Dia Kekasihku

1109 Words
Anna terdiam, ia bahkan bingung harus menjawab apa. Makna cinta, bagaimana bisa ia menjabarkan apa arti cinta jika dia sendiri bahkan tidak tau apa itu cinta. "Ayo pulang." Leo bangkit sambil mengangkat jaketnya lalu memakainya. Hari mulai semakin sore, tapi rasanya Anna enggan meninggalkan tempat ini. "Ayo, mengapa hanya duduk dan diam?" ucap Leo lagi. "Aku masih ingin berada disini, kita bisa pulang nanti saja." Leo menarik tangan Anna agar ia berdiri. Ia memaksa Anna untuk pulang, Leo tau Anna saat ini banyak pikiran dan ia tidak ingin membuat Anna merasa kesepian. "Kita harus segera pergi dari sini. Kampus akan ditutup sebentar lagi," imbuh Leo. "Tidak bisakah kita menundanya? Aku tidak ingin pulang ke rumah. Rasanya tidak aman jika aku berada disana." Leo mengerti dengan apa yang Anna maksud. Ia merasa takut dan khawatir gara-gara ancaman anak-anak red bulls waktu itu. "Kita akan mencari tempat lain, bukan disini. Ayo." Leo menuntun Anna menuju motornya lalu memberikan helm untuk Anna kenakan. Tanpa banyak bertanya, Anna menerima helm itu dan memakainya. *** Leo POV Menatap matanya sekarang adalah candu buatku. Senyumnya, tatapan matanya, amarahnya, semuanya adalah candu buatku. Melihat dia tak berdaya, melihat dia kesal, melihat dia tersenyum, ada rasa berbeda yang kurasakan dan belum pernah aku rasa sebelumnya. Dia membuatku merasa jauh lebih baik. Dia membuatku merasa bahwa aku sangat penting untuknya, dia selalu tersenyum ketika aku berusaha membantunya. Entah bagaimana aku bisa mendeskripsikan betapa anehnya perasaan ini. Aku meliriknya sekilas, ia berkali-kali menghela nafas panjang, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Untuk menanyakan ada apa saja, rasanya lidahku kelu. Sejak tadi kami duduk berdua di pinggiran jalan menikmati semilir angin malam. Gadis itu, Anna terlihat banyak pikiran. Sejak tadi dia hanya diam dan terus menghela nafas panjang dan menunduk. "Ayo pulang, hari sudah semakin malam. Dan udara juga sudah sangat dingin, kau bisa kedinginan nanti," ucapku pada Anna. Anna menggeleng lemah, ia terlihat masih ingin berada ditempat ini. "Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa semua baik-baik saja?" sederet pertanyaan terucap dari bibirku. Mengapa sekarang aku harus ingin tau segala hal yang menyangkut tentang dirinya? Mengapa aku harus tau apa yang membuatnya banyak pikiran? "Semua baik-baik saja." Anna menoleh menatapku seraya tersenyum lalu kembali menunduk. "Apa ini karena anak-anak red bulls?" tebakku. Anna menggeleng tapi aku bisa mengerti apa yang saat ini gadis itu rasakan. Ia merasa takut dan khawatir tapi menurut ku itu hal yang wajar, terlebih lagi kota ini adalah kota baru baginya dan tiba-tiba saja ia mendapat masalah tentu saja ia shock. "Hari sudah semakin larut. Tidak baik jika kita terus berada disini, Anna." "Kalau begitu kau bisa pulang lebih dulu. Tak apa, aku akan pulang sendiri nantinya." "Lagi-lagi kau bersikap keras kepala. Jika kita tidak pergi dari sini, bisa saja ada salah satu diantara mereka yang tau dan melihat kita berada disini. Jangan mengambil resiko," paparku. Anna sangat keras kepala. Sikapnya itu semakin terlihat saat ini. Anna bangkit, ia lalu menatapku. Matanya kini berkaca-kaca, sorot matanya kini berubah menjadi sayu. "Bisakah kau menghentikan semua mimpi buruk ini? Aku benar-benar merasa tertekan, bahkan untuk pulang ke rumahku saja aku takut dan khawatir." "Aku berjanji akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Kumohon bersabarlah." Anna mengusap wajahnya, "Aku sudah cukup sabar Leo untuk masalah yang sama sekali tidak aku ketahui apa sebabnya. Kenapa mereka mengaitkan diriku dengan dirimu?? Tidak bisakah kita sudahi semuanya? Aku muak!!" teriak Anna. Emosinya saat ini terlihat tidak stabil. Matanya yang berkaca-kaca kini mengeluarkan cairan bening yang seketika itu juga membasahi pelupuk matanya. Aku mendekap tubuh mungil Anna kedalam pelukanku. Entah darimana aku mendapat keberanian untuk memeluknya. Hanya inu yang bisa ku lakukan untuk menenangkannya. "Hari ini kau tidak akan tinggal dirumahmu, melainkan tinggal dirumahku untuk sementara waktu. Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian dirumah. Sebaiknya kita pulang sekarang, Vincent juga pasti sudah menunggu kita." Anna mengangguk, ia setuju untuk pulang. Rasanya sangat lega. Tidak membutuhkan waktu yang lama buatku untuk tiba di rumah. Saat turun dari motor, Anna terlihat sangat canggung untuk masuk ke dalam. Berkali-kali ia menghela nafas, sambil mengusap dadanya. "Mengapa terlihat sangat khawatir? Ayo masuk." "Apa tak apa jika aku masuk kedalam? Bagaimana jika Vincent tidak suka aku ada di dalam? Bagaimana jika kita menginap dirumah yang waktu itu saja?" tawar Anna. "Tidak, ayo masuk." Aku menarik tangan Anna dan membawanya masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu rumah aku dikejutkan dengan kehadiran Christ, Joshua, dan tentunya Vincent yang sedang asik bermain kartu dan meneguk minuman beralkohol. Mereka bertiga menatapku dan Anna dengan tatapan aneh. Aku melepas genggaman tanganku pada pergelangan tangan Anna. Aku melirik Anna sekilas yang hanya bisa menunduk malu. "Ayo, kau harus beristirahat." Aku kembali menarik tangan Anna dan membawanya menuju kamarku untuk menyuruhnya beristirahat. Saat aku kembali setelah mengantar Anna ke kamar, rupanya Christ, Joshua dan Vincent sudah menungguku. Mereka bahkan menghentikan permainannya. "Hubungan apa yang kalian miliki?" "Mengapa kau membawanya kesini?" Sederet pertanyaan keluar dari bibir mereka, tapi aku masih dengan santainya duduk di sofa sementara mereka sudah berdiri dan menatapku dengan tatapan serius. "Dia kekasihku!" ucapku dengan tegas. "APAAA?!" teriak mereka hampir bersamaan. "Bagaimana bisa kalian menjalin hubungan?" tanya Christ dengan terkejut. Aku mendekati mereka, ya aku tau pengakuanku ini memang sangat aneh dan benar-benar diluar dugaan. Aku melirik Vincent sekilas, dia tampak tidak shock seperti Christ dan Joshua ya mungkin dia tau bahwa aku hanya bercanda. "Leo, ini benar-benar aneh. Bagaimana bisa kalian menjalin hubungan? Aku benar-benar tidak percaya akan hal ini," sahut Joshua. "Yang sebenarnya adalah aku dan gadis itu menjalin hubungan. Sudahlah, tidak usah banyak bertanya. Intinya kalian sudah tau bahwa kami itu berhubungan bukan? Kalian cukup mencari cara bagaimana bida menghabisi Roger, pria itu benar-benar sangat menyusahkan kita." Setelah mengatakan itu aku pergi menuju dapur untuk mengambil segelas air. Aku berbohong pada mereka hanya karena untuk melindungi gadis itu. Vincent datang menyusulku, "Bagaimana bisa? Kapan? Kapan kau memulai ini semua?" tanya Vincent. Aku menghela nafas pelan, sudah kuduga Vincent tidak akan percaya dengan apa yang ku katakan sampai akh menjelaskan secara rinci atas apa yang terjadi. "Katakan! Jangan hanya diam saja. Bagaimana mungkin kalian bersama?" "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Sudah jelas bukan?" "Mengapa kau sampai berbohong seperti ini pada Christ dan Joshua? Bagaimana jika ia mengatakan pada semua orang? Ini akan menambah masalah untuk Anna, dia akan semakin di musuhi oleh gadis-gadis yang ada di kampus. Apa kau tidak memikirkan kemungkinan besar yang bisa saja terjadi?" Vincent menatapku dengan tatapan yang tajam. Dia ada benarnya, bisa saja Christ atau Joshua mengatakan pada semua orang, masalah yang Anna hadapi pasti akan jauh lebih besar. "Itu langysaja keluar dari mulutku. Aku akan mengatasinya, tidak usah khawatir," ucapku. Setelah minum, aku menyimpan kembali gelas di meja dan pergi keluar dari dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD