Pohon mangga berada di sisi kanan, terlihat asri, tetapi begitu menyeramkan. Pohon dengan usia hampir 100 tahun itu, berada di Indonesia, akan di cap sebagai pohon keramat, mungkin juga masih ada di Korea hal-hal seperti itu.
Langkah kaki Rai masuk ke dalam rumah, rumah yang begitu suram, seperti sebuah kastil seram di tengah hutan.
Dinding batu bata yang terlihat berlumut, lantai yang terlihat begitu kusam, ketika masuk akan diperlihatkan sebuah rak sepatu, belok kanan akan di temukan sebuah ruang tamu, cukup melirik ke arah kanan telah melihat dapur keseluruhan.
“Tertutup...” kata Rai. “Tidak memiliki teman, frustasi, mendapatkan penganiayaan fisik secara terus menerus, melihat buku yang ada di dalam dia seorang pecinta buku, selalu berimajinasi dengan dunianya, menulis. Emosinya tertinggal di dalam hatinya, dan meledak ketika mendapatkan pemicu,” kata Rai.
Buku-buku yang berada di dalam rak adalah buku-buku bergenre roman, tidak ada thriller.
Hanya terdapat beberapa buku thriller di atas mejanya.
Alat yang digunakan untuk menandai korban ada atas meja.
“Kau menemukan sesuatu?” tanya Benua.
“Sepertinya dia tidak memiliki teman, tidak ada foto ataupun hal-hal yang berhubungan dengan sekolah di sini, dia bahkan tidak memiliki foto. Jas itu telah berdebu, mungkin telah lama tidak digunakan olehnya.” Rai menunjuk ke sebuah jas yang tengah tergantung.
“Korban bullying seperti ini, cenderung menutup dirinya pada kehidupan sosial, dia lebih suka menghabiskan waktunya di dalam rumah, buku-buku ini sudah pasti dibeli olehnya.”
“Rapi, dia menyukai kebersihan.”
“Apa itu mungkin?” tanya Benua. “Dia bahkan membuat ayahnya duduk di sofa, alih-alih memakamkannya,”
“Korban kekerasan, dia salah satu korban kekerasan. Dia membenci ayahnya, tapi juga menyayangi ayahnya,” kata Rai. “Dia tidak menguburkan ayahnya karena dia berpikir, hanya pria itu yang dia miliki.”
Rai dan Benua keluar, dari rumah itu. Mereka mencoba untuk mencari tahu, dari luar. Beberapa saat mereka keluar dari rumah itu. Sesuatu terjadi.
Dor! Dor ! Dor!
Suara letusan terdengar, membuat semua orang yang berada di luar rumah, termasuk Benua seketika berlari ke dalam rumah. Benua berlari cukup kencang, ketika mendengar suara letusan senjata. Begitu pula dengan mereka yang mendengar hal itu.
Langkah kakinya terhenti ketika melihat Galen yang tergeletak di atas lantai. Ruangan yang tengah dilihat olehnya begitu berantakan, menandakan jika telah terjadi sesuatu di tempat itu.
Benua menghela nafasnya dengan panjang. Sejenak dia terkejut dengan apa yang terjadi.
“Huh! Ga … galen … apa yang terjadi di sini?” tanya Benua sambil memegang sang adiknya.
Raut wajahnya terlihat begitu sangat khawatir. Apalagi saat mendapati Galen yang telah bersimpah darah.
“Ka … kak …” Suara Galen terdengar begitu terbata-bata, parau, bahkan begitu serak.
Ia tengah berusaha untuk tidak meringis karena rasa sakit yang dirasakan nya itu. Benua menghampiri Galen, kemudian memeluk anak jenius itu.
Darah milik Galen membuat pakaian yang dipakai oleh Benua ternoda dengan darah.
“Ka … kau terluka. Jangan banyak berbicara,” ucap Benua sambil berusaha untuk menenangkan Galen. Sesekali, ia melihat ke arah seluruh ruangan itu. Ruangan yang dikatakan oleh Galen jika terlihat aneh.
“Di … dia tiba-tiba datang, dan aku tidak menyadari keberadaannya. Terjadi begitu saja. Seakan dia melihat kita tetapi juga bersembunyi,” jelas Galen dengan terbata-bata.
“Berhentilah berbicara, kau akan membuat darah terus mengalir keluar dari lehermu.”
“A … aku minta maaf. Ak … aku …” seru Galen membuat Benua begitu kesal.
“Jangan bicara lagi, diamlah. Kau akan memperburuk keadaanmu.” bentak Benua.
Rai yang tengah melihat hal itu hanya bisa menahan tangisnya. Apalagi darah yang dilihatnya cukup banyak.
“Panggil dokter, cepat,” teriak Benua.
Salah seorang menelpon, tangan Benua tengah menahan darah yang terus mengalir dari leher Benua.
Davin yang baru saja masuk, ketika melihat apa yang terjadi pada Galen membuatnya seketika terkejut.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Di … dia pergi ke sana, dia melewati dinding itu,” kata Galen sambil menunjuk ke arah kanannya kemudian dia tidak sadarkan diri.
Semua mata melihat ke arah galen menunjuk namun tidak menemukan apapun selain tembok di sana.
“It … itu dinding.”
“Apa yang dia maksud, tempat tersembunyi?” tanya Benua sambil menatap ke Davin.
“Apa maksudnya, ruang rahasia?” tanya Davin, sambil menuju ke arah dinding yang ditunjuk oleh Galen.
Davin mencoba mencari apa yang dimaksud oleh Galen, membuat pria itu mengetuk-ngetuk dinding, untuk mencari jalan masuk.
“Kenapa dokter belum juga datang?” tanya Benua membuat tim yang ada di sana saling berpandangan satu sama lain.
“Apa kalian tidak memanggil dokter?” tanya Benua.
“Ka … kami menghubungi mereka, mungkin sebentar lagi akan sampai,” jelas salah satu dari mereka.
Brak!
Seorang dokter baru saja datang. “Bawa dia ke dalam mobil,” kata dokter itu.
“Tolong, lehernya …”
“Iya, tenanglah. Aku akan melakukan yang terbaik,” kata pria itu.
Benua hanya bisa melihat Galen yang di bawah keluar menggunakan tandu.
“Aku masih belum menemukan apa yang dikatakan oleh galen, apa yang dia maksud. Tidak ada pintu,” kata Davin.
“Dia tidak mungkin mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal,” kata Benua sambil memperhatikan tempat itu.
“Kalian juga, cepat cari, sesuatu yang bisa membuka ruang rahasia, atau apapun itu. kalian harus segera membantuku,” titah Benua.
Davin menghela nafas panjang, sambil duduk dan bersandar pada sebuah dinding karena begitu kelelahan.
Tuk! Aaaa …
Buk!
Suara tubuh yang terjatuh.
“Davin, kamu di mana?”
Pria yang masuk ke dalam, hanya bisa meringis sambil meraba tempat yang saat ini dia berada.
“Ini ruang rahasia?” tanyanya sambil memperhatikan ruangan gelap itu. “Gelap, aku tidak bisa melihat,” kata Davin, membuatnya mengambil ponsel dan menyalakan senter.
Baru saja dia menyalakan senter, seketika membuatnya terkejut karena melihat sebuah wajah yang tengah menatapnya.
“Aaaa …” teriaknya. “Ke … kepala, aa … ada mayat di sini …” rengeknya.
“Benua … Benua … Benua ... cepat turun ke sini.” Davin berteriak dari dalam sana. Suaranya lebih terlihat begitu ketakutan.
Sedangkan pria yang tengah dipanggilnya, tengah bingung mencari pintu yang akan membawanya ke tempat Davin berada.
Davin yang menyadari tidak adanya Benua yang dipanggilnya sejak tadi, membuatnya langsung naik.
“Hei ke sini, kau harus melihatnya,” kata Davin.
Benua turun ke bawah dan melihat apa yang ditemukan oleh Davin.
Bau yang menyengat, membuat mereka yang masuk seketik mau.
“Tempat apa ini, kenapa begitu bau,” keluhnya.
“A … aku melihat ada kepala manusia di sini,” kata Davin.
“Di mana?”
“Di bawah kakimu,” kata Davin sambil menyinari kaki Benua dengan cahaya ponselnya.
“Oh, sial,” umpatnya.
“Kalian yang di atas, bawa penerang ke sini.”
“Tunggu, sepertinya di sini memiliki lampu. Kita hanya butuh mencari saklar lampunya,” kata Davin.
Davin mencari saklar lampu.
“Aku menemukannya,” kata Davin.
Clek!
Baru saja pria itu menghidupan lampu, suara teriakan terdengar.
Benua yang melihat apa yang tengah berada di ruangan itu, seketika hanya bisa mengaga. Tubuh manusia yang tengah tergantung, kepala manusia, dan potongan tubuh yang lain, terlihat begitu banyak potongan tubuh.
“Apa ini … ini semuanya …”
Ada yang mual ketika melihat isi ruangan itu, termasuk Davin.
“Vin, pergilah untuk minum obat.”
“Ini gila. Dan sangat gila,” kata Davin sambil naik ke atas.
Sesampainya di atas pria itu seketika muntah, dia tidak bisa menahan lagi apa yang dilihat olehnya.
“Berikan aku obat,” kata Davin sambil keluar mencari dokter yang tengah menangani Galen.
“di dalam sana, sangat gila,” kata Davin. “Begitu banyak mayat yang tengah digantung, aku tak sanggup berada di sana,” curhat Davin.
“Bagus, kau selalu melihat mayat, dan kau hanya tertawa ketika aku menceritakannya padamu.”
“Aku sudah seperti ini, lagi pula tugasku.”
Davin merebahkan tubuhnya di dalam mobil sambil mencoba menghilangkan rasa mual yang masih dia rasakan. Rasa pusing pun kini berada di kepalanya.
Sedangkan di ruang bawah tanah, Benua tengah memeriksa apa yang bisa dijadikan bukti, untuk menangkap pelaku pembunuhan.
“Telepon bagian forensic, suruh mereka memeriksa ini. Aku ingin mereka segera datang ke tempat ini,” kata Benua
“Baik,”
Tidak ada rasa mual yang dari pria itu.
“Dia bukan manusia, jika telah membunuh begitu banyak orang dan menggantungnya seperti ini, dia pikir manusia adalah hewan,”
“Mungkinkah dia menjualnya?”
Benua melirik pria yang mengajukan pertanyaan.
“Baru-baru ini, viral tentang daging yang beredar dipasaran, bukan daging sapi, tapi daging manusia, ini sangat masuk akal.”
“Jika seperti itu, ini bukanlah kasus pembunuhan saja, tapi perdagangan tubuh manusia, dan organ tubuh yang lain, dan ini adalah sebuah kasus berat.”