Narendra Adi Winata, itulah namanya. Seorang putra mahkota dari Wins Group, perusahaan yang bergerak di bidang makanan dan minuman ringan. Sebuah perusahaan dengan skala besar yang produknya di ekspor hingga ke mancanegara. Seorang lelaki tampan yang di kenal baik dan ramah pada seluruh karyawannya, membuat Candra di elu elu kan oleh sebagian besar wanita yang mengenalnya. Namun sayang, semenjak di tinggal pergi oleh sang istri, tujuh tahun lalu, semenjak saat itu pula, ia berubah menjadi pribadi yang dingin dan tempramental.
Ayah dan ibunya sudah menyerah dan tidak lagi menyuruhnya untuk kembali menikah. Mereka mengerti bahwa putranya masih belum bisa melupakan ibu dari putri cantiknya, Ara Alya Winata yang kini telah berusia tujuh tahun.
"Rendra nggak akan menikah lagi. Dan Rendra harap kalian mengerti." ucapnya kala itu. Dua tahun yang lalu, sang ibu sudah membawakannya calon istri yang begitu cantik. Salah satu anak temannya, tapi di tolak mentah mentah oleh Rendra. Rendra seakan tidak bisa lepas dari belenggu masa lalu. Seakan ia selalu terikat dengan Amira, almarhumah istrinya.
****
"Nenek mau liat kamu berumah tangga lagi Ndra." Lirih nenek Ajeng, Ibunda dari Surendra Winata-- Ayah Narendra. Nenek ajeng tengah terbaring lemah di salah satu ruang rawat inap termewah di St. Thomas' Hospital, Inggris. Rendra tertunduk. Setelah sekian lama, akhirnya sang nenek menuntutnya untuk menikah.
Ajeng, berusia enam puluh tahun. Sudah tua, tapi wanita itu masih mampu menjalankan bisnisnya. Ia membuka bisnis travel kecil kecilan di Inggris bersama suami bule nya. Dan menyerahkan seluruh kendali atas Wins grup pada putra tunggalnya Surendra Winata. Ia ingin menikmati masa tuanya dengan tenang di negara yang sangat ia sukai itu.
"Kamu harus move on Ndra, Amira nggak akan suka liat kamu seperti ini. Ara juga butuh seorang ibu."
"Nanti ya nek, Rendra masih belum mau mikirin itu."
"Nenek sudah tua Ndra, lagi pula, Winata juga butuh seorang penerus."
"Ada Ara, nek. Ara juga seorang Winata."
"Tapi Ara seorang wanita, Ndra."
"Apa salahnya kalau Ara kalau seorang wanita?"
"Kita butuh penerus laki laki Ndra."
"Sudah ya nek, tolong jangan di bahas dulu masalah ini. Nanti kalau nenek sudah sehat, Rendra akan mempertimbangkan ucapan nenek."
"Nenek sudah punya calon istri buat kamu. Dia juga ada di sini dan kuliah di Oxford. Cantik, jenius, anak dari keluarga terhormat. Dan kamu nggak bisa nolak."
"Nggak bisa gitu dong nek, Rendra nggak mau."
"Nenek bilang kamu tidak bisa menolak. Minggu depan, keluarganya dari Indonesia akan datang."
"Tapi Rendra sudah punya calon istri Nek," Jawab Rendra asal.
"Benar begitu?" Wajah sang nenek mendadak cerah bersinar. Matanya berbinar.
"Iya, Rendra masih mencari waktu yang pas untuk memperkenalkan wanita itu pada kalian."
"Apa dia di Indonesia?"
"Iya nek, dia di Indonesia."
"Kalau begitu suruh dia kemari secepatnya. Kalau dalam waktu satu minggu kamu belum mengenalkannnya pada nenek, nenek akan melanjutkan perjodohanmu dengan wanita pilihan nenek." putus nenek Ajeng.
"Tapi nek ... "
"Jangan protes Rendra, dan satu lagi, tiga bulan ke depan, tolong gantikan nenek di sini. Tangani bisnis travelku. Perusahaan di sana, biar ayahmu yang urus."
"Baik, nek."
****
Rendra melangkah kasar. Jika berdebat dengan neneknya, sudah bisa di pastikan ia tidak akan bisa menang. Neneknya itu tidak terbantahkan. Berkali kali ia mengumpat. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu satu minggu, ia harus bisa membawa seorang perempuan untuk di kenalkan pada sang nenek.
"Gimana caranya biar bisa dapat calon istri dalam waktu seminggu?" gumamnya pelan. Ia kembali mencengkeram Leica S Typ 007-- nya dan membidikkan lensanya pada berbagai objek yang melintas di hadapannya. Paling banyak adalah anak perempuan yang ia jadikan objek. Ia rindu Ara nya. Kemarin Ara nya ingin ikut, tapi neneknya melarang.
Hingga sore hari, ia masih betah menyusuri jalanan di bawah menara big ben, lalu lintas yang begitu padat, orang orang yang berlalu lalang, ada yang sedang sibuk menatap gagdet, ada yang sedang bercengkerama dengan anak, suami atau istrinya, ada pula yang sedang tergesah berjalan sembari menyuapkan sandwich ke dalam mulutnya. Bibirnya menyunggingkan senyum saat matanya menangkap sosok gadis kecil yang tertawa riang dan di gandeng oleh ayah ibu nya. Mendadak ia rindu Ara dan Amira nya. Senyumnya semakin terkembang lebar saat menatap layar ponselnya dan wajah Ara terlihat memenuhi layarnya. Ia segera mengangkat panggilan video dari Ara nya.
"Halo Ara sayang." Rendra mensejajarkan layar ponselnya dengan wajahnya. Senyum riang Ara menghiasi layar ponselnya.
"Papa." Pekik gadis kecil itu antusias.
"Ara lagi apa?"
"Ara kangen pa, kapan papa pulang?"
"Sabar ya sayang, secepatnya papa akan pulang."
"Ara juga mau jalan jalan ke sana pa, mau naik bianglala yang super besar itu."
"Kalau gitu, secepatnya papa akan jemput Ara dan bawa Ara naik bianglala di sini ya."
"Iya pa, cepetan jemput Ara."
"Iya sayang, secepatnya. Sekarang tolong kasih telponnya ke oma. Papa mau ngomong sama oma."
"Siap pa, tunggu bentar ya, oma ada di dapur."
Rendra tersenyum melihat layar ponselnya bergerak dan memperlihatkan gambar abstrak yang bergerak. Pasti gadis kecilnya itu sedang berlari.
"Ya Ndra," terdengar suara lembut sang ibu menyapa. Ia tersenyum saat wajah sang ibu nampak di layar ponselnya.
"Mama apa kabar? Ara nggak rewel kan?"
"Nggak Ndra, Ara pinter seperti biasanya. Kamu kapan pulang?"
"Masih belum tau ma, nenek minta yang aneh aneh sama Rendra."
"Aneh aneh gimana?"
"Pertama, Rendra di suruh bawain dia calon istri, kedua Rendra di suruh ambil alih bisnis travelnya di sini." Rendra menghembuskan napas kasar. Sang ibu nampak tergelak.
"Ya udah sih, turutin aja. Kalau mama papa yang suruh aja, kamu cuekin. Coba kalau nenek yang suruh, langsung deh kepikiran."
"Masalahnya bawain calon istri dalam waktu seminggu, Rendra harus cari perempuan dimana ma?"
"Makanya Ndra, kalau di bilangin mama tuh dengerin. Coba dari dulu kamu mau terima calon calon dari mama. Nenekmu pasti nggak minta yang aneh aneh."
"Gini aja ma, mama kirimin perempuan yang mana aja deh, buat jadi calon istri pura pura ku, nanti aku bayar mahal jasanya."
"Kamu mau bohongi nenek kamu? Nggak boleh Ndra, kamu nggak boleh bohongin nenek kamu. Kalau kamu mau bohong, tolong jangan bawa bawa mama. Kamu bohong aja sendiri. Mama nggak mau berdosa sama nenek kamu."
"Tapi ini demi kebaikan ma,"
"Kebaikan dari mana? Udah, jangan bicara sama mama lagi kalau kamu cuma mau minta di kirimin calon istri pura pura." Klik. Panggilan itu di putus sepihak oleh Amanda sang mama. Rendra mendengus sebal, kemudian berbalik dan mencegak salah satu taksi hackney yang melintas di hadapannya. Renda segera berlari saat taksi itu berhenti. Namun dari arah kirinya, seorang gadis bersepeda dengan kecepatan tinggi bersiap menabraknya beberapa detik ke depan.
"Watch out!!" pekik gadis itu. Rendra tak sempat menghindar. Sepeda itu segera menabraknya dan membuatnya juga sang pengendara jatuh tersungkur. Rendra segera bangkit saat mendapati camera tersayangnya hancur berkeping keping.
"Shitt!!" umpatnya keras kemudian segera menole ke arah gadis yang menabraknya dan menatapnya murka.
****