Benua baru saja keluar dari rumahnya akan segera berangkat. Di depan rumahnya telah terparkir sebuah mobil, dan adiknya yang tengah duduk di kursi depan memegang setir mobil.
“Sepertinya kita kedatangan tetangga baru, deh,” seru Galen yang melihat beberapa barang di hadapannya.
“Oh, itu. Rumah sebelah kita kan kosong. Jadi Umi menyewakannya saja, lumayan bisa nambah penghasilan bulanan, Umi.” Benua menganggukan kepalanya, dia tidak keberatan dengan itu.
“Dan kau, pergilah ke rumah sakit untuk mengecek kondisimu. Jangan malas atau aku benar-benar tidak akan membuatmu berada di lapangan lagi.”
“Kenapa kau begitu cerewet sih? Aku sering pergi ke rumah sakit untuk mengecek kondisiku, jadi tenanglah. Aku bukan anak remaja yang–”
“Kau masih remaja. Usiamu belum 20 tahun. Jangan membantah lagi. Jika kau tidak minum obat dengan benar, aku akan memaksamu meminumnya.”
Galen mengangkat ujung kanan atas bibirnya, pertanda dia tidak suka di ancam oleh kakaknya.
“Menyebalkan sekali.”
Sejak dua hari itu Benua memang memikirkan tentang ucapannya, dia kalah, dan harus menepati janjinya.
“Hati-hati bawah mobilnya, jika ada sesuatu yang terjadi segera hubungi,” kata Galen pada Benua yang baru saja akan segera pergi.
“Iya... Iya...”
“Jangan lupa minum obat dan pergi ke dokter.”
“Iya... Iya... Dasar Makhluk Es,” ejek Auris sambil menjulurkan lidahnya, setelah itu menancapkan gas keluar dari pekarangan rumah.
Beberapa orang yang tengah mengangkut barang terlihat. Lebih banyak buku-buku, yang tidak dimengerti olehnya.
“Maaf, kami mengantarkan barang-barang ini.”
“Iya. Iya. Silahkan lanjutkan,” kata Benua lagi, sambil meninggalkan kesibukan jasa pemindah barang.
Memilih untuk kembali ke rumah, setelah dua hari berada di rumah sakit. Benua bahkan tidak pernah bertemu dengan Rai sama sekali, jiwa pria itu terhina.
“Aku sudah memindahkan barang-barangmu ke rumah barumu. Ada tiga kamar tidur, dan lantai atas rumah. Aku akan memberikanmu alamatnya,” kata Ayah Rai.
Ayah Rai, memijat keningnya, ternyata kejadian yang dulu, terulang kembali. Begitu banyak nyawa yang melayang, begitu banyak tragedi yang terjadi. Pria itu—Lucas Venn Ardeon sukses memberikan kutukan pada pasangan muda yang telah merakit harapan bersama.
“Lucas... Satu selesai, satu lagi membuat rusuh,” kata Ayah Rai sambil menghela nafasnya dengan kasar.
Dia mantan polisi yang bertugas saat itu, namun memilih mengundurkan diri karena ikut dalam kejahatan menyembunyikan pelaku kejahatan.
Memilih menjadi Profesor dan membantu dalam penyelidikan sebagai seorang Profiler.
Dulu Rai memang penuh dengan Luka, namun ceria, ceria yang menutup lukanya. Kali ini berbeda, lukanya ditutupi dengan sikap dinginnya, tidak banyak berbicara. Rai naik taksi, sampai ke rumah baru miliknya, dia bertetanggaan dengan sebuah rumah yang hanya berbatas dinding dengannya.
Tahun telah berganti, dia melewati tahun baru dengan berbaring di rumah sakit.
“Apa yang terjadi dengan mobilku? Astaga. Aku tidak percaya ini terulang lagi,” ucap Ayah Rai dari luar.
Tidak ada respon sama sekali dari Rai, hanya ada wajah tanpa rasa bersalah karena telah membuat mobil ayahnya hancur.
“Rai … apa yang telah kau lakukan huh?”
“Maaf. Aku lupa membawanya ke servis.”
“Sudahlah, kau masuk saja. Lagi pula sudah terlanjur hancur seperti ini. Dan hanya kau yang selalu membuat mobilku rusak.”
“Maaf, aku yang akan membayar biaya servisnya.”
“Kau baik-baik saja?”
“Iya,” jawab Rai dengan singkat.
“Mengapa kau mengatakan jika kasus ini adalah kasus kelompok.”
“Saat itu, pria itu mengatakan, seharusnya aku tak ikut campur. Karena sikapku membuatku inginkan oleh mereka.”
“Mereka? Siapa mereka?”
Ayah Rai, pura-pura tidak tahu.
“Mengapa bertanya, sedangkan aku pun tidak tahu.”
“Sebenarnya dia pria baik ketika aku bertemu dengannya, namun dia mudah terpengaruh oleh orang lain. Karena hasil karyanya tidak diakui oleh orang membuatnya kehilangan semangat dan tak ada yang menyemangatinya hingga dia mendapatkan support dari mereka. Rasa perhatian yang mereka berikan pada pria itu membuatnya terhasut. Andai, dia memiliki satu orang saja yang menyemangatinya mungkin dia tidak akan menjadi seperti saat ini.”
“Lebih baik kau tidak terjun langsung ke Tkp biar mereka mengecilkan pencarian mereka hingga mereka mendapatkan tersangkanya. Aku tak ingin kau terluka Aku tak ingin, kejadian beberapa bulan lalu terulang kembali. Aku adalah walimu, aku tak bisa memaafkan diriku sendiri atas apa yang terjadi nanti padamu. Aku tak bisa menjagamu, aku akan begitu banyak berhutang padanya.”
“Ah, bagaimana dengan mobilku?” Rai mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin besok akan diantar. Aku dengar, kau bertaruh untuk menangkap pelaku?”
“Aku tak bisa membiarkan anak ini, di penjara.” Rai menunjuk Daniel yang tengah ikut bergabung.
“Kau menang darinya, pasti dia tengah kesal saat ini.”
“Aku bahkan tak berniat untuk memakai hadiah dari taruhan kami.”
“Perasaannya pasti terhina karena kalah dari wanita.”
“Huh. Ada hal yang lebih penting dari itu, ayah. Kita harus menemukan pelakunya.”
“Kau tahu dia adalah ketua tim yang kutunjuk, Benua Ardanult dengan tingkat 90-100% menangkap para tersangka. Dia sangat di akui oleh kepolisian dalam memecahkan kasus.”
“Oh,” lagi-lagi Rai hanya menggunakan kata Oh untuk merespon penjelasan dari sang ayah. “Oh iya, apa aku mencari pengurus rumah saja? Aku bahkan tak bisa membereskan semua barang-barang ini. Aku bahkan tidak memiliki perlengkapan dapur.”
“Aku akan mencarikannya.”
“Em. Aku ada janji dengan dokter hari ini.”
“Biar aku pesankan taksi.”
“Tidak perlu. Kakak akan datang menjemputku. Setelah dari rumah sakit, aku akan ke kantor kejaksaan. Aku menjelaskan apa yang terjadi.”
“Kau bahkan sudah bertemu dengan kakakmu, sedangkan Ayah belum, dia jarang pulang ke rumah?”
“Kakak yang menangani kasus ini, dia ingin aku memberikan kesaksian, dia yang menangani kasus ini.”
“Sebenarnya aku menghindari mobil dan, menabrak pembatas jalan serta Tiang listrik,”
“pembatas jalan, dan tiang listrik.” Ayah Rai hanya bisa menahan diri untuk tidk emosi, dia cengengesan dengan nada lemah sambil melihat ke arah mobilnya. “Seharus aku menyuruh seseorang untuk mengantarmu ke mana saja.”
“Aku akan singgah setelah dari kantor kejaksaan. Lagipula, aku harus mendaftarkan anak ini sekolah,” kata Taosambil melihat ke arah Daniel.
“Ini, kau harus membawanya setiap saat. Ini, akan membantumu. Walaupun ayah tahu, kau bisa melawan mereka, ada baiknya menggunakan ini saja dari pada membuat mereka babak belur,” kata pria itu lagi sambil memberikan sebuah senjata listrik pada Rai.
Setelah perjalanan jauh, Benua baru menyadari jika Ponselnya ketinggalan di rumah, dia memilih untuk kembali ke rumah.
“Sial... Aku meninggalkan ponselku,” kata Benua sambil memutar setir mobilnya, dan berbelok.
Celana panjang, baju kaos, dengan jumpsuit berwarna ungu pastel, serta jilbab pashmina menutup kepalanya, lipstik tipis berwarna pink tidak lupa di pakaiannya. Rai bersiap-siap untuk pergi ke kantor Kejaksaan.
Rumah itu begitu sunyi kembali, ketika Ayah Rai telah pulang, karena Rai memilih diam, dan tidak banyak bicara.
Daniel pun tidak berani berbicara kecuali jika Rai mengajaknya berbicara.
Clek!
Rai keluar dari pintu, bertepatan dengan Benua yang baru saja keluar dari pintu rumahnya.
“K–kau—”