Bab 20

1291 Words
Langit Aertheris tetap biru pucat, tapi jalur kristal di hadapan mereka memanjang, seolah dibentangkan oleh tangan tak terlihat. Tidak ada suara selain langkah kaki mereka bertiga. Namun keheningan itu tidak kosong. Ia penuh dengan sesuatu yang belum bisa diucapkan. Kael melirik sekeliling. "Jalan ini… bukan sekadar jalur biasa. Aku bisa merasakan ingatan mengalir di bawahnya." Elya mengangguk pelan. "Setiap langkah seperti menyentuh sesuatu yang pernah dilupakan. Tapi tidak asing." Noct berhenti. "Lihat itu." Di ujung jalur kristal, terbentang dataran luas yang dikelilingi tebing putih keabu-abuan. Tapi yang mencolok adalah apa yang memenuhi lembah itu. Bayangan. Ratusan, mungkin ribuan sosok samar yang berdiri diam. Tidak ada wajah. Tidak ada suara. Hanya siluet manusia yang memudar, seperti gambar yang kehilangan warna dan bentuk. Beberapa gemetar. Beberapa hanya membeku. "Apa ini…" bisik Elya, setengah takut, setengah tersentuh. "Ini bukan roh. Bukan juga makhluk hidup," jawab Noct pelan. "Aku rasa… ini adalah jiwa-jiwa yang kehilangan nama mereka." Kael menatap sekeliling, dadanya terasa berat. "Mereka dilupakan. Oleh dunia. Oleh orang yang mereka cintai. Bahkan oleh diri mereka sendiri." Tiba-tiba, dari tengah lembah, terdengar suara lirih. Seperti nyanyian yang hanya bisa didengar oleh mereka yang pernah merasa hilang. Satu sosok bergerak. Bukan mendekat. Tapi perlahan menengadah ke langit, seperti merasakan kehadiran sesuatu yang telah lama dirindukan. Elya maju selangkah. "Aku tahu tempat ini. Aku pernah bermimpi berada di sini. Tapi waktu itu… aku juga tidak punya nama." Kael menatapnya. "Mungkin kita datang bukan untuk menyelamatkan mereka. Tapi untuk mengingat mereka." Noct mendekat. "Dan membiarkan mereka mengingat kembali siapa diri mereka." Elya menatap kristal putih yang kini menggantung di lehernya. Cahaya di dalamnya mulai berdenyut pelan, seirama dengan detak jantungnya. Ia mengangkat tangannya, dan dari ujung jarinya memancar cahaya lembut yang menyebar seperti kabut. Saat cahaya itu menyentuh satu sosok, bayangan itu menggigil. Perlahan, sebuah bentuk wajah muncul. Mata. Lalu senyum. Lalu suara kecil. "Namaku... Lia." Suara itu begitu pelan, tapi cukup untuk menggetarkan seluruh lembah. Satu per satu, bayangan lainnya mulai bergerak. Seperti rantai yang terlepas, mereka mulai membuka mata, mulai berbicara. Beberapa menangis. Beberapa tertawa. Sebagian hanya berdiri diam dengan tangan menutup mulut, seolah tak percaya bahwa suara mereka masih bisa didengar. Kael dan Noct ikut melangkah ke tengah lembah. Mereka tidak bicara banyak. Hanya berjalan di antara para jiwa yang bangkit perlahan dari lupa. Setiap kehadiran mereka membawa resonansi. Setiap tatapan mata membawa pengakuan. "Ini bukan hanya tentang kita bertiga," kata Kael akhirnya. "Selama ini kita pikir luka kita adalah segalanya. Tapi nyatanya, dunia pun penuh luka. Ia menyimpan terlalu banyak nama yang tidak sempat kita panggil." Noct menunduk. "Dan sekarang, kita memberi mereka suara kembali." Langit mulai berubah. Cahaya putih muncul di langit Aertheris, namun kali ini ia tidak membelah atau menyilaukan. Ia hanya menyinari dengan lembut, seperti mentari pertama setelah badai panjang. Elya tersenyum. "Janji keempat… bukan tentang siapa yang kita selamatkan. Tapi tentang siapa yang kita ingat." Kael mengangguk. "Dan siapa yang akhirnya berani mengingat dirinya sendiri." Angin berhembus. Lembah Nama yang Terlupa kini tidak lagi sunyi. Ia menjadi ladang cahaya. Ladang tempat nama-nama kembali tumbuh. Bukan sebagai kenangan. Tapi sebagai bukti bahwa tidak ada jiwa yang benar-benar hilang, selama masih ada yang berani mengingat. Mereka bertiga berdiri di tengahnya. Tak ada pertempuran. Tak ada musuh. Hanya penerimaan. Dan ketenangan yang datang setelah semua duka diberi tempat. Langkah baru pun dimulai. Bukan untuk mencari apa yang hilang. Tapi untuk menjaga apa yang telah ditemukan. Dan dunia, untuk pertama kalinya, berbisik kembali. Selamat datang pulang. Malam turun di Aertheris, tapi langitnya tidak gelap. Cahaya dari lembah yang baru saja mereka lewati masih bersinar perlahan, seakan dunia tak ingin benar-benar memejamkan mata. Di kejauhan, suara tawa samar terdengar. Tawa dari jiwa-jiwa yang kembali mengingat siapa diri mereka. Namun perjalanan mereka belum selesai. Kael, Elya, dan Noct berdiri di tebing yang menghadap lembah, tubuh mereka dilingkupi keheningan. Angin membelai lembut rambut mereka, membawa serta aroma bunga liar dan kristal yang mekar setelah lama tertidur. Elya duduk di atas batu besar, menatap langit yang bertabur bintang. “Setiap tempat yang kita kunjungi,” bisiknya, “seperti membuka lembaran lain dari dunia ini. Tapi juga dari diri kita sendiri.” Noct menyandarkan tubuhnya pada dinding batu. “Seolah dunia ini dibuat bukan hanya dari tanah dan langit… tapi dari kenangan yang belum selesai diucapkan.” Kael menoleh pada mereka berdua. “Dan jika itu benar, maka masih ada satu tempat yang belum terbangun.” Elya mengangkat alis. “Tempat apa?” Kael menghela napas. “Jantung dunia.” Mereka saling pandang. “Tempat di mana semua dimulai. Tempat di mana suara-suara pertama dunia berbisik… lalu dilupakan.” --- Mereka menempuh perjalanan ke selatan Aertheris, melintasi padang kristal dan hutan-hutan berakar cahaya. Namun semua itu terasa berbeda. Dunia kini seperti tidak menolak kehadiran mereka, melainkan menuntun. Burung-burung malam terbang membentuk pola aneh di langit. Bunga-bunga mekar ketika mereka melintas. Dan hembusan angin membawa bisikan dalam bahasa tua yang bahkan mereka tidak pahami sepenuhnya. Setelah tiga hari perjalanan, mereka tiba di sebuah jurang tak bernama. Jurang itu tidak dalam, namun tidak bisa dilompati. Di dasar jurang itu, air mengalir dari arah yang tidak bisa ditentukan. Air itu tidak memantulkan langit, tapi kenangan. Wajah-wajah, tempat-tempat, bahkan kata-kata yang tidak pernah terucap. Elya menatapnya lama. “Ini bukan air… ini adalah sungai jiwa.” Kael mengangguk. “Dan di bawah sana… terletak pintu menuju Jantung Dunia.” Noct tersenyum tipis. “Kita tidak bisa melompat, bukan?” Kael menggeleng. “Kita harus menjatuhkan beban kita dulu. Semua yang masih kita bawa. Duka, ketakutan, harapan yang belum bisa kita lepaskan. Hanya dengan begitu, tubuh kita akan cukup ringan untuk menyeberang.” Elya menunduk, menatap bayangannya sendiri di permukaan sungai. “Bagaimana kalau aku tidak bisa?” Kael menatapnya. “Maka aku akan menunggu. Bersamamu. Sampai bisa.” Noct mendekat, mengulurkan tangannya. “Kita sudah melewati ruang jiwa dan lembah yang terlupa. Kita akan melewati ini juga. Bersama.” Dengan langkah perlahan, mereka berdiri di tepi. Lalu, satu per satu, mereka membuka hati mereka. Tak dengan sihir. Tak dengan kata-kata besar. Tapi dengan diam yang dalam. Elya memejamkan mata dan melepaskan bayangan ibunya yang selalu berjalan menjauh di dalam mimpi. Noct melepaskan tawa palsu yang selama ini ia kenakan seperti baju perang. Kael melepaskan janji yang pernah ia buat pada dirinya sendiri untuk tidak menangis. Dan ketika mereka membuka mata, sungai jiwa tidak lagi tampak mengalir. Ia berubah menjadi jembatan cahaya. Satu demi satu mereka melangkah ke atasnya. --- Jantung Dunia bukanlah tempat yang bisa digambarkan. Ia bukan gua. Bukan kastil. Bukan altar. Ia adalah ruang yang terasa seperti napas. Seperti rahim. Seperti hening pertama yang muncul sebelum suara diciptakan. Di tengah ruang itu, ada cahaya berbentuk spiral. Setiap putaran memancarkan warna yang tidak dikenal oleh mata manusia. Tapi hati mereka mengenalnya. Karena warna-warna itu adalah bentuk dari perasaan yang paling dalam: Keikhlasan. Keberanian. Kesedihan. Pengampunan. Kael, Elya, dan Noct berdiri di hadapan spiral itu. Lalu sebuah suara terdengar. Bukan dari luar. Tapi dari dalam mereka sendiri. “Apa yang kalian bawa ke tempat ini?” Elya menjawab dengan suara pelan. “Cinta yang tidak menuntut.” Noct menyusul. “Luka yang tidak lagi ingin disembunyikan.” Kael melangkah maju. “Dan harapan yang tidak lagi mencari kemenangan. Tapi kedamaian.” Cahaya spiral itu berdenyut, lalu melingkupi mereka seperti pelukan. Lalu tiba-tiba, dunia runtuh menjadi cahaya. --- Mereka terbangun di atas rerumputan yang mereka kenali. Aertheris. Langitnya kini lebih terang. Udara lebih jernih. Dan dari kejauhan, nyanyian terdengar. Bukan nyanyian manusia. Tapi suara dunia. Dunia telah menerima mereka. Dunia telah membuka jantungnya. Kael menggenggam tangan Elya. Noct berdiri di samping mereka. Tidak ada musuh. Tidak ada perang. Tapi hati mereka tahu... Janji keempat baru saja dimulai. Dan ia akan membawa mereka pada perjalanan paling penting dari semuanya. Bukan menyelamatkan dunia. Tapi menyembuhkan jiwanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD