Sejak Kapan Mencintai Dara?

1123 Words
Satu minggu berlalu. Dara yang kini memilih untuk pergi jauh dari keluarga Adicandra benar-benar pergi. Angin malam yang menyelusup lewat celah jendela kontrakan kecilnya seakan membisikkan kesepian yang kini menjadi temannya. Hilangnya Dara dengan membawa calon bayi keturunan Adicandra meninggalkan kekhawatiran yang tak berkesudahan bagi Melawati, Adicandra, dan Daffa. Seakan ada bagian dari mereka yang menghilang, terombang-ambing di tempat yang tak mereka ketahui. Sedangkan Daiva. Sampai saat ini dia seperti pria asing di dalam keluarga itu. Keberadaannya hanya mengundang kepahitan, seperti noda yang sulit terhapus dari kain putih. Ingin rasanya pernikahan itu segera terlaksana, agar Daiva pergi dan lenyap dari rumah itu tanpa jejak yang menyakitkan. Di rumah kontrakan. Tempat di mana Dara kini memilih menetap, mengandalkan sisa uang pemberian Daiva. Ruangan sederhana ini menjadi saksi sunyi perjuangannya. Belum mendapatkan pekerjaan karena memang Dara belum mencari pekerjaan yang layak untuk ibu hamil. Kini, usia kandungannya sudah memasuki delapan minggu. Setelah kabur dari Daffa, Dara memeriksa kandungannya di sebuah klinik kecil yang tersembunyi di sudut kota ini. "Mas Daffa mungkin sudah membaca suratku. Tentang perasaanku yang sampai saat ini masih saja mencintainya." Dara berucap sendiri, suaranya samar terbawa angin malam yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam kamar yang lumayan luas itu, Dara termenung sendiri. Rasa lega menyelimuti hatinya karena telah berhasil keluar dari rumah yang menyimpan kenangan luka, juga bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus merasakan pegal-pegal setelah bangun tidur. Namun, di balik kebebasan ini, ada kekosongan yang sulit ia abaikan. Tok tok tok! Setiap kali ada yang mengetuk pintu, Dara selalu kelimpungan dan resah sendiri. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, rasa takut menyeruak dalam d**a. Khawatir kalau-kalau yang mengetuk pintu adalah seseorang dari keluarga Adicandra, ingin membawanya kembali ke dalam kepedihan yang baru saja ia hindari. Dengan hati-hati, ia mengintip dari balik jendela terlebih dahulu sebelum membuka pintu. "Oh, Pak RT. Tapi, mau ngapain dia ke sini?" gumam Dara bertanya pada dirinya sendiri. Klek! Pintu akhirnya dibuka, angin dingin dari luar merayap masuk, membelai kulitnya yang merinding. "Ada apa, Pak RT?" tanya Dara dengan sopan, suaranya terdengar hati-hati. "Kamu sudah mengisi formulir untuk data penghuni baru di sini?" tanya Pak RT dengan suara beratnya. Dara mengangguk dengan polosnya. "Sudah, Pak. Saya sudah mengisinya, kenapa memangnya, Pak?" "Siapa yang kasih formulirnya?" "Istri Bapak. Bu Ida." "Oh. Berarti istri saya yang belum memberikan datanya pada saya. Baiklah kalau begitu. Berapa lama kamu tinggal di sini? Siapa namamu? Kok saya lupa, yaa." "Dara, Pak." "Aah iya, Dara. Berapa lama ngontrak di sini? Atau permanen?" Dara menggeleng pelan. "Nggak kok, Pak. Paling sampai anak saya lahir." Pak RT membelalakkan mata, keterkejutan terpantul jelas di wajahnya. "Haaa! Kamu lagi hamil, Dara? Kecil-kecil udah doyan anak ular, kamu. Ke mana suaminya? Kok di KTP-nya status kamu belum menikah? Tadinya mau saya jodohkan kamu dengan anak saya." Dara meringis pelan sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal, mencari jawaban yang tepat untuk menghindari pembicaraan yang lebih panjang. "Saya memang belum menikah, Pak. Saya kabur dari rumah ayah dari anak ini. Dia mau menikah sama pacarnya. Saya hanya korban hawa nafsu pria itu." Pak RT menghela napas panjang, matanya menatap Dara dengan ekspresi yang sulit diterjemahkan. Ada kasihan, ada ketidakpercayaan. "Walaah ... begitu, toh. Kasihan sekali kamu, Dar. Kalau begini caranya, Fahri tidak akan mau saya jodohkan dengan ibu hamil." Dara mengangguk antusias. Sudah cukup Melawati saja yang ingin menjodohkannya dengan Daffa. Anak dari Pak RT ini tidak perlu ikut dalam