"Afrea Tifanny, would you be mine?" Sudah sedari tadi Petra mengulang kata-kata itu di depan cermin. Belum pernah Petra merasakan yang gugup seperti ini. Setelah semalam pulang pukul 9.00 di antar Farhan, Rea sama sekali tidak berbicara banyak dengan Petra. Entahlah, Petra rasa Rea hanya butuh istirahat setelah bersama Farhan. Petra tidak mau berpikiran yang macam-macam mengenai Rea. Bahkan sampai saat ini, haruskan Petra memanggil Rea sebagai adiknya? Petra turun jam 7 pagi ke meja makan, sudah ada Rea dengan baju yang biasa ia gunakan. Rea menyantap nasi gorengnya dengan tenang. "Pagi, Re," sapa Petra sebiasa mungkin "Pagi juga, Bang." Bahkan. Sampai saai ini, Rea masih memanggilnya dengan sebutan itu. Petra hanya bisa tersenyum tipis lalu duduk di tempat biasanya ia duduk. Di depa

