3. Tiga Klan Berkumpul

2381 Words
Satu bulan setelah kelahiran Siera, keluarga Harata—khususnya para Tetua telah menerima informasi tentang kejadian mengejutkan ini. Bahwa ternyata dalam kurun lima belas abad, untuk pertama kalinya bayi perempuan dilahirkan dari pasangan Shino dan Mieko. Sunggu entah apa yang suami dan istri itu pikirkan, hingga melakukan kenekatan dan berani mengambil risiko untuk kelahiran anak lelaki yang juga adalah kembaran Siera. Bukan main, tentu Tetua langsung mendatangi kediaman Harata yang berada di Tokyo. Mereka langsung berkumpul, membahas hal pelik yang diciptakan sepasang suami dan istri itu. "Kami sudah bilang kepada kalian agar menggugurkan bayi itu! Kenapa kalian tidak melakukannya?" Takeshi berteriak lantang, kemarahan jelas tercetak di wajah lelaki berumur itu. Tak bisa tenang karena memikirkan hal bodoh dan sudah dilakukan dua orang yang duduk bersimpuh di hadapannya. Napas-napas ketakutan memenuhi seisi ruangan, keringat mengalir di balik kimono yang dikenakan. Kokoro no Yami—kekelaman hati adalah kutukan yang diberikan oleh iblis Yamata no Ryu pada saat penyegelannya berlangsung, 1480 tahun lalu tepatnya. Semua itu terjadi karena kesalahan yang tercipta saat penyegelan, hingga menyebabkan keluarga Harata mendapatkan kutukan, dan hanya sempat terucap untuk anak perempuan saja sebelum iblis itu benar-benar tersegel dengan sempurna. Tiga klan yang bersatu untuk menyingkirkan iblis, di antaranya adalah Harata, Aoryu dan Yakumo. Selama hampir lima belas abad, Klan Harata selalu mengawasi agar anak perempuan tidak terlahir di dalam keturunan mereka. Hanya anak laki-laki, tetapi sekarang masalah menjadi sangat rumit karena anak perempuan telah terlahirkan, berupa jelmaan dari jiwa iblis yang mereka segel ribuan tahun lalu. "Kita harus memusnahkan iblis cilik ini, dia akan sangat berbahaya jika berhasil menemukan tubuh aslinya." Tetua pun tak tahu harus melakukan apa lagi, hanya bisa mengusulkan hal tersebut terlebih dahulu sebagai penindakan yang pertama kali mereka lakukan. Walau tak ingin menyetujui perkataan para Tetua, pasangan Harata yang memiliki anak perempuan terpaksa mengikuti kemauan mereka untuk memusnahkan iblis yang menjelmai sang Bayi. Demi kedamaian, mereka harus mengorbankannya. Dan di sinilah mereka, di sebuah tempat yang dapat digunakan untuk membakar mayat, tempat untuk kremasi. Harata Siera—nama bayi itu, kemudian diletakkan di dalam sebuah tempat pembakaran mayat yang ada di dekat kuil. Dengan berat hati, Shino memandangi bayi mungil suci itu dengan tatapan pasrah dan sedih. Namun, ia sendiri tahu bahwa bayinya akan membawa risiko besar hingga menyebabkan hal buruk jika tak ditindaklanjuti. Mengembuskan napas, akhirnya ia melangkah dan membiarkan penutup tempat pembarakan dikunci. Setengah jam lebih api dengan ribuan derajat panasnya itu berkobar di dalam pembakaran, Shino hanya bisa memeluk istrinya yang menangis karena tak tahan dengan keadaan yang mereka saksikan. Sambil memanjatkan doa dan berharap bahwa yang mereka lakukan adalah hal benar. Shino pun meneteskan air mata ketika pembakaran selesai, tungku kemudian langsung dibuka, dan pasangan suami-istri itu hanya bisa memalingkan wajah karena tak tega akan menyaksikan abu anak perempuan mereka. "Ke-kenapa masih bergerak dan u-utuh?" salah satu Tetua tercengang dengan mata yang terbelalak, jari tangannya bergetar ketika menunjuk sesuatu yang berada di dalam tempat pembakaran mayat. Siera yang seharusnya sudah berubah menjadi abu, nyatanya masih dalam keadaan utuh, walau seluruh kulitnya gosong dan dagingnya mengelupas dari tulang. Bayi perempuan itu malah tertawa mengerikan, padahal keadaan tulang wajahnya tengah terlihat setengah. Perlahan, serpihan-serpihan tubuh Siera menjadi pulih kembali dan warna kulit yang hitam dan terkelupas karena melepuh itu, menutup dan utuh kebentuk semula. Rambut yang hangus dan kulit kepala yang lepas, hingga memperlihatkan otak dan tulang-tulang, juga menyatu kembali. Pada akhirnya, Siera menjadi seperti sedia kala ketika belum dibakar. Anak perempuan itu menatap mereka yang terkaku dan ketakutan sambil tertawa menyeramkan, yang adalah semestinya sangat tidak wajar karena usia Siera masih satu bulan lebih. Keringat dingin mengalir dari tubuh-tubuh para Tetua dan suami-istri yang menyaksikan keanehan pada diri anak perempuan keturunan Harata itu, tak masuk di akal. Bagaimana bisa manusia kembali seperti sedia kala setelah dibakar hidup-hidup? Kekuatan iblis itu pastilah menjadi sumber dari kejanggalan ini. Setelah melakukan berbagai macam cara untuk memusnahkan Siera yang merupakan jelmaan iblis, dan hasilnya Siera selalu kembali seperti sedia kala maka mereka memutuskan untuk menyudahinya. "Kita harus mengadakan pertemuan dengan Klan Aoryu dan Klan Yakumo untuk masalah ini." Mereka sudah kehabisan akal dan membutuhkan bantuan dari para aliansi klan. "Ya, aku setuju." "Tetapi, sekarang ini yang kutahu bahwa Klan Yakumo hanya tinggal satu orang saja dan aku dengar dia entah berada di mana. Pasti butuh waktu yang lama untuk mencarinya, apa yang harus kita lakukan? Begitu juga dengan Aoryu, mereka sekarang tidak diketahui keberadaannya." "Sepertinya pencarian mereka akan memakan waktu yang cukup lama." * Satu tahun telah berlalu semenjak kelahiran Siera, musim berganti dan bayi mungil itu sudah mulai bisa menggerakkan tubuh sendiri untuk merangkak atau melangkahkan kaki. Siera memiliki dua orang kakak lelaki, yaitu Hoshi sang Sulung dan berusia sebelas tahun lebih tua darinya, juga kakak kembarnya yang bernama Sanosuke. Rumah mereka di Tokyo tidak terlalu besar, tetapi amat nyaman, dengan halaman lebar dan pintu-pintu geser terbuat dari kaca, sehingga bisa langsung melihat suasanan luar yang indah. Siera yang berjalan ke arah pintu, tiba-tiba saja dihentikan Hoshi, anak lelaki itu tersenyum dan mengatakan kalau akan berbahaya jika keluar rumah sendirian. Tawa mereka terdengar, hingga sampai ke telinga sang Mama. "Hoshi, jangan dekati dia. Kemari, Nak!" teriakan Mieko mengejutkan dua orang yang sedang bersenda gurau, wanita berusia tiga puluh tahunan itu menggendong Sanosuke dan menarik tangan anak lelakinya agar tak mendekati Siera. "Kenapa, Mama? Siera ‘kan juga adik Hoshi, dan Hoshi sangat sayang dengan Siera." Tatapan ingin tahu dihadiahi anaknya itu, hingga membuat Mieko langsung menggeleng-gelengkan kepala dan berjongkok untuk membuat anaknya mengerti dengan situasi ini. "Tidak, Nak. Dengarkan Mama, ya. Jangan mendekati dia, dan sebaiknya kalian masuk ke dalam kamar. Hoshi tidur siang dan jaga saja Adik Sanosuke, ya, Hoshi."  Suara Mieko bergetar dan keringat terus menerus mengaliri dahinya, ketika melihat anggukan kepala sang Anak, senyumnya mengembang dan ia langsung membawa mereka berdua untuk masuk ke kamar. Mengunci pintu, sekarang mengembuskan napas karena Hoshi dan Sanosuke telah aman. Mieko kembali menuju ke ruangan di dekat teras halaman samping karena di sana lah Siera sedang duduk sambil membelakanginya. Matanya melebar, jantungnya berdetak kian kencang. Mieko terkejut bukan main, ketika melihat anak perempuannya membalikkan tubuh, wajah Siera penuh dengan darah yang berasal dari jari-jari tangan yang terluka cukup parah. Napasnya langsung terengah-engah, anak perempuan iblis itu memakan jari-jarinya sendiri. Kakinya gemetar bukan main ketika menyaksikan hal mengerikan ini. Mieko meneteskan air mata saat melihat kondisi sang Anak, ketika Siera tersenyum menatap dirinya, ia tengah berdiri ketakutan karena melihat sang Bayi menunjukkan tangan kiri yang terus dijadikan santapan dan digigit hingga putus. Siera tertawa, menatap tajam dirinya sambil menjilati darah yang kian menyucur semakin banyak. "Siera? Maafkan aku.” Bergerak cepat, Mieko melangkahkan kakinya untuk mengambil pisau di dapur, ia membelalakkan mata setelah mendapatkan benda yang dibutuhkan. Menarik napas kuat, kemudian melajukan kaki kembali ke ruangan dekat teras samping, dengan gerakan kilat tanpa ampun, Mieko menarik tubuh sang Anak dan menikamkan pisau ke d**a bayi mungil itu. Berkali-kali, darah yang sejak awal memang telah ada, kian mengental, semakin tercecer dengan amis yang menguar tajam. Mieko seperti orang kesetanan, seperti orang gila. Merobek wajah anaknya sendiri, hingga bagian mata yang memiliki warna sama dengannya keluar, tulang pipi mungil itu pun terlihat terkoyak. Setelah terdiam beberapa saat, ia kembali menusukkan pisau ke leher Siera dengan cara memutar sambil memberi tekanan kuat, sehingga tenggorokan sang Anak nyaris putus dengan kulit lehernya robek lebar. Darah deras menyucur ke wajah Mieko, napasnya terengah, merasa ada gejolak aneh yang menggeliati dirinya di dalam d**a. Dengan perlahan, setelah melakukan aksi keji, ia pun berdiri. Menatap sang Anak yang sudah tak bergerak dan mati kehabisan darah. Isak itu terdengar, air mata turun bak hujan yang sedang mengguyur. Tubuhnya kini gemetaran hebat, ia menyadari hal yang dilakukannya teramat hina dan salah. Ditatapnya telapak tangan penuh kentalnya darah, salah satu dirinya di hati berkata kalau yang dilakukannya ini adalah hal benar karena untuk memusnahkan iblis yang bersarang di dalam diri Siera, anaknya harus menjadi korban. Anaknya telah selamat, iblis itu yang mati. “Siera selamat! Siera Selamat! Iblis yang mati! Iblis! Iblis!” teriakannya menggema di kediaman yang sepi. Detak jantung Mieko meningkat, kala ia menatap kembali sang Anak di lantai. Dirinya pun merosot terjatuh dengan tatapan melotot, saat Siera bergerak dan perlahan merangkak dengan masih bersimbah darah ke arah dirinya berada. Kenapa? Seharusnya ini tak terjadi, seharusnya anaknya sudah mati? Kenapa? "Mama, hihihihii," tawa Siera dengan intonasi tidak wajar, dan merangkak mendekati ibunya yang tertekan. Dan seperti sebelumnya, perlahan luka-luka itu kembali memulih menjadi sedia kala. Dentuman jantungnya semakin meningkat, Mieko membelalakkan matanya, wajahnya tercengang dan ia hanya bisa menjambak rambut sambil menggelengkan kepalanya. "HUAAAAAAA! Tidak!" * Enam bulan setelahnya berlalu, para Tetua Klan Harata dan kedua klan lainnya yang ada di ruangan itu, yaitu Aoryu Harada dan Yakumo Kikyo, akhirnya bertemu dan mengadakan rapat untuk menidiskusikan mengenai Siera dan tindakan apa saja yang sudah mereka lakukan setelah ini. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Ini benar-benar hal yang sulit karena Siera tidak bisa dibunuh dengan cara biasa. Iblis itu secara tidak langsung melindunginya. "Bagaimana kalau kita melakukan penyegelan agar dapat mengendalikan Siera?" saran Yakumo Kikyo kepada mereka, wanita berambut panjang dan berusia nyaris setengah abad itu menatap para Tetua dan Kepala Klan yang ada di meja bundar. "Penyegelan?" "Ya, kita akan melakukan penyegelan terhadap kekuatan Siera yang berasal dari iblis itu. Dengan kata lain, kita akan menyegel iblis yang ada pada diri Siera," terang Kikyo kemudian. "Bagaimana caranya?" Aoryu Harada, lelaki berusia empat puluh tahun dengan pupil mata sebelah hitam dan sebelah cokelat, telihat masih belum memahami hal ini. "Aku akan meminta bantuan temanku, mereka dari Klan Uzukiro yang ada di belahan distrik Uzu di Utara. Memiliki kekuatan supernatural penyegel dari leluhur mereka. Aku juga meminta agar Klan Aoryu membantu menyegel dengan kekuatan mata kalian. Siapa yang memiliki kemampuan terkuat kalian saat ini, Aoryu?" setelah menjelaskan tentang rancananya, Kikyo pun bertanya kepada Harada. "Aku, dan aku akan membantu." Harada membalas tatapan mata Kikyo dengan wajah tegasnya. Setelah melakukan berbagai persiapan, penyegelan iblis yang ada di tubuh Siera pun dimulai. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyegelan itu dan ketika selesai, tindakan ini memakan banyak korban jiwa. Harata Shino, Aoryu Harada, Uzukiro Tsumugi dan Uzukiro Makoto meninggal dunia, menyisakan kesedihan mendalam bagi keluarga ataupun yang terlibat dalam misi rahasia ini. Walaupun begitu, mereka tetap bersyukur karena penyegelan berhasil dilakukan. Setidaknya, iblis itu tak bisa berulah untuk beberapa saat karena sudah diberikan mantra khusus kepada keturunan perempuan Harata. Setelah hampir setahun sejak penyegelan, Kikyo menyadari sesuatu hal yang cukup mengkhawatirkan. Yaitu, Siera selalu berubah saat bulan purnama. Walau hanya bentuk fisiknya yang berubah, tetapi Kikyo khawatir jika anak itu akan lepas kendali saat segelnya melemah ketika termakan usia. * Kediaman Harata pagi ini sedang terjadi sedikit cekcok, walau cuaca terlihat cerah dan orang-orang sedang semangat untuk melakukan aktivitas, tetapi hal itu sama sekali tidak berlaku bagi perempuan satu-satunya yang ada di dalam Klan Harata. Gadis berambut ikal yang tak lain beranama Siera, kini tengah menaiki mobil mereka dengan wajah sebal sambil mengomel tidak jelas. Duduk di depan sang Adik secara langsung dan berhadapan wajah di dalam mobil mewah ini, membuat Hoshi terusik juga. Ia menaikkan sebelah alis kala mendengar kicauan tak ada habisnya dari adik perempuan semata wayangnya. Hela napas keluar dari bibir tipis lelaki sulung Harata itu, ia menggelengkan kepala. Di sebelah Siera yang masih terus mengomel, duduk Sanosuke dengan tenang dan terlihat sama sekali tidak terusik seperti sang Kakak. Entah telinga Sanosuke sedang tak sehat atau lelaki kembaran Siera itu memang sudah terbiasa dengan situasi ini. "Baiklah, Siera. Ada apa?" jengah Hoshi melihat tingkah Siera. "Aku mau pulang, sekarang!" pekik si gadis sambil mengerucutkan bibir, sepertinya masih tak menerima dirinya akan menimba ilmu di sekolah baru. Mendengar permintaan adiknya yang keras kepala ini, Hoshi hanya memutar bola mata bosan. "Jangan bercanda, sekarang ini kau harus ke Sekolah, Sie~." "Jangan seenaknya memanggilku begitu, Kak. Cih, pokoknya aku mau pulang. Turunkan aku sekarang, PAK SOPIRRR!" teriakan Siera semakin menjadi, dan Hoshi sedang berusaha menyabarkan hati. Ujian ini selalu saja datang silih berganti. Menghela napas, memejamkan kelopak dan bersaha menenangkan jiwa yang menggila, Hoshi pun mengucapkan mantra agar ia bisa lebih menggendalikan diri, jangan sampai tangannya melayang untuk menjitak jidat adik perempuannya sekarang. "Jalan saja." Hoshi tegas berkata. "Turun!" Siera tetap tak mau kalah. "Ck, jalan saja. Dan ikuti perintahku, Tuan Ibiki." Akhirnya Hoshi memberatkan suaranya, bertanda ia sedang marah. "Ihhhh ... menyebalkan!" matanya melotot, bibirnya kembali mengomel sambil berwajah masam dan tangannya bergerak untuk menjambak sambil mengacak-mengacak rambut Sanosuke yang duduk di sebelahnya. Diperlakukan sedemikian rupa oleh sang Adik kembarnya ini, membuat Sanosuke menghela napas. Tentu saja, dirinya sudah sangat terbiasa dengan tingkah Siera yang manja dan selalu cari gara-gara. Dasar, terlalu memanjakan, tidak bisa tegas. Hoshi di dalam hati sewot sendiri karena melihat respons Sanosuke yang tidak masalah dengan perlakuan Siera, padahal adik mereka yang manja itu sedang mengacak-acak rambut Sanosuke, kalau ia yang diperlakukan seperti ini maka dengan senang hati Hoshi akan menjitak kepala Siera. Sesampai di sekolah barunya, si bungsu malah kembali berulah dengan tidak mau turun dari mobil, dan itu benar-benar membuat kepala Hoshi ingin pecah. Berbagai macam cara ia lakukan untuk membujuk Siera yang merajuk, tetapi hasilnya tetap nihil karena kekerasan kepala yang akut dan sudah mendarah daging di diri adiknya semenjak kecil dahulu. "Turunlah, Siera. Kakak mau ke kantor, nanti terlambat." Hoshi berusaha pasrah dengan kesabaran, padaha kepalanya sudah berasap karena meladeni Siera yang manja dan keras kepala. "Malas." "Kakak ada rapat penting, nanti terlambat, Sie." "Bukan urusanku. Wekk!" bisa-bisanya Siera malah menjulurkan lidahnya kepada Hoshi dan lansung saja membuat perempatan muncul di kepala sang Sulung yang rambutnya dicat berwarna cola dan memang ikal seperti adik perempuannya. "Siera, turun!" "Tidak, ya, ti—kyaaaaaa!" pekikkan itu terdengar karena Siera terkejut merasakan tubuhnya seketika tertarik dan melayang. "Kami pergi, Kak." Dari balik jendela, Sanosuke menggendok adiknya ala bridal style. Jalan dengan ekspresi selalu datar dan tidak memedulikan suasana sekolah yang mulai ramai walau bel belum berbunyi. Mendapati kenyataan ini, membuat gadis bungsu itu kesal bukan main, tangannya bergerak dan kembali menjambaki rambut Sanosuke, tak percaya ternyata Sanosuke lah yang menghancurkan rencana ngambeknya kali ini. "Dasar musuh dalam selimut! Pagar makan tanaman! Serigala berbulu domba! Dasar tidak setia! Dasar Sanosuke menyebalkan!"  Siera mengomeli Sanosuke yang masih menggendongnya, tetapi malang bagi Siera karena dia sedang berhadapan dengan si muka papan kayu yang tersesat di kutub es, sehingga dinginnya minta ampun dan tidak akan mendapatkan respons. Melawan agar bisa terlepas dari gendongan ini pun percuma saja, ia sadar diri kalau selalu kalah tenaga padahal mereka lahir hanya berbeda menit saja. Tatapan mata para penghuni sekolah pun silih bergati memandangi mereka dengan bisik-bisik yang terdengar nyaring di telinga, tetapi Sanosuke dan Siera tidak memedulikan dan masih sibuk dengan urusannya sendiri. Siera dengan rasa kesalnya dan Sanosuke dengan tenaga yang harus dijaga. . . . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD