"Aku siap Pih," jawab Rangga tegas dan yakin. Sementara Dinda semakin cemas, ia tak ingin Rangga harus melalui banyak hal berat bersamanya tanpa keluarganya. Bukan ia ragu pada Rangga, tapi ia merasa bersalah karena hidup bersamanya malah membuat Rangga kehilangan apapun yang ia punya sekarang. Kini Darius beralih pada Dinda, "Lalu Dinda, apakah kamu siap dinafkahi oleh seorang anak laki-laki dengan gaji gak ada setengah dari UMR Jakarta?" tanyanya mengejek. Rangga tak tahan lagi, ayahnya semakin menjadi. Ia tak ingin istrinya ikut tertekan di sana. "Cukup, Pih!" tegas Rangga tidak membentak tapi penuh penekanan. Semua orang menatapnya dengan ketegangan yang sama, tapi biasanya Rangga memang pasif dalam setiap pembicaraan keluarga lebih cuek seperti tidak perduli, makanya ketika ia ak

