Bab 26

1320 Words
Embun turun lebih tebal dari biasanya. Seolah langit belum sepenuhnya yakin untuk menyerahkan malam pada pagi. Tidak ada suara burung. Tidak ada desir angin. Hanya keheningan yang terasa seperti pelukan lembut dari sesuatu yang tidak terlihat. Ren duduk di bawah pohon tua, tempat di mana mereka mengubur buku kemarin. Ia tidak menggali. Tidak juga menyentuh tanah. Hanya diam, menatap tempat itu seolah sedang berbicara dengan bagian dirinya yang belum sempat diberi nama. Elya muncul dari arah dapur kecil dengan dua cangkir tanah liat di tangan. Asap tipis naik dari permukaan cairan jahe hangat. Ia duduk di samping Ren, memberikan salah satu cangkir tanpa bicara. Ren menerimanya dengan anggukan kecil, lalu menatap uap yang perlahan memudar di udara pagi. “Kalau suatu hari kita tidak lagi di sini,” ucap Elya, pelan, “apa kamu ingin ada yang mengingatmu?” Ren tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap pada uap yang menari sebentar lalu lenyap. Setelah beberapa saat, ia berkata pelan, “Mungkin tidak perlu diingat. Tapi aku ingin pernah benar-benar ada.” Tak ada tambahan. Tak ada pembenaran. Dan Elya tidak bertanya lagi. Karena di tempat ini, rasa tidak perlu dijelaskan. Di dekat danau, Kael sedang duduk di atas batu datar. Tangannya memegang arang, menggambar pola-pola sederhana yang terlihat seperti gelombang air. Tidak ada tekanan. Tidak ada maksud tersembunyi. Hanya garis-garis yang datang dari napas yang tenang. Mira membentangkan selimut kecil di rerumputan dekat pohon jeruk. Dua anak duduk di sampingnya, mendengarkan kisah dari buku tua yang mereka temukan di pondok utara. Buku itu lusuh. Tulisannya hampir pudar. Tapi suara Mira lembut, seperti air mengalir yang membuat siapa pun ingin tinggal lebih lama. Noct masih berada di bawah pohon. Ukulelenya tergeletak di samping, tapi tidak disentuh. Ia hanya memandangi langit yang perlahan berubah warna. Lalu tatapannya jatuh ke arah tempat buku itu dikuburkan. Ia menggenggam batu kecil, menggoreskannya di kulit pohon, meninggalkan garis tak lurus yang seperti huruf tapi bukan. Tidak ada yang bertanya apa maksudnya. Karena semua orang mulai terbiasa bahwa tidak semua pesan butuh bahasa yang sama. Menjelang siang, langit berubah sedikit lebih cerah. Awan tidak lagi menggumpal. Sinar matahari menembus ranting, membuat bayangan jatuh seperti mozaik di tanah. Dan di tengah halaman, tepat di antara taman dan danau, bunga liar yang seminggu lalu belum tumbuh kini mekar dalam diam. Warnanya putih pucat, hampir transparan, seolah lahir dari ingatan. Ren bangkit perlahan. Ia berjalan ke arah bunga itu. Menunduk, tidak untuk memetiknya, hanya untuk melihat lebih dekat. Bibirnya bergerak sedikit. Seperti membisikkan sesuatu. Lalu ia berdiri lagi dan menoleh ke arah Elya. “Ini bukan hanya tempat tinggal. Ini tempat pulang.” Elya tersenyum. Ia tidak menjawab. Karena kata itu sudah cukup. Menjelang sore, mereka berkumpul di sekitar pohon tua. Tidak ada api kali ini. Tidak ada musik. Hanya duduk melingkar, membiarkan tubuh mereka menyentuh tanah, merasakan denyut yang datang dari dalam bumi. Kael membawa lembaran kertas yang baru ia temukan. Ia membagikannya satu per satu. Di atas kertas itu hanya ada satu kalimat: Apa yang kamu temukan hari ini, meski kecil, tetap penting. Mereka menulis. Bukan karena disuruh. Tapi karena ingin meninggalkan sesuatu, meski hanya sepatah kata. Ren menulis: Aku bisa diam tanpa merasa sendiri. Elya menulis: Aku melihat wajahku sendiri di mata orang lain, dan tidak takut. Kael menulis: Air dan waktu punya cara yang sama untuk menyembuhkan. Mira menulis: Tertawa hari ini tidak datang dari lelucon, tapi dari rasa lega. Noct menulis: Sunyi hari ini tidak kosong. Ia penuh. Kertas-kertas itu mereka lipat dan gantungkan di tali benang yang direntangkan antara dua pohon. Tidak untuk pamer. Tidak juga untuk dibaca besok. Tapi agar angin tahu bahwa mereka pernah merasa. Malam datang pelan. Udara menjadi lebih hangat, seperti selimut yang sudah lama dijemur. Tidak ada bintang yang terang. Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Tapi tidak ada yang mencari apa pun. Karena malam itu, keberadaan mereka sudah cukup. Dan cukup... kadang adalah bentuk paling jujur dari bahagia. Saat pagi menyapa, suara pertama bukan datang dari burung, bukan pula dari angin. Tapi dari bunyi pena menyentuh kertas. Ren duduk di dekat jendela kecil di sisi timur, menggambar sesuatu di atas buku kosong yang baru ia temukan di rak tertua pondok mereka. Goresannya perlahan, nyaris seperti bisikan. Ia menggambar lingkaran, lalu garis-garis yang menyilanginya. Bentuk itu bukan matahari. Bukan peta. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang menyerupai perasaan. Di luar pondok, Elya menjemur kain tipis yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Cahaya pagi belum terlalu kuat, tapi cukup untuk membuat uap kecil naik dari permukaan kain. Tangannya sibuk, tapi pikirannya mengembara. Kael memutuskan berjalan ke arah barat, ke hutan yang jarang mereka masuki. Ia membawa keranjang kosong dan tongkat kayu yang sudah usang di ujungnya. Tidak ada tujuan yang jelas. Tapi langkahnya mantap. Seperti seseorang yang tidak sedang mencari, tapi siap jika menemukan. Mira duduk sendiri di dekat danau. Ia membawa sisa kertas dari hari kemarin, lalu menuliskan satu kata di setiap lembarnya. Kata-kata sederhana. Seperti "tumbuh", "pelan", "cukup", dan "dengar". Setelah itu, ia meletakkannya di permukaan air, membiarkannya hanyut satu per satu. Tidak untuk dilupakan. Tapi untuk dilepas. Noct kembali ke bawah pohon tempat ia biasa duduk. Kali ini ia memainkan ukulele. Lembut. Satu-satu. Nadanya tidak berpola, tapi menyentuh. Ia tidak bernyanyi. Tapi udara di sekitarnya ikut bergetar. Seolah dedaunan pun mendengarkan. Siang menjelang lambat. Awan melintas tanpa bayangan. Waktu tidak terasa tergesa. Semua berjalan dalam ritme tubuh mereka masing-masing. Tidak ada yang menunggu. Tidak ada yang dikejar. Ketika matahari mencapai titik tertinggi, Kael kembali dari hutan dengan keranjang setengah terisi. Bukan buah. Bukan tanaman. Tapi potongan kayu kecil, batu datar, dan satu helai kain tua yang tergantung di semak. Ia meletakkannya di tengah halaman, lalu duduk bersila di sampingnya. “Di hutan,” katanya, “tidak ada suara kita. Hanya suara yang lebih tua.” Mira menatap potongan kayu yang ia bawa. Salah satunya berbentuk seperti anak tangga. Yang lain seperti sayap patah. Tapi tak ada yang rusak. Semuanya utuh dalam ketidaksempurnaannya. Elya mengangguk perlahan. “Mungkin hutan itu bukan hanya tempat. Tapi memori yang tumbuh.” Ren berdiri di sisi pohon. Ia mengangkat kertas gambarnya yang baru. Di atasnya tergambar rumah. Tapi tidak berdinding. Tidak juga beratap. Hanya garis-garis yang mengarah ke dalam. Ia menunjukkan gambar itu ke Noct. “Inilah rumah,” katanya. “Bukan tempat. Tapi perasaan.” Noct menatap gambar itu lama. Lalu memainkan satu nada. Kemudian satu lagi. Sampai lagu itu perlahan lahir sendiri. Lagu itu membuat semua diam. Bukan karena kagum. Tapi karena mengenal. Seperti suara yang pernah mereka dengar dalam mimpi, tapi lupa bagaimana menyebutnya. Sore tiba dengan cahaya emas yang jatuh dari sela pohon. Mereka duduk melingkar lagi, tapi kali ini lebih kecil. Hanya lima orang. Tidak ada api. Hanya benda-benda yang mereka temukan hari ini. Buku gambar, potongan kayu, kertas kata, dan ukulele. Kael mengusap permukaan kayu paling kecil. “Kalau hidup adalah benda, aku ingin jadi ini. Tak berguna di mata orang, tapi bisa menyimpan sesuatu.” Elya memejamkan mata. “Kalau hidup adalah nada, aku ingin jadi yang tidak terdengar. Tapi membuat yang terdengar jadi lebih indah.” Ren menyimpan gambarnya ke dalam buku. “Kalau hidup adalah gambar, aku ingin jadi ruang kosong di tengahnya. Tempat orang bisa bernafas.” Mira menulis satu kata lagi. Lalu menaruhnya di tengah lingkaran. “Kata ini,” katanya, “yang kutemukan hari ini.” Kata itu adalah “diberi”. Noct memetik nada terakhir, lalu meletakkan ukulelenya di tanah. “Kalau hidup adalah lagu, aku ingin jadi bagian yang tidak dinyanyikan. Tapi tetap terasa.” Langit mulai berubah warna. Tidak sepenuhnya biru. Tidak juga ungu. Tapi warna antara. Seperti dunia belum memilih. Seperti hidup juga belum selesai. Sebelum mereka beranjak, Ren menulis satu kalimat pendek di batu kecil dan menaruhnya di akar pohon tua. “Kita tidak butuh alasan untuk saling hadir.” Dan malam pun datang. Tanpa pesta. Tanpa tanda. Tapi semua tahu, hari ini telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Bukan sejarah. Tapi keberadaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD