Aku Tak Pernah Percaya Takdir

2317 Words
Memang cinta bukanlah satu-satunya hal yang diperlukan untuk menjalankan pernikahan. Rasa bisa berubah dan cinta bisa sirna begitu saja. Kau membutuhkan komitmen, sebagai pengingat bila kau telah mengikat janji suci dengan seseorang. Janji di mana kau akan menjadikannya satu-satunya orang yang akan menemanimu hingga ajal menjemput. Bila saja, mereka berdua adalah sepasang suami istri yang menikah karena cinta, maka hal selanjutnya yang mereka perlukan adalah sebuah komitmen. Namun sayang, keduanya telah melewati tahap dasar dari pernikahan. Hanya berharap pada komitmen yang harusnya menjadi penguat. Setelah perjalanan yang melelahkan, kedua orang itu sudah sampai di hotel yang dipesan oleh nenek dari pria itu. Keduanya hanya ingin segera merebahkan tubuh di kasur dan menikmati ranjang empuk itu bersama. Keduanya tak seperti pasangan pengantin baru pada umumnya yang tampak antusias, keduanya malah tak ingin melakukan apa pun selain beristirahat. Tidur adalah cara yang paling benar untuk mengistirahatkan tubuh. Kamar untuk pasangan bulan madu itu telah dihias sangat indah. Kelopak bunga mawar menghiasi ranjang dan membentuk hati. Dua handuk yang dibentuk angsa diletakkan di dalam lingkaran bunga mawar yang membentuk hati tersebut. Tak seperti pasangan penganti baru pada umumnya yang senang dan menikmati hiasan kamar. Begitu masuk ke dalam kamar, tak ada pula tatapan kagum maupun bahagia yang terlihat pada kedua anak manusia itu. Rai membuang angsa yang terbuat dari handuk itu ke lantai dan melemparkan tubuhnya di ranjang. Melihat tempat tidur itu bagai menemukan surga dunia yang membuat hatinya dipenuhi dengan rasa bahagia. Amanda ikut merebahkan tubuhnya di samping Rai. Keduanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. “Kamu lapar?” tanya Rai yang menoleh ke arah Amanda, wanita itu menoleh ke samping dan membiarkan mereka saling bersitatap. Amanda tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Aku juga belum lapar. Apa nggak masalah kalau kita tidur dulu? Atau ada tempat yang ingin kamu kunjungi?” Rai merasa tak enak bila membuat Amanda bosan karena rasa lelah yang menguasai tubuhnya. Seminggu sebelum pernikahan, Rai bekerja lebih keras dan menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat agar tak harus menumpuk pekerjaan saat dirinya kembali. Pria itu pun kerap bekerja hingga tengah malam dan menyelesaikan semua pekerjaannya. Amanda yakin, jika yang kini dibutuhkan Rai adalah beristirahat. “Aku baik-baik aja, Mas. Nggak pelru memikirkanku dan beristirahatlah.” Rai mengangguk. “Jika nanti aku belum bangun dan kamu lapar, pergi dan belilah makanan sendiri. Atau kamu bisa memesan layanan kamar. Lakukan apa pun yang kamu mau dan gunakan saja kartu yang kuberikan,” Rai tersenyum pada Amanda yang dibalas oleh wanita itu. Apa yang Amanda harapkan dari perjalanan ini selain waktu istirahat untuk diri mereka masing-masing? Walau bagaimanapun mereka bukanlah pasangan normal pada umumnya. “Ya, Mas. Aku akan melakukannya,” Amanda menatap pria itu dengan tatapan lekat, “Kamu pasti mengantuk sekali karena turus terjaga hingga tengah malam beberapa hari ini,” lanjut Amanda menatap pria itu iba. Pria itu sangat mencintai neneknya dan tak mau mengecewakan wanita tua itu. Hal yang semakin meyakinkan Amanda jika Rai adalah orang baik. Tak ada pria jahat yang mau melakukan apa pun demi orang lain, bukan? “Terima kasih karena beberapa hari ini, kamu juga selalu membuatkan cemilan dan minuman yang membuatku bisa terjaga. Aku menyelesaikan semua pekerjaanku tepat waktu itu karenamu. Kamu juga pasti mengantuk, tidurlah.” Amanda mengangguk. Dirinya hanya berusaha menjadi istri yang baik untuk suaminya. Ia tak mungkin mengabaikan pria yang kerap memberikan segala hal yang ia butuhkan. Amanda juga baru menyadari jika wajah serius Rai saat bekerja terlihat sangat tampan. Amanda semakin heran, mengapa pria setampan dan hampir sempurna seperti Rai mau mempersuntingnya. Keduanya tak lagi berbicara, hingga rasa kantuk menjemput keduanya dan membawa mereka ke dalam dunia mimpi di mana semua yang mustahil bisa diwujudkan. Waktu berlalu, Amanda mengerjapkan matanya dan tersenyum saat menemukan Rai masih terlelap di sampingnya. Wanita itu menggerakkan tubuhnya perlahan ke arah Rai, tak ingin membangunkan pria yang butuh istirahat itu. Dalam diam, Amanda memperhatikan wajah Rai yang tampak seperti seorang anak kecil polos saat tertidur pulas seperti ini. Hal yang selalu membuatnya terpesona seakan tak ada kesedihan maupun luka seperti yang kerap pria itu tunjukkan bila matanya terbuka. Wajahnya tampak begitu damai dan Amanda tak bisa mencegah dirinya untuk menikmati pemandangan yang sangat jarang itu. Amanda menggerakkan jari telunjuknya di wajah pria itu, gerakan dari atas ke bawah tanpa menyentuh pipi pria itu, ia tak ingin menganggu tidur pria itu. Amanda tersenyum lirih. Jantungnya berpacu kencang dan hatinya berdesir hangat. Ia tak bisa menepis betapa dirinya merasa nyaman hanya dengan menatap pria itu. Walau mereka begitu dekat dan status di antara mereka bukanlah sepasang asing, akan tetapi Amanda tak mampu membunuh jarak di antara mereka. Ia tak’kan serakah, bisa berada di sisi pria itu sudah jauh lebih baik daripada harus kembali ke neraka, tempat di mana ia tak lagi bisa merasa hidup dan diinginkan. Amanda tak lagi ingin terbuai dan meratapi hidupnya. Wanita itu turun dari tempat tidur dengan perlahan. Ia akan pergi meninggalkan kamar hotel untuk mencari makanan. Mungkin dirinya juga bisa membelikan makanan untuk Rai. Amanda memutuskan untuk membersihkan diri sebelum pergi mencari makanan. Wanita itu tersenyum begitu keluar dari kamar mandi dan menemukan Rai masih dalam keadaan yang sama. Tidur pulas. “Kamu pasti sangat capek,” ucap Amanda setengah berbisik, lalu dirinya menyandang tas tangannya dan pergi meninggalkan kamar. Rai pasti akan sangat kelaparan begitu bangun tidur dan ia tak mungkin bisa berlama-lama meninggalkan kamar mereka. Amanda berjalan memutuskan untuk mengunjui restoran yang berada di lobby hotel dan mengambil tempat di luar, di mana dirinya bisa menikmati sejuknya angin pantai. Ia memanjakan telinganya dengan deburan ombak yang terdengar begitu merdu dan mendamaikan hati. Amanda menyukai moment seperti ini, di mana dirinya dibiarkan sendiri. Entah sejak kapan, Amanda yang terbiasa dengan keheningan, selalu bersembunyi dalam sunyi. Amanda membuka buku menu dan terkejut melihat harga-harga makanan yang tertera di sana. Tak ada satupun menu dengan harga belasan ribu atau di bawah sepuluh ribu seperti makanan yang ia kerap santap. Ia bisa makan seminggu dengan satu harga makanan termurah yang berada di buku menu. Hal yang menegaskan perbedaan yang begitu besar di dalam dunia mereka. Tampaknya, orang seperti Rai tak pernah pusing memikirkan harga makanan sepertinya. “Apakah Anda sudah siap memesan?” seorang pramusaji menghampiri Amanda dan bertanya, Amanda tak mampu menemukan makanan yang biasa ia makan dan memutuskan untuk memesan menu dengan harga yang tak begitu membuat jiwa miskinnya berteriak. “Nasi goreng seafood dengan ice lemon tea,” jawab Amanda seraya menyerahkan buku menu kembali pada Si pramusaji. Pramusaji tersebut menyebutkan ulang pesanan Amanda dan segera pergi meninggalkan Amanda setelah wanita itu mengucapkan kata terima kasih. Amanda tak ingin semakin merepotkan Rai bila memaksakan diri tidak memesan makanan. Ia tak ingin pria itu marah besar dan mengatakannya merepotkan. Ia hanya harap, Rai tak marah bila tahu makanan yang dipesannya adalah nasi goreng yang biasanya ia beli dengan harga yang tak lebih dari lima puluh ribu. Jika saja dirinya tak memikirkan Rai yang mungkin akan mencarinya dan kelaparan, Amanda lebih memilih untuk keluar hotel dan mencari makanan dengan harga normal bagi orang sepertinya. Amanda mengeluarkan ponsel untuk menyibukkan dirinya. Kini ia tahu, cara untuk terlihat sibuk adalah menatap layar ponsel. “Hai …” suara seorang pria membuyarkan Amanda. Wanita itu menatap pria yang berdiri di samping mejanya dengan tatapan meneliti, lalu terkejut saat sadar siapa pria itu. Pria yang mereka temui di Bandar udara siang tadi. Ia tak menyangka, bisa kembali bertemu dengan pria yang sama di tempat itu. Amanda harus memberitahukan hal ini pada Rai agar mereka tak bertemu ketika sedang bersama. Rai pasti tak suka dilihat bersama dengannya. Amanda tahu, Rai bukanlah orang yang senang menjelaskan permasalahan pribadinya pada orang lain. “Maaf, apa kita saling mengenal?” tanya Amanda pura-pura polos. Pria itu tersenyum manis. “Kita memang nggak saling mengenal, namun akan segera mengenal,” pria itu mengulurkan tangannya pada Amanda, “Namaku Jansen. Kita bertemu siang ini, tapi aku yakin kalau kamu nggak menyadarinya karena saat bertemu kamu tampak sibuk. Boleh tahu namamu?” lanjut Jansen seraya tersenyum ramah pada wanita itu. Rai menatap kosong uluran tangan Jansen. Sebagian dirinya merasa tak nyaman. Apalagi ia tahu siapa pria yang berusaha berkenalan dengannya itu. Bagaimana bila kelancangannya untuk memberikan namanya pada pria itu malah membuat Rai marah besar padanya? “Maaf, aku nggak suka memberi tahu namaku ke sembarang orang,” ucap Amanda pada akhirnya, jawaban yang membuat Jansen segera menarik tangannya kembali. Tawa kecil menghiasi wajah tampannya. Ia tak merasa tersinggung sedikitpun dengan jawaban Amanda. “Baiklah, aku nggak akan memaksa,” ucap Jansen, “Tapi, apa boleh kita berbagi meja? Seperti yang kamu lihat, meja di luar ini tidak banyak dan semuanya sudah ditempati,” lanjut pria itu seraya melemparkan pandangannya ke sekeliling mereka, membuat Amanda melakukan hal yang sama. Wanita itu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan begitu melihat memang tak ada lagi tempat yang tersedia di area terbuka itu. Amanda menimbang, apakah ia akan mendapatkan masalah, bila membiarkan pria itu duduk? “Aku harap, kamu nggak membiarkanku duduk di dalam,” ucap pria itu dengan memelas saat tak mendapatkan jawaban apa pun dari Amanda atas permintaannya barusan. “Silahkan,” ujar Amanda pada akhirnya. Ia tak ma uterus-terusan bercakap-cakap dengan pria itu dan membiarkan pria itu duduk mungkin bisa membuatnya kembali menyibukkan diri dengan dirinya sendiri. Ia tak mau terlibat dengan seorang teman dari suami bohongannya bila terus menolak. Amanda sangat paham dengan orang seperti Jansen yang kerap menyalah artinya penolakan seoranng wanita dan berpikir jika wanita menolak adalah hal yang menarik. “Terima kasih,” ucap Jansen seraya memanggil seorang pramusaji yang segera datang dan mencatat pesanannya, sementara Amanda kembali menyibukkan diri dengan ponsel. Ia membentuk jarak tak kasat mata agar mereka tak perlu bertukar kata. Ia senang dengan keasingan yang tak perlu diubah status menjadi kenal untuk orang seperti Jansen. “Aku pikir, ini adalah takdir,” ucapan Jansen membuat Amanda tersenyum tipis tanpa menoleh ke arah pria itu, “Aku tadi sempat berpikir jika kamu adalah kenalan temanku, namun menemukanmu lagi di sini meyakinkanku pasti ada alasan dari pertemuan kita,” lanjut pria itu dengan nada suara yang terdengar begitu gembira, sedang Amanda tampak tak menarik dan mengulum senyum untuk menanggapi cerita pria itu tentang takdir. Pria itu terlalu naif bila berpikir semua hal yang terjadi adalah karena campur tangan takdir. Pria itu pun terlalu bodoh bila mengira sebuah kebetulan selalu memiliki alasan. Tak selamanya orang asing yang tak sengaja bertemu, memiliki lanjutan cerita dari kisah mereka yang belum menemukan kata awal. “Apa kamu mencoba merayuku?” tanya Amanda dengan nada sarkastis seraya menaikkan sebelah alisnya dan menatap Jansen dengan tatapan meneliti, sedang pria di hadapan Amanda tergelak mendengarkan pertanyaan wanita itu. Entah mengapa, dirinya malah semakin tertarik dengan sikap dingin dan tak acuh yang Amanda tunjukkan. Baru kali ini, Jansen menemukan seorang wanita seperti Amanda. Biasanya, para wanita senang bila didekatinya. Wajah tampan, mulut manis, dan juga dompet tebal miliknya adalah senjata ampun untuk menaklukkan wanita, namun tidak dengan Amanda yang secara terang-terangan menunjukkan ketidaknyamanan dan rasa tak sukanya pada Jansen. “Maaf, aku nggak bermaksud seperti itu,” ucap pria itu seraya menggerak-gerakkan tangannya di udara, “Mungkin memang ini suratan takdir. Mungkin Tuhan yang tengah memainkan perannya untuk mengubah kita dari orang asing menjadi kenal,” lanjut pria itu seraya tersenyum manis, sedang Amanda menatapnya sinis. Jansen tahu tak ada seorang wanita pun yang tak lunak bila dirinya mengarang kisah mereka seromantis roman picisan yang dimulai dengan ketidaksengajaan dan takdir. Hal-hal manis yang banyak membuat wanita meleleh dan mudah ditaklukkan. “Kamu salah menilai orang,” Amanda tersenyum tipis, “Orang sepertiku nggak begitu peduli dengan takdir ataupun perannya dalam kehidupan seseorang. Aku nggak begitu menyukai kisah roman picisan yang tak lain hanyalah sebuah kisah penuh kepalsuan yang memperdaya orang-orang untuk tenggelam di dalamnya. Kisah cinta hanya ada di dalam novel fiksi,” Amanda tersenyum dingin, “Fiksi yang artinya adalah bukan sebuah kisah nyata. Hanya karangan manis untuk menghibur Si pembaca dan aku bukanlah penikmat kisah seperti itu.” Jansen tercengang sesaat, lalu ia menyeringai mendengarkan jawaban Amanda yang tak diduganya. Ia tak pernah menemui wanita semenarik Amanda. “Kamu sangat menarik,” ucap pria itu dengan menatap intens Amanda, sedang yang ditatap hanya tersenyum tipis. “Aku akan membuktikan padamu kalau takdir itu benar adanya dan mungkin saja kamu adalah hadiah yang takdir persiapkan untukku,” pria itu menempatkan sikunya di meja dan tersenyum manis pada Amanda yang merasa semakin tak nyaman dengan keberadaan pria itu. “Tampaknya, kamu adalah korban dari kisah romantis di film maupun novel. Kasihan,” ucap Amanda sarkastis. Ia tak terlalu memperdulikan perasaan orang-orang, sebagaimana semua yang tak pernah memperdulikan perasaannya dan menganggapnya sebagai robot. “Akan berapa lama di hotel ini?” pria itu berusaha mencairkan kedinginan Amanda, “Aku akan berada seminggu di sini. Bila secara nggak sengaja lagi kita bertemu, apakah kamu akan percaya jika takdir yang mengingikan semua pertemuan kita?” Amanda tergelak. Tak menyangka Rai memiliki seorang teman yang begitu pemimpi dan mempercayai takdir. Amanda yakin, setelah ini mereka tak ‘kan mungkin bisa bertemu. Ia pun tak ingin melanjutkan kisah di antara mereka. Amanda sadar, jika pria itu adalah salah satu pria yang harus dijauhinya agar tak menimbulkan masalah besar dalam hidupnya. “Kita nggak akan bertemu lagi,” ucap Amanda penuh keyakinan. Pria itu tergelak untuk yang kesekian kalinya. “Jika kita bertemu lagi, berarti kamu adalah takdirku dan kamu nggak bisa mengelak untuk membagi namamu padaku.” Amanda tersenyum miring dan mengendikkan kedua bahu dengan tak acuh. “Aku nggak peduli,” ucapnya datar. Pria itu tertawa dan mengangguk-angguk. “Baiklah, kalau begitu sudah diputuskan. Tampaknya, aku akan segera mengetahui namamu,” ucap pria itu penuh keyakinan seraya menatap Amanda lembut. Senyum manis menghiasi wajah pria tersebut. Sedang Amanda tak lagi peduli. Makanan yang dipesannya telah tiba dan diletakkan di hadapannya, membuat Amanda segera menyantap makanan tanpa ingin mempedulikan pria di hadapannya. Ia harus segera menghabiskan semuanya dan pergi meninggalkan pria aneh itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD