27. Jangan mendekat

1259 Words
“Apa kamu bisa merasakan bagaimana kau membuatku ketakutan?” tanya gadis itu. Mata Mira membulat saat melihat siapa gadis yang berada di seberang video. Ia sangat jelas mengetahuinya. “Ka—kamu…” “Hallo Mira…” sapa gadis yang sedang berada di seberang vidio kemudian terkekeh. Gadis itu masih melambaikan tangan sambil tersenyum. Seakan apa yang telah dilakukannya adalah sesuatu yang sangat-sangat menyenangkan baginya. Bagaimana tidak, senyuman yang diperlihatkannya seakan tengah mengejek wanita di seberang telpon. “Kamu yang melakukan ini padaku?” tanya Mira, dijawab anggukkan oleh gadis itu. Anak remaja di seberang video memperlihatkan senyuman yang sangat-sangat mereka, ia bahkan tidak ada rasa bersama sedikitpun. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa kau jahat padaku, aku masih belum ingin mati, kenapa kau menyuruh mereka membunuhku?” Mira bertanya, alasan wanita itu membuatnya menjadi korban game yang ia sendiri tidak tahu, game apa yang sejak awal dibicarakan oleh pria itu. Revenge Game? Entahlah. Ia tidak tahu. “Terus… bagaimana denganmu! Kau tidak memikirkan bagaimana orang lain, yang telah kau dzolimi,” kata gadis berambut bob itu. “Kami yang telah kau tindas, hingga Naura meninggal karena bunuh diri. Kau bahkan tidak datang ke pemakamannya saat itu, atau meminta maaf padanya. Tidak pernah! dan Sekarang kau bertanya kenapa?” Suara anak gadis di seberang video begitu menggelegar penuh emosi serta penekanan yang membuat membuat Mira terkejut. Ia tidak percaya jika wanita itu bisa membentak serta emosi seperti itu. Mira menelan salivanya, mematung dan terlihat tengah berpikir. Ia mencoba mencerna tiap kalimat yang di dengarnya. “Tidak ada yang sanggup membuatmu jera, jadi lebih baik jika kau pergi dari dunia ini dengan cara yang tidak baik juga. Lagi pula, aku sangat bersyukur bertemu aplikasi ravenge ini. Jadi aku bisa membalaskan dendam mereka,” tandas anak gadis itu sambil tersenyum. Ya. Anak itu bahkan awalnya berpikir jika apa yang saat itu dia lakukan adalah sebuah lelucon, siapa yang akan menyangka jika itu benar-benar terjadi. Semakin dia mencari tahu mengenai game tersebut, membuatnya semakin ingin menggunakannya. Walaupun dia tahu akibat dari apa yang dimainkannya. Game yang membuat orang-orang dalam bahaya, adalah sesuatu yang sangat ilegal, tidak hanya ilegal jelas akan ditangkap oleh polisi karena kejahatan yang dilakukan. “Siaalllannn kau…” umpat Mira. “Aku akan membalasmu. Akan aku pastikan aku akan membalasmu berkali-kali lipat dari apa yang kau lakukan padaku,” geram Mira. “Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa, berani sekali kau melakukan semua ini padaku.” Terlihat sangat jelas dari matanya yang begitu merah, menampilkan emosi yang begitu meluap-luap ingin membunuh gadis di seberang telpon itu. Mira memberontak berteriak, tetapi sia-sia saja dilakukan. “Berteriaklah sesukamu, aku ingin melihat bagaimana kematianmu. Tidak ada ampunan untukmu, gadis jahat sepertimu,” ejek gadis itu sambil tertawa. Melihat Mira yang begitu memberontak membuatnya sangat suka. Akhirnya dia bisa melihat seseorang yang menindas banyak orang kini tengah meronta-ronta di hadapanya, bahkan terlihat tengah menangis. Meminta untuk segera dibebaskan. Jelas dia tertawa dan bahagia, karena apa yang telah diinginkannya akan segera tercapai, lebih tepatnya telah tercapai. Ia benar-benar bisa mewujudkan apa yang diinginkannya tanpa harus membuat tangannya kotor. Dia bahkan bisa menyaksikannya secara langsung. Pria yang sedang memperhatikan interaksi kedua orang itu hanya tersenyum. Ia tidak pernah berpikir, jika ada anak remaja yang begitu ingin membunuh para temannya. Anak remaja itu terlihat begitu menakutkan, tidak bisa dilihat dari penampilan saja. “Sepertinya dia tidak mengampunimu. Gimana dong?” tanya pria itu melihat ke arah Mira sambil tersenyum. Senyuman itu begitu merinding, beberapa kali pun, Mira melihat wajah pria itu tetapi saat pria tersenyum begitu mengerikan dilihat olehnya. Ya. Sangat-sangat menakutkan. Apalagi pria itu tidak memiliki belas kasih padanya. Mira kembali merinding dengan apa yang sedang terjadi padanya. “Tidak … tidak … kumohon. Please, tolong ampuni aku. Aku tidak akan melaporkanmu, aku janji. Aku benar-benar janji tidak akan mengganggumu lagi. jika kau melepaskanku aku tidak akan melaporkanmu. Serius, aku benar-benar serius.” Wanita di seberang telepon itu terdiam, melihat wanita yang tengah memohon padanya. Begitu kasihan, tetapi Mira perlu diberikan pelajaran, telah banyak anak-anak yang menjadi korbannya. Jika terus dibiarkan akan menjadi-jadi, dan tidak pernah benar-benar berubah. Jadi, apa salahnya jika yang harus memberikan hukuman yang setimpal pada anak itu. Tidak merasakan penyesalan, setelah melakukan kejahatan, tidak meminta maaf. Itulah yang dilakukan oleh seorang Mira, dan kini dia meminta maaf? rasanya tidak akan pernah dimaafkan olehnya, setelah yang dilakukannya pada banyak orang. Mungkin jika hanya satu korban itu tidak masalah, tapi ini cukup banyak korban. Seakan Mira adalah penguasa, serta seorang rentenir yang berwujud anak remaja. Dia harus diberikan pelajaran, agar tidak lagi melakukan kejahatan. “Bagaimana? Apa kau mengampuninya?” tanya pria itu sambil melihat anak remaja yang berada di dalam video call kemudian melihat ke arah Mira yang saat ini tengah mencoba untuk melepaskan ikatan yang saat ini tengah berada di hadapannya. “Tidak. Dia harus diberikan pelajaran yang tidak akan membuatnya mengulangi hal yang sama,” tegas anak gadis itu. “Jadi kau tidak mengampuninya?” tanya pria itu. Hanya suara yang bisa didengar oleh gadis berambut bob itu. Dia cukup penasaran dengan anak remaja itu, ia cukup tertarik dengannya. Apalagi memiliki pendirian yang tidak gampang goyah. “Ya, untuk apa aku mengampuninya. Lebih baik mati, daripada dia hidup. Dunia tidak akan kehilangan gadis yang kerjaannya membully dan memalak uang orang lain, menindas orang lain terus menerus,” kata gadis itu dengan tegas. Tidak ada tawar-menawar ataupun hal yang membuatnya berpaling dari keinginannya itu. Tidak akan ada yang mengingatnya. Hal itu lebih baik. Dia benar-benar akan membuat sekolah terasa lebih baik. Walaupun jika hal yang paling buruknya dia harus berhadapan dengan hukum, setidaknya dia bisa menghilangkan satu orang di dunia dan menyelamatkan banyak orang dari pembullyan. “Oke. Aku kunci perkataanmu. Tidak ada pengampunan untuk gadis ini, jadi aku bisa mulai mengeksekusinya. Kau ingin melihatnya?” tanya pria itu lagi. Pria itu menatap anak itu, sangat jelas terlihat ekspresi yang ingin menonton adegan mengakhiri nyawa seorang Mira. “Ya. Aku ingin melihat bagaimana kau membunuhnya. Aku ingin melihat dia merintih dengan kesakitan, meminta tolong menjerit, dan berteriak-teriak, aku ingin penderitaan yang sangat dia rasakan,” ucap wanita itu sambil tersenyum penuh kemenangan. Bagaimana seseorang yang akan mengakhiri nyawa orang lain. Apakah itu sangat menyenangkan untuk ditonton atau tidak. Dia belum pernah menyaksikan secara langsung pembunuhan, karena itu ia sangat penasaran untuk melihatnya secara langsung. Apakah begitu mengerikan ataukah biasa-biasa saja seperti yang dia nonton di flem-flem. “Aku suka cara berpikirmu gadis kecil,” kata pria itu sambil memilih topeng yang akan digunakan olehnya. Tubuh Mira begitu ketakutan, tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dia berteriak sebisanya, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang bisa mendengarkan suara teriakannya, karena ruangan tempat dia berada kedap suara, dan berada di ruang bawah tanah. “Percuma berteriak anak manis, tidak ada yang bisa mendengar suara teriakan mu, sekalipun itu teman-temanmu yang berada di atas,” kata pria itu sambil tersenyum devil. Mira begitu ketakutan, sekeras apapun dia berteriak memang percuma saja tidak ada yang mendengarkan suara teriakannya saat itu. Dia bahkan tak tahu, di mana dia berada. Berawal dari mengajak pria asing, akhirnya membuatnya berada di ruangan kedap suara itu bersama dengan potongan mayat-mayat, dia tidak habis pikir, bagaimana bisa semuanya menjadi kenyataan. dia tidak ingin mati mengenaskan, apalagi menjadi korban pembunuhan. “Jangan mendekat!” pinta Mira pada pria itu, di tangan pria itu terlihat sebuah kapak yang begitu mengkilap ketika terkena cahaya lampu saat itu. Ayunan kapak membuat Mira begitu histeris. “Ahahaha…” pria itu seketika tertawa, saat melihat ekspresi Mira yang begitu ketakutan, menutup matanya namun tubuhnya bergetar hebat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD