Pelukan Terakhir

1084 Words

Aku menutup pintu apartemen itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Bukan karena takut. Lebih karena aku belum terbiasa menyebut tempat ini rumah. Kalimat Raka kembali terngiang di kepala, muncul begitu saja di sela bunyi klik kunci pintu. “Ini hak kamu, Selira,” katanya waktu itu, tanpa nada menggurui. “Setelah semua yang terjadi, setelah perceraian itu, seharusnya kamu gak keluar dengan tangan kosong. Aku minta maaf karena dulu kamu gak dapat apa yang seharusnya jadi milikmu.” Aku ingat bagaimana aku terdiam saat itu, bukan karena menginginkan apa pun darinya. Melainkan karena Raka mengakui bahwa hakku memang pernah dirampas. Bukan hanya martabatku, tapi juga hakku sebagai manusia yang sah... pembagian harta selama pernikahan. Apartemen ini bukan hadiah. Bukan belas kasihan. Ra

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD