"Aah, Risang, jangan terus bermain di sana." Suara yang mendayu penuh gairah itu sangat dikenali oleh Anandini. Ia menggeleng pelan. Takut pendengarannya tak berfungsi dengan baik. Anandini pun masih berdiri dengan badan gemetar di sana. "Kau luar biasa menggoda, El. Aku tak tahu bagaimana bisa berpaling dari wanita cantik tanpa cela seperti Anandini." "Ahhh ....!" Anandinipun tidak lagi merasakan halusinasi. Dia mendorong pelan pintu itu agar bisa melihat sedikit saja, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. "Astagfirullah, kenapa dia tega melakukan itu di saat makam anaknya saja masih basah?" Anandini hanya bisa berucap penuh tanya pada dirinya sendiri. Dia sangat syock dengan kejadian yang baru saja terjadi. Yang mampu ia lakukan sekarang hanya diam dengan air mata berurai.

