72. Kamera Tersembunyi

2328 Words
“Bisa tidak, bisa iya. Jika iya, berarti mereka kembali meluaskan pergerakan mereka. Mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu, kau harus lebih hati-hati. Apalagi kau kembali kedunia criminal. Ingat! Kau baru saja sadar.” “Aku sudah meminta bantuan Min-na untuk mencari tahu. Namun, membutuhkan waktu lama sepertinya. Aku harus bersabar untuk mendapatkan hasilnya. Ah, aku hampir lupa. Soal kasus yang saat ini. Apa pernah pernah terjadi sebelumnya?” “Kenapa kau bertanya?” “Melihat cara pembunuhannya membuatku berfikir jika ini bukan pembunuhan yang pertama. Saat aku masuk ke dalam Apartement wanita itu, aku langsung bisa menebak jia pelakunya dia sangat mengenal dunia kepolisian, membuat mayat seperti itu membuatku berpikir jika dia mengenal dengan baik hal-hal tentang criminal dan kepolisian, bahkan tak ditemukan sidik jari di tubuh korban bahkan di dalam ruangan tersebut. Tapi… TKP nya terlihat aneh,” kata Rai. “Jadi menurutmu, bukan pria itu pelakunya?” “Daniel?” Rai membulatkan matanya, mendengar nama yang baru saja disebut. “Iya. Bukti mengarah padanya.” “Secepat itu?” “Ya, ada seseorang yang menelpon kantor polisi, dan dari saksi itu mengatakan ciri-cirinya.” “Ah.. Dua jam lagi, akan dilakukan briefing. Kau akan ikut?” tanyanya. “Setelah kasus ini, selesai mau makan bersama? Aku yang traktir.” Dari arah kejauhan terlihat tatapan tajam seorang Benua, sedangkan di belakangnya ada Tim Kepo yang penasaran dengan tatapan mata Benua. “Wah, saingan,” kata Davin, tengah memanas-manasi Benua. “Kalian tidak kerja? Atau kalian mau ku kirim jadi reporter atau menjadi pembawa acara akun gosip percintaan?” Seru Benua pada mereka tengah berdecak pinggang melihat kelakuan anggota timnya itu. Hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja. “Bagaimana dengan Daniel?” “It... Itu masalahnya, kami tidak diperbolehkan untuk melihatnya, karena setim dengannya,” kata “Biar aku yang pergi ke sana,” kata Benua. “Mungkin mengajak Prof. Rai akan diizinkan oleh mereka.” Davin dan Galen melihat ke arah Benua, perkataan pria itu tengah mengandung maksud lain yang tersembunyi. Rai menerima berkas tentang kasus itu, memeriksa foto TKP, dan juga beberapa foto TKP. Kasus pembunuhan ini menarik perhatian oleh petinggi kepolisian, karena tersangkanya adalah seorang polisi. Ruangan rapat, begitu luas, dikelilingi dengan begitu banyak orang yang berada di tempat itu, termasuk dari para petinggi di kepolisian, dengan beberapa bintang yang tersemat di bahu dan juga di d**a mereka, termasuk beberapa petinggi dari kantor kejaksaan pusat. Pakaian seragam berwarna hitam, tengah duduk di ruangan gelap itu. Benua tengah duduk sana, sedangkan Rai berada cukup jauh dari tempatnya. Setelah memberikan beberapa penjelasan oleh Benua, kini diserahkan sepenuhnya pada Benua untuk menjelaskan lebih detail dari kasus itu. “Tidak ada kamera Cctv di Apartemen tersebut membuat penyelidikan begitu susah. Kami telah memeriksa orang-orang terdekat korban, termasuk kekasihnya. Kekasihnya mengatakan jika dia belum bertemu dengan kekasihnya selama beberapa hari ini. Dan, sebuah sepatu Kopral Daniel terdapat di Tkp bersama dengan sidik jari dan juga DNAnya. Saat ini, kami telah mengamankan Daniel. Karena kasusnya melibat seorang polisi kami membutuhkan waktu lebih lanjut untuk menyelidiki kasus ini dan akan menyelidiki kasus ini secara tertutup,” Apa yang dikatakan oleh Benua mengusik pikiran Rai, membuat gadis itu seketika keluar dari ruangan. Beberapa saat kemudian Benua menyusul kepergian Rai. “Mau kemana?” tanya Benua. “TKP,” jawab Rai. Dia tidak ingin pergi ke TKP sebenarnya, tapi ada hal membuatnya terganggu. “Ya sudah, biar ku antar, sekalian aku ingin kembali ke TKP lagi,” kata Benua. Rai keluar dari pintu depan, dan menuju mobil Benua. Kakak Rai, selangkah terlambat menyusun Rai yang telah pergi dengan Benua. “Sial...” umpat sang kakak. Mereka yang tengah berdiri dan mengupet melihat pria yang menjadi saingan Benua. “Apa yang kau pikirkan?” “Tersangkanya begitu cepat ketahuan.” “Menurutmu itu aneh?” tanya Benua. “Ya.” “Di jok belakang, ada dokumen berkas kasusnya,” kata Benua pada Rai. Rai melirik ke arah jok belakang mobil milik pria itu, mengambil dan membaca berkas-berkas itu. Saksi, teman-teman korban, dan beberapa orang lainnya. “Apa kau melihat ada yang yang mencurigakan?” tanya Benua pada teman-teman korban, sedangkan Rai hanya diam, dan tengah mendengarkan serta mengamati ekspresi wajah mereka yang tengah berbicara. Tidak menemukan hal lain lagi, mereka kembali ke saksi berikutnya. “Tidak,” kata Pria itu. “Tapi dia pernah mengatakan padaku jika dia ada yang menguntitnya,” kata pria itu. Setelah mendapatkan beberapa pernyataan dari orang-orang yang mengenal korban, Benua dan Rai kembali ke TKP untuk kembali memeriksa TKP, mungkin mereka memiliki sesuatu yang terlewatkan. Beberapa tim forensik terlihat di sana, tengah memotret. “Dokter. Apa kita bisa secepatnya memastikan waktu kematiannya?” tanya Benua pada dokter yang selalu bersama dengannya, berada di TKP. “Begitu sulit. Apalagi dengan mayat, yang telah membusuk,” kata dokter itu. Gadis berbalut Jilbab di kepalanya itu mengamati mayat, dan ruangan yang ada di sana, sebenarnya dia tidak ingin ikut campur langsung ke TKP, namun rasa penasaran dan juga sikap ramah Daniel padanya membuatnya merasa tidak bisa mengabaikan kasus ini. “Apa kabar Rai.” “Biar aku mengantarkanmu.” Sikap itu pula yang membuat Rai, tidak fokus dalam memberikan materinya. Hasil forensic begitu lama, apalagi dengan kasus mayat yang telah membusuk, membuat semuanya sulit, dan harus hati-hati mengerjakannya. Seluruh Tim tengah duduk dan gugup menunggu hasil Forensik keluar, apalagi ketika seluruh bukti mengarah pada Kopral Daniel, dan pria itu pun tidak memiliki alibi yang kuat untuk menyangkal. Benua memarkirkan mobilnya di parkiran kampus, di ikuti oleh tatapan para mahasiswa di kampus itu, menaiki lift, dan menuju ruangan Rai, tidak lupa dengan dua gelas kopi yang di bawahnya. Pria itu berdiri di depan pintu, melihat pintu Rai. Mendorong sebuah tanda, ada, menggantinya dengan tanda sedang berada diluar. Clek! Rai yang baru saja masuk itu, tidak melihat tanda keberadaannya dan langsung masuk saja, melihat sosok Benua tengah duduk di mejanya di sampingnya terdapat sebuah kotak berukuran sedang. Dia terlihat begitu santai seperti tidak ada kasus yang harus dia kerjakan. Pria itu memberikan file berkas kasus pada Rai. Beberapa pertanyaan berada di kepalanya, tentang kedatangan pria itu. “Aku membawa semua berkas-berkas kasusnya,” kata kata Benua memulai percakapan. “Aku ingin meminta bantuanmu,” Benua lagi sambil menatap ke arah Rai. Segera membuka berkas yang ada di atas mejanya, membuat Benua kemudian mendekat kearah Rai. “Tanganmu… apa baik-baik saja?” Tanya pria itu pada Rai, bertanya tentang tangan gadis itu. Rai melihat ke arah Benua, namun tiba-tiba kedua pasang bola mata milik Rai dan Benua saling bertemu membuat keadaan menjadi canggung. Rai memilih mundur selangkah kebelakang, untuk menjaga jarak dari pria itu. “Ya, baik-baik saja selama tangan kiriku masih ada,” kata Rai sambil kembali memeriksa berkas kasus tersebut. “Kedengarannya tidak baik-baik saja,” kata Benua sambil tetap menatap ke arah gadis yang berada di satu ruangan dengannya. Perkataan pria itu agak aneh, membuat Rai menaruh berkas kasus itu kembali ke dalam kardus. “Aku ingin mengembalikan sapu tanganmu,” kata Rai sambil mengambil sapu tangan milik Benua dari dalam tasnya. “Lain kali,” kata Benua. “Permisi,” katanya lagi sambil menghilang dari balik pintu ruangan Rai. Pria itu, jelas tahu jika gadis itu tengah mengakhiri pembicaraan di antara keduanya. Gadis itu menariknya sangat jauh untuk lebih mengenalnya, apalagi dengan buku catatan milik Rai dan cukup drama serta film milik gadis itu yang ditemukan olehnya. Sedangkan Rai, bukan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu, namun dia jelas tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Langit mendukung aktivitas yang dilakukan oleh banyak orang di negara itu, hawa dingin mulai hilang seiring pergantian musim. Daniel tengah meringkuk di pojokan sel tahanan, bersama dengan begitu banyak tahan lainnya. Apalagi tidur tidak beralasan kasur, ataupun selimut yang ada. Galen yang mendengar hal itu, tentu datang menengok pria itu, dengan membawakan makanan untuknya. “Kau bisa makan dengan tenang rupanya,” kata Rai saat melihat Daniel tengah makan dengan lahap. “Bekas pukulan. Kau dipukul?” Tanya Rai pada pria itu, sambil menatap tajam pada petugas di sana. “Tidak.” “Jika berbohong, aku tidak akan membantumu keluar dari sini,” kata Rai. Perkataan Rai memang begitu kasar. “Aku ingin dia di pisahkan di sel tahanan lain, tidak ada yang boleh memukulnya sampai di temukan bukti, dan yang memukulnya, aku ingin hukuman mereka bertambah,” kata Rai sambil berbalik ke arah para petugas yang ada di sana. “Nona... Ini kantor polisi, bukan tempat sembarang orang mengoceh.” “Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 jo UU Nomor 20 Tahun 2001, “Bahwa setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama dua puluh tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000,00 dan paling banyak Rp 1.000.000.000,00.” “Bukti? Kita bisa pakai seluruh CCtv di sini sebagai bukti tentang kalian melakukan penyalahgunaan wewenang.” “Baik-baik, kami akan memisahkan dia dengan tahan lain.” Benua bersandar di dinding pintu Tim Investigasi itu, hanya bisa tersenyum, sedangkan Rai tengah berdiri dan menatap mereka yang berada di sel tahanan itu. “Aku memelihara singa, mungkin kalian berniat untuk main-main dengannya, jika ku hitung-hitung aku belum memberinya makan selama 2 bulan lebih,” kata Rai membuat petugas yang membuka sel tahanan itu menjatuhkan gembok, karena terkejut. “Mengancam dikenakan pasal—” “Aku hanya bercerita, dan mengajak mereka,” kata Rai memotong pembicaraan pria itu. “Assalamualaikum kakak ipar.” “Siapa yang kakak iparmu?” tanya Benua mengejutkan Galen. “Apa kau sudah pergi mengecek kondisimu di rumah sakit,” kata Auris sambil menunjuk ke arah kakaknya. “Pfftt...” tiba-tiba apa yang dikatakan oleh Galen membuat Rai menahan tawanya, tentu diketahui oleh Benua. “Dan kau... Ini akibat memainkan banyak perempuan, siapa yang akan menyangka jika kau tengah di jebak oleh salah satu dari mereka.” Benua tengah memarahi juniornya itu. “Ini ambil...” Benua melemparkan obat luka. “Tenanglah, aku akan mengeluarkan dari sini,” kata Benua. “Dan kau Galen... Kembali ke rumah sakit sekarang,” perintah Benua pada adiknya. “Baik... Baik...” kata anak itu, sambil mengambil kotak makanan yang dia bawakan untuk Daniel. “Aku tidak tahu, kalian menyalahgunakan wewenang seperti ini, kali ini kubiarkan, aku tidak akan melaporkan kalian pada atasan, tapi jika kalian mengulanginya, aku akan membongkar siapa saja yang berkorupsi di antara kalian semua,” kata Benua mengancam. Ancaman pria itu tentu sangat menakutkan, karena bisa menjadi kenyataan, apalagi dengan wajah yang serius. Dari kejauhan terlihat seseorang yang tengah memotret, Benua melihat hal itu, ketika menatap sejenak ternyata kamera tertuju pada Rai, ketika Benua menutup tubuh Rai dengan tubuhnya agar tidak mendapat diambil foto, membuat pria itu, menurunkan kameranya. “Shit...” umpat Benua dan berlari ke arah luar kantor polisi dan mengejar pria itu, tapi tidak bisa terkejar. Kemudian kembali dengan nafas yang tersengal-sengal. “Kenapa?” tanya Rai. “Seseorang mengambil gambarmu dari jauh,” kata Benua. Rai hanya terdiam. “Apakah mereka?” tanya Rai dalam hati. Sampai saat ini dia belum menemukan siapa yang berada di belakang kematian Ken, pria yang menjadi petunjuk malah bunuh diri, dan itu membuatnya frustasi. Rai tengah duduk, sambil kembali membaca berkas kasus yang belum mereka selesaikan. Tok... tok... tok... Suara ketukan pintu terdengar. “Masuk,” kata Rai. Benua berada di luar pintu tengah melirik kiri dan kanan, dia melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya, mengubah tanda keberadaan Rai. Dua gelas kafein masih berada di tangannya. “Detektif Benua,” panggil Rai dengan suara pelan. “Wanita ini, melaporkan jika dia telah dikuntit selama ini,” kata Rai lagi “Oh iya, kami telah meminta keterangan pada pria yang menguntitnya. Pria itu memiliki alibi,” kata Benua. “Apa yang dikatakan pria itu.” “Pria itu mengatakan jika dia belum melihat wanita itu selama beberapa hari ini,” kata Benua. “Belum… melihat… wanita itu, selama beberapa hari,” kata Rai mengulangi apa yang baru saja Benua katakan, dan agak memperlambat pengucapannya. “Jika seperti itu, dia selalu melihat wanita itu sebelumnya,” kata Rai pada Benua “Apa?” “Dia mengatakan jika dia belum melihat wanita itu selama beberapa hari ini. Berarti dia pernah melihatnya sebelum wanita itu meninggal,” kata Rai. “Maksudmu…” Benua tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rai padanya. Dddrrr... Dddrrr... Sebuah deringan Ponsel Benua mengubah Raut wajahnya ketika menerima telepon tersebut. “Pria penguntit itu, memasuki gedung Apartement itu,” kata Benua pada Rai. “Kini dia berada di Kantor Polisi,” kata Benua lagi. Seorang pria itu tengah berada di dalam ruangan interogasi. Raut wajahnya menjadi gelisah. Rai meminta izin masuk ke dalam ruangan tersebut. “Kau masih menguntit wanita itu sebelum dia temukan meninggal,” kata Rai mengawali percakapan. Namun, pria itu hanya diam. “Kau yang membunuhnya?” Tanya Rai lagi pada pria itu. “Tidak, aku tidak membunuhnya, kalian bahkan meminta rekaman Cctv tempatku bekerja,” kata pria itu. “Terus, mengapa kau datang ke Apartemen itu?” tanya Rai lagi. Pria itu hanya diam membisu, ketika Rai menanyakan tentang alasan mengapa dia berada di Apartemen itu. “Jawab…” teriak Benua mengejutkan Rai yang ternyata sedari tadi berada di belakang gadis itu. “Aku ingin mengambil kamera tersembunyi yang aku pasang.” “Apa?” “Karena pekerjaanku, aku tidak bisa menguntitnya seperti biasa, jadi aku memasang kamera tersembunyi di dekat Apartemennya,” katanya. “Berapa lama kau memasang kamera itu?” tanya Benua. “Emm… Sekitar dua minggu,” kata pria itu. Seluruh orang yang ada di sana, saling berpandangan satu sama lain, ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu. Kemudian bergegas ke Tkp untuk memeriksa apa yang dikatakan pria itu berkata benar atau berbohong. Dan, benar saja. Kami menemukan kamera tersembunyi yang dipasang oleh pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD