Dara tertunduk. Bayang-bayang ketakutan berputar-putar di benaknya, seperti kabut pekat yang enggan sirna di pagi buta.
Napasnya tersendat, hatinya menggigil dalam ketakutan yang nyaris membekukan. Ia tak sanggup menatap Melawati, takut ancaman Daiva yang berbisik serupa sembilu, mengiris relung-relung keberaniannya.
"Dara. Kalau memang Daffa yang sudah menodai kamu, saya akan menikahkan kamu dengannya setelah Daiva menikah," suara Melawati mengalun, namun terdengar bagai palu godam yang menghantam d**a Dara.
Dara mengangkat wajahnya, sepasang matanya yang redup menyimpan rahasia luka yang tak terucapkan.
"Jangan, Bu. Mas Daffa tidak perlu tanggung jawab. Dia tidak bersalah. Ini salah saya. Saya yang sudah menggodanya. Sekali lagi saya minta maaf," katanya, suaranya bergetar, seakan setiap kata adalah duri yang menusuk tenggorokannya.
Lebih baik ia berbohong. Daripada Daffa dipaksa menikahinya, lebih baik ia mengorbankan dirinya sendiri. Ia lebih rela menanggung beban ini seorang diri, ketimbang mengikat seorang pria yang tak bersalah dalam ikatan dusta.
Namun, di balik bibirnya yang bergetar, di balik kepalanya yang tertunduk pasrah, jiwanya menjerit dalam sunyi.
"Haaah! Lalu, kenapa kamu bilang kalau kamu diperkosa, Dara?" tanya Melawati, tatapannya mencermati tiap gerak-gerik Dara, seakan hendak menembus lapisan-lapisan kebohongan yang melingkupinya.
Dara menelan salivanya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa seperti gurun tandus yang menolak aliran air. Tatapan Melawati bagai bara api yang hendak membakar topengnya, memaksa Dara mencari celah untuk lari, untuk menghindari kebenaran yang menyakitkan.
"Ma-maafkan saya, Bu. Saat itu saya bingung harus jawab apa karena gugup. Sekali lagi, jangan menikahkan saya dengan Mas Daffa. Dia berhak menikah dengan orang yang dia cintai," rintih Dara dengan suara yang lirih, nyaris seperti bisikan angin di malam sendu.
Melawati menghela napas kasar. Ada keraguan di wajahnya, namun prasangka dan naluri keibuannya bergulat dalam benaknya. Dara tampak begitu polos, seperti bunga melati yang baru mekar, wangi tapi rapuh, lemah dalam badai.
"Biarkan saya pergi saja dari rumah ini, Bu. Saya tidak ingin jadi beban Mas Daffa dan yang lainnya," ucap Dara, seolah kata-kata itu adalah pintu menuju kebebasan yang selama ini ia dambakan.
"Tidak bisa." Suara Melawati tegas, dingin seperti kabut di puncak gunung. "Saya tetap akan menikahi kamu dengan Daffa. Walaupun kamu yang sudah menggodanya, tanggung jawab harus tetap ada. Sampai saat ini Daffa tidak memiliki kekasih. Saya khawatir dia menyimpang."
Dara menggigit bibirnya, hatinya tenggelam dalam jurang kebingungan. Apakah ini takdir yang harus ia terima? Apakah kebohongan yang ia ciptakan justru menjadi jerat yang semakin mencekiknya?
"Tapi, setelah mendengar jika dia sudah menyetubuhi kamu, kecurigaan saya jadi hilang. Walaupun kata kamu, kamu yang sudah menggodanya, saya malah berterima kasih sama kamu karena sudah membuang rasa curiga saya pada anak itu."
Dunia Dara seakan runtuh, tanah yang ia pijak terasa merekah, siap menelannya ke dalam jurang kehancuran. Ini bukan yang ia inginkan.
Ini bukan cara untuk bebas. Ini adalah jerat yang lebih kuat, belitan rantai yang semakin membelenggu.
Ia hanya ingin pergi, menghilang dalam samudra luas, membiarkan ombak waktu menghapus jejaknya. Namun, kini, ia justru terjebak dalam labirin yang tak memiliki jalan keluar.
Apakah takdir tak pernah berpihak padanya? Atau mungkin, ia sendiri yang telah mengunci gerbang kebebasannya dengan tangan gemetar yang tak berdaya?
Selesai makan siang, Melawati dan Dara kembali ke rumah. Langit siang membentang biru pucat, awan-awan tipis mengambang malas di angkasa, seakan mencerminkan benak Dara yang penuh ketidakpastian. Setelah menemani Melawati menyimpan semua perabotan, Dara pamit pergi ke kamarnya.
"Dara. Istirahat dulu. Wajahmu pucat. Sepertinya kamu kelelahan," kata Melawati dengan suara lembut yang mengalun bagai embusan angin di musim gugur.
Dara mengangguk sambil mengulas senyumnya yang samar, tipis bagai senja yang enggan bertahan di cakrawala. "Baik, Bu. Terima kasih untuk makan siangnya. Kalau begitu, saya permisi."
Langkahnya terasa ringan, tapi hatinya menggelayut berat. Dara bergegas masuk ke dalam kamarnya, jantungnya berdebar seperti ombak yang menghantam karang. Jemarinya gemetar saat meraih alat tes yang akan menjadi penentu nasibnya. Apakah ini hanya stres, ataukah kenyataan yang lebih mengerikan tengah menyapanya dengan senyum sinis?
Melawati menatap kosong ke arah di mana Dara menghilang. Ada gelisah yang mengendap di hatinya, seolah angin keraguan bertiup kencang, menggoyahkan keyakinannya.
"Kenapa sulit sekali percaya jika memang Dara yang sudah menggoda anakku," gumamnya lirih, kepalanya dipenuhi tanya yang tak kunjung menemukan jawabannya.
Sementara itu, di dalam kamar, Dara terduduk lemas. Waktu seakan membeku di sekelilingnya, hanya suara napasnya yang terdengar, pendek dan tertahan. Dua garis biru terpampang jelas di alat kecil di tangannya.
Ia menatapnya dengan mata yang membulat, lalu perlahan, dinding-dinding hatinya runtuh. Dadanya bergetar, tangannya terkulai lemas, dan air mata pun jatuh tanpa kendali, mengalir deras seperti hujan yang tak berkesudahan.
"Aku harus bagaimana? A-aku harus bagaimana..." bisiknya parau, seolah bertanya pada kesunyian yang membekapnya. Bahunya bergetar, tubuhnya menggigil dalam pelukan ketakutan.
Tidak mungkin Bu Mela tahu. Tidak mungkin Mas Daffa tahu. Dan tidak mungkin ia mengungkapkan kenyataan bahwa Daiva-lah yang telah menanam benih kutukan ini di dalam tubuhnya.
Dara menundukkan kepalanya, lalu dengan gerakan kasar, ia menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti.
"Aku harus mencari cara untuk keluar dari rumah ini. Menikah dengan Daiva adalah mimpi buruk. Menikah dengan Mas Daffa pun tak pernah ada dalam keinginanku. Lebih baik aku pergi dari sini, membesarkan anak ini sendirian, tanpa bayangan ayah yang telah menciptakan luka ini."