9. Dia Adalah Aku

2497 Words
“Hei, Ken!” atap sekolah adalah tempat favorit Ken dan Siera ketika ingin berbicara. Mereka sedang duduk dengan beralaskan koran dan memakan bekal yang dibawa Siera, sedangkan lelaki di sampingnya hanya membeli sebuah cup ramen di kantin tadi. Cuaca hari ini agak mendung dan angin mulai terasa dingin. Melihat itu, Ken agak khawatir dengan keadaan Siera yang kelihatan menggigil beberapa kali ketika angina berembus. Namun, Ken tidak bisa berbuat banyak karena Siera yang ingin berbicara kepadanya, padahal Ken sudah bilang untuk lain kali saja karena Siera yang kedianginan. Siera, benar-benar keras kepala! Batin Ken pasrah. “Ada apa? Bicaralah, Siera! Sebelum hujan turun, kau juga kelihatan pucat, hm?” Ken jadi benar-benar khawatir. Siera diam, tetapi pikirannya terus saja bekerja. Ia ingin mengatakan tentang mimpi anehnya kemarin malam. Gadis itu cukup khawatir dan merasa takut. “Aku ... kemarin malam mimpi aneh!” nada suaranya menjadi sedih, tatapan matanya pun berubah murung. “Hm, memangnya mimpi apa? Sebaiknya jangan terlalu dipedulikan, itu hanya bunga tidur, loh.” Walaupun berbicara begitu, Ken tetap penasaran dengan mimpi Siera, ia bahkan mengerutkan alis. “Aku ... aku bermimpi seperti melihat diriku sendiri.” Pandangnya ke arah wajah Ken, Siera masih menjeda ceritanya, setelah mengembuskan napas, ia pun melanjut, “Kau tahu apa yang aku lihat terhadap diriku, Ken?” lelaki yang ditatap hanya menggelengkan kepala. “Di mimpiku itu, aku melihat diriku yang berwujud mengerikan. Kau tahu, bukan, Kalau aku memiliki pelindung berwujud sepeti ular. Nah, saat itu aku juga melihat diriku seperti itu ... hanya saja, wujudku kelihatan lebih mengerikan!” Siera menatap serius bola mata Ken yang biru. Bibirnya ia gigit, entah kenapa perasaan takut itu muncul kembali.  “Siera, kau nyakin itu kau? Tapi, lebih baik apa tidak dilupakan saja?” “Iya, aku nyakin! Aku memang berniat melupakannya, tapi yang membuatku takut dan terus memikirkannya karena di dalam mimpiku itu, aku menyakiti orang-orang yang kucintai. Aku ... aku menusuk Sanosuke dengan kuku panjang yang ada di makhluk yang kuyakini berwujud mirip seperti diriku ini. Lalu, aku juga menyakiti Kak Hoshi.” Napasnya terasa sesak ketika ia memaparkan mimpinya kemarin malam, begitu mencekan. Bahkan ia tak berani untuk sakadar menutupkan mata kembali setelah tersentak bangun. Mendengarkan dengan saksama, Ken pun mengehela napas dan mencoba menenangkan sang Gadis, maka ia belailah kepala berambut ikal yang kali ini tidak diikat rambutnya.  “Ken ... apakah aku ini adalah manusia yang normal? Maksudku, dengan adanya hal aneh yang sering ada pada diriku seperti pelindung-pelindungku itu, lalu dengan adanya Takao yang menjaga agar pelindungku tidak keluar dari tubuhku, bukankah itu sangat tidak normal?” Menggelengkan kepala, Ken pun tersenyum untuk menenangkan hati Siera yang sedang kacau. “Kau akan baik-baik saja. Siera-chan, tetaplah Siera-chan, kenapa kau meragukan atas identitasmu?” “Tapi, Ibu, dia kelihatan sangat ketakutan saat melihatku. Dia sering menjerit ketakutan  dengan menyebutkan iblis atas diriku. Dia sangat ketakutan Ken, dan selalu mengatakan kalau aku adalah iblis yang harus dimusnahkan.” Siera bergetar saat membicarakan hal itu, dia hanya bisa menangis karena mengingat ibunya yang selalu berteriak histeris saat bertemu dengannya. Perihatin karena keadaan sang Gadis, Ken akhirnya memeluk Siera dan membelai punggungnya, lelaki itu terus saja berucap dengan kata-kata penyemangat. Namun, tiba-tiba saja jantungnya berdetak teramat keras. Ken langsung melotot ketika merasakan aura Siera yang meningkat, lelaki bermata biru carah itu gemetar karena merasakan aura kuat yang keluar dari tubuh Siera, teramat gelap dan menyesakkannya. “Si-Siera-chan!” Angin bertiup kencang di sekeliling mereka, awan-awan kelabu berkumpul tepat di atas kepalanya, kilat pun mulai menyambar-nyambar. “Siera-chan, tenangkan dirimu, kumohon!” ucap Ken tulus kepada Siera yang masih menatapnya dengan mata bola mata merah yang kelihatan kosong. Ular-ular itu mulai mengelilingi tubuh Siera dan membuat Ken terdorong kuat ke belakang dan langusng memuntahkan isi perutnya karena menerima tekanan negatif yang kuat dari aura kelam di sekitar Siera. Ukh ... ini lebih parah dari sekedar perbenturan energi yang sering terjadi. Batin Ken berkeringat dingin. Lelaki bertampang Eropa itu kemudian menarik diri untuk menjauh dari Siera, ia masih menatap gadis itu dengan wajah yang terengah. Dirinya memutuskan untuk menenangkan diri sebentar, lalu menarik napas dalam. “Ini akan melelahkan sekali.” Setelah memfokuskan pikirannya, Ken kemudian membuka matanya, tatapan matanya berubah menjadi tajam, dari punggung pemuda itu keluar rantai-rantai keperakan yang langsung menuju ke arah Siera. Rantai-rantai itu lengsung membelit tubuh sang Gadis dan membuatnya tak bisa bergerak. “Hah ... hahh ... sial! Ini melelahkan sekali. Aku sudah curiga kalau ini aura negatif yang berbahaya. Hah ... setidaknya bisa ditahan untuk beberapa saat.” Ia merogoh-rogoh sakunya untuk mencari ponsel, ia harus menghubungi seseorang untuk hal ini. “Tadi, Siera-chan bilang kalau Takao adalah penjaganya ‘kan?” Ken masih terengah karena tekanan aura Siera, belum lagi perbenturan energi yang membuatnya teramat lemas. “Hoeekkk! Sial, auranya terlalu kuat dan menekanku!” Ia kembali memuntahkan isi perutnya sebelum bebicara via ponsel dengan Takao, setelah ponselnya tersambung, ia pun berbicara, “Takao, cepatlah ke sini! Terjadi sesuatu dengan Siera-chan, kami di—ukh ... a-atap.” * Setelah mendengar telepon dari Ken, ia pun langsung menuju ke atap dan tercengang karena melihat Siera yang kembali tidak bisa mengendalikan diri. Ia menyerukan kepada Ken untuk tetap dalam kondisi mengunci Siera dengan rantai aneh yang baru ia tahu dipunya oleh sahabatnya itu, kemudian ia pun menggunakan matnaya untuk mengembalikan si gadis ke kondisi semula. Setelah beberapa saat dan mendudukkan diri untuk beristirahat sejenak, Takao pun mengangkat tubuh Siera yang sekarang tengah tidak sadarkan diri, di belakangnya ada Ken yang mengikuti mereka sambil tertatih-tatih karena lemas dan masih gemetaran. Sialan! Ternyata bukan Siera-chan saja yang memiliki tekanan aura mengerikan, si b*****h sombong ini pun juga sama mengerikan dengan auranya, walau tidak kelam. Tapi, tetap saja perbenturan energi seperti ini, apalagi dalam jumlah besar membuatku merasa tersiksa. Sejak kapan dia semengerikan itu. Dalam benak, Ken terus mengomel bukan main, tidak menyangka sahabat lelakinya memiliki kekuatan spiritual seperti ini. Sang Pemuda bertampang Eropa benar-benar tidak percaya, ia nyaris pingsan menyusul Siera karena merasakan perang energi yang mengerikan. Dan mungkin ia akan beristirahat seperti Siera di kasur empuk UKS mereka. Betapa ia merasa lemas sekarang ini. Takao memandangi wajah Siera yang rambutnya sudah kembali hitam. Lelaki yang memilik wajah datar itu tidak menyangka kalau Siera nyaris saja terlepas dari segelnya, ia terpaksa menggunakan kekuatannya. Ini benar-benar berbahaya, jika terlalu sering menggunakannya, maka sudah bisa dipastikan matanya akan kehilangan cahaya karena segel Siera termakan usia dan harus disempurnakan lagi. Melirik pintu UKS yang bergeser, bertanda ada seseorang yang masuk ke ruangan itu Takao pun menolehkan kepala. Ternyata itu adalah Ken yang baru sanpaidan tengah berjalan sambil gemetaran, kemudian langsung naik ke atas kasur UKS. Beruntunglah bagi lelaki maniak ramen itu karena kasur UKS mereka ada dua. “Takao ... air.” Suara Ken sudah benar-benar serak karena terus-terusan menahan muntah. Awalnya Takao mencoba tidak mengacuhkan si pemuda yang terkulai lemas, tetapi akhirnya ia mengembuskan napas dan berjalan, mengambilkan air dan membuatkan teh hangat untuk sahabatnya ini. “Hah.” Ken mengelus-elus perutnya yang tadi masih mual dan sekarang sudah menjadi hangat dan nyaman berkat teh buatan sahabatnya ini, ia tersenyum dan mengguman, “Thanks, Takao.” Ken kemudian merenggangkan tubuhnya dan berjalan mendekati Siera. Lelaki itu masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi dengan gadis ini. “Ken!” nada serius sangat terdengar jelas dari ucapan Takao. “Itu tadi, apa?”  “Kau melihatnya! apakah karena kau adalah penjaga Siera?” Alis Takao berkerut karena menemukan fakta bahwa lelaki yang masih lemas ini mengetahui prihal penjagaannya terhadap Siera. Ia pun berpikir, mungkin Siera memang sering bercerita kepada Ken tentang apa saja, termasuk sesuatu yang seharusnya tidak boleh diketahui banyak orang. Menganggukkan kepala, ia pun menyerukan agar Ken menjelaskan tentang sesuatu yang terjadi di atap tadi.  “Aku juga tidak tahu itu apa? Kau tahu kan kalau aku bisa melihat sesuatu yang berasal dari dunia astral, kata Nenek Kikyo, ini hanya bawaan lahir dari pendahulu Klan Uzukiro. Aku juga tidak terlalu mengerti, sih.” Ken menaruh tangannya di dagu sambil mengerutkan kedua alisnya. “Ken, selama ini aku tidak terlalu peduli karena kau itu bodoh dan berisik, tapi menginaplah nanti malam di rumahku. Sepertinya Aoda mau berbicara kepadamu tentang beberapa hal.” Takao menyeringai ketika menyelesaikan ucapannya. * Tes. Tes. Tes. Siera merasakan sekujur tubuhnya basah oleh air yang tergenang. Alisnya berkerut karena ia merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Perlahan, ia mencoba membuka kelopak mata dan mengerjapkan beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya di sekitar sini. Matanya dapat menyisir ruangan yang berpedar merah itu, ruangan asing yang baru pertama kali dilihatnya. Siera kemudian menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari danau yang hanya sedalam mata kaki, kemudian ia melihat air terjun berjarak sekitar empat meter darinya. Siera menatap sesuatu yang membara di belakang air terjun. Itu adalah sebuah Naga dengan sembilan kepala. Naga itu terlihat dirantai, dengan huruf-huruf kuno dan tak bisa dibaca, bersinar keemasan, dan berputar-putar membentuk dinding kristal mengelilingi sang Naga. Siera seperti orang kebingungan berada di sana, ia masih berdiri mematung sambil mengamati tempat itu. Siera terkejut karena mendadak ia melihat sebuah mata besar yang menatapnya. “Khu khu khu ... Harata, kah?” suara itu terdengar sangat menyeramkan dan membuat Siera berkeringat dingin, belum lagi sosok itu mengetahui marganya. Siera masih meremas jemarinya, telapak tangannya berkeringat. Kenapa ia bisa berada di tempat mengerikan seperti ini? “Si-siapa kau dan kenapa kau tahu margaku?” Suara Siera terdengar bergetar saat berbicara kepada makhluk itu. “Kau tidak mengenaliku ... khu khu khu ... aku adalah dirimu yang paling terdalam di sudut hatimu, Harata Siera.” Makhluk itu berbicara, ini adalah kesempatan yang ditunggu-tunggu olehnya. Akhirnya, gadis ini berhasil masuk ke alam bawah sadarnya. Sunggu Siera tekejut bukan main, matanya terbelalak dan bibirnya terngaga. Makhluk menyeramkan itu adalah dirinya. Itu tidak mungkin, ini pasti hanya mimpi bodohnya lagi. “Kau berharap ini mimpi? Khu khu khu ... Siera, aku adalah kau. Dan aku bukanlah imajinasimu ataupun fantasimu. Kemarilah, Siera.” Mendengar makhluk itu menyerukan namanya, ia pun terkaku. Masih terdiam walau diserukan agar mendekat. Ia menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba saja ketika membuka mata lagi, Siera sudah berada di dalam goa di belakang air terjun. Perlahan, makhluk menyeramkan itu bergerak, lalu di sekeliling dirinya ada asap hitam yang menutupi pandangannya. Siera tidak tahu apa yang tengah dilakukan makhluk itu, tetapi ia tetap memperhatikan. Beberapa saat kemudian, asap hitam perlahan-lahan menipis, menghilang dan sekarang Siera dapat melihat sosok yang berjalan mendekat ke arahnya. Sosok itu tidak sebesar tadi, ukurannya sebesar manusia normal. Ia meneteskan air mata dan terduduk lemas di genangan air yang ada di tempat aneh ini, menutup mulut dengan sebelah tangan karena mencoba untuk tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya. “Kau masih tidak percaya?” Makhluk itu menyeringai dengan gigi taring yang berhias di ujung-ujung bibirnya. Siera melihat sosok itu, sosok yang sangat menyerupai dirinya. Sosok yang selalu terjelma pada dirinya saat bulan purnama tengah muncul menyinari bumi. Bahkan, dengan jelas ia juga dapat melihat ular-ular yang dijulukinya sebagai pelindung itu tengah mengelilingi sosok si makhluk. “Bohong!” Teriaknya tidak mau percaya. “Aa ... mungkin kau akan percaya ketika suaraku tidak seindah suara milikmu ini.” Makhluk yang berwujud Siera itu pun menyeringai, sembelum ia menyambung ucapannya, “Khu khu khu ... nah, bagaimana sekarang? Apa kau masih tidak memercayai bahwa aku adalah dirimu dan kita adalah satu, Siera?” Memejamkan mata, ia memeluk dirinya sendiri karena merasa takut dan gemetaran, ia terus saja bergumam dengan kata ‘bohong’ dan mencoba mengelak dari ucapan makhluk itu. Siera masih menangis dan memohon agar seseorang dapat menghentikan semua ini, membawanya pergi dari tempat menyeramkan yang sedang memenjaranya. Kumohon, siapa saja! “Siera-chan!” Seketika kelopaknya terbuka, ia mendengar suara Ken yang memenuhi pikirannya dan saat ia ingin membalas pangilan lelaki itu, semuanya menjadi memutih dan menyilaukan mata. * Ken dan Takao berkumpul di depan wajah Siera saat melihat gadis yang tidak sadarkan diri itu kembali berubah menjadi sesuatu yang tidak biasa. Rambut berubah menjadi kehitaman dan kuku-kuku jarinya memanjang sekitar sepuluh centi meter. Belum lagi kulit Siera yang berubah menjadi panas seketika, sampai mereka melihat kulit si gadis mengelupas dan menampakkan daging merah yang berlapis darah. Bertindak cepat, Ken pun memegang dahi si gadis, kemudian memejamkan matanya sendiri, ia mencoba memasuki alam bawah sadar Siera. Walaupun dirinya sudah kelelahan, tetapi ia tetap mengusahakan agar sesuatu yang buruk tidak terjadi pada sahabatnya ini. Berdiri di samping Siera, Takao tidak bisa berbuat banyak karena tadi dia sudah mengaktifkan kekuatan matanya. Apalagi itu adalah level yang tinggi dengan risiko. Jadi, lelaki Aoryu itu hanya memperhatikan apa yang sedang sahabatnya itu lakukan kepada Siera. Beberapa saat kemudian, Takao bisa melihat berangsur-angsur tibuh Siera kembali seperti semula. Kuku itu memendek dan kulitnya kembali menyatu, juga rambutnya. Ken kemudian mengangkat tangannya dari atas dahi Siera, dan seketila limbung karena kehabisan tenaga. Untung saja ada dirinya yang sigap menangkap tubuh Ken dan akhirnya ia kembali membaringkan tubuh itu di atas ranjang. Selepasnya, Takao kembali melihat Siera, perlahan gadis itu mulai menggerakkan mata, dan mengerjap karena merasakan cahaya yang menyilaukan. “Siera?” mendengar suara seseorang, Siera melihat Takao yang ada di depan wajahnya. Gadis itu masih menatap bingung pada si lelaki. Sekali lagi dengan sigap  Takao membantu si gadis untuk duduk, kemudian Siera dapat melihat Ken yang sedang berbahagia dan tengah terbuai mimpi. * “Loh, Ken ikut pulang bersama kita, Ta-chan?” Siera bertanya kepada Takao dan suffix sialan itu membuat lelaki yang ditanya menjadi kesal. “Ahahahhah ... apa yang kaukatakan, Siera-chan? Kau memanggilnya dengan tambahan ‘chan’? Ahahha ... menggelikan sekali. Kau memang mirip wanita, Takao.” Inilah yang paling dibenci Takao ketika dua orang barbar dengan karakter mencolok seperti mereka sudah berkumpul di dekatnya. Menyebalkan. Pembuat onar. Ditambah lagi mengganggunya dengan pertanyaan tidak penting itu. “Berisik!” jengah Takao sarat akan penekanan dan kesinisan. Namun, memang dasar Ken yang tidak pernah sadar kalau ditegur dengan tersirat, cowok doyan ramen itu tetap saja berceloteh riang tentang Takao dan panggilan yang diberikan cewek barbar yang ada di sebelah pemuda itu. Sekarang Takao kesal sendiri karena Ken dengan sok akrab merangkulnya dan Siera yang ada di sebelah kanannya—sialnya ia berada di tengah-tengah kedua orang ini. Sama sekali tidak sadar bahwa sedari di UKS tadi dia selalu menyebut Ken sebagai sahabatnya. Bukan hanya itu saja, setelah menangkis dengan kasar tangan Ken, ia malah kena omel cewek judes berkepala batu. Semakin berisik saja sekarang. “Sudahlah, Siera-chan! Takao memang seperti itu.” Cih, sekarang dia sok berlagak membela dan mencari perhatian gadis barbar itu. Dan Takao kembali memandang jendela setelah Ken mengatakan untuk mengehentikan omelan, mereka malah kembali berbicara riang tanpa memedulikan pemuda yang melirik-lirik dari kaca mobil yang memantulkan kekraban Ken dan Siera. Sekarang aku jadi obat nyamuk. Ck. Batin Takao kesal. Sama sekali tidak mengerti entah apa yang diinginkah oleh pemuda satu ini. Mobil berhenti menandakan bahwa mereka sudah sampai di rumah Takao, Siera dan Ken masuk ke dalam rumah sambil beriringan dan meninggalkan Takao yang ada di belakangnya. Entah siapa sekarang yang merasa menjadi tamu di rumah keluarga Aoryu ini. “Yo! Kak Aoda, lama tidak bertemu?” Aoda yang melihat kehadiran Ken pun mendatangi pemuda itu dan merangkulnya dengan akrab. “Kak Aoda, apa kakakku ada datang ke sini?” Siera bertanya kepada lelaki yang jauh lebih tinggi darinya. “Tidak, tapi tadi Hoshi menghubungiku kalau dia lusa akan ke sini bersama Sanosuke. Saudara kembarmu sudah pulih sepertinya.” Siera langsung tersenyum sambil meneteskan air mata. Ia sangat bersyukur kalau akhrinya Sanosuke sudah pulih dari luka-lukanya itu. “Syukurlah.” Aoda sekarang membelai kepala Siera. “Baiklah, Ayo sebaiknya masuk dan segera makan siang. Ken, Saku-chan.” Aoda berjalan meninggalkan mekera. Sebelum menghilang di balik pintu, dirinya pun dipanggil sang adik karena ada sesuatu yang harus mereka bicarakan. Dan mereka telah berjanji agar nanti malam membicarakan hal ini.  “Aa.” Aoda membalas dengan gumaman dan kemudian ia pun berlalu dari hadapan sang Adik. . . . Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD