Chapter 2: Pesantren, Kegiatan, dan Perasaan yang Tertahan

793 Words
Setelah berbicara dengan Kyai Hakim, Adam merasa sedikit lebih tenang. Nasihat Kyai seperti biasa mampu memberi ketenangan dan arah yang jelas. Namun, di dalam hati Adam, perasaan bercampur antara kebahagiaan dan keraguan terus menghantui. Inggris, kedokteran, pesantren semuanya seperti bersilangan dalam pikirannya. Di sore hari itu, Adam memutuskan untuk kembali ke masjid. Dia membuka mushaf Al-Qur’an yang sering menjadi teman setia di saat hatinya bimbang. Di sudut masjid, suasana begitu tenang, hanya ada beberapa santri yang juga tengah khusyuk beribadah. Adam merasa damai setiap kali duduk di sini, jauh dari segala keramaian dan kekhawatiran dunia luar. Namun, belakangan ini, ada satu hal yang selalu mengganggu pikirannya Hilwa. Tanpa dia sadari, Adam sering memikirkan Hilwa. Bukan hal yang disengaja, tapi bayangan Hilwa kerap muncul di sela-sela pikirannya, terutama setelah perbincangan dengan Kyai Hakim. Sejak mereka pertama kali bertemu di pesantren, Hilwa selalu tampil sebagai sosok santri yang tenang dan lembut. Adam selalu menghormatinya sebagai adik kelas yang baik, tapi sekarang, perasaan itu mulai berubah. Di asrama putri, Hilwa tengah duduk berdua dengan Nisa, sahabat yang selalu ada di sampingnya. Mereka duduk di teras, menikmati semilir angin sore yang sejuk. Nisa, dengan senyum jahilnya, mulai mengungkapkan kabar yang baru saja dia dengar dari Bu Nyai. "Hilwa, aku ada kabar nih. Kamu tahu kan, Bayu? Katanya dia bakal dijodohkan sama kamu," kata Nisa dengan mata berbinar, seolah menikmati setiap detik ketika ia memberi tahu temannya kabar tersebut. Hilwa tertegun. "Apa? Aku? Dijodohkan dengan Bayu?" tanyanya dengan suara yang nyaris bergetar. Jantungnya langsung berdebar kencang. "Serius, Nis?" Nisa tersenyum penuh misteri. "Iya, serius. Aku dengar dari Bu Nyai tadi pagi. Bayu itu anak keluarga terpandang, keluargamu juga tahu itu. Katanya, kalian cocok," ucap Nisa sambil memainkan rambutnya. Hilwa terdiam. Ia menatap kosong ke lantai, mencoba mencerna kabar itu. Bayu memang dari keluarga baik-baik, keluarganya dihormati di desa tetangga, tapi Hilwa tidak pernah berpikir tentang dia dengan cara seperti itu. Hatinya selama ini sudah terikat pada seseorang yang berbeda Adam. "Tapi, Nisa, aku... aku belum pernah memikirkan perjodohan, apalagi dengan Bayu," jawab Hilwa pelan, suaranya sedikit gemetar. Pikiran tentang Adam langsung memenuhi benaknya, meskipun ia tahu perasaannya tak pernah terungkap. Nisa, yang selalu penuh semangat, langsung menepuk bahu Hilwa dengan lembut. "Tenang saja, Hilwa. Mungkin belum saatnya kamu memikirkan soal itu. Tapi aku cuma ingin kamu tahu, siapa tahu ini jalan yang terbaik buatmu. Bayu orang yang baik, dan keluargamu pasti memilih yang terbaik." Hilwa berusaha tersenyum meski hatinya tetap gelisah. "Ya, mungkin begitu. Tapi rasanya semua ini terlalu mendadak." Sejak percakapan itu, pikiran Hilwa tak bisa berhenti memikirkan perjodohan dengan Bayu. Meskipun dia berusaha tetap tenang, ada kekhawatiran yang terus muncul. Hilwa tahu bahwa keluarganya selalu memikirkan masa depannya dengan penuh perhatian, tapi dia tidak siap jika perasaan yang selama ini ia simpan untuk Adam harus tergantikan oleh Bayu. Sementara itu, Adam masih tenggelam dalam bacaan Al-Qur’an di masjid. Namun, pikirannya tak lagi sepenuhnya fokus. Dia merasakan ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Perasaannya terhadap Hilwa semakin jelas, tapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia selalu berpikir bahwa karir dan impiannya untuk menjadi dokter di luar negeri adalah hal utama yang harus dikejar. Tapi perasaan terhadap Hilwa mulai menggoyahkan fokusnya. Azan maghrib berkumandang, memecah keheningan masjid. Adam bangkit dari duduknya, merapikan mushaf Al-Qur'an, dan bersiap untuk sholat berjamaah. Dia berusaha melepaskan segala perasaan yang tak seharusnya muncul, kembali fokus pada tugas-tugasnya sebagai santri senior yang sebentar lagi akan meninggalkan pesantren. Setelah sholat maghrib, para santri berkumpul untuk mengaji bersama, sementara suasana pesantren semakin hidup dengan aktivitas malam. Adam berjalan pelan menuju asrama, masih tenggelam dalam pikirannya tentang Inggris dan Hilwa. Dia tahu, waktu semakin dekat untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Di tempat lain, Hilwa juga baru saja selesai sholat maghrib. Namun, perasaannya masih tak menentu. Setelah mendengar kabar perjodohan itu, pikirannya terus melayang. Dia tidak pernah membayangkan akan dijodohkan dengan Bayu. Perasaannya terhadap Adam semakin membuat hatinya gelisah. Bagaimana jika dia benar-benar dijodohkan dengan Bayu? Bagaimana dengan perasaannya yang selama ini ia simpan dalam-dalam untuk Adam? Sore itu, Hilwa memutuskan untuk pergi ke taman kecil di belakang pesantren. Tempat itu selalu menjadi tempat favoritnya untuk merenung. Angin sejuk menerpa wajahnya, dan Hilwa menatap langit yang mulai gelap. "Ya Allah, jika memang ini takdirku, tunjukkan jalan terbaik. Aku tak tahu harus bagaimana," doanya lirih sambil menatap langit. Dalam diam, Hilwa merasa perasaannya terhadap Adam semakin kuat. Namun, dia tahu, perasaan itu tak mudah diungkapkan. Sebagai santri perempuan, menjaga adab dan perasaan adalah hal yang sangat penting. Dia tidak bisa begitu saja mengungkapkan perasaannya pada Adam, apalagi dalam situasi yang penuh dengan aturan dan batasan. Malam itu, Hilwa berdoa lebih lama dari biasanya. Hatinya dipenuhi dengan harapan agar Allah memberikan petunjuk yang jelas. Apakah perasaannya terhadap Adam akan menemukan jalan? Ataukah dia harus menerima takdirnya dengan Bayu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD