Luka yang Tumbuh

1425 Words
Dalam catatan Maya Septiani Part 2 September 2019 Aku tidak percaya bahwa Danya adalah seorang istri simpanan! Bahkan yang lebih menjijikan lagi sebelumnya dia bekerja sebagai wanita penghibur, kenapa dia malah memilih jalan kotor seperti itu? Susah payah ayahku membesarkan dan memanjakannya, tapi dia malah menjadi manusia seperti itu. Apa sebenarnya yang ada di pikiran Danya ketika memutuskan untuk memilih jalan kotor itu? Apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibu jika mereka tahu bahwa aku menemukan putri mereka di dalam penjara? Beruntung orangtuaku sudah tiada jadi mereka tidak mengetahui kelakuan kotor putri kesayangannya itu. Aku bertambah benci padanya, kenapa dia harus menjadi bagian dari keluargaku? Bagaimana jika paman dan bibiku mengetahui hal itu? Kenapa Danya? Kenapa kau mencoreng mukaku sedemikian kotornya? Sebenarnya agak menggelikan jika harus mengingat masa lalu kami lagi yang entah kenapa malah membuat perasaanku menjadi aneh dan muak. Tapi aku tahu semua ini harus segera diselesaikan. Sejak kecil orang-orang selalu melihat Danya, di mana-mana dia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Aku akui Danya memang cantik, tubuhnya tinggi berisi, kulitnya putih, mata yang sipit dengan dagu yang lancip, bibirnya tipis meskipun hidungnya tidak terlalu mancung, ditambah rambutnya yang panjang terurai. Jika dilihat-lihat Danya mirip sekali dengan aktris Hongkong Charlene Choi. Dari aku SD dan SMA aku dan Danya satu sekolah, dan kehidupan di sekolahku bagaikan di neraka. Teman-teman sekolahku tahu kalau aku dan Danya adalah saudara, jadi mereka selalu pensaran denganku karena bisa jadi aku juga cantik seperti halnya Danya, tapi begitu mereka melihatku mereka seperti kecewa karena ekspektasinya tentangku terlalu tinggi. Aku sudah mengatakan pada mereka bahwa aku dan Danya adalah saudara tiri bukan saudara kandung, namun mereka selalu saja tidak mau mengerti dan terus-terusan membanding-bandingkanku dengan Danya. Untuk itu aku membenci Danya karena gara-gara dia hidupku menjadi tersiksa. Ketika lulus SD aku melanjutkan di SMP yang berbeda dengan Danya namun perhatian orang-orang selalu saja untuk Danya, membuatku muak. Aku selalu berpikir seandainya aku bisa secantik Danya mungkin teman-teman sekolahku dan orang-orang di sekitarku pasti akan memperhatikanny juga dan mereka akan pusing memilih antara aku dan Danya. Tapi semuanya semua angan-anganku saja, wajahku jauh dari cantik, kulit gelap ayah menurun kepadaku, rambutku juga tidak selurus Danya, rambutku sedikit ikal dan sangat susah diatur, aku juga tidak tinggi, tubuhku pendek dan kurus seperti seseorang yang kekurangan gizi. Lulus SMP, aku mendaftar ke SMA favorit, yang isinya adalah murid-murid pintar yang kerjaannya hanya belajar dan mengejar nilai tertinggi. Kulihat di sana semua murid terobsesi pada peringkat, sistem pendidikan di sekolah itu membuatku stress. Kupikir aku yang di SMP menjadi juara umum pun bisa beradaptasi di sekolah itu namun kenyataannya aku malah stress. Selama satu bulan aku jatuh sakit dan otomatis pelajaranku terganggu sehingga aku menjadi murid terbodoh di sekolah itu. Ibu yang melihatku semakin kurus, memutuskan untuk memindahkanku dari sekolah itu dan memasukanku ke sekolah Danya. Pada awalnya aku menolak, tapi tidak ada pilihan lain karena hanya sekolah itu yang jaraknya tidak terlalu jauh. Aku pun terpaksa menyetujuinya. Aku pikir di SMA, semua akan baik-baik saja, aku belajar dengan baik, memiliki sahabat bernama Mayang dan teman-teman yang baik. Berat badanku kembali normal, dan hidupku kembali b*******h. Aku juga menjaga jarak dari Danya seolah dia bukanlah bagian dari keluargaku, aku mentupinya dari Mayang dan teman-temanku yang lain. Namun petaka terjadi ketika Mayang dan teman-temanku yang lain mengetahui kalau aku dan Danya adalah saudara. Saat itu mereka tiba-tiba datang ke rumahku hendak mengejutkanku karena aku ulang tahun, kebetulan yang membuka pintu adalah Danya dan akhirnya mereka mengetahui kalau aku dan Danya adalah saudara. Mereka marah dan memusuhiku karena bersikap tidak jujur, apalagi selama ini mereka kerap kali membicarakan tentang Danya, mereka ingin sekali berkenalan dengan siswi populer itu. Apalagi Mayang sangat berambisi untuk bergabung di klub dancer. Hubungan persahabatanku dengan Mayang menjadi buruk karena ketidakjujuranku namun aku juga memiliki prinsip sendiri untuk tidak mengungkapkan latar belakangku pada Mayang dan teman-temanku yang lain. Waktupun berjalan, Danya lulus SMA dan memutuskan untuk kuliah di luar kota, aku sudah mati rasa berurusan dengan Danya, gara-gara dia sahabat dan teman-temanku pergi meninggalkanku. Selama kuliah Danya jarang sekali pulang ke rumah, ayah sering menjenguk Danya di tempat kost, takut jika Danya membutuhkan sesuatu. Aku pun begitu lulus SMA tidak serta merta kuliah karena mengalami cacar air tepat ketika hendak melakukan test ujian masuk perguruan tinggi. Jadi terpaksa aku harus menunggu satu tahun untuk mendaftar tes ujian masuk, namun petaka kembali terjadi pada keluargaku. Danya pulang sambil membawa seorang bayi, dia mengatakan kalau itu adalah anaknya, selama dia kuliah dia memiliki pacar dan mereka melakukan hubungan terlarang yang seharusnya tidak dilakukan sehingga Danya hamil. Ibu pingsan dan dilarikan ke rumah sakit, seminggu kemudian ibu meninggal. Aku menyalahkan Danya atas kematian ibu, tapi Danya hanya diam saja tak bergeming atau merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan. “Siapa ayah bayi itu?” Kata ayah suatu hari, aku mendengar percakapan mereka diam-diam dari balik dinding. “Tidak tahu, aku tidak ingat!” Jawab Danya dengan santai. Mendengar jawaban Danya darahku berdesir, dia sangat kurang ajar, tidak tahu malu dan nakal! Sayangnya ayah tidak menampar Danya, ayah hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kulihat ayah membuka pintu dan pergi ke luar, mungkin dia merasa sangat kecewa denga napa yang telah terjadi pada anak kesayangannya itu. Aku bisa mengerti perasaan ayah karena baginya Danya adalah anak yang paling disayanginya melebihi aku, anak kandungnya sendiri. Aku menghampiri Danya dan langsung menampar pipinya dengan keras. Rasa marahku berada di ubun-ubun dan aku tidak bisa membendungnya lagi. Danya tidak terima aku perlakukan seperti itu, dia balas menamparku yang pada akhirnya kami saling berkelahis sampai suara tangis bayi menghentikan perkelahian kami. Kejadian tak terduga tiba-tiba datang lima bulan setelah kematian ibu, bayi Danya demam, kami yang tidak tahu menahu dalam mengurus bayi segera membawa Dara, nama bayi itu ke puskesmas, namun pihak puskesmas mengatakan bahwa Dara harus dirawat di rumah sakit, kami pun membawanya ke rumah sakit. Aku dan ayah bergantian menjaga Dara, sedangkan Danya pergi bekerja di sebuah toko pakaian. Selama ini kuliah Danya berantakan, bahkan dia drop out dari kampusnya. Aku semakin membenci wanita sok cantik itu, ayah membayar biaya kuliah dan kebutuhan hidupnya selama di luar kota, sedangkan dia asyik-asyikan membuat dosa. Tapi  bagaimanapun Dara sama sekali tidak bersalah, dia bayi mungil yang tak berdosa, yang bersalah itu adalah Danya dan laki-laki tidak bertanggung jawab yang telah seenaknya membuat keributan ini. Danya segera datang setelah aku meneleponnya bahwa Dara dirawat di rumah sakit. Namun amat disayangkan, Dara, bayi mungil tak berdosa itu meninggal karena kurang gizi. Aku menangis tersedu-sedu, merasa kasihan pada bayi yang tak berdosa itu. Sedangkan Danya hanya mematung, tak kulihat air mata sedikitpun dari matanya. Aku marah padanya, memaki-makinya karena tidak becus menjadi seorang ibu sehingga membuat bayi yang tak berdosa meninggal sia-sia. Ayah berusaha menenangkanku, Danya hanya diam tak berkutik. Esoknya setelah pemakaman Dara, Danya menghilang, dia hanya menuliskan secarik kertas yang ditempelkannya di atas meja, isinya ucapan selamat tinggal. Kemarahanku sudah habis, kurang dari satu tahun aku harus menghadapi dua kematian sekaligus, hal itu membuat mentalku down. Apalagi sekarang ayah sakit-sakitan, dia sudah tidak bisa bekerja lagi. Dan aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena tidak ada biaya. Aku mengecam Danya yang telah menghancurkan mimpi-mimpiku yang berharga. Aku tenggelam dalam kesedihan, namun aku tak bisa berkubang rasa sedih terus menerus, aku pun mulai mencari pekerjaan dengan modal ijazah SMA. Aku pun mendapatkan pekerjaan sebagai pramuniaga di sebuah toko buku di kotaku. Namun bekerja di sana adalah awal dari neraka bagiku. Aku sudah tidak mempedulikan Danya, dan tidak berniat untuk mencari keberadaannya. Sedangkan ayah, dalam sakitnya terus-terusan mencari-cari keberadaan Danya, sampai akhirnya ayah meninggal dan dia berpesan padaku untuk mencari Danya. Aku agak marah pada ayah, karena saat sekarat pun ayah masih saja memikirkan anak yang tak tahu diri itu. Sedangkan aku tidak ayah pikirkan sama sekali, padahal selama ini aku yang telah mati-matian mengurus dan berkorban untuk kesembuhan ayah. Aku merasa menjadi orang yang malang sedunia. Tidak memiliki siapapun yang bisa menghiburku. **            Membaca tulisan Maya membuat mataku basah, aku kasihan padanya karena telah berjuang sendirian di usia semuda itu menghadapi kerasnya dunia. Tapi di sisi lain aku juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Danya, aku yakin Danya juga memiliki luka yang sama. Aku semakin pensaran dengan apa yang telah terjadi kepada keluarga itu, yang pada dasarnya adalah keluarga bahagia. Namun karena setitik rasa dengki, kebahagiaan itu jadi hancur. Membaca catatan Maya membuatku teringat dengan ayah yang sudah lama tidak aku temui, sedang apa ayahku sekarang? Apakah dia sehat? Apakah aku harus meneleponnya untuk menanyakan kabar? Tapi aku takut, takut jika ayah marah padaku atas apa yang telah aku lakukan padanya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD