20. Jiwa Baru

1405 Words
Kembali ke sekolah mereka, Siera yang baru turun dari mobil kakaknya pun mencebikkan bibir karena terlibat perkelahian kecil dengan sang sulung. Tentu saja, yang bisa melerai hanyalah saudara kembarnya, dengan gendongan bak putri, Sanosuke hanya tersenyum tipis. Dari belakang mereka, Ken tiba-tiba muncul dan langsung menyapa, ikut berjalan bersama dari halaman sekolah dan menuju kelas. Baru saja memasuki pintu, di sana sudah terlihat Takao yang sedang membaca sebuah novel detective, gadis itu langsung turun dari gendongan sang kembaran dan memutuskan untuk mengusili teman yang dahulu telah membantunya memperbaiki segel yang ada di tubuh. Berjalan santai besama Ken, sebab tentu saja Ken penasaran kenapa tiba-tiba Siera tersenyum sendiri, sementara itu Sanosuke telah duduk di tempatnya sendiri dan memutuskan membaca buku pelajaran daripada melihat drama yang akan segera terjadi. Diam-diam lelaki itu menghela napas karena masih lima belas menit lagi sebelum pelajaran pertama di mulai. “Aku tak tahu kau suka novel roman seperti ini? Apa judulnya, Rahasia Bulan Merah?” Pemuda itu hanya mengerutkan alis, tidak mau peduli walau tengah diajak berbicara. “Siera-chan, sebenarnya itu seri detective yang cukup terkenal, loh. Kau tidak tahu?” “Hahh, membosankan, aku lebih suka fiksi fantasi.” Gadis itu menunjukkan wajah tidak tertarik menatap buku yang masih dipengang oleh Takao. “Kalau otakmu yang bodoh, jangan salahkan genre seperti ini.” Siera memberenggut, tetapi mencoba menahan diri agar tidak meneriaki laki-laki itu, lagi pula tinggal lima menit lagi. Ia lantas berdiri, dan memukul punggung Takao dengan satu tangan hingga membuat lelaki itu mengerutkan alis kesal, nyaris bertanya apa yang menyebabkan Siera kumat seperti ini, tetapi memutuskan diam karena pintu kelas baru saja terbuka karena sang guru baru saja tiba. Pelajaran matematika dimulai, tentu suasana kelas menjadi senyap dengan soal-soal yang  menguras otak, sementara beberapa menghela napas karena berkali-kali ditegur oleh guru agar jangan mencontek. Mereka berpikir kenapa pula harus ada ujian dadakan seperti ini, khususnya Ken yang tengah kesusahan. Lima belas menit lagi bel pelajaran selesai, ia bahkan baru mengerjakan lima nomor dari total dua puluh soal. Sial, kalau seperti ini nilainya akan rendah lagi karena dirinya sama sekali tidak belajar tentang rumus-rumus yang minggu lalu baru saja dijelaskan. Seperti yang diduga, bel berbunyi dan ia harus puas dengan nilai yang rendah nantinya. Kalau saja dirinya belajar dan tidak memutuskan bermain game? Kelas mulai ribut, istirahat pertama baru saja tiba. Beberapa rekan mulai berbisik, khususnya di belakang Takao yang sekarang mengerutkan alis karena nama kecil yang merupakan panggilan khas ibunya dipanggil terus-menerus, walau dengan bisikan. Ia menolehkan kepala dan anak perempuan yang mengerubungi meja di belakang pun terdiam hingga ia hanya mendengkus dan memutuskan untuk keluar kelas. Sepertinya kali ini Ken, Sanosuke dan Siera telah pergi menuju kantin atau ke atap untuk menyantap bekal. Ia memutuskan untuk menuju atap, tetapi bisik-bisik itu kembali terdengar bahkan tawa kecil centil. . . . Di atas atap, Siera telah mengenang kembali pristiwa luar biasa yang dialaminya bersama Ken dan Takao, dirinya yang melihat langsung dua lelaki itu berperan untuk memperbaiki segel iblis yang ada di dalam alam bawah sadarnya. Bahkan setelah semua itu selesai dan iblis kembali ke tempat semula dengan kekangan segel, Siera kira mereka tidak akan bisa kembali ke dunia mereka. “Aku juga sebelumnya ketakutan,” aku Sanosuke, pasalnya saat itu keadaan sangat kacau, bahkan Aoda dan Hoshi sampai mimisan. “Sanosuke, terima kasih.” Sang gadis langsung memeluk saudara kembarnya. “Tapi, aku bahagia karena memiliki kalian semua, terutama Ken dan Takao yang mau melakukan hal mengerikan seperti itu untukku.” Ya, saat itu mereka tidak tahu bagaimana cara kembali, dan ternyata seperti yang dijelaskan kakaknya, bahwa mereka sendirinya akan menemukan jalan pulang. “Aku sangat takut saat itu, bagaimana bisa Takao dan Siera-chan meninggalkanku sendiri di tempat iblis tersebut disegel? Kalian bercahaya dan langsung menghilang, aku sangat panik sampai—“ “—mengompol?” lanjut Siera sambil tertawa kencang. “Tidak, Siera-chan! Kenapa kau berpikiran seperti itu?” Tentu saja Ken sangat syok, bagaimana bisa gadis ini masih sempat mengusilinya padahal Ken tengah menceritakan pengalaman yang paling mencekam, bahkan lebih mengerikan daripada ketahuan melihat video tak senono oleh neneknya. Ketika tengah asyik bercerita tentang pengalaman di bungalo, Ken datang dan langsung melempar kertas yang diremas ke hadapan Siera, nyaris mengenai wajah gadis itu jika Sanosuke tidak menangkapnya. “Apa yang kaulakukan, Takao?” tanya Sanosuke tidak terima, sementara itu Siera menatap dengan pandangan mata polos minta dicolok obeng. “Ta-chan, kenapa?” “Apa yang kau tempelkan di punggungku, Bocah Barbar?” Karena penasaran dengan isi kertas itu, Ken pun mengambilnya dan langsung tertawa terpingkal-pingkal, tentu saja melihat hal itu Takao melotot dan menjitak kepala temannya yang berwajah eropa dengan kesal. Sementara itu, Sanosuke yang masih bingung pun melakukan hal yang sama dan membaca dengan perlahan. “Panggil aku ‘Ta-chan’, Teman-teman.” Ah, sekarang Sanosuke tahu kenapa Takao terlihat murka kepada kembarannya ini. Siapa lagi yang melakukan hal iseng seperti ini kalau bukan Siera, dan tentu saja ia tahu seberapa mengesalkan gadis itu ketika tengah pura-pura tidak mengerti dan malah menujukkan wajah polos seperti ini. “Siera, apa kau tidak punya kerjaan?” “Ta-chan, kenapa? Bukannya kata Bibi kau suka dipanggil seperti itu, Ta-chan?” Laki-laki itu menghela napas, ingin menarik pipi Siera, tetapi tentu saja ia akan berhadapan dengan Sanosuke yang tidak suka kembarannya disentuh sembarangan orang dan juga sangat posesif terhadap gadis barbar itu. Setelah merasa kekesalannya mulai menghilang, ia lantas mengeluarkan ponsel, mencari-cari sesuatu dengan wajah tenang hingga membuat ketiga orang lainnya mengerutkan alis, kemudian setelah menemukannya, Takao pun menunjukkan ponsel tersebut kepada mereka bertiga. Lantas saja Ken kembali tertawa luar biasa, Siera melotot hingga mulutnya terbuka lebar, sedang Sanosuke untuk pertama kalinya seperti menahan tawa karena tidak ingin Siera yang tiba-tiba berdiri dan berwajah murka melemparkan kotak bekal ke kepalanya. “Takao, hapus fotoku!” teriak Siera, mencengkeram kerah baju Takao, semetara lelaki itu menyeringai dan menjulurkan tangannya ke atas agar gadis yang lebih pendek darinya tidak bisa menggapai ponsel. “Hah? Bahkan tidak walau itu di dalam mimpimu, Barbar.” “Hapus! Hapus! Hapus!” Bagaimana Siera tidak panik, itu adalah fotonya di bungalo saat tengah memanggang di malam hari. Ia tengah menjilat sate yang isinya berupa daging dengan banyak bawang, lidahnya menjulur dengan liur membentuk benang, bola matanya ke atas, di tambah lagi ia tersenyum mengerikan seperti seorang maniak. Sialan, Takao! Kenapa ia bisa difoto saat menikmati makanan kesukaannya? “Takao, hapus!” “Tidak, ya, tidak!” Lelaki itu tertawa mengejek, menatap wajah merah Siera yang masih beringas ingin menggapai-gapai tangannya. Gadis itu meloncat-loncat walau tetap tidak sampai. Masih tertawa kecil dan menyeringai, juga menghindari tangan-tangan Siera, Takao yang terus berjalan mundur tidak sadar bahwa di belakangnya ada tanjakan hingga lantas keseimbangannya hilang. Ia terbelalak ketika beberapa detik kemudian merasakan tubuhnya jatuh terlentang di lantai dengan sebelah tangan terjulur ke atas kepala, sementara itu Siera yang mencengkeram kerah bajunya pun ikut tertarik dan jatuh menimpa Takao. Pemandangan ini membuat kedua orang yang sempat tertawa karena melihat perdebatan konyol mereka pun terdiam seketika, apalagi Sanosuke yang langsung berdiri dan berlari secepat yang ia bisa untuk memisahkan tubuh kembarannya. “Siera, kau tidak apa?” Gadis itu masih syok, kemudian berteriak secepat mungkin. “Tidakkkk! Sialan kau, Takao, berani menciumku!” Pemuda yang dijadikan tersangka langsung mendudukkan diri, ia tentu saja membela diri karena tidak terima dengan tuduhan m***m gadis ini. “Kau yang jatuh di atas tubuhku!” “Sialan kau mencari kesempatan, Taka!” Ken menyahuti tidak terima, gadis yang ia sukai telah disentuh walau tidak sengaja. “Aku tidak terima! Tidak terima!” Siera kesal sampai menangis, tentu saja segelnya tidak lepas lagi karena telah diperbaiki. “Kalau saja kau tidak memotretku diam-diam, kau maniak sialan!” Mendengkus lelah, sekerang Takao mencoba mengendalikan diri. “Aku akan bertanggung jawab, tapi kau juga harus sadar kalau kau telah mengusiliku terlebih dahulu, Siera. Mereka semua, para gadis itu akan mulai memanggilku dengan nama kecil tersebut.” Gadis itu menghapus air matanya, sementara Ken dan Sanosuke memiliki pemikiran yang sama, bertanya-tanya tentang tanggung jawab yang dimaksud Takao. Suasana mendadak menjadi hening, hanya diisi dengan Siera yang mencoba membersihkan hidungnya dengan saputangan Sanosuke. “Apa maksudmu? Kau akan memotong bibirmu?” tanya Siera masih tidak senang, gadis itu bahkan menatap Takao sinis. Tawa kecil terdengar, Takao kembali mengembuskan napas dan menyekat rambut agar poninya tidak turun. Pemuda itu malah menatap langit cerah sebentar, sebelum kembali memfokuskan atensi kepada satu-satunya gadis yang berada di tempat ini. “Jadilah pacarku, Siera.” Sang gadis langsung menatap dengan pandangan tidak mengerti, sementara itu Takao dihadiahi bogem mentah oleh Sanosuke yang langsung naik pitam. Kedua orang tersebut sekarang berdiri dengan Sanosuke yang mencengkeram kerah baju Takao. “Kau boleh memukulku, aku tidak akan melawan. Dan Siera, kau tidak perlu menjawabnya jika belum siap.”  Untuk pertama kalinya, Takao tersenyum dengan bibir yang robek, dan entah kenapa di sini Ken merasa dirinya dikalahkan dengan telak oleh sahabatnya ini. . . . Tamat  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD