“Kau mencariku, Detektif Benua?” Sebuah suara terdengar membuat Benua mengepalkan tangannya. Ia tidak percaya akan mendengar suara pria yang tengah dikejar olehnya. Begitu berani pria itu menghubunginya.
Benua melihat nomor yang tengah menghubunginya itu. Nomor baru. Dia tidak tahu, bagaimana pria itu mendapatkan nomornya.
“Sepertinya kau tengah mencariku, hehehe …” Suara tawa mengejek terdengar.
Benua mengepalkan tangannya, membuat ponselnya ikut di remat olehnya, karena pria di seberang telpon tengah mengejek dirinya.
Ya. Itu adalah sebuah penghinaan untuknya. Apalagi pria itu menelpon saat mereka gagal untuk mengamankan seorang saksi.
“Kau …”
“Ahahaha … aku bisa tahu, jika kau sedang emosi dan ingin segera mencariku bukan? Tapi, jika kau menemukanku dengan cepat. Permainan ini akan segera berakhir.” Suara kekehan terdengar membuat Benua mengepalkan tangannya dengan erat.
“Aku pasti akan menangkapmu. Akan aku pastikan menangkapmu dengan tanganku sendiri,” geram Benua membuat pria yang berada di seberang telpon terkekeh.
“Ya, itu yang aku inginkan.”
“Dasar pengecut, hanya bisa berani berlari dan menyembunyikan diri.”
“Hahaha … anggaplah sesukamu, tapi kulakukan agar game ini tidak berakhir dengan cepat. Lagi pula, jika aku tertangkap dengan cepat, bukankah game ini begitu mudah?”
“Persetan dengan game yang kau katakan, kau menjadikan mereka sebagai pemain dalam game? Membunuh dan membuat para warga ketakutan, kau katakan ini game?” tanya Benua dengan penuhi emosi.
Pria di seberang telpon itu, hanya menganggap jika mereka tengah bermain game, dan menjadikan pemain yang tidak lagi dibutuhkan akan dibunuh oleh mereka. Rasanya mereka begitu kejam. Itulah yang dipikirkan oleh Benua.
“Ya, ini adalah game dunia nyata. Mereka menjadi takut padaku,” ucap pria itu. “Ahahah … aku akan menunggumu, aku akan menunggu kau menemukanku. Sampai ketemu di next game yang lain.”
Tut!
Suara ponsel terputus. Pria itu memutuskan telpon secara pihak. Benua mengepal tangannya dengan erat.
“Aarrgghh … sial,” umpat Benua sambil menendang dinding dan menonjok dingin membuat tangannya terlihat memar.
Dia benar-benar ditantang oleh pria itu, bahkan menantang bertemu di game sebelumnya.
“Kenapa kau berteriak?” Sebuah suara mengejutkannya. Benua mencoba untuk menstabilkan emosinya. Ia tidak ingin terlihat begitu emosian di hadapan wanita yang baru saja datang.
“Oh, Rai. Tidak apa-apa, aku hanya frustasi tidak menemukan pelakunya, dan begitu banyak orang yang tewas karenanya,” jawab Benua sambil tersenyum walaupun dia tersenyum dengan paksa.
“Bukan salahmu. Kau telah berusaha,” kata Rai mencoba untuk menenangkan Benua dengan memeluk pria itu dengan tiba-tiba.
Dia di peluk oleh seorang wanita? Ia belum pernah dipeluk oleh wanita selain sang Umi dan kini dia … Benua jelas sedikit terkejut, tetapi ada perasaan tenang ketika gadis di depannya memeluknya dengan lembut.
Apa pelukan begitu hangat, dan membuatnya tenang? Beberapa saat posisi mereka masih sama, hingga Benua menerima telepon membuat mereka berdua terkejut.
“Ah, maaf,” kata Benua sambil agak menjauhkan tubuhnya dari Rai, keduanya terlihat malu-malu.
Benua segera mengangkat telpon yang masuk itu.
“Kamu di mana?”
“Kau menelfonku, untuk bertanya aku di mana?” tanya Benua pada pria di seberang telepon yang tengah berdecak pinggang sambil mengacak-acak rambut pirangnya itu.
“Aku serius bertanya padamu. Kau di mana?” Pertanyaan pria di seberang telpon terdengar serius membuat Benua mengatur nada bicaranya.
“Di kantor polisi. Anak itu dibunuh di ruang interogasi, dan pembunuhnya—“
“Kabur?” sela pria di seberang telpon.
“Ya, seperti itulah Dav.”
“Datang ke kantor kita sekarang. Aku ingin menunjukan sesuatu padamu, sekarang juga. Aku ingin mengatakan secara langsung padamu bukan lewat telepon,” ucap Davin membuat Benua mengerutkan keningnya.
Kenapa Davin memintanya kembali ke kantor mereka. “Katakan saja,” pinta Benua.
“Tidak bisa. Ini sangat sulit dijelaskan, kau atau kalian harus melihatnya secara langsung,” ucap Davin. “Huh! Lagi pula, jarak kantor kita dengan kantor utama tidak terlalu jauh. Kenapa tidak langsung datang saja, sih?”
Benua yang mendengar perkataan itu hanya bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kata-kata kasar.
“Baiklah, aku, Rai dan Darren akan segera kembali ke kantor,” ucap Benua.
“Em. Bisakah sekarang? Ini mendesak.”
“Huh! Jangan bermain-main denganku, Dav.”
“Hahaha … bercanda, aku bercanda, jangan terlalu serius atau sepupuku akan kabur darimu,” ucap Davin membuat Benua merubah raut wajahnya setelah mendengar kalimat terakhir pria itu membuatnya kesal.
“Kau ingin mati sepertinya.”
“Hei, kenapa tidak melamarnya saja?” tanya Davin dengan dingin. Temannya itu sepertinya minta dihajar olehnya.
“Melamar siapa?”
“Hei, ayolah. Jangan pura-pura tidak tahu apa yang aku katakan. Siapa lagi yang aku maksud jika bukan sepupuku, Rai.”
Benua terdiam. “Hhmm, bisakah kita tidak membahasnya sekarang?”
“Kenapa tidak bisa? Ini waktu yang tepat, aku akan mengatakannya pada pamanku.”
“Diamlah, Dav.”
“Baik … baik … baik. Aku tidak akan membahasnya, jadi segeralah datang ke sini aku ingin menunjukanmu apa yang kutemukan.”
Benua menghela nafasnya kasar. “Baiklah, aku akan segera datang ke sana, 7 menit.”
“Tidak, itu terlalu lama pak. Bagaimana jika 5 menit, atau 3 menit.”
“Baiklah, aku akan usahakan itu.”
Benua menutup telponnya dan melangkah pergi dari koridor dengan cukup tergesa-gesa membuat Rai yang melihatnya segera menghampiri.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?”
“Tidak, ada apa-apa. Hanya Davin meminta kita untuk segera kembali ke kantor, dia ingin mengatakan sesuatu pada kita, dia ingin kita kembali ke kantornya.”
Rai mengerutkan keningnya. “Tapi kenapa?”
“Kau ingin ikut?” tanya Benua dijawab anggukan oleh Rai kemudian berlari keluar dan menuju mobil miliknya. Menekan gas, dan melaju dengan kecepatan yang dia bisa.
Davin hanya bisa tersenyum, sambil menggoyangkan gelas yang berisi wine melihat rekaman CCtv. Dia sudah bisa melihat Benua, Rai dan Darren telah sampai ke kantor tetapi tidak melihat Galen.
“Kemarilah. Akan aku tunjukan sesuatu pada kalian,” seru Davin yang melihat ke arah Benua, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian menunju laptop miliknya.
Sebuah tombol dipencet olehnya, dan kini menampilkan beberapa hal yang ingin diperlihatkan oleh Davin pada teman-temannya.
“Wow … itu sangat menakjubkan sobat,” sambut Davin ketika pria yang dipanggilnya untuk datang ke rumah telah sampai dengan sangat cepat.
“Tujukan padaku apa yang ingin kau katakan sebenarnya.”
“Baiklah, aku akan menunjukkannya padamu,” seru Davin sambil beranjak dari sofa sambil meletakan wine miliknya. “Mendekatlah, dan lihat ini.”
Terlihat algoritma di beberapa monitor. Davin mengetik beberapa huruf dan menekan enter membuat beberapa potongan gambar terlihat. Benua hanya bisa menatap layar monitor yang saat ini penuh dengan begitu banyak potongan gambar, hanya bisa menghela nafas dan menyebut nama Tuhan.
“Apa-apaan ini.”
“Ini semua berasal dari situs gelap yang menjual potongan-potongan gambar seperti ini. Tidak hanya potongan gambar, namun ada juga adalah vedio.”
“Oh tidak. Ini terlalu buruk,” seru Rai yang melihat video yang diperlihatkan oleh Davin pada mereka.
Walaupun dia telah melihat video dari situs gelap, tetapi melihat apa yang ada di hadapannya itu cukup buruk.
“Ya, buruk sekali. Bahkan begitu banyak para mahasiswa Indonesia yang mengakses situs ini. Membeli gambar, mengunduh video, dan ada pula yang menguploadnya. Ini adalah situs utama dari situs game revenge. Jadi, aku menyimpulkan bahwa kasus ini adalah kasus massal dan begitu banyak tersangka didalamnya, Ben.”
“Huh! Kita persempit saja. Cari pelaku pembunuhnya, dan juga pemilik situs web ini.”
“Ok. Aku bisa melakukannya, tapi aku harus pergi berjalan-jalan ke Amerika untuk melakukan ini.”
“Oke. Aku akan menguruskannya untukmu setelah ini.”
“Aku bercanda. Aku tidak perlu benda-benda mereka, karena …”
Tuk!
“Aku telah menemukannya.”
Beberapa video terlihat.
“Namanya Jordan Ihvan, umurnya 18 tahun, seorang mahasiswa.”
“Thanks Dav, aku akan mengirimkan tim untuk menangkapnya.”
“Berterima kasihlah ketika kau telah menangkapnya, dan traktir aku makan.”
“Aku butuh bantuan, kirimkan aku beberapa tim pembantu,” pintah Benua saat menelpon Jarvis.
“Hhmm … baik, aku akan mengirim tim ke sana.”
“Terima kasih, pak.”
Benua menghubungi beberapa timnya. “Bersiap-siaplah, Dav.”
“Oh tidak, kenapa aku harus ikut denganmu.”
“Kau ingin berganti pakaian sendiri atau aku yang akan membantumu mengganti pakaian?”
“Hm. Baiklah, Kap.”
Di seberang telpon terdengar Galen yang tengah berceramah sambil memakai sepatunya.
“Hei, aku ingin istirahat sebentar, setelah mengalami kejadian memalukan itu, dan aku harus bertemu dengan pria yang menggantungku di atas pohon secara terbalik dan menelanjangiku. Kau tahu, manusia robot. Itu adalah kejadian memalukan seumur hidupku,”
“Em. Sepertinya, itu tidak buruk menggantungmu di atas pohon dan membuatmu telanjang.”
“Ouw, shitt …”
“Kau tidak ada di sana, jadi kau tidak tahu bagaimana begitu malunya aku.”
“Diamlah, dan siapkan senjatamu,” tegur Benua membuat Galen beranjak dari tempat duduknya, dan menekan sebuah tombol di dinding, membuat dinding itu terbelah menampilkan ruangan rahasia.
“Oh yes. Sudah berapa lama aku tidak menggunakannya,” ucap Galen sambil mengisi peluru senjatanya.
Suara mobil terdengar, membuat Galen melompat dari lantai atas ke lantai bawah rumahnya.
“Hei, Einstein. Lompatan yang bagus, itu tidak buruk.”
“Diamlah jangan memanggilku seperti itu.”
“Dan, pakaianmu tidak buruk juga.”
“Kalian siap?” tanya Benua sambil menatap beberapa rekan kerjanya.
“Ya, siap.”