Two

2803 Words
Scent  Of  The  Devil 27 Januari 2021 CHAPTER TWO   Berada di samping Maara membuat Tahvi tak bisa duduk tenang di tempatnya. Aroma harum yang menguar dari tubuh gadis ranum ini membuatnya mabuk, jika dia tidak bisa menahan diri, lehernya bisa berada dalam bahaya besar. Ya, Tahvi hanya perlu memikirkan bagaimana kepalanya menggelinding untuk mengalihkan pikirannya dari aroma harum yang sangat memabukkan ini.   “Kau akan menjualku,’kan?” Suara Maara mengejutkan Tahvi, usaha kerasnya untuk mengalihkan pikirannya dari aroma tubuh Maara yang semerbak itu runtuh seketika. Tahvi menoleh, manatap Maara dengan penuh damba. Kepala Tahvi bergerak cepat ke ceruk leher Maara, tak tahan untuk mengendus leher Maara dan membuat gadis itu tersentak kaget.   “A-apa yang ka-kau lakukan?!” Maara berusaha menjauh, kedua tangannya mendorong Tahvi.   Kesadaran Tahvi pun kembali, bayangan lehernya yang ditebas oleh Mazen kembali terlintas dengan jelas dipikirannya dan itu membuatnya ngeri sampai dia menyentuh lehernya untuk memastikan bahwa lehernya masih utuh.   “Aku tidak bisa menahan diri, maafkan aku.”   “Dasar bajing*an mesu*m aneh!” batin Maara sambil menatap tajam Tahvi. Pria itu bergerak menjauh dari Maara. Walau pastinya itu sia-sia saja karena mereka masih berada di dalam satu mobil yang sama. Ini akan menjadi perjalan paling sulit yang pernah dilakukan oleh Tahvi. Tak apa, pikirnya. Yang dia lakukan ini demi tuannya, dia rela berkorban apapun untuk tuannya itu.   “Bolehkah aku meminta sesuatu?” Maara tiba-tiba saja bersuara, mengejutkan Tahvi setengah mati   “A-ap-apa?!” Tahvi benar-benar gugup jika Maara terus membuat kontak di antara mereka.   “Bunuh aku.” Begitu entengnya Maara mengatakan hal itu. bahkan Tahvi pun tak habis pikir, apakah beban hidup gadis ini begitu berat sampai dia ingin dilenyapkan.   Tahvi menghela nafasnya, dan lagi-lagi aroma tubuh Maara menusuk hidungnya, keadaan ini sangat menyiksa. Ini membuatnya heran, bagaimana seorang manusia bisa memiliki aroma tubuh yang harum dan memikat seperti ini. Tahvi tahu, semua manusia khususnya para wanita memang memiliki aroma tubuh yang khusus. Ini memudahkan bagi kaumnya jika sedang mencari pasangan untuk menyalurkan gairah mereka. Namun, Maara sungguh berbeda. Aromanya, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Pastinya, aromanya sangat langka dan memikat.   “Aku tidak akan membunuhmu.” Tahvi menguatkan tekadnya agar tidak tergoda oleh indera penciumannya sendiri.   “Kenapa? Aku sama sekali tidak akan berguna untukmu, jika kau ingin menjualku percuma saja, tidak ada orang yang akan tertarik denganku.” Maara berucap dengan cepat sampai nafasnya terengah-engah dan itu membuat dadanya naik turun. Pemandangan itu tak luput dari mata Tahvi.   Satu godaan lagi! sialan!   Bagi para incubus anggota tubuh wanita adalah godaan terbesar, keindahan seperti itu tak akan luput dari mata seorang incubus. Tahvi memejamkan matanya, dia benar-benar tersiksa sekarang.   Pikirkan bagaimana kepalamu akan menggelinding dan diberikan pada Cerebrus, Tahvi! Terus-terus menerus Tahvi mengingatkan dirinya akan apa yang terjadi jika sekali saja dia lepas kendali.     “Kau tidak akan mati di tanganku, Maara. Ada orang lain yang akan melakukannya.”   “Ini menyebalkan! Aku bersedia ikut denganmu karena berharap kau akan membunuhku!” ujar Maara sembari memalingkan wajahnya untuk menatap ke luar mobil. Laju mobil yang cepat itu memberikan Maara sebuah ide.   “Kau tidak boleh menyia-nyiakan hidupmu, Maara. Karena—“ Ucapan Tahvi terpotong begitu saja ketika pintu mobil tiba-tiba terbuka dan Maara melompat keluar.   “HENTIKAN MOBILNYA!” teriak Tahvi dan mobil itu pun mengerem sekuat tenaga. “Gadis ini sungguh merepotkan sekali!” gerutu Tahvi lalu dia keluar dari dalam mobil.   Tubuh Maara yang terjatuh dari mobil itu tergeletak tak jauh dari tempat Tahvi menghentikan laju mobilnya. Dia berlari mendekati tubuh Maara dan melihat gadis itu tak sadarkan diri dan bersimbah darah. Segera Tahvi mendekatinya, memeriksa denyut nadinya.   Kening Tahvi berkerut dalam, dia tak bisa merasakan denyutan pada pergelangan tangan Maara. Tahvi menempelkan kepalanya—telinganya—di atas d**a Maara, tak ada suara detak jantung. Ini gawat, jika gadis ini benar-benar mati maka usahanya akan sia-sia dan bisa jadi dirinya pun tak luput dari amukan sang tuan.   “Sialan, tidak ada denyutnya.” Tahvi berdecak, kekesalan bercampur dengan gelisah bergumul dalam benaknya. Apa yang harus dia lakukan, dia tak memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang yang sudah tewas.   “Tu-tuan, apa dia mati?” salah seorang pengikut Tahvi yang turut keluar dari mobil mereka bertanya dengan panik. Tahvi berdecak kesal, dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengulurkan tangannya ke arah d**a Maara berada.   “Kau tidak lagi berguna, aku hanya akan mengambil jantung Tuan Mazen,” gumamnya sembari berusaha untuk merobek daging yang menutupi tempat jantung itu berada.   “Jadi itu yang kau lakukan di belakangku, Tahvi?”   ***   Sebuah cairan berwarna hitam itu pun melewati bibir Mazen, ada sebagian yang menetes di ujung bibirnya. Setelah selesai meminum ramuan yang Hogaz buatkan untuknya, Mazen pun bersandar pada kepala ranjangnya. Dia menyentuh dadanya yang tak memiliki degup tapi selalu terasa sakit pada saat-saat tertentu.   Mazen ingin memejamkan matanya, akan tetapi sebuah sengatan luar biasa dia rasakan menusuk dadanya. Rasa sakitnya menyebar ke seluruh tubuh. Mazen mengerang dengan sangat keras hingga seluruh bagian rumah bisa mendengarnya. Teriakan itu mengundang Hogaz lari terbirit-b***t menuju ke kamar Mazen.   “Ada apa, Tuan Mazen?”   “Maara … gadis itu … arggghh!” Mazen mengerang lagi. “Hogaz, berikan aku sesuatu agar sakit ini hilang, dia dalam bahaya.”   Hogaz bergegas pergi mencari apa yang diinginkan oleh Mazen, dia kembali dengan membawa satu butir bola kecil di tangannya yang berwarna kemerahan. Sebuah pil yang bisa meredakan rasa sakit. Hogaz selalu memilikinya karena Mazen pasti membutuhkan hal semacam ini di waktu-waktu tertentu.   Tanpa berpikir panjang, Mazen pun menenggak pil tersebut. Butuh beberapa saat sampai pil itu bekerja. Akan tetapi, Mazen bukan seseorang yang akan dengan sabar menunggu. Rasa sakit itu tak menghentikannya untuk beranjak dan segera pergi menyelamatkan gadis yang menjadi wadah untuk jantungnya itu.   “Dia tidak pernah berpikir jernih jika berhubungan dengan gadis itu,” gumam Hogaz sembari melihat ke arah jendela besar tempat Mazen melompat. “Semoga ini bukan hal yang serius,” imbuhnya lirih. Hogaz telah berada di samping Mazen hampir seumur hidup sejak kelahiran Mazen. Dia pun tahu, jika kekuatan Mazen semakin hari akan semakin lemah sejak dia membiarkan jantungnya berada pada tubuh manusia. Jika keadaan begitu serius, terkadang Hogaz menjadi begitu waspada dan cemas. Dia takut Mazen mungkin tak akan bisa menghadapi situasi yang berbahaya.   Tak butuh waktu yang lama bagi Mazen untuk menemukan keberadaan Maara berada. Aroma tubuh Maara menuntunnya secara alamiah. Sampai di tempat Maara berada, amarah Mazen pun memuncak ketika melihat darah yang mengalir di jalanan dengan tubuh gadis itu tergolek tak berdaya dan Tahvi, berada di samping tubuh Maara. Namun, mengingat Tahvi adalah pengikutnya yang setia Mazen pun berusaha menekan emosinya.   “Jadi itu yang kau lakukan di belakangku, Tahvi?” Mazen berujar lirih, walau begitu mampu menyalurkan rasa dingin ke seluruh tubuh Tahvi sehingga dia bergidik ngeri.   Mazen berusaha keras agar suaranya tak terdengar mengancam, Tahvi yang menoleh ke arahnya menatapnya dengan horor. Mazen tahu apa yang dipikirkan oleh Tahvi, tapi dia tidak akan memberikan kepuasan pada pikiran Tahvi. Ada hukuman yang lebih baik daripada kematian itu sendiri.   “Tu-tuan Mazen ….” Tahvi gemetar di tempatnya melihat Mazen yang mendekat tubuhnya membeku di tempatnya.   “Menyingkir!” perintah Mazen dengan suara yang tegas. Sayangnya, tubuh Tahvi seolah terpaku pada aspal. Dia terlampau takut sampai tak bisa bergerak dari tempatnya. Mazen terus berjalan mendekat, dia berhenti tepat di hadapan Tahvi. Tangan Mazen terulur menyentuh d**a Tahvi dan sedetik kemudian tubuh Tahvi terpelanting ke belakang sampai menubruk sebuah pohon. “Aku sudah bilang untuk menyingkir! Kenapa kau tidak mendengarkanku?”   Tahvi tebatuk-batuk, dibantu oleh pengikutnya dia berusaha untuk bangkit. Sementara itu Mazen berlutut di sisi tubuh Maara. Tangannya menyentuh bagian d**a Maara yang telah koyak karena ulah Tahvi.   Mazen menggigit pergelangan tangannya sampai cairan kental berwarna hitam miliknya mengalir, dia mengulurkan tangannya kemudian meneteskan darahnya pada mulut Maara. Jika ada hal yang tidak dibenci oleh Mazen dari darahnya yang setengah manusia ini adalah kegunaan darahnya yang selalu bisa membantu Maara. Seperti hari ini, setelah darah itu menetes dan merembes dari mulut menuju ke dalam tubuh Maara, nadinya kembali berdenyut dan jantung gadis itu mulai berdetak. Tidak membuang banyak waktu lagi, Mazen mengangkat tubuh Maara dan beranjak pergi. Namun, Tahvi menghalanginya karena Mazen berjalan ke arah yang salah, menuju kembali ke rumah tempat Maara tinggal sebelumnya.   “Jangan menghalangiku!”   “Aku harus, Tuan.” Tahvi bersikukuh tak membiarkan Mazen melewatinya. “Dia … gadis ini,” Tahvi menatap Maara yang begitu damai dalam gendongan Mazen. “Dia tidak bisa tinggal di tempat si tua bangka itu.”   Alis Mazen bertaut, dia tak mengerti apa yang dikatakan oleh Tahvi sebenarnya. mengapa Maara tak bisa tinggal di tempat itu. Mazen memang tidak suka dengan tempat tinggal Maara saat ini, dia tahu benar bagaimana keluarga itu memperlakukan Maara. Hanya saja, Mazen tak bisa berbuat lebih.   “Jangan bicara omong kosong.”   “Aku sudah membelinya.”   Mazen menatap marah pada Tahvi, berani-beraninya dia membeli milik Mazen bahkan tanpa memberitahunya sama sekali. “Kau?!”   “Tua bangka itu dia menyerahkan Maara sebagai jaminan, aku sudah merencanakan ini agar dia bisa tinggal bersama anda, Tuan Mazen.” Tahvi mengungkapkan niatnya. “Anda bisa segera mendapatkan jantung anda kembali dan ….” Tahvi terpaksa menghentikan ucapannya ketika Mazen menatapnya tajam dengan nafsu membunuh yang tampak jelas sekali di matanya.   “Anda tetap tidak bisa mengembalikannya.”   “Dia tidak bisa tinggal bersamaku.”   “Tuan Mazen … akan lebih berbahaya jika dia berada di luar sana, anda tahu dia mencoba bunuh diri dengan melompat dari mobil dan bukan itu saja, aroma tubuhnya yang sangat harum akan mengundang iblis lain untuk menjadikan dia mangsanya.”   Kening Mazen berkerut cukup dalam, kepalanya tertunduk menatap wajah mungil Maara. Gadis ini tidak mengerti bahaya apa yang akan menimpanya, dan dia tetap ikut dengan Tahvi. Apa yang diucapkan oleh Tahvi pun membuka mata Mazen, mengingatkannya pada kedatangan Lokra sebelumnya. Jika dia membiarkan Maara berada jauh dari pengawasannya maka Lokra akan dengan mudah untuk memperdaya Maara, kapan pun.   “Kau benar, Tahvi…,” gumam Mazen.   Sebuah senyuman samar tergurat di wajah Tahvi karena rencananya berjalan cukup lancar.   “Tapi jika kau berani mendaratkan tanganmu padanya, walau itu hanya seujung rambut, maka aku sendiri yang akan mencabut nyawamu.”   “Baik, Tuan Mazen.”   ***   “Apa benar dia yang menjadi wadah untuk jantung Tuan Mazen?”   “Kenapa tubuhnya harum sekali? Bisakah kita keluar dari sini, aku tahan lagi”   “Tidak mungkin Tuan Mazen terlibat dengan manusia biasa kan?”   “Sialan, berisik sekali di sini, apa yang mereka bicarakan sebenarnya?!” Mata Maara terbuka, niat hatinya ingin sekali mengusir orang-orang yang mengganggu tidurnya. Alangkah terkejutnya dia, saat terbangun dia melihat ada empat orang yang sedang mengerumuninya seolah-olah dia adalah seorang korban pembunuhan.   Tunggu … samar-samar sebuah ingatan melintas di benak Maara. Bukan hanya satu ingatan, melainkan potongan banyak kenangan yang sama sekali tak pernah Maara ingat sebelumnya. Kening Maara berkerut, bagaimana bisa dia memiliki ingatan yang baru?   “Arrghh!” Maara tiba-tiba saja menjerit dengan sangat keras karena satu per satu ingatan aneh muncul di kepalanya. Semua orang yang ada di ruangan itu menjadi panik.   “Hogaz! Bagaimana ini, apa yang terjadi padanya?” tanya seorang wanita dengan pakaian yang terbuka, wanita itu tampak mencolok karena rambut merahnya.   “Apa dia akan mati? Manusia memang selemah itu!” seru seorang wanita lainnya dengan rambut pirang dan pakaian yang terlihat hanya berupa kain tersampir di bahunya begitu saja.   “Cepat Hogaz, atau Tuan Mazen akan memarahi kita nanti!” timpal seorang pemuda dengan kulit gelap tapi bermata biru.   “Kalian diamlah! Aku sedang memeriksanya!” hardik Hogaz, dia telah duduk di samping Maara. Meraih tangan Maara dan berusaha memeriksa gadis itu dengan seksama. Sangat sulit rasanya, karena Hogaz tak terbiasa memeriksa keadaan manusia. Denyut mereka lebih lambat daripada denyut kaumnya.   “Nona … apa yang kau rasakan?” tanya Hogaz ketika menyadari Maara telah menjadi lebih tenang. Namun, tatapan mata Maara terarah pada tiga makhluk menawan yang juga sedang menatapnya dengan cemas.   “Aku … aku di mana, bukankah aku jatuh dari mobil?”   Semua orang kecuali Hogaz saling berpandangan satu dengan lainnya, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Maara. Mereka hanya tahu jika rumah tuannya sedang kehadiran seorang tamu yang luar biasa istimewa. Di sisi lainnya, kening Hogaz berkerut, menambahkan kerutan pada dahinya sambil menatap lekat-lekat gadis yang ada di depannya. Seharusnya, Maara tidak mengingat apapun, Mazen pasti sudah menghapus ingatannya agar tidak lagi bisa mengingat apa yang sebenarnya terjadi.   “Dan … siapa kalian?”   Hogaz tersentak, tapi tidak dengan ketiga makhluk menawan yang berdiri dengan pose s*****l di depan Maara. Mereka tersenyum sangat lebar sekali seolah-olah pertanyaan Maara adalah hal yang paling menggembirakan.   “Perkenalkan …,” ujar gadis berambut merah sembari mengulurkan tangannya. “Namaku Oiryz, pelayan setia Tuan Mazen.”   “Tuan Mazen, siapa dia sebenarnya!” batin Maara. Dia menyambut uluran tangan Oiryz, dan terpaksa menyunggingkan senyumannya pada gadis berambut merah yang kelihatannya sangat senang sekali menjabat tangannya. Cukup lama Oiryz tak melepaskan jabatan tangannya pada Maara.   “Namaku Crenoa ….” Si pirang yang hampir telanjang itu pun duduk di samping Maara, tangannya langsung menggamit lengan Maara dan menempel padanya. Maara menelan ludahnya karena Crenoa yang terlalu dekat dengannya, dia bahkan merasakan payudaraa Crenoa menempel di lengannya.   Aneh! Ini aneh sekali! Tempat apa ini?! Apakah ini rumah b****l?! teriak Maara dalam hatinya.   “Kau bisa memanggilku Gideon.” Pemuda berkulit gelap itu meraih tangan Maara yang bebas, kemudian mengecup punggung telapak tangan Maara.   Tubuh Maara seketika membeku ketika tiga orang itu benar-benar begitu dekat dengannya. Mereka seperti ingin melahap Maara, tatapan mata mereka berkabut penuh nafsu yang tak bisa Maara mengerti.   “Siapa yang mengijinkan kalian di sini?!”     Hembusan nafas lega keluar dari bibir Maara, tiga orang aneh itu seraya tersentak dan berdiri menjauh dari Maara. Dia pun mengenal suara ini, seketika itu pula Maara menoleh dan mendapati Tahvi sedang menatap tajam ke arah tiga makhluk yang ada di hadapannya.   “Kembali ke tempat kalian jika tidak ingin Tuan Mazen murka.”   Lagi! Mengapa dia begitu penting?! Mazen! Siapa kau!!!   Ketiga-tiganya pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun, tak ada yang lebih mereka takuti kecuali kemarahan Mazen. Setelah mereka pergi, Tahvi berjalan mendekati ranjang. Sangat keras, dia berusaha menahan hasratnya yang timbul karena mendekati Maara.   “Kau tampak sehat.”   “Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah jatuh dari mobil?”   Kening Tahvi berkerut dalam, hal yang tadinya dipikirkan oleh Hogaz kini menjadi sebuah pertanyaan besar di benak Tahvi. Bagaimana bisa Maara mengingat kenangan yang telah dihapus oleh Mazen. Pasti ada sesuatu yang aneh, jika bukan Mazen sengaja tidak menghapus ingatan Maara berarti gadis ini sangat spesial.   “Kau pasti sedang bermimpi buruk, iya ’kan Hogaz?” Untung saja Tahvi pandai mencari alasan, dia memandangi Hogaz penuh isyarat. Pria paruh baya itu pun mengerti maksud Tahvi.   “Benar sekali, sejak datang kemari anda tertidur sangat nyenyak, bagaimana mungkin anda jatuh dari mobil?” Hogaz menambahkan dengan membuat nada suaranya semeyakinkan mungkin.   Maara menatap keduanya dengan heran, dia jelas-jelas yakin jika dia melompat keluar dari mobil karena ingin bunuh diri. Namun, dia sama sekali tidak terluka, apa memang sebuah mimpi bisa terasa begitu nyata?   “Hogaz bagaimana keadaannya?” tanya Tahvi berpura-pura mengabaikan kebingungan Maara.   “Nona Maara dalam kondisi yang baik, Tuan Tahvi.”   “Bagus sekali, sekarang beristirahatlah, nanti malam aku akan mengenalkanmu dengan seseorang.”   Mata kecokelatan Maara membulat, tidak mungkin secepat ini dia akan dijual. Dia kembali teringat pada tiga sosok yang tadi menempel padanya, apakah dia akan jadi seperti mereka nantinya?   TIDAK! AKU HANYA INGIN MATI! TIDAKK!   “Aku bukan ingin menjualmu. Jadi tenang saja,” ujar Tahvi, seketika Maara menatapnya dengan heran karena mengira jika Tahvi bisa membaca pikirannya.   “Bukannya kau seorang g***o?” Maara bertanya dengan mata bulat polosnya menatap Tahvi tanpa rasa berdosa.   “Hahahaha!” Hogaz tetawa dengan sangat kencang sekali sampai tubuhnya bergetar dengan hebat. Tahvi menahan rasa malunya dengan memaksakan bibirnya untung tersungging, namun sia-sia saja. Wajahnya sudah merah karena dipermalukan oleh gadis belia ini.   “Tuan Tahvi, sejak kapan kau memiliki pekerjaan baru?” Hogaz tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengejek Tahvi.   “Apa aku salah?” tanya Maara lagi.   “YA!” Tahvi berteriak dengan sangat keras. “KAU SALAH! ahhh sudahlah, itu tidak penting,” ucapnya dengan kesal, Tahvi beranjak pergi tapi berhenti ketika dia berada di ambang pintu.   “Kau harus beristirahat.” Tahvi berujar lagi, mengingat apa yang terjadi pada Maara bukan hal yang sepele.   “Siapa orang itu, katakan padaku?!” Maara bersikeras.   Tahvi menghela nafasnya, dia tak terbiasa dengan manusia yang keras kepala seperti Maara. Apalagi dia tidak bisa menyentuh Maara karena ancaman dari Mazen, semakin dia keras kepala membuat Tahvi semakin frustrasi.   “Tuan Mazen.”   ASTAGA!!!! SEBENARNYA SIAPA TUAN MAZEN INI!!!!   *** NEXT TO CHAPTER 3 ***      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD