5. Sekolah Aneh yang Mengagumkan

3056 Words
Suara hentaman keras membangunkan tidur panjang Aqueena. Terkejut dengan suara hentaman itu membuat Aqueena refleks berlari menuju beranda rumah pohon. Panasnya cahaya matahari pagi merasuki kulit Aqueena. Gadis itu tersadar bahwa dirinya telah tidur selama 13 jam. Mata Aqueena setengah terbuka saat dia menuju beranda. Gadis itu mengucek matanya hingga penglihatannya jernih. Kesadarannya masih belum total, karena keterkejutan membuatnya linglung. “Hoam!!” Aqueena menguap lebar tanpa pandang kiri kanan. Dia melupakan satu hal, bahwa sekarang dirinya tidak sendirian, ada seseorang yang memperhatikannya. Mata Aqueena tiba-tiba terbuka lebar disertai kedua tangan dan sebelah kaki yang terangkat kala menyaksikan pemandangan yang tak biasa di depannya. Fischer terhenyak di lantai seraya mengelus bokongnya yang mendarat total, sehingga menimbulkan rasa sakit yang teramat. Lelaki itu memperhatikan Aqueena yang tengah berdiri, lalu detik berikutnya dia mendesah. “EKSPRESIMU BERLEBIHAN!!!” Belum sempat Aqueena mengucapkan kata sapaan, Fischer terlebih dahulu berteriak hingga suaranya mampu membuat Aqueena tersadar total. Wajah lelaki itu memerah kala menyaksikan Aqueena berdiri dengan pose tak biasa. Detik berikutnya, suara tawa Aqueena mengguncang rumah kayu. Gadis itu tertawa memegangi perutnya sembari menunjuk Fischer yang sekarang sedang dilanda rasa malu. Bukannya apa, sebagai seorang ahli sihir yang punya pedang Red Combat disertai orang pertama yang mampu melakukan teleportasi antar dimensi, Fischer merasa terhina terjatuh disebabkan oleh teleportasi yang tak sempurna. “BERHENTI TERTAWA!!!” Fischer kembali membentak, namun tak membuat Aqueena takut terhadapnya. “Aku sedikit kesulitan. Bantu aku berdiri!” Aqueena menghentikan tawanya karena merasa tidak baik tertawa diatas penderitan orang lain. Namun di sisi lain gadis itu merasa kesal karena lagi-lagi Fischer bersikap kasar padanya. “Sudah tahu mau minta bantuan, kenapa malah teriak-terika! Cih!!” “Jangan banyak bicara! Bantu aku!!” Aqueena perlahan mendekati Fischer yang masih terhenyak di lantai. Hampir saja tawa Aqueena kembali keluar, tetapi gadis itu menahannya agar Fischer tidak lagi membentak karena rasa malu. Akhirnya, Aqueena hanya tersenyum seraya tawanya yang tertahan. “Kenapa kau tersenyum? Ini tidak lucu!!” Akan tetapi, Aqueena masih saja tidak bisa menahan untuk tidak tersenyum. Lalu detik berikutnya, dia tak sanggup lagi menahan tawanya hingga, Bom!! Tawa lepas gadis itu kembali meledak. Wajah Fischer benar-benar memerah total karena merasa malu mendapatkan tawa ejekan dari Aqueena. Memangnya apa yang lucu dari seseorang yang terjatuh. “Ini tidak lucu, tidak usah mentertawaiku!” “Oke! Oke! Habisnya ekspresi kamu lucu kalau lagi nahan sakit. Apalagi di pantat.” Aqueena kembali tertawa. “Pasti udah merah. Mau diperiksa? Kalau nggak nanti kamu nggak bisa cebok!” “TIDAK LUCU!!” bentak Fischer lagi, ekspresinya begitu bengis persis seperti kemaren ketika dia membentak Aqueena. Hal itu membuat Aqueena menghentikan tawanya dengan kepala tertunduk. “Sekarang bantu aku!” “Dasar makhluk labil! Mau minta bantuan malah marah,” gumam Aqueena. Fischer mengabaikan Aqueena. Lelaki itu mengulurkan tangannya agar Aqueena membantunya berdiri, karena Fischer sedikit merasakan sakit di bagian pinggangnya sehingga dia kesulitan untuk bangkit sendiri. Aqueena membantu Fischer berdiri dan mendudukkan Fischer di kursi kayu. Ringisan kecil keluar dari mulut Fischer disertai suara tulang yang retak, Aqueena dapat melihat urat Fischer sedikit bergeser, tetapi hal itu tidak fatal karena Fischer masih sanggup berdiri. “Kamu tidak apa-apa?” tanya Aqueena. Fischer tak menggubris Aqueena. Lelaki itu sibuk mengelus pinggangnya seraya menahan sakit yang terlihat dari wajahnya. Aqueena terdiam. Keheningan melanda mereka, hingga suara berat Fischer memecahkan keheningan. “Apa kau lapar?” “Tidak. Aku belum lapar,” jawab Aqueena. Namun tiba-tiba saja terdengar suara aneh yang sangat dikenali dengan pasti oleh Fischer bahwa suara itu berasal dari perut seseorang yang sedang lapar. Aqueena merasa malu karena kebohongan yang baru saja diakukannya malah ketahuan dalam waktu kurang dari satu detik. Langsung saja mata Fischer menatap Aqueena seakan berkata, apa-itu-yang-kau-sebut-tidak-lapar. Aqueena nyengir, dia memegangi perutnya yang selalu saja tidak bisa diajak kerjasama. “Tadinya aku belum lapar, tapi sekarang kayaknya aku lapar.” “Baiklah! Kalau begitu sekarang kau ikut aku.” Fischer berdiri, lalu lelaki itu menarik pergelangan Aqueena dan membawanya melompat ke bawah. Aqueena terkejut hingga menutup matanya. Dia merasa akan mati jika Fischer membawanya tanpa aba-aba. Gerakan Fischer yang begitu cepat hampir saja membuat roh Aqueena tertinggal di rumah pohon. Untung saja Aqueena masih hidup dan baik-baik saja karena dia tak berniat mati karena melompat dari rumah pohon. “Kenapa kau menutup mata? Kau tidak usah takut, kau baik-baik saja,” kata Fischer menenangkan Aqueena. “Apa kamu baik-baik aja?” Bukannya tenang, Aqueena malah semakin panik. Gadis itu memeriksa tubuh Fischer dengan mengelilingi lelaki itu. Fischer mendengus, baru kali ini dia bertemu dengan gadis aneh yang sangat ribet dan menyusahkan, serta... cantik tentunya. “Aku baik-baik saja! Tidak usah berlebihan!” “Gimana sama pinggang kamu? Apa masih sakit? Apa kamu bisa jalan?” “Apa aku terlihat seperti orang kesakitan?” Aqueena menggeleng. “Ya sudah! Ayo pergi!” Mereka menelusuri hutan selama kurang lebih 20 menit. Meskipun tidak terlalu lama, tetapi hal itu tidak bisa membuat Aqueena untuk tidak bertanya, karena dia merasa mereka berjalan tak tentu arah—kadang ke kiri, kanan, lalu lurus, kanan, dan kiri lagi. “Sebenarnya kita mau kemana, sih?” “Mencari makan. Kita akan ke desa,” jawab Fischer yang masih terus berjalan. “Kok daritadi aku nggak lihat desa? Apa kita tersesat?” “Kita tidak tersesat. Kita harus ke sungai terlebih dahulu.” “Kenapa? Bukannya kita mau cari makan? Lalu untuk apa ke sungai hanya buang-buang waktu!” “Kau belum cuci muka!” Demi celana dalam Spongebob, Aqueena sangat sangat sangat malu. Kenapa dia bisa lupa dengan ritual wajib setiap pagi? Sungguh memalukan apalagi dilihat oleh lelaki tampan. Aquuena langsung menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sebelumnya tidak pernah ada yang melihat wajah bangun tidurnya, dia yakin pasti sangat jelek; dipenuhi minyak, belek di kedua sudut matanya, serta yang paling mengerikan iler yang masih membekas di sudut bibirnya hingga melebar ke pipinya membentuk sebuah pulau. Sangat memalukan bagi seorang gadis bergengsi tinggi seperti Aqueena. Terdengar kekehan dari seberang sana. Fischer menikmati tingkah Aqueena yang menutupi wajahnya, alias salah tingkah. Tentu saja Aqueena akan menutup wajahnya, gadis manapun pasti akan melakukan hal yang sama saat berhadapan dengan laki-laki tampan seperti Fischer. Fischer berjalan mendahului Aqueena. Lelaki itu sadar diri jika Aqueena sangat malu dengan wajah bangun tidurnya. Fischer membiarkan Aqueena berjalan di belakang karena dia yakin tidak akan ada bahaya selama dirinya mampu mendengar suara langkah kaki gadis itu. “Kita sudah sampai,” ucap Fischer menghentikan langkahnya. Aqueena mengerjapkan matanya, gadis itu melongo melihat pemandangan indah tepat berada di depannya. Sebelumnya, Aqueena tidak pernah melihat pemandangan asri yang menyejukkan mata. Kealamiannya membuat Aqueena terpukau. Air sungai yang mengalir dengan jernihnya, batu-batu besar yang setia berada di tengah dan tepi sungai—seakan mengucapkan selamat datang pada siapa saja yang datang, pepohonan di sekelilingnya yang menambah kesan alamiah, serta rerumputan yang berada di sekeliling sungai. Hal yang paling menyegarkan mata adalah air terjun yang jatuh dari ketinggian—yang memancarkan pelangi menjadi spektrum warna. Aqueena tidak yakin jika dirinya masih tersadar, karena sungai itu persis seperti yang ada di dunia dongeng. Aqueena berteriak kegirangan saat kakinya menyentuh air. Kesan pertama yang dirasakannya adalah dingin, lalu gadis itu mulai mencuci wajahnya dan merasakan sejuk di seluruh bagian wajahnya. Aqueena sedikit bermain-main karena dia merasa akan rugi jika tidak menikmati nikmat keindahan alam yang langka, bisa saja setelah ini dia tidak lagi melihat pemandangan sebagus seperti sekarang ini. Dari kejauhan, Fischer mencebik yang diiringi senyum tipis melihat tingkah Aqueena yang menurutnya sangat kekanak-kanakan. Meskipun senyum lelaki itu sangat tipis, tetapi Aqueena masih mampu melihatnya. Gadis itu melambaikan tangan ke arah Fischer agar lelaki itu mendekat ke arahnya. Dan tentu saja Fischer akan menurut. Fischer menghampiri Aqueena dan mengikuti gadis itu memasuki sungai. Aqueena melirik Fischer dengan cengiran khasnya, terbersit ide gila di benaknya untuk membuat Fischer kesal, karena dia suka melihat ekspresi kesal Fischer. Aqueena memercikkan sedikit air pada Fischer yang membuat pakaian yang dikenakan Fischer sedikit basah. Langsung saja mata elang Fischer menatap Aqueena. Nyali Aqueena menciut, lagi-lagi tatapan Fischer seperti membunuh. Lalu detik berikutnya, tanpa disangka-sangka, Fischer malah membalas memercikkan air pada Aqueena hingga pakaiannya basah. “Ini nggak adil,” ujar Aqueena cemberut. “Baju kamu nggak basah-basah amat, tapi baju aku basah hampir total.” “Salah sendiri mau bermain-main denganku,” Fischer tersenyum miring. Namun sangat jelas bahwa lelaki itu menikmatinya. “Ih! Akhirnya senyum juga, manis tau! Kamu bisa ngundang semut kalau tersenyum begitu.” “Semut memang selalu datang padaku tanpa diundang.” “Kepedean!” balas Aqueena dengan suara jengkel yang dibuat-buat. “Nih! Rasain!” Aqueena memercikkan lagi air pada Fischer, dan Fischer juga membalasnya hingga membuat pakaian keduanya basah total. Mereka berdua tertawa lepas bermain air tanpa sadar matahari hampir tepat berada di atas kepala. Sebelumnya, Aqueena tidak pernah merasa selepas ini, entah kenapa, Aqueena tidak tahu. Perasaannya selama dua hari ini tak pernah merasa hampa. Entahlah, hal ini aneh menurutnya. Namun Aqueena tak perlu memikirkan perasaan hampa dan kosong, karena sedikit banyaknya dia menikmati perasaan yang dirasakannya saat ini.   ψψψ   Mereka duduk di salah satu warung seraya menyantap makanan masing-masing. Setelah puas bermain di sungai, keduanya pun lantas pergi ke desa untuk membeli pakaian karena pakaian yang mereka kenakan basah total. Lalu, keduanya sepakat untuk mencari makanan. Keramaian pasar membuat Aqueena terkagum. Pasalnya, dia belum pernah melihat pasar seperti itu. Karena selalu berbelanja di supermarket membuat Aqueena tidak pernah merasakan suasana ramainya pasar tradisional. Aqueena berlari kesana-kemari melihat dagangan yang menarik perhatiannya. Kadang menghampiri pedagang barang antik, pedagang kalung dan aneka perhiasan lainnya, pedagang makanan tradisional yang tidak pernah dilihat Aqueena, hingga toko es krim yang selalu menarik perhatiannya. Fischer kelelahan mengikuti Aqueena, tetapi dia tetap melakukannya karena takut jika Aqueena tersesat, dan hal itu membuat dirinya repot. “Enak, ya!” gumam Aqueena di sela makannya. “Kau tidak pernah makan makanan ini?” “Belum pernah. Aku baru kali ini lihat makanan seperti ini,” jawab Aqueena. “Berarti kau harus sering-sering pergi denganku.” “Kalau kamu yang traktir aku oke-oke aja, hehehe,” Aqueena terkekeh. “Ehmm! Es krimnya ternyata juga enak!” “Tidak masalah!” gumam Fischer yang hampir tak terdengar. Lalu mereka melanjutkan menyantap makanan hingga habis. Bisingnya suara pasar membuat Aqueena susah berbicara dengan Fischer sehingga dia harus lebih mengeraskan suaranya. Setelah selesai dengan makanannya, Aqueena menghampiri kerumunan orang yang membentuk lingkaran dan menyela diantara kerumunan. Pertunjukan kodok sedang diselenggarakan. Aqueena tersenyum antusias melihatnya. Tapi anehnya, biasanya yang dijadikan objek pertunjukan adalah monyet ataupun kucing, tapi di sini malah kodok. Benar-benar tempat aneh menurut Aqueena. Kodok itu mulai bereaksi dengan menggunakan gerobak dorong sambil berjalan, lalu dilanjutkan dengan memegang payung, seterusnya menaiki sepeda. Adegan demi adegan dimainkan oleh kodok kecil itu, membuat Aqueena semakin merasa lepas dan bebas, serta perasaan bahagia yang dia rasakan. Tiba-tiba saja Fischer menarik pergelangan tangannya menjauhi kerumunan. Aqueena sedikit terkejut, “kenapa?” “Kita harus pergi,” jawab Fischer. “Kemana?” “Pokoknya kita harus pergi.” Fischer menarik pergelangan Aqueena hingga gadis itu mau tidak mau harus mengikuti Fischer. Dan ternyata, Fischer membawanya kembali ke dalam hutan dan menelusuri hutan yang lebat. Aqueena berpikir jika Fischer akan membawanya kembali ke rumah pohon, nyatanya tidak. Fischer malah membawanya semakin memasuki hutan dengan arah tak tentu. “Kita mau kemana?” tanya Aqueena seraya menghentikan langkahnya. “Kau diam saja. Jika kau ingin tahu kemana kita akan pergi, ikuti saja aku, jangan pernah menghilang.” Aqueena sedikit parno dengan Fischer. Pasalnya, dia sama sekali tidak tahu arah dan Fischer tidak ingin memberitahunya. Akan tetapi, Aqueena tetap saja tidak punya pilihan selain mengikuti Fischer. Gadis itu yakin jika dirinya bersama Fischer, bahaya tidak akan mendekat. Dan dia juga tahu bahwa Fischer adalah orang baik. Setelah lama menelusuri hutan, mereka sampai di sebuh pagar kuno berwarna gelap nan tinggi. Di depan gerbang itu berdiri dua orang pria dewasa yang mengenakan pakaian serba sama. Siapapun pasti akan tertawa melihat penampilan mereka. Mulai dari kepala hingga ujung kaki, semua yang mereka kenakan sama persis, bisa jadi jika dalaman mereka juga sama. Yang membedakan hanya wajah mereka saja. “Ini dimana?” tanya Aqueena bingung. Dia menatap lurus ke arah gerbang itu. “Ini sekolahku,” jawab Fischer. Aqueena menautkan alisnya mendengar kata ‘sekolah’, dia melongo memperhatikan bangunan yang berada di balik gerbang itu. Aneh menurut Aqueena jika di dalam hutan ada sebuah sekolah. Siapa yang mau bersekolah di dalam hutan seperti itu? Yang pastinya bukan orang waras. Tapi... apa mungkin bangunan ini semacam Hogwart? Bisa jadi ‘kan karena dari kemaren ada dua orang lelaki yang mengaku dirinya Harry Potter. “Memangnya kamu sekolah,” gumam Aqueena terdengar mengejek. Fischer hanya meliriknya dari sudut mata. Fischer menghampiri penjaga sekolah itu dan memperlihatkan sebuah benda bulat berwarna hitam berukirkan segitiga putih yang di tengahnya terdapat simbol aneh berwarna merah. Aqueena tidak pernah tidak pernah melihat benda seperti itu sebelumnya, tetapi sepertinya benda itu berhasil membuat kedua penjaga membungkuk di hadapan Fischer dan membukakan gerbang. “Tunggu!” sergah salah satu penjaga, “dia siapa? Sepertinya dia bukan siswa di sini.” “Dia tamuku. Aku sudah memberitahu kepala sekolah,” jawab Fischer dengan ekspresi dinginnya. Kedua penjaga itu menganggukkan kepala serempak. Fischer memberi isyarat lewat tatapan mata agar Aqueena mengikutinya. Mereka siap melangkahkan kaki memasuki sekolah itu. “WHOA!” Aqueena tanpa sadar menggumamkan sesuatu setelah matanya menangkap pemandangan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Sangat sulit dipercaya jika di dalam hutan terdapat sekolah yang sangat amat indah dan juga luas. Sekolah itu terdiri dari beberapa bangunan tinggi. Bangunan utamanya sangat mencolok—menyerupai istana—yang memiliki puncak runcing di sisi kiri dan kanannya. Menurut Aqueena bangunan itu seperti istana Beauty and The Beast. Aqueena mengedarkan pandangan ke depan. Matanya menangkap sesuatu yang terbang dari kejauhan mendekatinya. Aqueena mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan jika penglihatannya tidak salah. Benar saja, dia sama sekali tidak salah lihat. Sesuatu yang terbang itu adalah dua orang lelaki yang terbang menggunakan papan luncur bersayap yang berlainan. Lalu Aqueena semakin memperhatikan sekelilingnya, dan betapa terkejutnya gadis itu menyaksikan semua orang yang berada di sana terbang dengan menggunakan papan yang bentuknya mirip dengan Skateboard bersayap di kedua sisinya. Satu kata yang menggambarkan sekolah itu menurut Aqueena, canggih. Apa mungkin ini sekolah masa depan? Apa mungkin Aqueena terlempar ke masa depan? Aqueena mengikuti Fischer berjalan di tengah lapangan sekolah menuju gedung seberang. Diperhatikan setiap orang yang terbang dengan papan canggih itu, tak luput pula anak-anak kecil yang memainkan boneka di taman sekolah. Lalu matanya tertuju pada beberapa anak yang sedang menulis di bangku taman. Tak hanya itu, Aqueena juga menyaksikan beberapa anak laki-laki yang memegang sebuah tongkat dan berlarian mengejar temannya. Satu kesimpulan yang didapat Aqueena pada sekolah ini, yaitu bukan hanya sekolah menengah saja, melainkan sekolah bagi anak TK hingga perguruan tinggi. Whuuusss! Fischer menunduk sembari menekan kepala Aqueena agar ikut menunduk. Sesaat, terdengar suara kekehan laki-laki. Refleks Aqueena mengangkat kepalanya memperhatikan laki-laki itu yang sedang berdiri di atas papan terbang memperhatikan Aqueena dan Fischer. “Whoa! Kau cantik sekali,” ujar laki-laki jangkung yang memakai seragam serta jubah yang membalut setengah dari badannya. Jika diperhatikan dengan seksama, jubah yang dikenakannya lebih mirip jubah mayoret yang memimpin marching band. “Fischer, kau mendapatkannya dari mana?” tanya laki-laki mungil yang bermanik hitam legam. Lelaki itu menatap Aqueena kagum, seakan baru saja melihat seorang selebrity. “Bisakah kau kenalkan dia pada kamu?—adaw!” Tiba-tiba saja seorang perempuan datang dari arah belakang kedua lelaki itu. Tangannya menjawer lelaki mungil hingga menciptakan sedikit keributan. “Ngapain masih lirik cewek lain, hah? Belum cukup ada aku?” “Ma-maaf, sayang. Aku Cuma ingin kenalan, tidak lebih.” “Bohong! Dasar ganjen.” “Apa itu?” “Nggak tau!” bentak perempuan itu sembari membuang muka. Sementara lelaki yang satunya menahan tawa melihat pertengkaran sepasang kekasih itu. “Kak, kamu nggak usah lebay, deh. Aku sama bang Will Cuma kenalan doang, nggak lebih.” “Kamu juga! Mau jadi adik durhaka?! Atau mau jajan dipotong?!” “Ampun! Aku nggak lagi ikutan,” kata lelaki jangkung itu bergidik ngeri menyaksikan kakaknya yang marah, seakan adanya laser yang keluar dari mata kakaknya. “Jangan berani-beraninya ngelirik cewek lain selain aku.” “Yaelah! Cemburu amat,” ucap lelaki jangkung itu, lagi, yang membuat kakaknya kembali melontarkan pelototan tajam. “Mulai besok jajan kamu dipotong!!” Untuk sesaat, Aqueena tertegun mendengar bahasa yang digunakan gadis itu beserta adiknya, si lelaki jangkung. Aqueena tersadar, bisa saja mereka datang dari tempat yang sama dengannya. “Kalian berasal dari mana?” tanya Aqueena sedikit ragu. “Kak, kamu lihat sendiri kegantengan adikmu. Cewek yang duluan ngajak kenalan, bukan aku.” “Kepedean amat! Buluk gitu, aku nggak yakin kalau matanya jernih.” “Aku Cuma pengen tanya sesuatu,” kata Aqueena, tangannya bergerak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Hah!!” kedua kakak beradik itu terkejut bukan main mendengar bahasa yang digunakan Aqueena. “Kamu dari dunia manusia?” tanya lelaki jangkung itu. “I-iya!” jawab Aqueena ragu. “Kenalin, namaku Chelsea,” kata gadis itu seraya megulurkan tangannya menyalami Aqueena. “Ini adik bulukku, Andy. Dan cowok yang satu itu namanya William, atau bisa dibilang dia pacarku.” Aqueena menyalami mereka satu per satu seraya mengenalkan dirinya, “Aqueena!” “Apaan ribut-ribut. Kalau mau ribut jangan lewatkan aku!” Tiba-tiba saja sebuah suara femilier datang dari arah belakang yang juga menggunakan papan terbang. Refleks, Aqueena menatap si pemilik suara itu. Dan benar saja, pemilik suara itu memang orang yang dikenali Aqueena. “Jimmy!!” “Aqueena!!” Untuk sesat, keduanya saling bertatapan hingga Fischer menghalangi. “Sudah! Berhenti menatapnya seperti itu.” “Kenapa kamu bisa berada di sini?” tanya Jimmy dengan sangat teramat terkejut. “Bukan, maksudku kenapa kamu bisa masuk ke dunia ini?!” “A-aku nggak tau!” jawab Aqueena jujur. Aqueena tak tahu apakah dirinya harus jujur atau memberikan alasan yang sekiranya dapat membuat Jimmy percaya. “Fischer, kau yang membawanya ke sini?” tanya Jimmy yang bersiap dengan sebuah tongkat aneh di tangannya. “Kalau benar begitu, aku menantangmu untuk berduel!” Fischer menghela napas berat. Jika berlama-lama di sini bersama orang-orang berisik akan membuang waktunya yang berharga. Setelah mengantar Aqueena  ke ruangan kepala sekolah, Fischer ditugaskan untuk melakukan sesuatu, karena itu dia tak berniat untuk meladeni Jimmy saat ini. Meskipun dia meladeni Jimmy, Fischer sudah tahu akhirnya akan seperti apa karena sebelumnya Fischer pernah berduel dengan Jimmy dan dia memenangkan duel itu. Mungkin karena itulah sampai sekarang Jimmy masih menyimpan dendam dan selalu ingin mengulang duel yang membuat Jimmy kalah dalam waktu kurang dari satu menit. “Aku tak berniat membuat keributan saat ini. Sebaiknya tahan duelmu!!” Fischer meraih pergelangan Aqueena. “Aku menemukannya di hutan.” “OMG! Kok bisa kamu berada di sini, sih?” Jimmy mendrama tanpa menghiraukan tongkatnya yang aktif. Karena sering lupa mematikan mode aktif, Jimmy selalu saja dibikin repot dengan tongkatnya sendiri yang membuatnya tanpa sengaja terjun dari atas papan terbang. “WHAAAAA!!!” Semua yang berada di sana tertawa keras kecuali Fischer yang selalu menjaga image, dan Aqueena yang bingung dengan apa yang terjadi. Kebodohan Jimmy sepertinya tak diragukan lagi, bodohnya benar-benar natural. Fischer tak menghiraukan mereka semua terutama Jimmy, yang terpenting sekarang adalah tempat tujuannya. Lelaki itu menarik Aqueena menjauh yang membuat Aqueena hampir terjatuh. Lalu detik berikutnya, Aqueena terheran dengan keadaan. Dia merasakan berpindah tempat dalam sekejap, entah perasaannya entah apa, yang jelas Aqueena tidak lagi berada di halaman luas, melainkan di sebuah ruangan. Tiba-tiba saja Aqueena merasakan gelap menghampirinya, penglihatannya perlahan memburam disertai kakinya yang tak sanggup berdiri. Selanjutnya, hanya gelap yang dirasakan Aqueena. Sementara itu, di tempat Jimmy dan yang lainnya, mereka terheran dengan hilangnya Fischer dan Aqueena. Pasalnya, mereka hanya mengalihkan pandangan sesaat dari mereka berdua, namun tiba-tiba saja mereka sudah menghilang. “Aqueena dan Fischer kemana?” Tanya Jimmy yang sudah kembali naik ke atas papan terbangnya. Andy dan Chelsea kompak bingung dan mencari-cari keberadaan Fischer dan Aqueena. Namun mereka sama sekali tak menemukan jejak Fischer. “Kalian tidak perlu bingung,” jawab Will yang membuat mereka bertiga menoleh untuk mendengar ucapan Will selanjutnya. “Teleportasi!!” “HAH?!” Jimmy dan Andy kompak mengernyikan dahi. “APA!!” Chelsea terkejut. “Bukankah itu mitos?” “Selama ini memang mitos, tapi sekarang...” Will tersenyum kagum mengingat kemampuan yang dimiliki Fischer. “...mitos itu sudah menjadi nyata. Fischer adalah yang pertama mengaktifkan kemampuan itu.” Chelsea membulatkan mata tak percaya, sementara Andy dan Jimmy semakin menambah kerutan di keningnya karena sama sekali tak tahu apa-apa.   >> To be continued <<
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD