Saat ini...
Indonesia ...
Seorang gadis berjalan dengan ceria di atas trotoar bibirnya bersenandung kecil lagu kesukaannya yang di putar memalui ponsel dan terdengar di benda kecil yang menempel di telinga.
Angin sore berhembus menerpa kerudung panjangnya dan meliuk mengikuti alur.
"Naj!" teriakan di belakangnya tak membuatnya menoleh, karena telinganya masih di tutupi headset, hingga si pemanggil menepuk pundaknya membuatnya menoleh.
"Eh, Sarah?"
"Kamu di panggil kok gak nyahut."
"Hehe ... sorry." Najwa menunjukan ponselnya yang sedang tersambung dengan kabel headset ke telinganya.
"Kebiasaan deh, kalau ada apa-apa bisa bahaya loh Naj, gimana kalau kamu lagi nyebrang terus ada mobil yang remnya blong kamu gak bakalan bisa mendengar klaksonnya, ketabrak, mati."
Najwa tersenyum "Hidup dan mati ada di tangan Allah, Sarah sayang." Najwa menyampirkan tangannya di bahu Sarah "Cepetan nanti telat kuliah," ucapnya lagi, mereka berjalan beriringan menuju gerbang kampus.
Sarah mencebik "Iya, hidup dan mati ada di tangan Allah, tapi kalau kita gak waspada juga tetep aja, celaka."
"Eh, tar siang kita ke toko buku yuk," ajak Sarah.
Najwa mengeryit "Beberapa hari lalu bukannya udah beli buku ya?"
"Iya, tapi nanti ada buku baru yang mau aku beli, aku baru dapet uang saku dari tanteku," ucap Sarah dengan bangga.
Najwa menggeleng "Aku gak bisa nanti abis kuliah aku ada urgen."
"Laga kamu, urgen segala, kemana sih?" tanya Sarah penasaran.
Najwa tersenyum tak menanggapi, dan berjalan mendahului Sarah.
"Eh, di tanya kok gak jawab."
"Ayo cepetan nanti telat!"
....
"Udah siap?" Najwa mengangguk, dengan senyuman, lalu seorang suster mendorong kursi rodanya.
"Aku bisa jalan loh sus." Najwa mencebik, merasa risi.
"Aku tau, Najwa kan memang kuat," ucap suster menenangkan.
Najwa tertawa kecil "Tetep aja rasanya juga sakit."
Suster hanya tersenyum, sambil mengelus punggung Najwa.
Najwa mengenakan seragam biru khas rumah sakit memasuki ruangan yang sudah ada dokter di dalamnya.
"Assalamualaikum, dokter ganteng ... ." Dokter nya memang ganteng dengan kaca mata bertengger di hidung mancungnya, kulit putih dan mata sedikit sipit, tubuhnya juga tinggi dengan d**a bidang yang seksi, ssttt ... jangan kasih tau orang lain tentang pemikiran Najwa yang nakal satu ini, tapi gak papa kan itu berarti dia normal.
"Waalaikumsalam Najwa cantik." jika saja Dokternya masih jomblo Najwa pasti memerah, sayang sekali Dokter Raihan sudah memiliki calon istri, jadi Najwa biasa saja "Sudah siap?" tanyanya masih dengan senyuman di wajah tampannya.
Najwa mengangguk "Jangan tegang, tenang aja ya," kata Raihan menenangkan.
"Aku kayaknya mulai terbiasa dengan ini." Najwa masih tersenyum, ini adalah kemo keduanya bulan ini, untuk mempertahankan kondisinya.
Beberapa bulan lalu Najwa di vonis memiliki kanker di hatinya, jalan satu- satunya adalah transplantasi hati setelah membuang sel kanker lebih dulu, namun menunggu pendonor tak semudah itu, banyak yang juga mengharapkan seperti Najwa, mereka juga memiliki kondisi yang bahkan lebih parah darinya, tapi belum mendapat pendonor.
Dan Najwa hanya bisa menunggu dan mempertahankan kondisinya yang semakin lemah, menunggu Tuhan mengirimkan malaikat penolongnya, namun jika tidak, Najwa ikhlas di panggil yang maha kuasa.
Tentu saja, karena sejatinya semua yang di milikinya adalah milik Tuhan tak terkecuali nyawanya.
Namun Najwa berharap di sisa hidupnya yang tinggal sebentar lagi ini, dia banyak melakukan kebaikan karena dia tak ingin menyesal kelak, jika sudah tiada.
Dokter menyuntikan sebuah obat ke dalam cairan infus yang telah tersambung ke nadi Najwa hingga perlahan obat tercampur dan terserap masuk kedalam aliran darahnya.
Najwa mulai merasakan dirinya melemah, dan pusing luar biasa efek samping dari obat tersebut sudah terasa, rasa mual yang tak tertahankan hingga Najwa mengalami muntah- muntah hebat.
...
Najwa tersenyum saat terbangun melihat sang ibu setia menemaninya, selesai dengan kemoterapi tubuh Najwa kelelahan hingga dia tertidur "Aku gak papa Ma," ucapnya berusaha menenangkan.
"Kamu selalu bilang begitu." Ratna mengusap air matanya, dan tersenyum ke arah Najwa, mata gadis itu sayu dan pucat, Ratna tak mengerti mengapa ini menimpa pada putri satu- satunya ini, namun dia berusaha tegar agar putrinya tidak bersedih.
"Itu juga sugesti dan doa buat aku, ya kan suster?" Najwa mencari dukungan dari suster yang ada di sebelahnya.
"Iya dong, tetap semangat ya, Najwa." Najwa mengangguk dan melihat suster keluar ruangan rawatnya, pakaiannya telah terganti dengan yang bersih karena tadi terkena muntahan.
"Anak mama memang hebat." Ratna mengecup dahi Najwa.
"Ma, aku pengen pake kerudung." Ratna mengangguk dan mengambil kerudung lebar di tasnya, membuka penutup kepala sang anak dan menggantinya dengan kerudung, Ratna kembali menangis dalam diam saat melihat sebagian rambut Najwa sudah mulai rontok dan menyisakan botak di beberapa bagian.
"Aku mau di botak aja ya, Ma, rambutku makin sedikit di ikat juga tanggung." Hati Ratna serasa di tusuk ribuan jarum mendengarnya.
...