Boleh Aku Memelukmu?

1175 Words
Alexei tersenyum miring melihat wajah pasrah dan ketakutan Aruna. Alexei menahan posisi wajahnya yang berjarak beberapa inci dari Aruna. Beberapa detik tidak ada tindakan apa pun, Aruna membuka mata. Saat itulah, Alexei tertawa lirih sembari mengangkat wajahnya. "Ha ha ha! Ternyata, kamu yang berharap aku cium!" ejek Alexei sembari melepaskan kedua lengan dari sisi tubuh Aruna. Aruna melotot tidak terima dengan tuduhan itu. Dengan cepat, dia mencubit pinggang Alexei yang terbalut kemeja lengan panjang. "Aauh, apa ini, Aruna?" Alexei mengusap-usap pinggangnya yang panas. Aruna meliriknya sekilas sembari tersenyum mengejek. Gadis itu segera membuka pintu kamar. "Itu peringatan supaya kamu nggak semena-mena sama aku, Alex! Aku hanya nurut karena nggak ingin berdebat. Tapi aku nggak suka dibilang, berharap kamu cium. Nggak ada dalam mimpiku!" Alexei tidak terpengaruh dengan ucapan Aruna. Alexei justru tersenyum penuh arti. Aruna tertegun sejenak melihat senyum menawan laki-laki itu.. "Okay, okay. Good night!" ucap Alexei kemudian membuka pintu. "Oh, ya, jangan lupa kunci pintu dan jendela!" imbuhnya. Aruna tidak menanggapi. Dia segera memasuki kamar dan menjalankan pesan Alexei. Aruna terdiam sebentar di depan cermin. Setiap hari, sikap Alexei membuat Aruna kesal, juga berlatih untuk lebih bersabar. Namun, ada hal yang berbeda hari ini dari Alexei. Laki-laki kaku itu tersenyum, bahkan tertawa walaupun hanya beberapa detik. Alexei juga merubah panggilan untuk dirinya dari "saya" menjadi "aku". Luar biasa! Aruna tidak menyangka jika pengawal pribadinya itu memiliki senyum yang sangat menawan. Uups! Aruna menepuk dahi, menyadarkan isi otaknya yang berkelana. Di kamarnya.... Alexei melipat sajadah, lalu meletakkan di atas nakas. Dia memang penganut muslim taat. Keluarga Alexei berasal dari etnis Tatar. Kemudian Alexei menghempaskan tubuh atletisnya ke tempat tidur. Dia menatap langit-langit kamar. Pikiran Alexei kembali ke masa-masa, ketika dia masih di Russia. Usia kanak-kanak, adalah masa tidak terlupakan, ketika keluarga Alexei masih utuh. Mereka menjalani kehidupan yang harmonis sampai Alexei berusia remaja. Namun, semua berubah total, ketika Alexei kuliah di St Petersburg. Mata Alexei terpejam dan membiarkan setetes air jatuh ke pipi. Teringat jelas dan tidak pernah dilupakan seumur hidup Alexei. Seorang gadis bernama Alenadra mengembuskan napas terakhir di pelukan Alexei. "Kto eto sdelal, kto sdelal tebya takim? Otvet'te mne, Alenadra! Otvet'te mne!" (Siapa yang melakukan ini? Siapa yang membuatmu seperti ini? Jawab aku, Alenadra!) Arrrgh! Alexei tersentak. Dia mengusap keringat dingin di wajahnya. Alexei mengambil handphone yang tergeletak di atas d**a. Ditatapnya nanar, wajah seorang gadis cantik dengan rambut cokelat. Alexei usap wajah dalam foto itu dengan d**a terasa sesak. "Ya naydu etogo cheloveka. Ya dolzhen nayti yego. Ya ne vernus' v Rossiyu, poka ne vstrechu etogo cheloveka! I promise, Alenadra!" (Aku akan menemukan orang itu. Aku harus menemukannya, aku tidak akan kembali ke Russia sebelum menemukan orang itu!) ucapnya. Tangis Alexei kembali pecah, ketika ingat akhir hidup Alenadra yang mengenaskan. Sekarang, kebahagiaan itu sudah hilang. Menyisakan Alexei yang dulu ceria menjadi laki-laki dingin dan tak acuh. Cring! Alexei terkejut. Dia segera keluar kamar. Alexei langsung mengetuk kamar Aruna. Alexei semakin geram karena mendapati kamar Aruna tidak terkunci. Laki-laki itu panik. Dia mencari keberadaan Aruna di kamar, tetapi kosong. Alexei mengeraskan rahang menahan marah. Bosnya itu benar-benar sulit diatur. "Aruna, where are you?" Alexei bergegas keluar kamar. Dia semakin geram mendapati Aruna berdiri di depan kamar sedang menatapnya heran. Di tangan gadis itu terdapat semangkuk mie instan rebus. "Alex, what are you doing in my room?" tanya Aruna dengan mata menyipit. Alexei meraih mangkuk itu dan meletakkan begitu saja di meja. Aruna mengikuti gerakan tangan Alexei dengan tatapan protes. Alexei menarik napas kasar kemudian menatap tajam pada Aruna. "Alex, apa-apaan kamu?" Laki-laki di depan Aruna itu masih menatapnya tajam. Kembali terdengar hembusan napas kasar dari mulut Alexei. Alexei memejamkan mata sejenak kemudian kembali menatap tajam Aruna. "Apa kamu sudah pikun? Bukankah aku sudah berpesan, kalau ada apa-apa panggil aku? Kenapa kamu tidak pernah mendengar ucapanku, Ale!" Rahang Alexei mengeras. Aruna mendorong pelan d**a Alexei supaya tidak menghalangi. "Kamu salah bicara, Alexei. Namaku Aruna Fathiyah, bukan Ale!" sahutnya sinis. Alexei mengusap kasar wajahnya. "Siapa pun kamu, tidak penting. Yang jadi masalah, kamu terlalu ceroboh, Aruna. Aku sudah katakan berkali-kali, supaya ..." "Waspada?" sahut Aruna cepat. Gadis itu menyunggingkan senyum satu sudut sekilas. "Astaghfirullah, Alexei! Berhentilah menganggapku, seperti anak kecil! Ini rumahku, apa kamu lupa itu?" tanyanya parau. Kali ini Aruna benar-benar dibuat jengkel dengan ulah bodyguard itu. Hanya karena dia ke dapur membuat mie instan, juga disalahkan? Sangat kelewatan! Alexei mengangguk-angguk, tetapi sudut bibirnya tersenyum sinis. "Apa kamu tahu, rem mobilmu dirusak orang, di garasi rumahmu?" "Apa maksudmu, rem ... rem mobilku?" Alexei tidak menjawab. Dia justru menarik tangan Aruna untuk memasuki kamar. Aruna melayangkan protes, tetapi Alexei tidak peduli. Dia mendudukkan Aruna di sofa. Alexei mengambil sesuatu dari laci lemari pakaian. "Kamu tahu ini milik siapa?" Alexei menyodorkan jam tangan bertali kulit imitasi. Aruna meraih arloji itu dari tangan Alexei. Dia menatap benda berwarna hitam lusuh itu bergantian pada Alexei. Lantas, Alexei duduk di tepi tempat tidur. Tatapannya lekat ke wajah Aruna yang kebingungan. "Kamu mengenalinya?" tanya Alexei lagi. Aruna masih diam. Dia tampak mengingat sesuatu. Gadis itu lantas mendongak menatap Alexei. "Apa ini artinya, kamu malam-malam itu ..." "Iya, kamu benar!" jawab Alexei singkat. "Aku sengaja membiarkan dia kabur. Jika bertemu sekali lagi, aku tahu orang itu. Semua orang di sini tidak mengenalku. Kalau aku membuat keributan, ayahmu pasti memecatku," lanjutnya lirih. "Berarti benar kata Papa. Ada orang yang ingin membunuhku, Alex!" ucap Aruna dengan suara bergetar. Alexei mengangguk pelan. "Iya. Dan aku yakin, ini ada hubungannya dengan kamera pengawas itu. Siapa, kalau bukan orang-orang di sekitarmu yang melakukan itu, Aruna? Tembok rumahmu sangat tinggi. Kamera pengawas di berbagai sudut. Dia memasuki garasi rumah dengan santai dan tidak melawanku," ungkapnya pelan. Aruna menunduk. Dia memejamkan mata sambil menggeleng samar. Gadis itu sibuk menebak, siapa yang sudah berkhianat di dalam rumahnya? "Demi keselamatanmu, jangan banyak protes apa pun yang kukatakan! Aku sudah terlatih untuk itu. Ini jangan sampai didengar orang lain, Aruna! Bersikaplah biasa saja. Mulai sekarang, setiap keperluan makanan dan minumanmu, aku yang awasi. Aku tahu di rumah ini ada satu ART yang bisa diandalkan!" Aruna menegakkan badan mendengar ucapan beruntun dari laki-laki kaku di depannya itu. "Kenapa kamu seolah tahu tentang mereka?" tanyanya lirih. Alexei tersenyum misterius. "Karena aku sudah terbiasa dengan orang-orang munafik di sekitarku. Aku tidak percaya pada setiap orang meskipun itu dekat. Kamu tahu, orang terdekatlah yang berpotensi menyakiti kita. Dia bisa memelukmu, tapi juga menusukkan pisau lebih dalam ke punggungmu. Itu fakta, Aruna!" jawabnya dengan mata kembali berkabut. Aruna menatap manik kebiruan itu. Dia mendekat dan mengulurkan tangannya yang terkepal pada Alexei. Laki-laki itu mengernyit, tetapi tidak urung membalasnya.. "Kita jadi partner!" ucap Aruna sembari tersenyum. Alexei mengangguk menyetujui. "Of course!" jawabnya. Sesaat, keduanya sama-sama saling pandang dan tersenyum. Alexei beralih memegang telapak tangan Aruna dan mendongak menatap wajah gadis cantik itu. "Aruna, boleh aku memelukmu?" tanya Alexei sembari bangkit. "Just one minute, please!" pinta lelaki itu lagi dengan tatapan memohon. Aruna mengangguk, lalu menyambut pelukan Alexei. Aruna memejamkan mata di d**a bidang Alexei. Sedangkan Alexei, meneteskan air mata di punggung Aruna. "Ya skuchayu po tebe, Alenadra!" (Aku kangen kamu) Suara Alexei bergetar. * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD