Ketulusan adalah hal mahal di dunia ini. Kau tak 'kan mudah menemukannya, meski dari seorang yang begitu kau kenal. Semua orang terlalu suka bersandiwara untuk menutupi diri mereka yang sebenarnya. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terbaik agar disukai. Hal yang pada akhirnya kerap menimbulkan rasa sesal di hati seseorang karena sadar, apa yang orang sukai adalah kepalsuan yang kau persembahkan. Bukan dirimu yang sebenarnya. Pada akhirnya, tak ada seorangpun yang mampu menerima dirimu yang sebenarnya, membuatmu muak memainkan sandiwara yang sama.
Sedari tadi, keduanya tak bertukar kata. Meski tangan mereka saling bergenggaman, keduanya tampak seperti sepasang orang asing. Amanda sendiri tak berani bertanya. Ia takut bila Rai kembali meneriakinya. Ia pun mengurungkan niatnya untuk menyerahkan styrofoam yang dibawanya dan mengatakan bila ia membungkus makanan untuk pria itu karena takut pria itu kelaparan setelah beristirahat penuh. Entah mengapa, Amanda takut menunjukkan niat baiknya pada Rai. Siapa yang akan percaya jika wanita bayarann sepertinya bisa bersikap tulus. Pria itu pasti menyangka bila apa yang diperbuatnya hanya demi sebuah imbalan.
Tak mengapa, Amanda tak ingin menjelaskan kebaikan yang dilakukannya. Toh, tak ada seorangpun yang mampu melihat ketulusannya. Setiap perbuatan baiknya kerap disalahartikan oleh orang-orang di sekitarnya, membuat Amanda membiarkan orang melabeli dirinya dengan sebutan peran antagonis dalam kisah hidupnya yang jauh dari kata menarik.
Suara decoder pintu yang terbuka menyadarkan Amanda jika perjalanan mereka telah berakhir dan kini mereka sudah tiba di kamar yang mereka tempati. Rai melepaskan genggaman tangannya pada Amanda dan masuk lebih dulu, sedang Amanda yang sadar bila pintu akan segera tertutup pun segera masuk ke dalam. Pria itu duduk pada kursi yang berada di samping jendela kamar, sedang Amanda masih membeku di tempatnya dengan meremas plastik makanan yang dipegangnya. Ia mencoba merangkai kata yang tidak akan disalahartikan oleh Rai. Haruskah ia menjelaskan apa yang terjadi?
Amanda menggeleng. Tak ada gunanya ia menjelaskan apa pun pada Rai. Toh mereka bukan siapa-siapa dan pria itu pun tak mungkin ingin tahu apa yang dilakukannya bersama Jansen di restoran tadi. Amanda menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, mengumpulkan keberaniannya untuk menyerahkan makanan yang dibawanya pada Rai.
"Aku membelikanmu makanan," ucap Amanda seraya meletakkan styrofoam tadi ke meja di hadapan Rai. Pria yang tadi menyibukkan diri dengan ponsel segera meletakkan benda pipih itu ke samping styrofoam yang Amanda berikan. Pria itu menatap Amanda tajam, sedang Amanda menyiapkan diri untuk menerima amukan dari Rai.
Pria itu pasti tak suka bila Amanda dekat dengan sahabatnya. Amanda paham bila dirinya melakukan kesalahan yang besar. Ia menyiapkan hati dan diri untuk menerima kata-kata kasar penuh amarah yang mungkin akan pria itu berikan padanya. Semua pria sama saja, bukan? Ego mereka yang begitu tinggi pasti terluka bila seorang sepertinya melakukan kesalahan.
"Bagaimana kamu bisa bersama Jansen di restoran tadi?" Rai menatap Amanda dengan tatapan meneliti, "Kenapa kalian bisa duduk berdua dan makan bersama?" pria itu tak lagi bisa menahan rasa penarasan yang menguasai sanubarinya.
Amanda terpaku sesaat. Menimbang apa yang harus dikatakannya pada Rai? Mungkinkah pria itu mempercayainya bila ia mengatakan apa yang terjadi sebenarnya? Ah ... pria itu pasti akan menganggapnya murahan dan sok cantik bila ia menjelaskan Jansen lah yang mendekati dan berusaha merayunya. Siapa yang akan percaya bila ada yang menginginkan wanita hina sepertinya?
"Kenapa nggak menjawab? Apa saja yang kalian ceritakan sebelum kedatanganku?" Rai kembali bertanya saat tak menerima jawaban apa pun dari Amanda yang memilih menunduk daripada menjawab pertanyaannya.
"Kenapa takut menjawab? Bukankah sudah kubilang kalau kamu bebas menyampaikan isi hatimu. Ceritakan padaku agar aku mengerti!"
Amanda mengadahkan wajahnya. Ia tahu jika kebisuannya akan membuat Rai semakin murka. Ia hanya perlu menceritakan kisah dari sisinya dan tak memperdulikan reaksi Rai. Bukankah dirinya sudah biasa dianggap rendah dan tak dipercayai, lalu mengapa kini ia mulai peduli atas tanggapan Rai pada dirinya. Konyol. Hanya karena menerima sedikit kebaikan dari pria itu, Amanda malah menjadi besar kepala.
"Aku bertemu dengannya di restoran dan dia memaksa untuk duduk bersama karena saat itu kursi di sana sudah penuh," Amanda menatap Rai dengan tatapan khawatir, sedang yang ditatap menunjukkan wajah datarnya, membuat Amanda tak bisa menebak perasaan pria itu.
Rai menaikkan sebelah alisnya, menatap Amanda menuntut penjelasan yang lebih lagi. Amanda yang mengerti arti dari tatapan Rai, menarik napas panjang dan menghelanya perlahan.
"Selepas makan, aku sudah ingin pergi karena aku nggak mau membuatmu menunggu lama. Aku takut kamu kelaparan saat terbangun. Saat aku mau berdiri, membayar makanan, dan membungkus makanan untukmu, dia mencegah kepergianku," Amanda menghentikan ceritanya sejenak untuk mencari tahu apa yang Rai rasakan, namun seperti biasa. Pria itu sama sepertinya yang terlihat tak pintar mengekspresikan perasaan melalui mimik wajah. Amanda merasa sia-sia untuk mencari tahu arti perasaan pria itu.
"Dia memaksaku untuk menghabiskan makanan yang dipesannya karena nggak mau berhutang budi padaku. Dia bahkan memaksa membayar makanan yang kupesan." Amanda kembali mengambil jeda, "Aku nggak lagi bisa menolak karena dia iba melihatku hanya memesan nasi goreng. Lagipula, aku nggak mau terus menolak dan membuatnya mengejarku."
Amanda rasanya ingin tertawa jijik mendengarkan penjelasannya pada Rai. Pria itu pasti mengira jika dirinya terlalu sombong dengan mengira sahabatnya yang kaya dan tampan mau bersusah payah mengejar wanita hina sepertinya. Akan tetapi, memang itulah yang terjadi dan Amanda tak bisa melakukan apa pun apabila Rai menganggapnya membual.
Kini wajah Rai tak lagi datar. Amanda dapat melihat kemarahan yang tak berusaha Rai sembunyikan. Pria itu mengeraskan rahang dan menatap Amanda tajam. Pria itu lalu berdiri dan mengambil tempat di hadapan Amanda. Pria itu tersenyum mengejek mendengarkan cerita Amanda yang tak masuk akal.
"Apa kartu yang kuberikan sudah nggak bisa lagi digunakan untukmu membeli makanan yang lebih mahal? Kenapa harus memesan nasi goreng apabila aku sudah memberikanmu banyak uang? Apa kamu terlalu takut menghamburkan uangku untuk makanan agar kau bisa menggoda lelaki lain?" Pria itu menatap Amanda dengan tatapan merendahkan, sedang Amanda terpaku sesaat. Ia tahu, bila pria itu tak 'kan mungkin mempercayainya. Ia memang cocok untuk dituding sebagai seorang w*************a. Ia tak bisa membela diri karena memang seperti itulah dirinya yang tak mempunyai harga diri demi uang dan tempat perlindungan.
Rai mendengkus kesal karena Amanda hanya diam dan tak berusaha membela diri. Rai mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengulurkan beberapa lembar rupiah pada Amanda.
"Ambil uang ini jika kamu merasa semua yang kuberikan masih kurang. Anggap itu juga sebagai uang pergantian atas makanan yang kamu belikan untukku. Orang sepertimu memang hanya menyukai uang."
Amanda menatap kosong lembaran rupiah yang Rai ulurkan padanya. Apakah semua yang dilkukannya harus dibayar dengan materi? Apa pria itu tak bisa melihat ketulusannya? Tak semua yang ia lakukan untuk Rai harus mendapatkan imbalan uang, namun kesan dirinya yang ada di mata Rai pastilah tidak seperti itu. Ia hanya wanita murahann yang sangat menyukai uang.
"Ambil agar kamu nggak harus menggoda lelaki lain hanya untuk mendapatkan makanan gratis," pria itu tersenyum merendahkan, namun Amanda tak merasa tersinggung sama sekali. Untuk apa tersinggung dengan kenyataan tentang dirinya.
Amanda tersenyum dan mengambil uang itu dari tangan Rai yang membuat pria itu tertawa sumbang. Apa yang diperbuat Amanda seakan membenarkan pemikirannya tentang wanita itu. Sementara, Amanda berusaha tak peduli. Mungkin memang ini yang terbaik. Membiarkan pria itu mengira jika dirinya penggila uang dan tak mempunyai perasaan maupun ketulusan.
"Terima kasih. Makanlah, aku mau mandi," ucap Amanda yang tak sanggup menerima penghinaan lebih parah lagi dari Rai.
"Lain kali katakan padaku kalau kamu memang menginginkan uang lebih. Aku akan membayar setiap jasamu yang kuterima. Aku bukan pria pelit yang nggak mau memberikan bonus atas jasamu yang memuaskan." Wajah Rai tampak begitu dingin.
Sebagian diri Amanda lebih memilih diteriaki oleh Rai dan dimaki, daripada harus menerima kata-kata merendahkan seperti apa yang pria itu lakukan. Amanda paham, bila dirinya tak lagi mempunyai harga diri yang harus dijaga. Hanya saja, ia ingin merasakan bagaimana perasaan dimanusiakan oleh orang di sekitarnya.
Amanda berusaha mengukir senyum manis di wajahnya, meski hatinya terluka mendengarkan kata-kata Rai yang setajam pisau. "Asal kamu tahu, Mas. Nggak semua yang kulakukan adalah demi uang," Wanita itu berusaha tegar dan tak menunjukkan luka yang tak seharusnya ada di antara mereka.
"Aku hanya manusia biasa. Yang terkadang lupa bagaimana caranya mematikan perasaan untuk melakukan semua hal yang ingin kulakukan," Amanda tersenyum sekali lagi dan meninggalkan Rai dengan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Di sisi lain, Rai tercengang mendengarkan perkataan Amanda. Apa yang wanita itu ucapkan membuat Raerasa sedikit bersalah, namun dirinya hanya tak ingin Amanda mengacaukan kenyamanan dari hubungan di antara mereka. Ia tak ingijln wanita itu mencari materi di luar dengan pria lain. Hanya Rai yang memiliki hak sepenuhnya atas Amanda. Bagaimana wanita itu bisa lupa jika Rai telah membeli Amanda dan menjadikannya sebagai pemilik Amanda yang seutuhnya.
Entah mengapa, Amanda begitu mudah terbuai dan sesaat melupakan fakta apabila apa yang ada di antara mereka hanyalah kebohongan semata. Tak ada yang mampu melihat dirinya yang sebenarnya. Amanda tersenyum miris. Air mata yang tiba-tiba jatuh dan membasahi pipinya membuat wanita itu terkejut bukan main. Mengapa ia harus menangis? Mengapa dirinya bisa terluka? Mengapa ia begitu peduli dengan anggapan Rai pada dirinya?
Amanda menepuk-nepuk pelan dadanya, berusaha mengurangi rasa sesak yang mendominasi hatinya. Rasa ini salah dan Amanda tak ingin merasakan sakit yang tak seharusnya ia alami. Semua perkataan Rai menampar keras pipinya, menyadarkannya jika sampai kapanpun ia tak 'kan bisa menepis kebenaran tentang dirinya yang tak lain adalah seorang wanita bayarann.
Kaki Amanda mendadak lemas, membuatnya terkulai di lantai kamar mandi yang dingin. Wanita itu mengatupkan mulutnya dengan kedua tangan, mencegah isak tangisnya terdengar oleh Rai. Sungguh, Rai tak bersalah sama sekali. Amanda paham akan hal itu, namun hatinya tak mau mendengarkan otaknya yang memarahi kelemahan Amanda.
"Kau pikir, siapa dirimu? Kau lupa, jika dirimu tak lebih dari sekadar istri bohongan," suara hati Amanda memarahinya.
Amanda menggeleng. "Aku nggak akan pernah melupakan fakta itu. Aku hanya terlalu merasa. Aku juga nggak tahu kenapa kini hatiku mampu merasa kembali," Amanda mencoba membela dirinya.
"Kau akan mati dan tersakiti, Manda. Buka matamu. Semua yang matamu lihat adalah kesemuan. Semua ini hanyalah hubungan dusta yang nggak akan pernah menjadi nyata. Kau lihat bagaimana caranya memandangmu? Kau tak lebih dari sekadar pellacur yang dibayarnya hanya untuk menuntaskan hasrattnya. Kau memang bodoh karena terbuai dengan kebaikanya." Suara hati Amanda kembali memarahinya, hendak membangunkan Amanda dari tidur panjangnya.
Air mata Amanda mengalir semakin deras. Benar apa yang suara hatinya katakan. Dirinya terlalu bodoh dan tak bisa menerima kenyataan di antara merek. Ia harus segera terbangun dari mimpi indahnya.
Di sisi lain. Rai yang tengah menyantap makanan yang Amanda belikan untuknya terusik dengan pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Ada rasa tak suka begitu ia membaca pesan dari Jansen itu.
Jansen : Siapa wanita yang tadi bersamamu? Setidaknya, kau bisa memberitahukan namanya padaku. Lagipula, kamu sudah ada Amelia, kenapa harus berselingkuh dari kekasihmu yang cantik itu? Wanita tadi bukan tipemu. Aku tahu itu, jadi berikan saja dia padaku.
Rai mencengkram kuat-kuat ponselnya. Amarahnya terpancing karena pesan dari Jansen yang begitu menggelikan. Apa pria itu pikir, Amanda adalah barang yang bisa diberikan begitu saja? Apa Jansen pikir, ia akan membiarkan pria itu mendekati Amanda? Rasanya, Rai ingin mencekik leher Jansen yang sok tahu itu.
Jansen : Ayolah, Rai! Kau tahu, aku bisa membayarmu untuk bersamanya. Kita sudah berteman dengan lama. Aku paham jika kau hanya mencintai Amelia. Wanita itu pasti hanyalah wanita bayaran yang kau pakai karena Amelia sedang sibuk. Sebagai sesama lelaki, aku paham akan hal ini.
Pesan kedua Jansen semakin membuat Rai naik berang. Pria itu segera melempar ponsel ke sembarang arah karena kemarahannya yang memuncak. Jika saja, Jansen ada di hadapannya. Rai akan memastikan jika dirinya akan membunuh Jansen. Apa maksud Jansen dengan menyamakan Rai dengan dirinya yang berengsekk?
Rai tercengang. Tidak, Jansen memang benar. Ia tak lebih suci dari Jansen karena dirinya yang membayar Amanda hanya untuk sebagai pemuas hasratnya. Ia bahkan menjadikan wanita itu sebagai istri bohongannya agar bisa selalu menggunakan Amanda untuk menjadi pemuass nafsunya semata. Siall! Bagaimana bisa ia mencoba menepis kebenaran itu?
Bagaimana pria lain tak menganggap Amanda sebagai barang, bila dirinya sendiri memperlakukan Amanda seperti itu? Kenapa ia harus marah dengan Jansen yang ingin memiliki Amanda untuk memuaskannya? Bukankah dirinya melakukan hal yang sama? Mengapa ia harus marah pada Jansen yang hanya membuatnya sadar betapa mengerikannya dirinya?