Jeda Ketigapuluh Satu

1525 Words

Semua jawaban Eda barusan adalah tanda bahwa aku harus mulai berhenti berharap. “Aku enggak bermaksud mencampakkan Abang. Maafin aku.” Aku tidak berani memandang wajah Eda, kutundukkan kepala dan memandangi kedua tanganku yang saling meremas di atas paha. “Abang enggak bisa jadi apa yang kamu mau Ra. Abang hanya berharap, pasangan Abang siap menerima bagaimanapun karakter Abang. Baik buruknya. Karena Abang juga melakukan hal yang sama. Tapi kalau kamu tertekan dengan sikap Abang, Abang enggak bisa paksa. Kamu punya hak untuk pergi. Kamu punya hak untuk bahagia.” Aku mulai terisak. “Dan sikap kamu di rumah sakit malam itu membuat Abang mengerti, mungkin kamu sudah tidak membutuhkan Abang lagi.” Eda tersenyum pahit, hatiku sakit. Jika waktu dapat diputar kembali, tentu aku akan mengata

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD