Talak Tiga

1460 Words
Februari, 2022, adalah tahun kehancuran bagiku. Di mana awal tahun 2022 aku diceraikan oleh suamiku. Tuduhan perselingkuhan yang dilontarkannya ke padaku. Semua berawal dari hadirnya kembali mantan pacarku, sebut saja namanya Abima (nama samaran). Memang aku akui ini semua salahku. Aku yang duluan mengirimkan permintaan pertemanan ke akun facebooknya Abima, tapi itu sudah lama, sekitar akhir tahun 2021. Dan si Abima pun baru mengkonfirmasi permintaan pertemanan dariku pada bulan februari 2022. Aku tidak menyangka, awal bulan februari tahun 2022 merupakan awal munculnya permasalahan di dalam rumah tanggaku. Aku dan Abima pernah berpacaran melalui sosial media pada pertengahan tahun 2013, tepatnya 9 tahun yang lalu. Sedangkan aku mengenal Abima sejak akhir tahun 2012. Hubungan onlineku dengan Abima tidak berlangsung lama, hanya beberapa bulan saja. Berakhirnya hubungan kami pun bagiku tanpa sebab yang jelas. Tiba-tiba saja dia mengakhir hubungan kami. Semenjak kami putus, semenjak itu Abima selalu menghinaku. Bertahun-tahun dia menghinaku. Sakit? Ya jelas pasti sakit, bahkan banget hatiku. Walau pun hubungan ini cuma melalui dunia maya, tapi perasaan cintanya nyata, dan rasa sakitnya pun berasa. Aku sudah lelah karena selalu dihinanya. Akhirnya pada awal tahun 2018, aku memutuskan untuk menutup semua sosial mediaku dan menggantinya dengan sosial media yang baru. Kulakukan ini hanya semata-mata untuk menjauhi Abima. 4 tahun berlalu tanpa tahu kabar dari si Abima lagi. 4 tahun aku menjauhi dan menghilang dari Abima. Kupikir kami sudah sama-sama saling melupakan, tapi ternyata tidak! Kupikir dia tidak akan mengenali akun facebookku, tapi ternyata tidak! Rupanya Abima masih bisa mengenali akun f*******:. Padahal di akun facebookku itu aku tidak pernah mengupload foto wajahku, dan lagi pula cara berpakaianku sudah berbeda sejak 6 tahun yang lalu, aku sudah menutup auratku hampir sempurna. Aku mengenakan niqob dan berpakaian syar'i. Bagaimana bisa Abima dapat mengenali akun facebookku? Ha ha ha ha dia dapat mengenalinya karena foto kucingku yang kuupload di akun facebookku. Aku masih ingat awal Abima kembali mengejarku lagi. Sungguh kata-kata manis yang dia ucapkan, puja pujinya untukku, bak oh bulan oh bintang ia merayuku, taapi aku sadar aku punya suami, dan aku saat itu sangat--sangat mencintai suamiku. Selain aku sadar aku punya suami, aku juga masih ingat perlakuan Abima terhadapku 9 tahun yang lalu. Jujur, sampai detik ini aku masih sakit hati jika mengingat perlakuannya dulu. Maka sebab itu berkali-kali aku menolaknya, dan berkali-kali juga aku bilang 'jangan ganggu aku!' 'kamu temanku, tidak lebih dari itu' kata-kata itu sering kuucapkan pada Abima, tapi Abima tetap bersikeras mengejarku. [Kamu istri orang, juga istriku!] [Aku cuma mau menikah sama kamu!] [Kamu ke mana aja? Bertahun-tahun aku mencari kamu, mencari sosial mediamu] [Sampai sekarang aku masih sayang sama kamu] Kata-kata itu yang paling kuingat. Kemudian aku menceritakan tentang perlakuan dan sikap suamiku terhadapku ke pada Abima. "G*blok suamimu! Mana suamimu? Aku mau bicara sama dia," seakan-akan dia tidak terima kalau aku diperlakukan suamiku seperti itu. Semenjak Abima mengetahuinya, aku dan Abima sepakat saling blok sosial media. Abima tidak ingin aku terluka dan disiksa oleh suamiku. Berhari-hari aku dan Abima los kontak, dan sejak itu aku jatuh sakit. Saat itu suamiku belum mengetahui cerita tentang Abima karena aku masih merahasiakannya. Dan aku juga masih menutupi tentang sakitku terhadap suamiku, tapi suamiku seperti menaruh curiga ke padaku, karena perubahan yang aku alami. Semenjak sakit, aku sering melamun, menangis memikirkan sakitku, dan hampir tidak ada semangat hidup. Pada akhirnya aku pun bercerita ke pada suamiku tentang sakit yang kualami, tapi apa? Suamiku tidak pernah peduli, dia tidak pernah menemaniku dan mengantarkanku untuk berobat. Aku berobat pergi sendirian. Semangat untuk sembuh sangatlah kuat didiriku, tapi aku tidak dapat dukungan dari suamiku. Suamiku sibuk dengan urusan dan pekerjaannya saja. Malam itu, aku kembali mengirim pesan chat ke Abima. Aku menceritakan pada dia bahwa aku sakit. Dan malam itu, malam apes untukku. Awal mulanya aku dan suamiku baik-baik saja. Walau pun dalam keadaan sakit, aku masih bisa bercanda dengan suamiku. Setelah makan malam dan saling bercanda, suamiku pergi ke warung. Nah, saat suamiku pergi ke warung itulah aku berani mengirimkan pesan chat ke Abima. Panjang lebar aku bercerita pada Abima, tiba-tiba suamiku datang. Melihat kedatangan suamiku yang secara tiba-tiba, aku kaget. Dengan spontan aku langsung menyembunyikan gawaiku. Karena gelagatku itu, suamiku langsung curiga ke padaku. Dia langsung merampas handphoneku. Dibacanya semua chatku dengan Abima. Praaaannnnngggg "B*ngs*t!" suamiku menendang sebuah gelas yang berisi air teh yang ada di hadapannya. Pecahlah gelas itu menjadi berkeping-keping. "Malam ini juga kamu kutalak tiga!" kata talak yang terakhir akhirnya terlontar juga dari mulut suamiku. Sepanjang pernikahan kami, dia sudah 2 kali mengucapkan talak ke padaku. Mendengar kata talak itu, aku terkejut. Aku tidak mengeluarkan air mata, justru aku bengong terkagum-kagum mendengar kata talak itu. Aku hanya diam membisu, tidak mengeluarkan satu kata pun. Percuma jika aku menjelaskan, suamiku tidak akan pernah mau tahu penjelasan dariku. "Kurang aj*r! Beraninya kamu berselingkuh di belakangku!" "Selingkuh?" kaget aku mendengar dia menuduh aku selingkuh. Padahal sama sekali antara aku dan Abima tidak ada kesepakatan untuk menjalin asmara lagi. "Jangan menuduh sembarangan!" "Demi Tuhan! Aku tidak pernah berselingkuh dari kamu!" "Tidak pernah berselingkuh?" suamiku mendekat ke padaku. "T*ik!" "Mana buktinya jika aku berselingkuh?" "Ini apa? Hah?" dia menunjuk handphoneku. "Sudah ketahuan, tapi masih tidak mengaku!" Di dalam chat aku dengan Abima malam itu tidak ada pembahasan tentang percintaan. Aku hanya menceritakan tentang sakitku, tidak lebih dari itu. Bahkan malam itu kami sepakat untuk saling menjauh dan memblok semua akun sosial media kami. Tapi suamiku sudah terlanjur marah besar. Emosinya tak terkendali, sampai-sampai tega menyakitiku. Hari itu dia membabi buta menghajarku. Tanganku dipasung, kakiku juga, ditindihnya, badanku sampai aku tidak bisa bergerak, sedangkan tangannya sibuk menghajar wajah dan kepalaku. Bibirku pecah dan berdarah, pipiku lebam, kepalaku benjol akibat bogeman dari tangannya. Sekuat tenaga aku berteriak dan berontak. Setiap aku berteriak, dia selalu menampar mulutku. Hari itu aku pasrah, tidak ada kekuatan di diriku. Aku mengakui akulah yang bersalah, tapi aku sudah berkali-kali minta maaf ke padanya, tapi maafku tidak dimaafkan. Dia tetap menghajarku sampai badanku lemas tak berdaya. Setelah puas menghajarku, dia mengambil gunting merah yang ada di meja kerjaku, gunting yang sering kupakai untuk memotong bahan. "Kubunuh kamu malam ini!!!!" teriak suamiku sambil mengarahkan gunting merah itu ke badanku. 'Ya Allah ya Rabby, jika malam ini adalah malam terakhir aku hidup di dunia ini, aku ikhlas ya Allah. Dengan cara apapun Engkau mengambil nyawaku, aku ikhlas ya Allah,' lirihku dalam hati dengan tangisan. Malam itu aku benar-benar pasrah. Mau kaburpun aku tidak bisa, karena pintu ruangan tempat aku bekerja sudah dikunci oleh suamiku. Aku hanya bisa menyebut nama Allah dan Rasulullah, serta memohon ampunan ke pada sang Khaliq. Mulutku tak henti-hentinya menyebut kekuasaan Tuhan, sesekali kupanjatkan permohonan agar aku bisa diselamatkan dari ancaman suamiku. "Dasar wanita penyelingkuh," dia menceking leherku. "Banyak-banyak kamu menyebut nama Tuhan, karena malam ini malam terakhir kamu hidup!" "Aku mohon maafkan aku, aku minta maaf, aku mengaku salah, tapi aku tidak berselingkuh!" aku berharap belas kasihan dari suamiku. "Masih saja kamu tidak mengakui perselingkuhanmu dengan lelaki bangs*t itu!" "Demi Tuhan! Aku tidak berselingkuh dengannya!" "Lebih baik kamu mati dari pada kamu hidup hanya bikin aku sakit hati!" "Aku mohon jangan bunuh aku," entah berapa banyak sudah air mataku mengalir. "Aku nggak mau kamu dipenjara!" "Biar saja aku dipenjara, aku tidak masalah, paling juga dihukum 20 tahun penjara, tapi aku puas karena telah menghabisi nyawa wanita penyingkuh seperti kamu!" 'Tuhan, tolong hambamu ini,' do'aku dalam hati. Dia meleparkan gunting merah itu, dia mengurungkan niatnya untuk membunuhku. "Aku tidak akan membunuhmu, aku tidak akan mengotori tanganku hanya karena perempuan penyelingkuh sepertimu, tapi malam ini juga kamu harus pergi dari rumah ini!" dia mengusirku. "Tapi," "Nggak ada tapi-tapian! Malam ini juga kamu harus keluar dari rumah ini!" Belum sempat aku membereskan pakaianku, dia sudah menyeretku, didorongnya aku keluar halaman, "pergi!" dia mengusirku. Hanya dengan baju selembar yang menempel di badanku, aku meninggalkan rumahku. Di tengah sepinya malam, tepat jam 01:00 aku pergi dari rumah. Malam itu, hari hujan tapi tidak deras dan tidak pula gerimis. Bajuku basah kuyup, sedangkan aku tidak membawa baju ganti karena tidak diberi kesempatan untuk berkemas. Untung saja rumahku dan rumah orang tuaku dekat masih satu kampung, jadi malam itu aku pulang ke rumah orang tuaku. Tok tok tok Ibu sambungku membukakan pintu. "Ros, Kamu kenapa? Kok malam-malam datang ke sini?" Pilu hatiku, aku tidak bisa berkata apa-apa. Air mataku telah menyatu dengan air hujan. "Aku kedinginan, boleh aku masuk? Boleh malam ini aku tidur di rumah sini?" "Oh, iya, masuk dulu," Ira (ibu sambungku) mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah. "Kamu kenapa, Ros?" "Aku ditalak Yuda (nama samaran)." "Hah, kok bisa?" Ira terkejut. "Abah mana?" aku mencar bapakku. "Abah masih di luar kota," sahut Ira. "Kapan abah pulang?" "Empat bulan lagi," Malam itu, dengan keadaan yang kedinginan karena bajuku basah, ditambah rasa perih bekas luka hantaman yang terkena air hujan, aku sulit tidur, semalaman aku menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD