Sepanjang perjalanan pulang, Luna memperhatikan lampu-lampu jalan. Tak sedetikpun, ia mengalihkan matanya pada pria disampingnya. Siapa lagi kalau bukan Arya. Ya mau sekeras apapun Luna menolak, Arya tetaplah pemenangnya. Mau tidak mau, Luna harus pasrah menerima tawaran Arya untuk mengantarnya pulang.
Luna dan Arya tidak bicara sedikitpun. Keduanya diam membisu. Sesekali Luna menyeka airmatanya, menutup mulutnya dengan jemarinya, menahan isak tangisnya yang membludak.
Apa yang salah denganku? Kenapa dadaku terus merasa sakit setiap kali Arya menciumku diiringi ucapan Arya dulu. Apa benar seperti dugaanku? Dadaku akan terasa sakit saat aku dan Arya berciuman dan disaat kata-kata itu kembali berputar dalam ingatanku.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang"
"Saya minta maaf"
Luna mengurungkan niatnya turun dari mobil. Dia memandang Arya beberapa saat.
"Kenapa?" tanya Arya.
"Ada yang harus aku pastikan" jawab Luna deg degan.
Arya tidak mengerti ucapan Luna.
Memangnya apa yang harus dia pastikan?
"Tolong jangan melakukan apapun cukup diam saja" Luna mendekatkan wajahnya pada Arya lalu mencium lembut bibir sensual pria disampingnya.
Naluri kelakian Arya bergejolak. Ia ingin mengecup balik bibir menggoda Luna namun ia harus menuruti permintaan Luna untuk diam tanpa melakukan apapun. Luna memejamkan mata dan bibirnya mulai bermain diatas bibir Arya.
Bahkan kamu tidak pantas menyukaiku.
Benar dugaanku. Begitu bibir kami bersentuhan seketika itu juga perkataan Arya yang dulu yang sangat membekas dihatiku kembali menguap.
Luna menyudahi ciumannya dibibir Arya. Ia pun refleks mengelus dadanya, sakit sekali. Luna langsung membuka pintu mobil agar Arya tidak melihat dirinya yang sedang menahan sakit. Arya mulai menyadari situasi yang terjadi. Samar ia coba menebak alasan d**a Luna yang sakit setiap mereka berciuman.
"Luna" panggil Arya seraya menghampiri Luna. "Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu selalu menyentuh d**a kamu setiap kali kita berciuman? Aku tahu kamu selalu menahan sakit. Katakan padaku alasannya."
Waktu berlalu dalam keheningan. Luna sendiri belum begitu yakin apa yang terjadi padanya. Luna merasa sangat aneh. Belum pernah ia mendengar apa yang dialaminya terjadi pada orang lain.
"Pak Arya jangan merasa kasihan atau bersalah padaku. Jangan membuatku bingung. Sikap pak Arya begini bisa membuatku salah paham. Di rooftop, dikamar pak Arya, lalu dimobil, anggap saja semuanya tidak pernah terjadi. Saya juga akan melupakan semuanya. Saya minta maaf kalau selama ini saya membuat pak Arya marah. Sekarang pak Arya pulanglah. Saya masuk duluan pak"
Arya menentang tangannya dipinggang. Ia tidak terima permintaan maaf Luna.
"Kamu anggap hati saya batu apa?"
Luna menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan.
"Bagaimana bisa kamu meminta saya melupakan semuanya begitu saja? Kamu membuat saya sangat payah. Kamu tahu sikap kamu yang begini yang membuat saya kesal"
#
"Selamat pagi pak Arya. Luna menitipkan ini untuk bapak. Dia mau bapak mengeceknya" ungkap Sarah menyampaikan pesan Luna seraya menyodorkan amplop coklat kepada Arya.
Arya membuka isi amplop dan mendapati beberapa lembar kertas putih yang diatasnya sudah Luna ukir desain untuk produk baru Adijhaya Group.
"Kenapa kamu yang memberikan ini?Kemana Luna?"
"Luna ambil cuti pak. Katanya dadanya sakit"
Sebenarnya apa yang terjadi dengannya? Kemarin malam wajahnya sangat pucat bahkan sempat tak sadarkan diri.
Arya mendatangi sekertarisnya meminta untuk membatalkan semua jadwalnya hari ini. Setelah itu Arya bergegas meninggalkan kantor. Dilain tempat disebuah rumah sakit Luna tampak duduk lemah. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
Dokter bilang aku mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stress pascatrauma yang merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada kejadian yang tidak menyenangkan. Aku menceritakan sedetail mungkin semuanya pada dokter apa yang aku alami. Mungkin karna itu selama tiga tahun ini, aku lebih suka menyendiri dan mengalami rasa takut yang berlebihan ketika berada dalam keramaian. Dokter menyarankan agar aku pergi konsultasi ke psikiater guna mengatasi traumaku dan yang aku tahu biaya ke psikiater tidaklah murah.
Arya menyambangi kediaman Luna namun ia tidak menemukan gadis yang dicarinya. Ia mencoba menghubungi Luna namun tidak aktif. Arya khawatir dengan kondisi Luna. Ia merasa sangat bersalah atas apa yang dilakukannya malam kemarin.
#
Senja menunjukkan sinar indahnya. Menyinari bumi dengan cahaya tamaramnya. Dibawah senja itu, Luna menyusuri jalan setapak menuju rumahnya.
"Itukan mobil pak Arya" samar Luna melihat sosok Arya dari kejauhan.
.
.
.
"Kemana saja kamu? Kenapa lama sekali? Saya sudah dua jam menunggu kamu disini. Kamu tahukan saya sangat sibuk. Kenapa handphone kamu tidak aktif buat saya khawatir saja" Arya menuntut Luna beberapa pertanyaaan secara beruntun.
Luna diam. Bibirnya tak terbuka sedikitpun. Hanya senyum tipis menghiasi wajahnya yang tampak kelelahan. Luna lalu mendekat mengalungkan dua tangannya dipinggang berotot Arya. Matanya menutup menempelkan wajahnya didada bidang pria yang selama ini mengisi hatinya.
"Aku capek sekali. Hari ini saja jangan marah padaku" pinta Luna lembut.
Arya pun membalas pelukan Luna dengan mengeratkan pelukannya membawak tubuh langsing Luna dalam dekapannya. Ia membiarkan Luna memeluk tubuhnya. Selama ini Arya sangat anti jika tubuhnya disentuh sembarang orang terutama wanita. Hanya wanita yang ia pilih yang bisa menyentuhnya.
Walaupun trauma itu datang saat aku sedang bersamanya tapi hanya dalam pelukannya aku merasa aman. Aku merasa tidak ada yang harus aku pikirkan saat bersamanya. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Ya walaupun rasa takut itu tetap ada.
Luna membiarkan saja saat Arya mau menciumnya. Luna ingin tahu sebatas apa kemampuannya menahan rasa sakit. Arya mulai melancarkan aksinya memainkan bibir berisinya dibibir mungil merah muda Luna.
Bahkan kamu tidak pantas menyukaiku.
Kata menyakitkan Arya yang menimbulkan trauma dihatinya kembali berputar-putar dikepala Luna tanpa henti. Namun kali ini Luna tidak langsung menghindar. Ia tetap membiarkan Arya mencumbunya meskipun sakit didadanya semakin menjadi.
Arya semakin terbuai akan sentuhan bibir Luna. Arya tidak tahu, ia seperti kecanduan dengan bibir gadis dalam dekapannya saat ini. Sesekali ia mengigit bibir bawah Luna yang sedikit berisi kemudian melahap habis kedua bibir itu kedalam mulutnya. Luna pun selalu mengankat pundaknya setiap kali Arya memberi gigitan kecil dibibirnya. Tiba-tiba saja Luna mendorong pelan tubuh Arya menandakan agar Arya berhenti. Seperti biasa Luna merasa sakit dibagian dadanya. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.
Arya mengenggam kuat tangan Luna. Ia tidak mau Luna kesakitan sendiri. Ditariknya pinggang Luna kemudian membenamkan tubuh Luna dalam pelukannya. Jari-jari Luna refleks mencakar pundak Arya. Terlihat ada bekas cakaran kuku Luna dipundak disana.
"Kamu tidak sendiri" ucap Arya menguatkan Luna untuk melewatkan rasa sakitnya.