Ruang Jiwa

654 Words
Langit di atas Aertheris perlahan berubah warna, seolah merespons sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang terikat oleh takdir. Kael dan Elya berjalan menyusuri jalan setapak yang tak terlihat mata biasa, mengikuti getaran dari kristal yang kini berpendar di tangan mereka. Udara di sekeliling mulai bergetar, seperti tarikan napas panjang dari alam semesta. Semakin mereka melangkah, semakin dunia di sekeliling mereka memudar. Daun-daun berhenti bergerak. Angin terdiam. Waktu, untuk sesaat, seolah menahan langkahnya demi dua jiwa yang tengah menuju tempat yang bahkan legenda pun hanya bisa bisikkan dengan ragu. Tempat itu tidak memiliki gerbang. Tidak ada pintu. Hanya retakan tipis di udara, seperti luka di jantung waktu. Kael menoleh ke Elya. "Siap?" Elya menggenggam tangannya, kuat. "Aku hanya takut jika kita keluar dari sana, kita tidak akan menjadi orang yang sama." Kael tersenyum pelan, namun matanya menyimpan ketegasan. "Kalau harus berubah demi menyelamatkan Noct... dan diri kita sendiri, aku rela." Mereka melangkah masuk. Dan dunia terbelah. Ruang Jiwa tidak bisa dijelaskan. Ia tidak memiliki dinding, tidak memiliki langit. Hanya lautan cahaya dan bayangan, mengalir perlahan di segala arah. Suara-suara lama berbisik di antara celah-celah dimensi. Tawa, tangis, janji, kematian. Semua bercampur menjadi simfoni tak kasatmata yang langsung menusuk hati mereka. Langkah pertama terasa ringan. Langkah kedua mulai menyesakkan. Langkah ketiga... seolah tubuh mereka dipisahkan dari jiwa. Kael memegangi dadanya. Nafasnya tercekat. Gema kenangan menabrak benaknya seperti ombak memukul karang. "Aku... melihatnya." Elya menunduk, air mata jatuh begitu saja. "Aku juga. Kehidupan pertama kita. Hari di mana Noct... memohon untuk didengar. Tapi kita sibuk jatuh cinta." Di tengah ruang itu, perlahan terbentuk sesuatu. Bayangan. Cermin. Tapi bukan sembarang cermin. Ia memantulkan isi hati. Kael dan Elya berdiri di hadapannya. Di dalam cermin, Kael melihat dirinya... marah. Takut. Dingin. Tapi juga lelah. Ia melihat Revan, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai anak laki-laki yang terlalu sering kehilangan dan terlalu takut mencinta. Elya melihat Ayla, bukan sebagai gadis penuh cahaya, tapi sebagai jiwa yang rapuh, yang terus berpura-pura kuat karena takut ditinggalkan. Ia melihat rasa bersalah karena mencintai, rasa ingin tetap hidup walau tahu ia akan mati di pelukan seseorang yang tak bisa ia benci. Mereka berdua saling menoleh. Tak berkata apa pun. Lalu, Kael menarik napas dalam. "Aku takut akan hari itu kembali." Elya membalas dengan suara nyaris berbisik. "Aku juga." Kael meletakkan tangannya ke permukaan cermin. Elya ikut menyentuhnya. Dan saat itu juga, cahaya meledak dari dalam cermin, menyelimuti mereka. Namun ini bukan ledakan yang melukai. Ini adalah cahaya yang menyatu dengan luka mereka. Saat mereka sadar, mereka berdiri di tempat yang berbeda. Sebuah ruangan putih yang luas, dengan langit-langit tak berujung. Di tengah ruangan berdiri sosok... Noct. Tapi berbeda. Wajahnya seperti dulu. Muda. Tak hancur. Matanya tidak dipenuhi kebencian, hanya kesepian. Ini bukan Noct yang sekarang. Ini adalah jiwanya. Ia menatap mereka, pelan. "Kalian datang." Kael melangkah maju, suaranya parau. "Maafkan aku... karena mencintainya dan melupakanmu." Noct menggeleng. "Aku tidak ingin minta maaf. Aku hanya ingin... didengar." Elya menggenggam tangan Noct. "Kalau kami bisa mengulang semuanya... kami akan memilih untuk tetap mencintaimu juga, tapi bukan dengan cara yang sama. Kami akan memberimu ruang. Tempat. Waktu." Noct menutup matanya. Dan ketika ia membukanya lagi, air mata jatuh dari wajahnya yang tak lagi dipenuhi bayangan. "Aku hanya... tidak ingin menjadi bayangan dari kalian." Kael memeluknya. "Aku tidak akan membiarkanmu sendiri lagi." Dan Elya ikut melingkarkan lengannya. Ketiganya berdiri, dipeluk cahaya lembut dari ruang tak bernama itu. Ruang yang menyimpan luka, tapi juga harapan. Saat mereka kembali ke dunia nyata, langit Aertheris berwarna biru cerah. Tidak ada kabut. Tidak ada suara perang. Hanya keheningan damai. Kael, Elya, dan Noct berdiri berdampingan. Noct menatap ke langit. "Aku belum sepenuhnya sembuh... tapi aku tahu jalan pulang itu ada." Kael menoleh ke Elya, lalu ke Noct. "Kita mulai lagi. Tapi kali ini, tidak ada yang tertinggal." Dan di langit, tiga cahaya menyatu perlahan. Merah. Biru. Hitam. Bukan sebagai pertanda konflik, tapi penyatuan. Tiga jiwa. Satu takdir. Satu awal yang baru.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD