat pukul 3 dini hari." James meletakkan korannya lalu beranjak dari kursinya menuju pada Anna. "Ayah ada jadwal kunjungan. Ayah akan pergi selama beberapa hari, bagaimana jika kau ikut ayah?" Anna terdiam, ini cukup mendadak dan Anna belum membuat persiapan. "Aku akan tetap disini, ayah bisa pergi. Aku bisa menjaga diri. Lagipula aku tidak mungkin meninggalkan kuliahku begitu saja," balas Anna. "Ayah tau ini mendadak. Tapi ayah tidak bisa meninggalkan mu seorang diri, coba pikirkan lagi. Kau bisa sambil liburan kan?" "Tidak ayah. Anna tidak ingin. Anna ingin tetap berada disini. Aku akan baik-baik saja, ayah tidak perlu merasa khawatir, okey?" James menghela nafas panjang, "Kau sangat keras kepala. Baiklah, ayah tidak akan memaksamu. Tetaplah disini, tapi kau harus berjanji pada ayah untuk tidak membiarkan siapapun masuk kedalam rumah ini selagi ayah tidak ada di rumah. Ayah tidak ingin kejadian itu sampai terulang lagi. Ayah tidak ingin kau sampai kenapa-napa, jadi tolong dengarkan ayah, huh?" Anna tersenyum, "Baiklah tuan James. Aku berjanji, aku tidak akan membiarkan siapapun masuk ke rumah kita." "Dengan begitu ayah bisa merasa jauh lebih tenang." James mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian beranjak menuju kamarnya untuk mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD