Hati bisa berbohong atas kesedihannya, tetapi tidak dengan fisik. Ketika mulut tidak bisa berkata, air mata akan menjawabnya.
Ghea benci ketika dirinya harus seperti ini. Di mana ia bersikap seolah-olah kalau dirinya sudah kalah, dan terlihat lemah bagi mereka yang melihatnya.
Ghea ingin marah, namun tidak tahu harus kepada siapa.
Pada akhirnya, yang bisa Ghea lakukan hanyalah menangis dalam kesendirian. Bukan tidak ada yang peduli, namun ia yang memilih sendiri.
"Gue bodoh," ucap Ghea. Bukan, bukan dengan nada purau, melainkan dengan nada penuh kebencian dengan dirinya sendiri.
Beberapa menit setelah mengucapkan itu, Ghea mendengar kedatangan seseorang.
"Ghe?"
Tanpa menoleh pun gadis itu sudah tahu kalau orang yang baru saja datang adalah Risa, sahabatnya.
"Lo kenapa, Ghe?" bersamaan dengan ucapan itu, Ghea merasakan sentuhan halus di bahunya.
Risa memang bodoh, namun gadis itu yang merupakan sahabat paling pengertian bagi Ghea. Sedangkan Irene, kalian tahu sendiri sifatnya seperti apa. Tidak mau membuat Risa khawatir, Ghea mendongak sembari menghapus jejak air matanya.
"Gue nggak apa-apa, Ris," ucapnya dengan bibir yang memaksakan senyumnya.
"Kalo lo nggak apa-apa, mana mungkin lo sampai nangis kayak gini, Ghe."
Kebohongan Ghea kali ini gampang ditebak, ya? Ghea terdiam, tidak tahu harus menjawab seperti apa. Biarpun ia berbohong, mengucapkan kata-kata meyakinkan sekalipun, Risa sudah pasti tahu kalau itu semua palsu.
Melihat Ghea diam saja, Risa menghela napasnya pelan. "Ya, udah, ayok! Jangan duduk di bawah gini."
Ghea mengikuti Risa yang menuntunnya menuju sebuah kursi di sana. Duduk berdampingan, Ghea sendiri merasa sedikit takut jikalau Risa membahas permasalahan di kantin tadi. Kalau benar, apa yang harus ia katakan?
"Eh, Ghe, gue nanti nggak usah latihan kali, ya? Males banget."
Ghea menoleh menatap Risa, menatapnya dengan tatapan biasa. Ia tahu kalau kata-kata itu hanya peralihan saja, tetapi kalau benar, itu tidak bisa dibiarkan. Bagaimana tidak, besok adalah hari di mana pertandingan basket itu di mulai, dan Risa tidak akan ikut latihan sekarang. Yang benar saja.
"Mana ada, lo harus latihan buat besok." Seketika raut kesedihan di wajah Ghea hilang, digantikan dengan raut seperti biasanya. Imut ke judes-judesan.
Risa tersenyum, mungkin karena rencananya untuk membuat Ghea tidak sedih lagi itu berhasil. "Yah, nggak usah aja lah. Gue capek banget, sumpah."
Ghea berdecak keras. "Nggak bisa, lo harus inget kalau besok adalah hari pertandingannya. Dan hari ini, hari terakhir lo latihan."
"Nah gitu, dong. Lo lebih cocok jadi temen gue yang judes bawel kayak gini. Jangan kayak tadi, nggak cocok tau kalau cewek pedes kayak lo nangis."
Menarik sudut bibi, Ghea mengangguk singkat membenarkan ucapan Risa. Ia tidak seharusnya seperti ini. Namun, permasalahan di kantin tadi benar-benar membuatnya malu bukan main, sehingga Ghea tidak bisa berpikir selain mengeluarkan air matanya.
Ghea tidak tahu, jika orang-orang di kantin tadi melihat tanda yang dimaksud Laura, mungkin sebentar lagi ia akan menjadi bahan pergosipan satu sekolah.
"Sa ae lo, Ris," balas Ghea dengan senyum tipis di bibirnya.
Risa terkekeh pelan. "Iya, lah. Kalau nggak bisa, namanya bukan Risa."
"Temen lo yang satu lagi gak ngikut ke sini?" tanya Ghea.
Risa mengangkat bahunya. "Entah, mungkin masih perang sama mak lampir."
Tunggu tanggal mainnya, setelah ini Ghea juga akan ikut perang dengan cewek sadis itu. Tindakan memalukan itu sudah keterlaluan, dan yang lebih penting, Ghea harus mencaritahu terlebih dulu kenapa Laura bisa mengetahui semuanya.
"Ghe, perkataan Laura tadi, kok, gue jadi penasaran, ya?"
Tubuh Ghea yang mulanya sudah lebih rileks, sekarang kembali menegang. Ia sudah menduga ini sebelumnya, namun masih tetap bingung akan menjelaskan seperti apa kepada Risa.
Terlepas dari itu, yang lebih membingungkan adalah bagaimana cara memulainya. Ghea sadar, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya kepada Risa maupun Irene. Rahasia jika terlalu lama dipendam hanya akan memberi rasa tidak tenang di kemudian hari.
Menghela napas, Ghea mengubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Risa. Meski ragu, gadis itu memantapkan diri untuk mengungkap semuanya. Ia mulai menyingkap rambutnya guna memperlihatkan tanda yang dimaksud Laura tadi.
"Ini, ini yang lo maksud?" tanya Ghea.
Bisa dilihat jelas kalau sahabatnya itu terkejut ketika melihat sesuatu yang Ghea perlihatkan.
"G-ghe, itu seriusan? Semalem lo langsung pulang, kan?" tanya Risa dengan raut wajah tak percaya.
Menarik sudut bibirnya, Ghea mengangguk pelan. "Langsung pulang, kok."
"T-tapi ini kenapa? Kok, bisa?"
Ghea menunduk. Kalau dipikir-pikir, ini adalah pengakuan yang memalukan. Namun bagaimana, secepatnya Risa harus tahu semuanya agar tidak ada kesalahpahaman di antara mereka.
"Ghe?"
Ghea kembali mendongak. "Ya?"
"Semalem Alga nggak ngapa-ngapain lo, kan?"
Ghea mendengus mendengarnya. "Nggak, kali. Dia kan nganterin gue dulu sebelum nganterin lo."
"Terus?"
"Gue mau cerita, tapi lo jangan ngamuk, ya?" tanya Ghea memastikan. Ya, pada akhirnya semuanya memang akan terbongkar.
Risa spontan menganggukkan kepalanya.
Melihat itu, Ghea kembali mengubah posisinya menghadap ke depan, sebelum mulai menceritakan semuanya. "Sorry kalau selama ini gue nyembunyiin sesuatu. Lo tau, kenapa gue nggak pernah bawa kalian ke rumah gue lagi?"
Risa menggeleng pelan.
"Orang tua gue udah nggak ada, dia meninggal karena kecelakaan."
Mendengar itu, bola mata Risa membulat sempurna. "What the?! Heh, kok bisa? Kenapa? Gak nggak, ini gak masuk akal!"
"Gue serius," ucap Ghea pelan.
"Dan hal sepenting ini lo nggak cerita?! Selama ini lo nganggap gue sama Irene itu sebagai apa?!" Risa histeris di tempatnya, tidak percaya sekaligus marah dengan ucapan Ghea.
"Dengerin dulu."
"Sejak kapan?"
"Hampir empat bulanan."
"Anj!!! Gila, ya Ghe." Risa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi marah kepada Ghea. "Lo emang gila. Saat lo butuh, kenapa lo nggak cerita?"
"Awalnya gue terpuruk, tapi seiring berjalannya waktu gue bisa terima. Lo kan tau kalo gue kuat." Ghea kembali menatap Risa. "Ada hal gila lagi yang lo harus tau."
"Apa?!"
"Lo tau, orang tua gue sama orang tua Vero temenan."
Risa kembali menggelengkan kepalanya. "Jangan bilang lo dijodohin?"
"Bukan dijodohin, tapi gue dititipin ke orang tua Vero. Orang tua gue ternyata banyak hutang, semua asetnya disita bank. Ya, mau nggak mau gue ngikut sama orang tuanya Vero."
Risa mengernyit heran. "Lo nggak ada keluarga lain?"
Ghea tersenyum miris. "Lo nggak tau, ya? Mama papa gue, kan, udah dibuang sama keluarganya. Gue anak yang nggak diinginkan, Ris."
Memang gila. Hampir tiga tahun Risa menjabat sebagai sahabat seorang Ghea Nafatia, namun hal sepenting ini ia baru mengetahuinya sekarang. "Ya, ampun, Ghe. Gue jadi sahabat, kok, gini? Sahabat macam apa yang bahkan nggak ada saat sahabatnya lagi butuh?"
"Kan, emang gue yang nggak cerita sama lo."
"Lo emang gila, Ghe."
"Orang tuanya Vero baik banget. Mereka ngurusin gue kayak anak kandungnya sendiri. Sebulan semenjak gue tinggal di sana, papanya Vero mutusin buat nikahin gue sama Vero." Ghea terkekeh pelan. "Menurut lo gila, nggak, sih? Gue masih sekolah, Vero juga masih sekolah, dan kita dinikahin gitu aja. Gue nggak pernah nyangka sebelumnya kalau masa depan gue bakal sekonyol ini."
Mulai jujur, namun tidak sepenuhnya. Ghea sengaja menyebutkan jikalau kedua orang tua Vero sangat baik kepadanya meski kenyataannya tidak seperti itu. Tidak apa, ia tidak mau Risa khawatir jika mengetahui yang sebenarnya.
Risa benar-benar dibuat bungkam oleh ucapan Ghea. "Terus, kok, lo bisa dinikahin?"
"Gue tinggal di rumah yang jelas-jelas ada cowok yang seumuran sama gue. Apa kata orang? Udah gitu, orang tuanya Vero bener-bener ketat banget. Mereka gak mau gue jadi bahan cemoohan. Akhirnya mereka nikahin gue sama Vero dengan satu syarat."
"Syarat apa lagi?"
"Sebelum lulus SMA, gue harus pisah kamar dulu sama dia."
Risa berdecak di tempatnya. "Gila. Hidup lo rumit juga. Udah nikah tapi nggak dibolehin satu kamar?"
Ghea mengerti maksud perkataan Risa. "Apaan, sih? Gue seneng kali. Lagian, siapa yang mau satu kamar sama cowok aneh kayak Vero? Gue ogah, sayang tubuh juga."
"Nggak nyadar diri, lo juga sama kayak dia," cibir Risa. "Eh tapi, lo terima aja tuh nikah sama dia? Seneng nggak?"
"Awalnya gue nolak keras banget, tapi, ya, mau gimana lagi? Kalo nggak mau hidup gelandangan, mau gak mau gue terima juga. Jujur, ya, seumur hidup gue nggak pernah mimpiin pernikahan kayak gini."
Risa menghela napasnya, merasa heran denga kehidupan sahabatnya sendiri. Awalnya ia pikir, hidup Ghea selalu baik-baik saja karena mengingat gadis itu yang jarang mengungkap rasa sedihnya.
Yang terlihat tidak ada apa-apa, belum tentu baik-baik saja.
"T-terus, itu leher lo kenapa bisa gitu? Vero minta jatah?" jujur, Risa sedikit takut kalau Ghea akan tersinggung dengan ucapannya.
Meski malu-malu, Ghea tetap menjawab pertanyaan Risa barusan. "Vero marah banget pas tau gue pergi ke club tanpa seizin dia, apalagi liat gue pulangnya dianterin sama Alga. Dia marah, dan ngelakuin 'itu' ke gue, dan bodohnya gue dalam keadaan mabuk berat."
"Terus, terjadi?"
Ghea mengangguk.
"Orang tuanya Vero nggak tau?"
Ghea menggeleng pelan. "Mereka lagi pergi."
Dalam keadaan terdesak sekalipun, pencitraan tetap nomor satu bagi Ghea. Biarlah Risa menganggap kalau kejadian itu berawal mula dari Vero yang marah kepadanya, meski kenyataannya ia sendiri yang memulai.
Namun tidak apa, sstidaknya Ghea sudah menceritakan semuanya. Sekarang yang menjadi tantangan adalah bagaimana ia berhadapan dengan Vero nanti, apalagi nanti malam mereka ada acara yang mengharuskan untuk berangkat bersama.
***
Ghea bisa menghindari Vero ketika menemani Risa latihan terakhirnya, sampai pulang ke rumah. Namun ternyata tidak dengan sekarang. Demi apa pun, Ghea tidak mau bertemu cowok itu, tolong bawa ia lenyap saat ini juga.
Namun tidak bisa. Malam ini adalah malam yang akan sangat berarti bagi Risa, di mana kekasihnya pulang, juga bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Dan Ghea, tidak bisa menghindarinya.
Pukul sepuluh malam, Ghea sudah siap dengan pakaiannya. Berjalan ke sana kemari akibat gelisah dengan pikirannya sendiri.
"Udah bukan depresi lagi, kalau gini caranya gue bisa gila," gumam Ghea.
Selang beberapa menit, Ghea mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar. Bukan hanya tubuhnya yang menegang, degup jantungnya juga ikut bekerja tidak normal.
"Mampus gue."
Akhirnya, mau tidak mau Ghea berjalan membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang ia lihat adalah Vero yang tengah menatapnya dengan tatapan bersalah.
"Udah siap?" tanya cowok itu.
Ghea mengangguk dengan wajah sinisnya. Dalam hati ia memohon agar Vero tidak menyinggung perkara kemarin malam.
Setelah melihat Ghea mengangguk, Vero mengambil langkah lebih dulu, kemudian diikuti oleh Ghea di belakang.
Demi apa pun, Ghea merasa lega sekarang. Vero tidak mengungkit, itu kemungkinan karena cowok itu juga merasakan hal yang sama dengannya. Syukurlah, setidaknya rasa malu itu harus reda terlebih dahulu.
***
"Happy Birthday, ya, Ris. Semoga apa yang lo harapkan bisa segera terwujud. Kurangin bucinnya, banyakin warasnya. Sekarang Arka-nya udah ada, jadi, jangan galau-galau lagi."
Risa terkekeh, kemudian bergerak memeluk Ghea. "Makasih, ya, Ghe. Gue seneng banget malam ini. Makasih udah nyiapin ini semua buat gue."
Ghea membalas pelukan Risa. "Sama-sama."
Beberapa detik terdiam, Risa menarik sudut bibirnya ketika otaknya menemukan kata-kata tepat untuk diucapkan pada Ghea. "Ghe?"
"Ya?"
Masih dengan pelukan, Risa terkikik di tempatnya. "Mulai sekarang lo harus akur sama Vero. Btw, gue nunggu dedek baru."
"Sialan lo!"
Setelah selesai acara dari rumah Risa, Ghea dan Vero langsung pulang ke rumahnya. Dengan keadaan yang sama, keduanya masih sama-sama saling diam di tengah perjalanan.
Membiarkan waktu terlewat begitu saja, tanpa berniat untuk berbicara satu sama lain.
Sampai tiba di rumah, keduanya masih diam. Entah tidak menemukan topik pembicaraan, atau mungkin karena saling menghindar satu sama lain.
Lucu, ya? Di depan para sahabatnya, dua manusia itu terlihat baik-baik saja, berbeda dengan sekarang.
Dunia memang penuh kepalsuan.
Ghea sudah akan membuka pintu, namun perkataan Vero mampu menahan pergerakannya.
"Kita bicara, ya?"
Tubuh Ghea menegang, apalagi ketika Vero dengan tanpa permisi memasuki kamarnya begitu saja. Hey? Ayolah, Ghea juga butuh istirahat. Sedari kemarin, kenapa hidupnya penuh ketegangan seperti ini?
Menghela napas, Ghea mengikuti pergerakan Vero. "Ada yang perlu dibicarain?"
Vero yang kini sudah duduk di tempat tidur Ghea, menganggukkan kepalanya pelan. "Iya."
Sampai sekarang, Ghea masih menghindari kontak mata langsung dengan cowok itu. "S-soal apa?"
"Soal semalam."
Skak mat. Ghea tidak bisa berkutik. Selain tubuhnya yang mulai gemetar, wajah gadis itu juga ikut nemerah akibat malu.
Mengerti akan gerak-gerik Ghea, Vero menghela napas kemudian kembali beranjak dari duduknya. Ia berjalan lebih mendekati Ghea. "Lo ... marah?"
"Nggak," jawab Ghea cepat.
"Terus kenapa menghindar?"
"Ya ... pengen aja, kenapa? Nggak boleh?"
Ghea tetaplah Ghea. Selalu bersikap seperti ini. "Ghe?" Vero melemah.
"Apa?"
"Kalo marah bilang, jangan kayak gini."
Ghea dibuat tidak habis pikir oleh ucapan Vero. "Gila lo ya?"
"Nggak, serius."
Ghea berdecak pelan. "Gue nggak marah. Udah!"
"Terus kenapa?"
Sudahlah, manusia semacam Vero memang tidak akan peka dengan tingkah laku Ghea. Gadis itu sudah terlanjur malu, jadi, ya ... sudahlah.
"Gue malu! Udah? Puas? Udah tau, kan? Sekarang keluar sana!" Ghea bergerak seolah mengusir Vero, namun matanya tidak berani menatap cowok itu.
Entah harus senang atau bagaimana, yang pasti, setelah mendengar itu, Vero menghela napas seraya bergerak memeluk gadis yang sudah menjadi hak miliknya. Sangat erat, bahkan tangannya tidak tinggal diam.
"Maaf, ya?"
Ghea diam, tidak menjawabnya.
"Ini semua salah gue." Nada suara Vero kelewat rendah, sampai Ghea hampir tidak mendengarnya. "Maaf atas semua ini. Lo boleh marah, Ghe, tapi gue mohon ... jangan pergi, ya?"
Semua rasa gelisah dan malu Ghea seketika hilang, tergantikan dengan perasaan aneh yang mulai merayap. Perkataan Vero barusan membuatnya berpikir keras, bingung antara menjawab ya, atau sebaliknya.
"Gue tau ini bodoh, but I'm serious, if I need you."
Kenapa Ghea menjadi lemah seperti ini? Merasa telah menemukan sosok dirinya dalam diri orang lain.
Melawan gengsi yang amat tinggi, perlahan Ghea menggerakkan tangannya untuk membalas pelukan Vero. Mulai merasakan hal yang sama, Ghea seperti menemukan sosok yang tepat untuk berbagi semua keluh kesahnya. Semua masalahnya. Semua kesedihan berikut luka-lukanya.
Dalam sekejap Ghea merasakan kenyamanan yang sesungguhnya. "Dari dulu gue ngedambain pelukan hangat kayak gini. Pelukan dari orang yang benar-benar tulus sayang sama gue. Pelukan yang menenangkan gue dari segala hal yang mengusik. Lo tau, gue itu anak malang yang amat membutuhkan kehangatan."
To be continue...