perjodohan yang dilakukan ayahnya. Setidaknya, ada satu beban yang berhasil ia hindari di tengah badai kehidupannya yang semakin rumit. "Pak?" panggil Dara kemudian, suaranya terdengar seperti embusan angin senja yang menelusup lembut di antara dedaunan. "Heeum. Ada apa lagi, Dara?" "Kalau ada lowongan pekerjaan, tolong kabarin saya ya, Pak. Saya butuh kerjaan untuk menghidupi anak saya," ujarnya, matanya berbinar seperti gemintang yang mencoba bertahan dalam pekatnya malam. Pak RT manggut-manggut. "Anak saya punya cafe kecil-kecilan di kota. Yaa ... paling sekitar lima belas menitan kalau pakai taksi. Nanti saya minta ke Fahri saja, yaa. Semoga ada lowongan kerjaan di sana." Dara mengangguk antusias. Senyum kecil merekah di wajahnya, meski hatinya masih menyimpan gelisah. "Baik, Pak. Terima kasih ya, Pak. Kerja apa saja boleh, karena saya bisa semuanya." Pak RT menepuk-nepuk lengan perempuan itu dengan penuh kebapakan. "Nanti sore saya kasih kabar lagi, yaa. Sekarang saya mau keliling kampung dulu." Dara mempersilakan Pak RT untuk pergi dari sana. Kemudian Dara kembali masuk ke dalam dengan hati yang berbunga-bunga. Rasa syukur berbaur dengan harapan, menyelimuti dirinya seperti selimut hangat di malam yang dingin. Soal pekerjaan memang gampang ia dapatkan. Hanya saja, tantangannya kadang terasa berat. Pemilik cafe itu laki-laki. "Semoga Mas Fahri baik, sama seperti Mas Daffa. Jangan seperti Daiva yang tidak punya hati itu," gumamnya, suaranya terdengar lirih seperti doa yang dipanjatkan dalam kesunyian. Dara mengembungkan pipinya. Rasa rindu pada Daffa mulai menggelayuti hatinya. Seperti desir ombak yang terus menghantam pantai, rasa itu tidak bisa ia hindari. Biasa setiap hari melihat wajah tampan itu, satu minggu ini tidak pernah ia lihat lagi. ** Di kediaman Adicandra. Keluarga Adicandra tengah duduk, membiarkan keheningan menyelubungi mereka, seperti bayang-bayang gelap yang enggan pergi. Pikiran mereka penuh dengan pertanyaan tak terjawab tentang keberadaan Dara. Satu minggu telah berlalu, dan masih tak ada kabar dari para mata-mata yang disewa Melawati untuk mencari keberadaan calon menantunya itu. "Ma. Perluas pencariannya. Di surat itu tertera, kalau Dara akan pergi dari kota ini. Itu artinya dia udah nggak ada di sekitaran ini lagi," kata Daffa memecah kesunyian yang begitu mencekam. Di sana, Daiva tidak ada. Seperti sudah menjadi bayangan kelam yang terhapus dari keluarga mereka. Adicandra, sang kepala keluarga, tak bisa menyembunyikan kemarahan dan kekecewaannya terhadap anak sulungnya. Sungguh, luka yang ditorehkan Daiva begitu dalam, sulit terhapus oleh waktu. "Bahkan Mama sudah lapor ke polisi, Daffa. Tapi, mau gimana lagi. Dara masih belum mau menampakkan batang hidungnya. Mungkin dia masih bersembunyi," kata Melawati menjelaskan, suaranya mengandung kegetiran yang sulit disamarkan. Daffa menghela napas kasar, dadanya terasa sesak. Tangannya terangkat, memijat keningnya yang berdenyut. Kebingungan melandanya, tak tahu harus mencari Dara ke mana lagi. Wanita yang kini telah menjelma menjadi bagian dari jiwanya. Dara bukanlah w************n. Bukan juga wanita kotor. Di mata Daffa, Dara tetaplah bintang yang bercahaya, bahkan di langit yang paling kelam. Wanita paling polos dan paling baik dari semua wanita yang pernah ia kenal. Tak peduli dunia mencapnya seperti apa, bagi Daffa, Dara tetap istimewa. "Di mana kamu, Dara? Kenapa sesulit ini aku mencari keberadaanmu?" gumamnya, suaranya penuh dengan kerinduan yang menghunjam. "Tapi, aku tidak akan menyerah. Aku akan menemukanmu sampai ketemu." Melawati mengusap lengan Daffa dengan lembut, seakan ingin menenangkan gejolak hatinya. Senyum tipis mengembang di bibirnya, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan keprihatinan. "Sejak kapan kamu mencintai Dara? Tidak masalah kah, walaupun dia sedang mengandung anak kakakmu?" tanyanya dengan nada selembut embusan angin sore.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD