Rasa Yang Tak Biasa

1078 Words
Pesta kejutan ulang tahunku begitu berkesan, karena itu sudah berlalu dan sudah berjalan beberapa bulan. Usiaku kini 17 tahun lebih. Aku sekarang kelas 3 Sekolah Menengah Atas. Sebentar lagi aku menghadapi ujian Nasional. Ujian kelulusan. Sedangkan Yun Ja Oppa ini mulai menginjak usia 18 tahun. Kami memang hanya beda beberapa bulan saja, sepertinya Yun Ja Oppa dan aku memang hanya beda sekitar 4 atau 5 bulan saja. Kami pun merayakan pesta ulang tahun Yun Ja Oppa dengan sangat meriah. Aku masih ingat malam itu Yun Ja Oppa terlihat tampan dengan setelan yang telah diberikan oleh Ahjumeoni. Pesta itu dibuat besar-besaran dan mengundang ratusan orang. Benar-benar sangat meriah. Wajar saja karena Yun Ja Oppa adalah anak tunggal dari Paman dan Bibi. Karena itulah Yun Ja Oppa diberikan pesta semeriah itu. Sungguh sangat meriah. Aku merasa begitu senang berada di dalam pesta tersebut. Aku ingin memberikannya sebuah kado yang memang sangat spesial. Aku membuatkan Yun Ja Oppa sebuah sweater yang aku buat dan aku rajut sendiri dengan tanganku. Sweater yang tidak akan bisa dibeli karena memang tidak ada dijual di Mall. Aku sengaja membuatkan itu demi Yun Ja Oppa. Dan benar saja, Yun Ja Oppa begitu senang tatkala menerima kado dariku. Aku sungguh bahagia. Senyumnya begitu menawan membuat aku merasa begitu hangat ketika menatap senyuman tersebut. Rasa sukaku terhadapnya semakin hari semakin besar, tetapi tidak menyangka bahwa setelah pesta ulang tahun itu, Yun Ja Oppa memberikan aku sebuah perhatian yang lebih khusus daripada biasanya. Yun Ja Oppa sering sekali mengajak aku makan malam, makan siang, bahkan sekedar untuk makan di kantin, kami pun bersama. Dan itu membuat Kang Ha begitu marah. Kang Ha terdiam sepanjang hari, ketika bahkan dia tidak diajak oleh Yun Ja Oppa untuk sekedar berbelanja ke Mall. Entah kenapa Yun Ja Oppa hanya mengajak aku saja, sepertinya beliau tidak berminat untuk mengajak serta Kang Ha bersama kami. Dan itu membuat Kang Ha menangis. Kang Ha mengadu kepada sang ibu. Alias Bibi kesayangannya. Kang Ha mengatakan kepada Bibi bahwa akulah penyebab dari Yun Ja Oppa mengabaikannya selama beberapa waktu. Sore itu aku dipanggil ke kamarnya Kang Ha. Entahlah aku merasa berdebar. Kenapa tiba-tiba saja aku disuruh masuk ke dalam kamar Kang Ha. Ternyata di dalam kamar tersebut sudah ada dua wanita yang menantikan kedatanganku, Hang Ha dan Bibi Wang. "Duduklah!" Bibi Wang tersebut menatapku dan menyuruh aku untuk duduk, suaranya sangat lantang, aku sempat ketakutan tetapi dengan segera ku buang rasa takut tersebut. Aku pun duduk dengan perlahan dan berdo'a kepada Tuhan semoga saja tidak terjadi sesuatu hal padaku sore ini. Karena Paman dan Yunjae Oppa sedang tidak berada di rumah, mereka sedang ada urusan lain dan itu sangat penting. "Dengarkan aku! Aku tidak suka kamu terlalu dekat dengan Putraku, kamu hanya anak pungut disini, aku tidak suka kamu menggoda Putraku. Jangan sekali-kali lagi kamu mengajak Putraku untuk jalan-jalan dan makan di luar. Memangnya kamu pikir uang yang dikeluarkan itu bukan uangku? Semuanya uang dariku, kamu seenaknya saja mengajak anak orang untuk menghabis-habiskan uang, seenaknya menghambur-hamburkan uang. Dasar orang miskin, benar-benar memalukan," Ahjumeoni berkata begitu kasar kepadaku, hatiku begitu sakit saat mendengar ucapan kasarnya. Aku memang bukan orang kaya, aku memang bukan orang yang sepadan dengan mereka, tapi aku tidak sengaja dan tidak memaksa Yun Ja Oppa untuk membelikan barang atau sekadar mengajak dia jalan-jalan. Semua itu murni Yun Ja Oppa sendiri yang mengajak. Bukan karena keinginanku. Tetapi Bibi menuduhku seperti itu, membuat hatiku benar-benar terasa teriris. Dadaku terasa sesak untuk sekedar bernafas. Aku rasanya ingin keluar dari rumah ini, tetapi kenapa begitu sulit untuk melangkah. "Sekali lagi kamu menjadi w*************a, aku tidak sungkan untuk mengusirmu dari rumah ini, ingatlah Yun Ja adalah pewaris dari keluarga kami. Tidak sepantasnya kamu menjadi wanita yang murahan terus mendekati anakku!" Sekali lagi Bibi menghina aku memanggil aku dengan sebutan w************n. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Aku bahkan tidak berbuat apapun? Aku hanya mengikuti ucapan di Yun Ja makan bersama dan pergi berjalan-jalan, cuma itu saja. Walaupun aku sendiri menyadari betapa aku sangat menyukai Yun Ja dan rasa suka itu itu memang ternyata sebuah perasaan cinta. Tetapi dengan sengaja aku buang jauh-jauh perasaan itu, karena apa? Karena aku tidak mau mengganggu hubungan bersama Yun Ja Oppa. Aku tidak mau karena perasaan cintaku ini merubah hubungan kami. Aku tidak mau karena perasaan cintaku ini membuat Yun Ja Oppa menjauhi aku. Karena itulah dengan sekuat hatiku aku selalu memendam rasa sukaku terhadapnya. Tetapi tidak disangka terjadi terjadi hal seperti itu. Tidak disangka bahwa Bibi bisa menghina aku sampai sepuas itu. Tak bisa lagi aku menahan tetesan air mata ini. Bulir air mata telah ku jatuhkan membuat hatiku semakin sesak. Rasa sakit ini aku rasakan. Membuat aku tak bisa untuk sekedar beranjak. "Maaf Ahjumeoni, apa salahku. Aku bahkan tidak berbuat apapun bersama Yun Ja Oppa. Kenapa dengan tega menyebut aku sebagai w************n? Aku memang bukan orang kaya seperti kalian, aku memang menumpang hidup di sini. Tetapi aku bukan w************n seperti yang dikatakan, tidak ada perbuatanku yang menjalar ke daerah itu, kedekatanku dengan Yun Ja Oppa masih dalam batas normal," ucapku dengan tetesan air mata, tetapi tiba-tiba sahaja Bibi mendorongku, dan dengan seketika aku langsung terjatuh tersungkur ke lantai. "Aww! Aku sedikit berteriak karena ku rasakan rasa sakit di daerah lutut dan tumitku. Kepalaku pun terbentur meja dan kini bahkan aku sudah mengeluarkan darah. Sebuah darah segar menetes dari kepalaku. Aku sudah tidak tahan rasanya sangat sakit, kenapa Bibi tega mendorongku sampai seperti itu? "Lihatlah Bibi, kepalanya berdarah," sahut Kang Ha kepada Bibi Wang. "Biarkan saja, biarkan dia merasakan kesakitan yang aku rasakan, hatiku merasa sakit, anakku harus bergaul dengan wanita rendah seperti dia," kata Bibi, dia benar-benar menganggap aku salah aku ini hanya sebutir debu aku hanya kotoran di matanya. Rasa sakit di hatiku benar-benar membuat nafasku terasa sesak. Hatiku terasa remuk, jantungku terasa berdebar begitu sakit dan teramat sakit. Apa salahku Bibi sehingga kau begitu membenciku? Aku bahkan tak sanggup untuk mempertanyakan hal itu lagi. Kini aku hanya bisa terisak sambil memegangi kepalaku yang terasa sakit. "Dia sama saja seperti ibunya, selalu menggoda pria kaya, ibunya murahan dan anaknya pun sama murahannya. Aku bahkan sangat jijik melihat kemiripan mereka, kuharap ibunya membusuk di neraka, dan kau pun ikut juga di sana!" Bibi berkata sambil pergi meninggalkan aku di kamar. Kang Ha pun menoleh kepadaku, dia tersenyum sinis, dan sesaat lalu meninggalkan aku. Terjawab sudah semua pertanyaanku. Ternyata Bibi Wang begitu membenci Ibuku. Karena itulah Bibi Wang pun membenci aku, apa sebenarnya salah ibu sehingga Bibi mendo'akan ibu seperti itu. Ibu, apa kau mendengarku? Bisakah kamu menjawab pertanyaanku, Kenapa Bibi Wang begitu membencimu, sehingga kini aku pun mendapat kebencian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD