31. Ruang Interogasi

1162 Words
“Tidak, buat dia dilihat oleh orang-orang. Aku ingin mayatnya dilihat dan menjadi bahan perbincangan orang-orang agar semua hal tentang dia terdengar di telinga orang tuanya. Aku ingin orang tuanya tahu, bagaimana sifat anaknya di luar sana begitu tidak terkendali dan suka semena-mena pada banyak orang. Aku ini dia terlihat hina,” kata gadis berambut bob. “Wah, kau begitu marah padanya. Rasa bencimu, sepertinya begitu besar, ya?” tanya pria itu pada anak di seberang. “Ya. Aku sangat membencinya. Sangat-sangat ingin dia kehilangan nyawanya untuk membalaskan rasa sakit, serta dendam dari para korban termasuk diriku,” ucap anak itu dengan tegas. Di dalam ruang interogasi, anak itu terlihat begitu biasa-biasa saja, seakan tidak terjadi sesuatu yang begitu luar biasa terjadi. Benua yang melihat hal itu, hanya bisa menghela napas dengan kasarnya. Untuk beberapa kali ia bertanya, tetapi anak itu tetap saja diam. Seorang anak remaja melakukan tindakan kriminal, rasanya dunia seperti terlalu kejam hingga membuat anak remaja melakukan kejahatan yang tidak seharusnya dilakukan. Anak itu tengah menatap sekeliling tempatnya duduk saat ini. Ruangan yang cukup dingin, serta lampu yang remang, tetapi tidak membuatnya ketakutan. Wajahnya terlihat begitu santai. “Sepertinya dia tahu apa yang terjadi padanya,” seru Galen yang saat ini tengah memperhatikan anak yang berada di dalam ruangan. Rai pun memperhatikan dengan seksama anak itu. Sebagai seorang Profesor Psikologi, melihat hal yang berada di hadapannya membuatnya cukup menarik. Bagaimana tidak, ia sangat jelas ketahuan secara langsung oleh Benua tetapi tidak ada rasa takut sama sekali. Sejak penangkapannya di sekolah, bukan rasa takut yang diperlihatkannya, tetapi senyuman yang tidak pernah berhenti diperlihatkannya. “Dia tidak ada rasa takut sama sekali, bahkan saat kita menangkapnya,” ucap Rai. “Ya. Sama sekali tidak ada rasa takut sama sekali, karena dia merasa jika dia telah melakukan hal yang benar,” ucap Galen sambil terus memperhatikan wanita yang hampir seumuran dengannya. “Mungkin karena dia apa yang dilakukannya sudah tepat.” Rai menghela napas dengan pelan, menatap anak itu dengan tatapan penuh menyelidiki. “Sepertinya akan sangat susah untuk mengintrogasinya,” seru Galen. Ia sangat yakin jika mereka pasti akan sangat kesulitan untuk membuat anak itu mengaku, jika dia adalah pelaku dari pembunuhan itu. Galen menghubungi Benua yang berada di ruang interogasi, membuat pria itu menatap ke arah anak remaja yang saat ini tengah berada di hadapannya. Bahkan tengah tersenyum, tanpa rasa sakit sama sekali. Benua kembali duduk menatap anak itu. “Kenapa kau membunuhnya?” tanya Benua sambil menatap dingin gadis remaja yang ada di hadapannya saat itu, berharap dia dapat membuat anak itu takut. “Jawab.” Benua membentak anak itu. Benua yang membentak tidak membuatnya ketakutan atau bergeming, seakan dia telah mengetahui apa yang akan terjadi padanya. Rai dan Galen yang berada di balik kaca hanya bisa menganga melihat apa yang di hadapan mereka. “Aku tidak membunuh mereka. Bukan aku yang membunuhnya,” jawab gadis itu dengan tegas sambil tersenyum ketika menjawab membuat Benua sedikit terpancing emosi. “Ka… kau…” “Apa kalian mendapatkan bukti aku membunuhnya? Apa aku terekam CCtv? Apa kalian—“ “Diam—“ bentak Benua membuat gadis itu menghentikan perkataannya sambil mengatupkan bibirnya hingga membuat sebuah suara. “Wah. Gila. Dia berani melakukannya. Menantang kakak,” seru Galen sambil memberikan tepuk tangan pada anak itu. Baginya anak yang berada di ruang interogasi luar biasa. Anak itu benar-benar menantang Benua, pria yang paling membuat para tersangka mengakui perbuatannya. Sedangkan Benua, mengusap wajahnya karena anak yang di hadapannya tidak mengakui perbuatannya. Hal itu, membuat Benua keluar dari dalam ruang interogasi sambil memijat kepalanya. “Huft…” Benua menghela nafasnya dengan kasar, sambil duduk dan menyandarkan kepalanya di dinding. Ia ingin mengeluarkan seluruh emosi yang saat ini membuatnya stress. “Kenapa?” tanya Galen berpura-pura tidak tahu apa yang dialami oleh sang kakak itu. “Anaknya susah diajak bernegosiasi. Berapa kalipun dibentak, tidak akan berguna baginya, seakan dia benar-benar tidak melakukannya,” kata Benua sambil membuat segelas kafein dan menyeruputnya. Rai ikut duduk di dekat Benua. “Dia meyakini jika apa yang dilakukannya adalah hal yang benar. Anak yang meninggal adalah dua anak dari satu geng yang sering membully, dan dia merasa jika menghilangkan dua orang itu adalah hal yang benar. Karena itu dia begitu percaya diri dengan apa dilakukan. Anak remaja selalu bersikap seperti itu. Dia beranggapan jika telah dewasa.” Rai menjelaskan secara psikologi mengenai sifat anak remaja yang dilihatnya. “Kejahatan tetaplah kejahatan. Tidak ada pembenaran atas itu, rasanya jika berhadapan enak anak remaja adalah hal yang paling sulit. Apalagi saat seseorang mendukung perbuatan mereka,” ucap Benua. “Hei. Mau ku coba berbicara dengannya?” tanya Galen membuat Benua mengerutkan keningnya. “Jangan memasang wajah seperti itu. Biarkan aku mencobanya,” pintah Galen. Ia menatap Benua penuh harap agar diberikan izin untuk masuk dan melakukan interogasi pada anak itu. “Biarkan dia mencobanya, mungkin jika berbicara dengan Galen, anak itu akan terbuka mengingat mereka hampir seumuran,” ucap Rai. “Oke. Aku akan cobanya,” seru Galen, padahal Benua belum juga memberikan izin agar dia menganggantinya. Clek! Galen melangkah pelan masuk ke dalam ruangan. Ia menatap gadis yang tengah menundukkan kepalanya, beberapa saat sebelum dia duduk di kursi depan meja interogasi saat itu. Saat melihat siapa yang saat ini tengah duduk di hadapannya, raut wajah anak gadis itu berubah. “Sepertinya kau memikirkan sesuatu,” kata Galen dengan santainya. “Kak Galen,” seru gadis itu sambil membulatkan matanya melihat Galen. Kak Galen? Rai dan Benua yang saat ini berada di balik kaca saling berpandangan satu sama lain, bahkan memperlihatkan raut wajah yang aneh. Anak itu memanggil Galen dengan begitu ramah. “Wah… Ternyata kau mengenalku. Hm, apa aku cukup popular di sekolah?” tanya Galen, berusaha untuk memancing anak itu agar tidak terlalu formal dan mengobrol dengan baik. “Tentu saja, aku bahkan membuat klub—“ Gadis itu tiba-tiba menghentikan bicaranya ketika melihat Galen yang tengah tersenyum. “Kenapa berhenti, lanjutkan saja. Aku akan mendengarkan apa yang ingin kau katakan, aku bahkan tidak pernah mengira ada yang membuat klub penggemar untukku,” ucap Galen. Benua yang melihat raut wajah Galen yang seperti itu, menyipitkan mata. Anak itu harusnya mengintrogasi tetapi bukan interogasi yang dilakukannya tetapi membahas hal lain, jelas ia sangat kesal karena itu. “It … itu…” Gadis itu terbata-bata di hadapan Galen, ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi, seakan pria di hadapannya itu membuatnya begitu gugup., dan tidak bisa berbicara. “Aku suka,” kata Galen. Benua menghela napas dengan kasar melihat kelakuan Galen yang seperti itu. “Gila anak itu,” umpat Benua sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Galen di ruang interogasi. “Selalu tebar pesona, tapi tidak ingin digangguin para pengemarnya.” “Kita lihat saja dulu, bagaimana dia membuat anak itu membuka suara. Sebagai sesama usia, pasti mudah mengambil hati anak itu, apalagi dia mengatakan membentuk fans klub untuk Galen.” Rai berusaha untuk meyakinkan Benua, untuk membiarkan Galen menanganinya, ia yakin jika anak itu tahu apa yang dia lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD